
Seusai sarapan pagi, Sharron lebih memilih bersantai sejenak. Seharusnya hari ini dia bisa mulai bekerja di kantor, namun sepertinya Sharron masih malas untuk melakukan itu. Apalagi di kantor bertemu dengan Alan, asisten Darrell yang sudah masuk catatan hitam di dalam ingatan Sharron. Ya, Sharron sangat membenci Alan.
Memandang sekeliling kamar membuat Sharron menemukan secarik kertas yang tergeletak di meja. Lebih tepatnya sengaja ditinggalkan oleh empunya. Bergegas Sharron berdiri untuk mengambilnya. Mungkin saja itu pesan penting dari Darrell untuknya.
Ada deretan pesan yang tertulis di sana. Gegas Sharron membacanya.
Dear My Baby,
Aku minta maaf harus meninggalkanmu sendirian di dalam kamar ini. Kalau kamu mau melanjutkan menginap di kamar ini, katakan saja. Aku akan mentransfer sejumlah uang untuk membayar penginapan. Kalau memang kamu mau check out, tidak masalah. Jangan lupa kabari aku di nomor +5212345678. Jangan hubungi Alan lagi. ~Darrell~
"Huft, cuma begini saja, Dad? Kukira akan mendapatkan pesan yang romantis," keluh Sharron. Dia memutuskan untuk pergi ke kantor saja setelah ini. Kalau dia tidak bekerja, bagaimana dia mendapatkan uang.
Sharron mengambil beberapa paper bag belanjaannya kemarin. Dia secepatnya pulang ke apartemen untuk memutuskan apakah dia hari ini datang ke kantor atau tidak.
...***...
Hari yang indah. Sesampainya di apartemen, dia langsung disambut oleh sahabatnya, Noelle.
"Hai, Baby! Apa kabar?" Noelle langsung memeluk erat Sharron.
"Aku baik, Noelle. Oh ya, aku mau konsultasi sama master Sugar Baby," candanya sembari melepaskan pelukan Noelle.
"Hemm, katakan saja! Aku siap mendengarkan." Noelle duduk di sofa sembari menyandarkan salah satu kakinya ke meja.
"Menurutmu apa sebaiknya aku bekerja di perusahaan Da, maksudku Alan," ucap Sharron yang hampir kelepasan menyebut nama Darrell.
"Daddy Alan yang memintanya atau kamu yang mengusulkan? Kalau memang dia yang memintanya, pergi saja. Siapa tahu dengan kalian sering bertemu, gelembung cinta lekas menyatukan kalian," ucap Noelle yakin.
"Bagaimana kalau istrinya curiga tentang hubungan kami?" Itulah yang menjadikan pikiran Sharron tidak menentu.
"Kalian kan sudah dewasa, bisa kan mengkondisikan supaya tidak ketahuan istrinya," jelas Noelle.
Memang benar. Selama ini Darrell berusaha untuk menyembunyikan keberadaannya dari Callie. Seharusnya Sharron pun bisa melakukan hal yang sama.
"Baiklah, aku akan ke kantor hari ini."
"Kamu tidak kecapekan, Sharron?" tanya Noelle. Dia tahu kalau Sharron dari semalam tidak pulang.
"Sebenarnya aku capek, tetapi aku penasaran dengan kantornya," balas Sharron yang mulai memilih beberapa baju kantor kemudian mencocokkan dengan bawahannya.
__ADS_1
"Kamu penasaran dengan kantornya, atau rindu dengan orangnya?" canda Noelle.
"Hemm, selalu saja begitu. Boleh aku pinjam high heels-nya yang berwarna senada dengan bajuku?"
"Pilih saja, Sharron. Aku juga jarang memakainya."
Ya, Noelle adalah sahabat terbaiknya di saat semua orang tidak mengenalnya bahkan tidak tahu siapa sebenarnya Sharron. Satu-satunya orang yang bisa menerima dengan baik hanyalah Noelle.
Selesai memakai baju kerja sekaligus high heels yang dipinjam dari Noelle, Sharron mengambil tas yang selama ini jarang digunakan. Lebih tepatnya tas lamanya yang sudah tersimpan rapi di dalam lemari selama ini.
"Kau mau memakai tas usangmu itu, hah? Aduh, Sharron! Jadi sugar babynya daddy Alan masih pakai barang murahan seperti itu. Kamu tukar sama tas baruku, gih! Aku belum memakainya sama sekali. Jangan turunkan pamor kita sebagai Sugar Baby yang berkelas!" omel Noelle panjang lebar.
"Ini terlalu mahal, Noelle! Bagaimana rekan kerjaku di kantor? Mereka pasti mikir yang tidak-tidak tentangku. Ini tas limited edition yang hanya dimiliki beberapa orang saja," tolak Sharron.
"Sudahlah, percaya padaku! Mereka tidak akan membuatmu dalam kesulitan. Justru mereka akan mengelu-elukan kamu karena semua barang yang kamu pakai itu sangat mewah sekali."
Berdebat dengan Noelle tak ada gunanya selain menuruti permintaan sahabatnya itu. Lihat saja padanya, tas semahal ini malah disuruh memakainya begitu saja.
"Nah, begitu kan cantik! Aku suka melihat perkembanganmu selama ini," ucap Noelle lagi.
"Kalau begitu aku langsung ke kantor sekarang," pamit Sharron.
...***...
"Terima kasih," ucap Sharron setelah membayar ongkos taksi. Dia lantas menuju ke resepsionis untuk menanyakan perihal Darrell.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis.
"Bisa bertemu dengan Tuan Darrell?"
"Apakah Anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis lagi.
Janji? Dia memang sudah berjanji, tetapi belum mengatakan kapan Sharron akan datang ke kantor.
"I-iya," jawab Sharron ragu.
"Kalau begitu silakan Nona langsung ke lantai atas, ruangan nomor 1," jelas resepsionis.
Resepsionis berani menjawab seperti itu karena terkadang atasannya itu memiliki janji di luar konteks pekerjaannya. Sehingga ada beberapa orang yang khusus bisa masuk tanpa melalui resepsionis, termasuk istrinya, Callie.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Sharron.
Bergegas Sharron menuju unit yang dimaksud. Dia sebenarnya merasakan keraguan yang luar biasa. Pasalnya di depan resepsionis, karyawan Darrell sempat melirik sebentar. Namun, mereka tidak banyak bicara.
Sharron mengetuk pintu ruangan pria yang selama ini selalu bersamanya. Ada perasaan canggung karena sebentar lagi keduanya akan bekerja bersama.
"Masuk!" jawab Darrell.
Sharron membuka pintunya. Tatapan mata keduanya sempat beradu pandang sebentar. Darrell sangat takjub melihat penampilan baru Sharron yang terlihat seperti wanita karier pada umumnya.
"Baby! Kau datang?"
"Iya, Dad. Kau bilang aku harus bekerja, bukan?" balas Sharron sembari menutup pintunya.
"Iya, aku tahu. Oh ya, kamu bisa bekerja mulai besok. Hari ini temani aku untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan penting ini." Darrell menunjukkan pangkuannya.
Inikah yang dimaksud pekerjaan penting itu?
"Jadi, pekerjaanku hanya begitu, Dad? Aku tidak mau," tolak Sharron.
"Tidak, Sharron. Kau jangan berpikiran buruk seperti itu. Kemarilah!"
Sharron meletakkan tasnya di atas meja yang dekat dengan sofa kemudian mendekati sugar daddynya itu. Sementara Darrell menyiapkan beberapa berkas untuk dicek karena sebentar lagi Darrell akan melakukan rapat penting dengan koleganya.
"Ini ada beberapa berkas. Coba kamu pelajari lebih dahulu! Kalau tidak mengerti, kamu bisa bertanya padaku," jelas Darrell.
"Dad, Alan ada di sini?" tanya Sharron sedikit ragu. Pasalnya dia bekerja di perusahaan Darrell tanpa sepengetahuan pria itu.
"Tidak. Aku juga tidak tahu Alan ke mana sekarang. Entahlah, lupakan pria itu. Aku yang bertanggung jawab merekrut kamu. Setuju atau tidak, kamu akan tetap bekerja di sini," ucap Darrell. Dia belum mengkonfirmasi kesalahpahaman dengan asistennya itu.
"Daddy masih ada problem dengan Alan?" tanya Sharron. Dia melihat wajah pria itu terlihat sangat tidak nyaman sekali.
"Nanti aku akan menyelesaikannya," balas Darrell.
Ketika sedang sibuk mengobrol tentang pekerjaan penting, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu. Tentu saja membuat Darrell dan Sharron terkejut melihat kehadirannya.
...🪴🪴🪴...
Yuk jangan lupa mampir ke karya keren berikut. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya
__ADS_1