
Sharron baru saja membuka matanya. Dia terlambat. Suasana kamar yang sudah sepi membuatnya yakin satu hal bahwa suaminya sudah berangkat ke kantor.
"Oh, ya ampun. Aku baru bangun. Apakah Darrell akan marah kepadaku? Aku tidak biasa bangun kesiangan seperti ini."
Sharron bangun. Dia menemukan secarik kertas di atas nakas. Seperti sebuah pesan. Diambilnya kemudian dibaca.
Sayang, maafkan aku. Hari ketiga pernikahan kita, aku malah meninggalkanmu di dalam kamar apartemen. Sekali lagi, aku minta maaf. Hari ini kerjakan apa yang bisa kamu lakukan. Ambil debit card di meja kerjaku. PIN-nya masih sama. Kalau kamu bosan di apartemen, pergilah berbelanja dengan Noelle. I Love U. ~Your Husband~
Sumpah, Sharron rasanya ingin tertawa. Kadang auranya terlihat galak, tetapi melihat tulisan ini siapa sangka bahwa isinya sangat romantis sekali. Dia cukup menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai fasilitas yang diterima.
"Baiklah, Tuan Darrell. Hari ini aku akan membersihkan apartemen, kemudian pergi berbelanja. Itu akan terasa sangat menyenangkan."
Sebelum beranjak dari ranjang, Sharron mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada suaminya.
Apakah perlu dibuatkan makan siang kemudian dikirim ke kantor?
Sharron meletakkan kembali ponselnya. Dia menuju ke kamar mandi untuk membereskan diri. Banyak sekali baju kotor milik suaminya yang ada di box baju kotor.
"Tumben sekali. Selama ini, siapa yang mengurus pakaian suamiku?" Sharron memang tidak tahu. Tidak masalah baginya. Ada mesin cuci. Tinggal masukkan baju, Sharron mandi, kemudian semuanya kelar.
Ternyata itu tidak mudah. Sharron harus bolak-balik ke mesin cuci untuk mengganti airnya supaya benar-benar bersih kemudian mengeringkan baju-baju itu. Setelah semua proses dilalui, yang paling akhir, Sharron harus menjemurnya. Memang tidak ada jemuran di luar. Dia cukup menggantung baju itu di atas tempat mesin cuci. Ada gantungan baju di sana.
"Oh, ya ampun. Rasanya kaku sekali mengerjakan pekerjaan rumah seperti ini. Pantas saja sebagai seorang istri memang sangat melelahkan. Belum lagi aku nanti harus setrika kalau semua pakaian ini kering. Baru beberapa hari menjadi ibu rumah tangga, rasanya sudah melelahkan seperti ini. Bagaimana nanti kalau aku punya anak banyak?"
Bayangan memiliki anak banyak dengan segala kerumitan yang dialaminya. Bisa saja dia menyewa pelayan ataupun baby sitter. Itupun jika suaminya mengizinkan. Kalau tidak, Sharron harus sudah siap secara lahir dan batin.
"Ck, istri dari seorang CEO harus bekerja keras seperti ini. Baiklah, baju ... ini harus selesai hari ini."
Selesai menjemur pakaian, Sharron membersihkan seluruh apartemen. Ini pekerjaan yang sangat melelahkan. Setelah semua pekerjaan selesai, Sharron kelaparan. Dia hanya menemukan sereal dan susu saja.
"Ah, baiklah. Aku harus belanja hari ini."
Sharron melihat ponselnya. Ada pesan balasan dari Darrell.
__ADS_1
Tidak perlu. Aku akan makan siang dengan Alan saja. Kebetulan kami ada meeting dengan klien di luar.♥️
Huft, Sharron bisa bernapas lega. Sebaiknya dia bersiap kemudian pergi ke apartemen Noelle. Dia tidak perlu mengirimkan pesan padanya. Sudah bisa dipastikan bahwa sahabatnya itu pasti berada di apartemennya. Kalaupun pergi, dia akan mengirimkan pesan pada Sharron jika ingat.
...****************...
Noelle baru saja bangun saat sebuah suara mengganggu tidurnya. Dia lupa kalau Sharron masih bisa keluar masuk apartemennya dengan bebas. Noelle mengendap-endap dari kamarnya menuju sumber suara. Itu pun dia membawa alat pel untuk memukul pencuri yang masuk ke apartemennya.
"Awwwwww!" jerit Sharron saat tahu Noelle keluar kamar membawa alat perang seperti itu.
"Kau mengejutkanku, Sharron! Ada apa?" Noelle meletakkan kembali alat pel yang dipegangnya.
"Aku mau mengajakmu berbelanja. Bagaimana? Kita makan siang di luar. Aku sudah rindu sekali dengan makanan junk food seperti biasanya."
Noelle tersenyum. "Kau tidak pantas menjadi keluarga besar Wesley. Lihat saja hobimu yang suka makanan junk food itu."
"Oh, ayolah Noelle! Debit card suamiku tidak akan habis kalau kita membeli junk food. Hanya beberapa saja. Aku yang traktir."
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan menggunakan taksi. Pusat perbelanjaan terbesar di Mexico City. Selain untuk berbelanja, keduanya sepakat untuk menikmati junk food bersama.
"Hamburger dan minuman seperti biasanya," ucap Sharron.
"Sharron, ini pertama dan terakhir kalinya kamu makan junk food. Ingat, Nyonya Allegra memintamu untuk lekas memberikan keturunan. Kamu harus menjaga pola makan dengan makanan yang lebih sehat lagi. Bukannya aku melarang kamu memakan junk food. Sesekali tak akan menjadi masalah, kan."
"Iya, kamu jangan khawatir. Aku juga makan seperti ini kalau Darrell tidak tahu. Kalau tahu, aku tidak yakin kalau dia akan memaafkanku."
Hari ini Sharron akan makan bebas. Setelah itu dia harus kembali ke komitmennya untuk lekas hamil.
"Ehm, besok apakah kamu ada waktu?" tanya Sharron.
"Aku mau mencari pekerjaan."
"What? Kau mau mencari pekerjaan? Memangnya sudah tidak lagi menjadi Sugar Baby?" selidik Sharron.
__ADS_1
Berarti Alan dan Darrell belum menceritakan apapun yang kualami di klub malam itu. Baguslah! Kalau sampai Sharron tahu, sewaktu-waktu aku ingin kembali menjadi sugar baby, dia pasti akan sangat marah padaku.
"Ehm, aku mau mencoba menjadi pekerja kantoran, Sharron. Atau, aku akan mencoba menjadi penjaga toko roti, misalnya."
"Aduh, kau tidak pantas bekerja di tempat seperti itu, Noelle. Kau pantas kalau bekerja kantoran. Bagaimana kalau kau bekerja di perusahaan suamiku? Aku yang akan mengatakan padanya."
"Itu tidak perlu! Aku sudah berbicara dengan Alan."
"What? Jadi, kalian sudah berbincang di belakangku?" selidik Sharron.
"Bukan seperti itu, Sharron. Semalam aku menginap di apartemennya. Nah, kami mengobrol kemudian dia menawarkan pekerjaan untukku. Tapi, aku masih ragu untuk mengambilnya."
Sesekali Sharron mengunyah hamburger sebelum dia melanjutkan urusannya hari ini. Berbelanja untuk mengisi dapur yang sudah terlihat kosong itu.
"Terima saja kalau kamu mau. Kesempatan hanya akan datang satu kali, Noelle. Kalau kamu tidak yakin, tidak akan menjadi masalah. Lalu, apa kamu yakin akan bekerja di toko roti atau kamu mau bekerja menjadi pramuniaga di supermarket?"
Pilihan yang sulit. Setiap bulan dia pasti hanya mendapatkan uang dengan jumlah yang kecil. Berbeda kalau dia menjadi sugar baby. Uang yang akan didapatkan berkali-kali lipat dari pekerjaannya itu.
"Nanti aku pikirkan lagi. Oh ya, apakah ini tugas pertamamu menjadi seorang istri? Ceritakan apa yang kamu lakukan hari ini?" tanya Noelle. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. Walaupun sebenarnya dia masih ragu harus mengambil jalan yang mana.
"Wah, tugas pertamaku sangat melelahkan. Aku harus mencuci baju, menyapu, dan pekerjaan apapun yang berhubungan dengan kebersihan apartemen."
"Apa itu sangat rumit?"
"Tidak rumit, Noelle. Hanya saja aku belum terbiasa. Rasanya memang melelahkan, tetapi puas dengan hasilnya. Kau tahu apa yang kubayangkan setelah itu?"
Noelle menggeleng.
"Aku membayangkan tugas itu pada saat aku memiliki anak. Uh, betapa hebohnya duniaku."
"Ck, berlebihan! Pakai pelayan dan baby sitter. Beres, kan?"
Mereka tertawa bersama. Rasanya berada di luar dengan kebebasan yang seperti ini memang akan didapatkan sebelum salah satu dari mereka memiliki anak. Apakah Noelle mencoba berdamai dengan keadaan kemudian menerima tawaran Alan? Sementara Sharron harus berjuang seorang diri karena sebenarnya itu merupakan ujian dari Darrell yang tidak pernah disadarinya selama ini. Akankah Sharron akan menikmati perannya sebagai seorang istri atau malah menyerah dengan keadaan?
__ADS_1