Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 49. Cinta Yang Sama


__ADS_3

Sharron termenung di apartemennya. Setelah beberapa waktu lalu bertemu dengan Darrell, sepertinya hatinya goyah. Selama berada di Austria, dia tak pernah sedikitpun memberikan kesempatan pada pria-pria yang terus saja mengejarnya.


"Apa sebaiknya aku pulang? Kurasa ini waktu yang pas untuk memberikan kesempatan lagi padanya. Kalau pun dia berbohong, setidaknya aku tahu kenyataannya. Tapi, hati ini tidak mudah dibohongi. Ciumannya masih sama seperti yang dulu."


Mumpung masih berlibur selama beberapa hari, ini kesempatan bagus untuk Sharron pulang ke Meksiko terlebih dahulu. Dia tidak mengabari Noelle karena ingin memberikan kejutan padanya.


Selain itu, tujuannya ke sana untuk membuktikan ucapan Darrell bahwa pria itu bukan pembual. Sejujurnya, hati Sharron sudah tertaut lama dengan hati pria itu. Pernah suatu waktu Marcello mengunjunginya ke Austria untuk mengatakan bahwa dia mencintai Sharron. Sharron tidak peduli pada rasa cinta pria itu. Dia hanya menganggapnya teman dan tidak lebih dari itu.


Marcello sempat marah pada Sharron, namun kala itu Sharron jauh lebih marah lagi.


"Marcell, tidak semua wanita itu mau menuruti semua keinginanmu. Aku wanita yang berbeda. Aku juga memiliki cinta yang tidak bisa kuberikan padamu. Aku minta maaf," ucap Sharron kala itu.


Marcello sempat marah dan mengancam pada Sharron. "Siapapun pria yang akan memilikimu, aku tidak akan pernah membiarkanmu bersatu dengannya."


"Kau gila, Marcell! Kau pikir pria itu diam saja jika bertemu denganmu? Tidak! Kalau kau bersikap kurang ajar padaku atau kau berani menantangnya, aku ataupun dia tidak akan pernah tinggal diam," ancam Sharron kala itu.


Mengenang perjalanan kehidupannya saat terpisah dengan Darrell memanglah tidak aman. Pekerjaannya sebagai model juga memiliki risiko besar karena kejaran para pria hidung belang. Mereka mengira bisa menaklukkan Alexandria dengan mudah, nyatanya itu tidak sama sekali.


Berbekal ransel kecil, masker yang terpasang di wajahnya untuk mengelabuhi siapapun supaya tidak mengenalinya. Apalagi saat ini dia sudah menjadi model terkenal. Tidak hanya di Austria, Meksiko pun sudah tahu namanya sebagai model Alexandria. Namun, yang sangat menggelitik, Darrell belum tahu kalau itu setelah berada di Italia selama beberapa bulan.


Setibanya di bandara Meksiko, Sharron tidak bisa sembarang mampir ke coffee shop walaupun sebenarnya ingin sekali. Namun, dia mampir ke minimarket yang kebetulan ada di bandara untuk sekadar membeli air mineral dan roti. Setelah itu barulah mencari taksi.


"Mau ke mana, Nona?" tanya sopir taksi.


"Pemakaman X."


"Itu letaknya lumayan jauh, Nona. Apakah Anda mampu membayar argonya?"


"Berapapun akan kubayar. Lanjutkan saja!"


Barulah sopir itu melanjutkan laju kendaraannya. Dia tidak mau merugi kalau ada penumpang yang curang. Walaupun itu jarang terjadi, setidaknya sopir itu mengantisipasi saja.


Perjalanan yang melelahkan membuat Sharron sampai di pemakaman. Setelah membayar ongkos taksi, dia kemudian turun lalu masuk ke pemakaman. Suasananya sunyi demi mendatangi pertemuan yang sudah dijanjikan oleh pria itu. Ya, Darrell berjanji akan menemuinya di hari ini tepat di makam istrinya.


Di mana dia? Ataukah, dia hanya menjebakku saja? Awas saja kalau ini akal-akalannya supaya aku percaya kemudian datang ke tempat ini.


Perlahan Sharron masuk dan melihat banyak makam di sana. Dia tidak tahu sampai pada akhirnya melihat seorang pria yang berdiri dengan memegang setangkai mawar merah kemudian diletakkan di atas makam itu. Dia juga membawa bunga untuk ditaburkan di atasnya.


Oh God, dia rupanya berada di sini. Aku harus apa? Sebaiknya aku mendekat dan mengucapkan turut berdukacita padanya.


"Tuan, aku turut berdukacita," ucap Sharron ketika berada tepat di samping Darrell.

__ADS_1


Pria itu tetap fokus pada makam di hadapannya. Beberapa menit kemudian barulah menoleh ke arah wanita di sampingnya.


"Kau datang?"


"Aku hanya datang untuk mengucapkan dukacita. Jangan terlalu besar kepala," cibir Sharron.


"Kurasa naluri dan tubuhmu sudah sinkron, Sharron."


"Apa maksudmu?"


"Apa kau mau bertengkar di atas makam istriku? Kita cari tempat makan. Aku yakin kalau kamu lelah. Kita bisa bersantai di sana." Darrell mengamati Sharron yang sedikit berantakan.


...****************...


Rupanya Darrell tidak membawa Sharron ke restoran, melainkan langsung ke apartemen miliknya yang sudah ditinggalkan selama beberapa bulan. Apartemen itu masih sangat terawat karena Alan selalu meminta beberapa orang datang setiap hari untuk membersihkannya.


"Mengapa ke sini?" tanya Sharron ketika mobil yang ditumpanginya hendak masuk ke basemen apartemen.


"Hanya ingin berbincang saja. Memangnya kenapa?"


"Bisakah kita berbincang di tempat lain saja? Kurasa itu bukan ide buruk," ajak Sharron.


Semua karena akal-akalan Darrell. Sharron ingin pulang, tetapi Darrell malah merengkuhnya ke dalam pelukan.


"Jangan pergi!" ucap Darrell ketika berada di luar.


"Darrell, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku punya kesibukan dan kebahagiaan tersendiri. Tolong lepaskan aku!"


"Tidak! Sedetikpun aku tidak akan pernah melepaskanmu."


"Mengapa?"


"Karena aku mencintaimu, Sharron!"


"Kita berbeda, Darrell. Kau pria kaya yang memiliki segalanya, sedangkan aku hanya orang asing yang sudah masuk ke dalam kehidupanmu tanpa sengaja."


"Justru inilah kenyataan hidupku. Aku harus menikah lagi kemudian memiliki anak. Maukah kau menikah denganku?" tanya Darrell yang seolah langsung melamar Sharron.


Sharron lantas mendorong tubuh pria itu supaya pelukan mereka terlepas. "Tidak! Aku tidak akan menikah denganmu, Tuan."


Deg!

__ADS_1


Setengah harapan Darrell hilang. Tak ada wanita sebaik Sharron di matanya. Terlebih hanya nama wanita itu yang selalu hadir di relung hatinya.


"Mengapa kau menolakku? Apa ada pria lain yang lebih baik dari aku? Atau, kau sudah jatuh cinta dengan pria lain selama tidak bersamaku?"


Sebenarnya semua tuduhan yang dilayangkan Darrell tidak pernah dilakukan sama sekali olehnya.


"Aku belum bisa. Aku masih fokus ke dunia model," jawab Sharron.


"Lebih baik kita masuk dan bicarakan di dalam," jawab Darrell.


Unit apartemen yang menjadi saksi pertemuan keduanya di masa lalu masih sama. Darrell membiarkan Sharron duduk di ruang tamu terlebih dahulu. Sementara Darrell masuk ke kamar kemudian membersihkan diri di kamar mandi. Cuma sebentar saja karena dia tidak ingin Sharron menunggu terlalu lama.


"Lebih baik kamu mandi dulu," ucap Darrell setelah kembali ke ruang tamu.


"Tidak usah! Bajuku ada di apartemen Noelle," tolaknya.


"Jangan khawatir. Aku selalu menyiapkan baju untukmu. Ambillah di almari, sementara aku akan memesan makanan untuk kita."


Sudah lama tidak berkunjung ke apartemen sehingga semua bahan makanan tidak tersedia. Sharron akhirnya menuruti untuk membersihkan diri lebih dahulu. Sesuai ucapan Darrell, pakaian di almarinya memang masih baru dan terlihat sangat nyaman.


Sharron kembali ke ruang tamu. Hidangan makanan sudah tersedia di sana. Biasanya mereka makan di ruang makan, kali ini sepertinya Darrell ingin membuat suasana yang berbeda.


"Mengapa tidak makan di sana saja?" tanya Sharron.


"Aku takut kalau kamu menolaknya. Makanya lebih baik aku siapkan di sini saja."


Keduanya makan dalam diam. Tidak ada sisi romantisnya sama sekali, tetapi keduanya berperang dengan pikiran masing-masing.


Haruskah aku kembali padanya? Setelah beberapa bulan dia mendadak menghilang tanpa kabar. Setelah tahu kenyataannya seperti ini, ada keraguan lain yang menerpaku. Namun, kesempatan tidak akan datang kedua kalinya. Aku akan mencoba menerima keadaan ini dan memperbaiki hubungan kami. Darrell layak diperjuangkan.


Lain lagi dengan pemikiran Darrell yang tidak yakin kalau Sharron mau menerima dirinya setelah perlakuannya di masa lalu.


Maafkan aku, Sharron. Sekarang kondisinya sudah berbeda. Aku berhak memperjuangkanmu karena kamu layak diperjuangkan. Setelah ini, aku akan membawamu ke Italia untuk bertemu dengan kedua orang tuaku.


Pada dasarnya antara Sharron dan Darrell saling mencintai, tetapi Sharron masih tertahan dengan egonya. Mungkin dengan kebersamaan yang dibangun secara perlahan bisa menumbuhkan kembali benih-benih cinta yang sempat tersendat.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, jangan lupa mampir karya berikut ini. Emak jamin nggak akan menyesal. Terima kasih


__ADS_1


__ADS_2