
Kemesraan pengantin baru memang tiada duanya. Namun, di unit yang berbeda lain lagi ceritanya. Alan memang menerima makanan yang dibelikan Darrell. Noelle pun menyiapkan makanan layaknya seorang istri melayani suaminya.
"Aku ini tamu, tetapi berasa menjadi tuan rumah, ya. Kamu mau minum apa?" tanya Noelle.
"Kamu bisa membuatkan aku kopi?"
"Tentu saja. Kalau hanya kopi, itu mudah sekali. Asalkan kamu memiliki stok lengkap, tidak masalah untukku." Stok yang dimaksud Noelle adalah kopi dan gulanya harus tersedia.
"Ada. Kamu cari saja di sana." Alan menunjukkan tempat gula, kopi, dan teh yang diletakkan di satu tempat yang sama.
Noelle mengambil cangkir dan piring kecil kemudian memasukkan gula dan kopi. Dia harus menunggu air mendidih. Sebenarnya ada dispenser. Alan pun sudah mengingatkannya.
"Kenapa tidak pakai dispenser saja? Ada air panasnya juga."
"Kamu itu benar-benar cerewet. Apa susahnya sih sepakat dengan apa yang sedang aku siapkan? Kamu memang perlu belajar banyak hal dariku, Alan. Sesuatu yang prosesnya lama bisa jadi hal yang maksimal. Walaupun sama-sama kopi, nanti kamu bisa merasakan bedanya."
Beruntung Sharron tidak tertular virus cerewet Noelle yang seperti ini. Inikah yang dinamakan persahabatan saling melengkapi. Satunya seperti petasan, dan satunya lagi pendiam.
"Hemm, boleh aku makan sekarang?" tanya Alan.
"Silakan. Kopi sebentar lagi siap."
Noelle membawa dua cangkir ke meja makan. Tak lupa dia juga mengambilkan gelas berisi air. Dia sudah terbiasa makan dengan konsep seperti itu. Jaga-jaga saja sewaktu-waktu tersedak.
"Kau sudah siap untuk berumah tangga, mengapa tidak menikah saja?" tanya Alan disela-sela makannya.
"Aku belum siap membuat komitmen dengan pasanganku, Alan. Aku mencoba menikmati kesendirianku. Oh ya, katamu perusahaan membutuhkan karyawan. Kalau memang tidak ada, jangan dipaksakan. Aku akan mencari pekerjaan lainnya."
"Apa kau akan kembali menjadi sugar baby?"
__ADS_1
"Apa pedulimu, Alan? Aku bisa menikmati indahnya kehidupan karena pekerjaan itu. Anggap saja pekerjaan itu lebih baik daripada ******. Ya, walaupun aku sendiri merasakan sebagai seorang ******," ucapnya percaya diri.
"Aku tidak peduli apapun yang akan kau lakukan? Tetapi, setidaknya pikirkan orang tuamu di luaran sana. Mungkin saja mereka sedang mencarimu."
Noelle tertawa. Mana mungkin ada orang tua yang peduli padanya?
"Itu mustahil, Alan. Aku sudah hidup terlunta-lunta sejak kecil. Aku bahkan tidak ingat darimana aku berasal. Yang aku ingat hanyalah aku pernah mengalami kecelakaan mobil. Orang-orang menolongku kemudian memaksaku untuk masuk ke panti asuhan."
Miris sekali kisah kehidupan Noelle. Itu masih sebagian kecil kisahnya. Noelle tidak akan melanjutkan kisah masa lalunya yang mengerikan itu.
"Bisa ceritakan bagaimana pertemuanmu dengan Sharron?"
"Ah, aku malas sekali. Lain kali saja kau bicara dengannya. Apakah kau akan menginterogasiku terus sampai malam? Aku sudah mengantuk, Alan."
"Tidurlah. Aku akan masuk ke kamarku," pamit Alan.
"Oh ya, aku menginap di sini semalam. Jangan macam-macam, yah!"
"Wow, benarkah? Kalau aku tiba-tiba telanjang di hadapanmu, bagaimana?" Noelle mencoba mempermainkan Alan.
"Jangan gila, Noelle! Aku bisa saja melemparmu keluar dari apartemenku ini. Aku bukan pria hidung belang yang mudah tertarik pada wanita. Apalagi wanita sepertimu. Maaf, harga diriku jauh lebih tinggi."
Glek!
Baru kali ini Noelle ditolak seorang pria. Pada dasarnya para pria yang dikencaninya selama ini sudah tertarik pada pertemuan pertamanya.
...****************...
Keesokan harinya, Noelle sudah bangun lebih awal. Dia membersihkan diri kemudian menyiapkan sarapan pagi. Kebetulan di dapur Alan masih tersedia beberapa bahan makanan yang bisa diolah. Setelah selesai mengolah makanan, Noelle hanya mengambil roti berikut selainya. Dia kemudian meninggalkan catatan kecil di meja makan setelah itu pulang.
__ADS_1
Aku tidak akan menunggu Alan bangun. Dia pasti akan bertanya aneh-aneh lagi dan memojokkanku.
Noelle lantas mengambil kopernya yang masih ada di dalam kamar. Secepatnya dia harus pulang ke apartemen kemudian memikirkan pekerjaan apa yang akan dicarinya setelah ini. Dia tidak akan asal menerima daddy yang menurutnya kurang ajar seperti sebelumnya.
Tak lama, Alan terbangun. Dia merasa kalau hari ini sudah terlambat berangkat ke kantor. Ponselnya sudah berdering beberapa kali, tetapi Alan masih terbuai dengan mimpi indahnya. Benar saja, jam di ponselnya sudah menunjukkan jam 9 pagi. Itu artinya dia terlambat ke kantor sekitar 1 jam.
Perlahan Alan turun dari ranjang. Dia berniat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, dia teringat Noelle yang saat ini berada di kamar tamu apartemennya.
"Oh, ya ampun! Apakah wanita itu juga terlambat bangun sepertiku? Ah, biarkan saja. Yang paling penting sekarang aku mandi kemudian pergi ke kantor. Ini sudah sangat terlambat. Tuan Darrell pasti akan sangat marah padaku."
Alan mengingat berapa kali panggilan masuk ke ponselnya. Itu semua hanya namanya Darrell. Selesai membersihkan diri, Alan bergegas mengganti bathrobe-nya dengan baju kantor. Baru pertama kalinya dia terburu-buru seperti saat ini.
"Oh ****! Aku benar-benar seperti orang gila yang harus berpacu dengan waktu. Semoga klien kali ini tidak marah karena aku datang terlambat. Sebelum berangkat ke kantor, Alan menyempatkan diri membuka ponselnya. Benar saja ada satu pesan masuk dari Darrell.
Aku tahu kalau kau pasti terlambat. Aku pengantin baru, tetapi tidak lembur sepertimu🤭. Datanglah ke kantor! Tak masalah kalau kamu terlambat. Meeting hari ini aku mundurkan 2 jam lagi.
Ada perasaan lega setelah menerima pesan dari Darrell. Itu artinya untuk hari ini dia aman. Sebelum beranjak ke dapur untuk sarapan pagi yang sedikit terlambat itu, Alan memberikan pesan balasan.
Terima kasih, Tuan. Semoga usaha Anda lancar.🙂
Alan kemudian beranjak ke dapur. Dia melewati meja makan.
"Tunggu! Dia menyiapkan makanan untukku? Lalu, kemana perginya? Apa dia sudah pulang?" ucap Alan ketika melihat sudah tersedia makanan di meja, satu cangkir kopi, dan segelas air putih.
Tersungging sebuah senyuman di bibir Alan. Rasanya berbeda ketika ada wanita yang tinggal di apartemennya. Serasa memiliki istri dan diperhatikan seperti ini. Alan duduk kemudian melihat secarik kertas yang diletakkan di bawah gelas berisi air.
Dear, Tuan Cerewet! Aku berbaik hati kali ini karena kau pun sudah berbaik hati padaku. Aku mengetuk pintu sampai ribuan kali, tapi kau tak menjawabnya. Kupikir kau masih tidur. Itulah sebabnya aku meninggalkan makanan supaya kau langsung bisa sarapan. Ingat, langsung dimakan, ya! Aku tidak meletakkan racun di dalamnya. Jangan khawatir!~Noelle~
Lagi-lagi Alan tersenyum. Perhatian sekecil ini membuat Alan meleleh berkepanjangan. Bagaimana kalau Noelle itu nyata dan setiap hari memperhatikannya.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Mengapa aku terlena hanya karena kebaikannya? Bukankah ini impas sebagai bayaran karena semalaman menginap di sini?"
Alan segera menikmati sarapan paginya kemudian berangkat ke kantor. Pikiran dan hatinya memang terkadang tidak sejalan. Namun, untuk pagi ini dia tidak peduli. Paling penting dia sudah kenyang di apartemennya sendiri tanpa bersusah payah untuk memasak.