Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 98. Amplop Hasil Tes DNA


__ADS_3

Noelle sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Kondisinya sudah membaik. Semua orang kini berada di sana. Allegra yang paling cekatan untuk merawatnya. Darrell tidak menaruh curiga pada sikap mamanya.


"Bagaimana kondisimu, Noelle?" tanya Sharron.


"Aku baik," jawabnya lirih sekali.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" selidik Sharron.


Saat sahabatnya itu menginterogasi, semua orang yang berada di sana diam membisu. Alan dan Darrell tidak akan buka suara terlebih dahulu. Sementara Noelle sedang mencoba mengingat sesuatu. Tapi, itu tak sepenuhnya dia bisa mengingat. Bukan karena gegar otak ringan, melainkan Noelle sedang menghubungkan puzzle satu dan yang lainnya.


Setelah mampu mengingat semuanya, Noelle tidak yakin mampu menceritakan ini pada sahabatnya. Dia malah akan memperkeruh suasana.


Maafkan aku, Sharron. Aku sudah gagal. Tidak seharusnya aku menceritakan detail permasalahannya. Aku sudah membuatmu jauh dari keluargamu.


"Noelle, kenapa diam?" tanya Sharron yang seakan masih penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan Noelle.


"Ini hanya kecelakaan, Sharron. Kamu jangan khawatir," ucap Noelle menenangkan.


Alan dan Darrell akhirnya bisa bernapas lega. Namun, tidak dengan Sharron. Dia masih belum puas karena alasan kecelakaan. Tidak mungkin Noelle tiba-tiba berlari tanpa sebab. Sharron mundur kemudian mengamati satu persatu mimik muka Alan dan Darrell. Terlihat jelas keduanya sedang menyimpan rahasia.


Baiklah, kali ini aku harus diam dulu. Kita lihat saja nanti. Sampai kapan kalian akan menyembunyikan rahasia dariku?


"Sayang, kamu mau makan dulu?" tanya Allegra. Dia tidak mempedulikan banyak orang di sana.


"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Javer. Dia cukup senang melihat istrinya seperti memiliki banyak perhatian pada Noelle. Tinggal beberapa hari lagi hasil DNA itu akan keluar.


"Kalau kau menginginkan sesuatu, lekaslah katakan padaku," sahut Alan.


"Kalian semua terlalu berlebihan. Aku baik-baik saja," ucap Noelle.


Semua orang tersenyum melihat tingkah Noelle yang seakan baik-baik saja. Padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih ada rasa ketakutan tentang Blair. Pria itu tidak hanya pria psikopat, tetapi juga pria yang lebih dari itu. Mengerikan!


"Noelle, kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan saat ini?" Sharron tidak tahan. Seakan semua orang di sana bungkam. Dia tidak menyalahkan mertuanya, tetapi terlihat aneh dengan sikap tiga orang yang ada di sana.


Noelle tetap bungkam sehingga Sharron memutuskan untuk keluar mencari angin. Dia yakin ada hal yang tidak diketahui sama sekali.


"Aku keluar dulu. Biar kamu bisa beristirahat dengan baik," pamit Sharron.

__ADS_1


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Darrell.


Sharron mengabaikan panggilan suaminya. Dia lebih memilih keluar ruang rawat tanpa mempedulikan panggilan itu. Darrell menyusulnya.


Sharron memilih duduk tidak jauh dari ruang rawat sahabatnya. Darrell pun memilih duduk tepat di samping istrinya.


"Kau pasti penasaran, bukan?" tanya Darrell.


"Aku malas berdebat, Darrell. Kalau kau memang mau menceritakan detail masalahnya, aku bisa menerima apa pun itu. Namun, kalau kalian semua bungkam, jangan salahkan aku. Aku akan mencari kebenarannya sendiri," ancam Sharron.


"Baiklah. Ini demi program kehamilan yang sedang kita jalani. Aku akan mengatakan semuanya."


"Tidak perlu kalau kau terpaksa. Sejak tadi kalian semua bungkam seolah aku ini tidak pernah kalian anggap."


Darrell menghela napas panjang sebelum mengatakan semuanya. Sebentar lagi Sharron pasti marah kepadanya.


"Sayang, Noelle sedang menjalani misi untuk mencari informasi mengenai Samuel Alexander. Pria yang mungkin adalah orang tuamu."


Darrell kemudian diam.


"Itu tidak perlu, Darrell. Percuma kalau harus membahayakan sahabatku. Kalau sampai kenapa-napa dengan Noelle, aku tidak akan pernah memaafkan kalian. Biarkan saja aku seperti ini. Aku bahagia hidup denganmu. Jangan lagi membuatku ketakutan seperti ini!"


"Kau tidak marah?"


Sharron menggeleng. "Harusnya kau minta maaf pada Noelle. Berikan dia pekerjaan yang layak di kantor. Jangan buat dia menderita seperti ini. Kau tidak tahu rasa kehilangan ini ketika tahu Noelle sedang sekarat seperti sebelumnya. Aku merasa bersalah kalau sampai kehilangan dirinya."


Darrell paham betapa menderitanya Sharron ketika tahu Noelle terkapar tak berdaya. Namun, bagaimanapun dia sudah berbuat banyak untuk kepentingan dirinya.


...🐢🐢🐢...


Dua minggu kemudian.


Noelle sudah kembali ke apartemennya sejak seminggu yang lalu, tetapi Javer dan Allegra belum juga kembali ke Italia demi sebuah surat penting. Allegra merahasiakan ini dari putranya, tetapi Alan tahu segalanya.


Seperti biasa, siang ini saat Alan berada di kantor, dia pun merasa sangat cemas berlebihan. Hari ini waktu yang seharusnya untuk mengambil hasil tes DNA antara Noelle dan Javer.


"Tuan, aku izin pergi sebentar. Ada urusan yang harus kuselesaikan," pamit Alan.

__ADS_1


"Tumben. Memangnya kau mau ke mana?"


"Rumah sakit, Tuan. Aku harus mengambil berkas di sana."


Alan tidak bisa menjelaskan detailnya karena Allegra melarang.


"Hemm, pergilah! Lekas kembali kalau sudah selesai," pesan Darrell.


"Terima kasih, Tuan."


Alan bergegas mengemudikan mobilnya. Javer dan Allegra jelas sudah menunggunya di sana. Jarak gedung perkantoran Alan dan rumah sakit yang dituju memang lumayan. Sehingga memerlukan waktu untuk sampai ke sana.


Javer dan Allegra yang sedang menunggunya harap-harap cemas kalau Alan tidak datang. Namun, setelah dia mendapatkan balasan dari asisten putranya itu, dia yakin kalau Alan akan datang.


"Bersabarlah! Sebentar lagi kita akan mengetahui segalanya. Jika, Noelle tidak terbukti sebagai Maggia, jangan bersedih! Mungkin saja Maggia masih ada di luaran sana." Javer menasihati istrinya. Satu hal yang ditakutkan dalam pikiran pria paruh baya itu adalah kejiwaan Allegra akan terganggu untuk yang kedua kalinya. Kerinduan terhadap Maggia sudah mendarah daging semenjak bayinya itu menghilang. Selama 24 tahun lebih Javer mencoba memberikan pengertian kepada Allegra, tetapi tetap saja wanita itu kepikiran. Sudah mencoba mencari ke sana kemari hingga akhirnya Alan memberikan bukti mengejutkan.


Mereka memang tidak yakin, tetapi apa salahnya melakukan tes DNA untuk menambah keyakinan itu. Kalaupun hasilnya tidak sesuai, Allegra ataupun Javer tidak akan menyesal.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Aku harus ke kantor dulu hari ini," ucap Alan ketika bertemu dengan orang tua tuannya.


"Darrell tidak tahu, kan?" tanya Allegra.


"Tidak, Nyonya. Bisa kupastikan kalau ini aman. Tuan tidak curiga padaku."


"Baguslah kalau begitu," sahut Javer. "Oh ya, Ma. Apa pun hasilnya, Papa harap kamu tidak kecewa. Walaupun beberapa kemungkinan ciri yang dimiliki Noelle sudah sesuai, tetapi perbedaan kita dengannya pun jauh. Wajahnya tidak ada kemiripan sama sekali denganmu."


"Pa, kamu akan terus mengoceh seperti ini? Aku sudah penasaran dengan hasilnya. Lebih baik kita masuk sekarang," ajak Allegra yang sudah tidak sabar.


Mereka bertiga masuk ke ruangan dokter. Rupanya dokter itu sudah menunggunya.


"Maaf, kami terlambat," ucap Alan.


"Tidak masalah, Tuan. Kalian pasti harap-harap cemas dengan hasilnya, kan? Aku akan langsung menyerahkan hasil tes ini pada kalian. Setelah mendapatkan jawabannya, semoga kalian tidak kecewa," ucap dokter menjelaskan.


"Terima kasih, dokter," jawab mereka.


Sebuah kata kecewa dengan hasil tes DNA yang mereka pegang saat ini mungkin bisa saja berbanding lurus. Bisa saja kecewa karena Noelle terbukti bukan anaknya. Bisa juga kecewa dengan versi berbanding terbalik. Sebenarnya Noelle itu benar-benar anak dari Allegra dan Javer, tetapi dari struktur wajah, tidak ada kemiripan sama sekali.

__ADS_1


Allegra akan membuka hasil tes yang sudah ada di dalam genggamannya itu di luar ruangan dokter. Setidaknya kalau Noelle terbukti bukan putrinya, dia bisa pingsan. Masih aman bukan kalau berada di area rumah sakit? Namun, bagaimana kalau sebaliknya? Allegra pasti akan sangat bersyukur mendapatkan kabar sebaik itu.


__ADS_2