
"Aku juga tidak percaya semua ini, Tuan," tangis Noelle pecah.
"Panggil aku kakak, Noelle!" perintah Darrell.
Rentang usia yang lumayan jauh membuat Darrell sebenarnya agak kikuk. Kini, dirinya mulai dilema. Antara istri dan adiknya sama-sama orang yang penting di dalam kehidupannya.
"Kakak," balas Noelle.
Kisah haru berakhir manakala Darrell melepaskan pelukannya. Dia beralih pada istrinya kemudian menggandeng pundaknya.
"Sayang, aku tidak menyangka, ternyata selama ini orang yang kucari ada bersamamu," ucap Darrell.
"Aku pun benar-benar terkejut sekali. Lalu, apa aku harus memanggilmu adik ipar?" canda Sharron pada Noelle.
Noelle tentu saja tidak bisa melakukannya. Sudah lama keduanya menjalin hubungan persahabatan. Kali ini kejelasan hidup Noelle sudah terlihat. Alasannya hilang pun sudah diketahui banyak orang sehingga Noelle pun mau menerimanya. Namun, ada sedikit masalah. Nama Noelle Marylou itu berubah karena apa? Padahal nama aslinya adalah Maggia Wesley.
"Nah, sebelum kita lanjutkan ngobrol, ayo kita makan dulu. Alan sudah sibuk mempersiapkan segalanya. Kalau dilewatkan begitu saja, sayang juga, kan?" ucap Allegra.
Beberapa dari mereka manggut-manggut menyetujui ucapan Allegra. Darrell lebih dulu membimbing Sharron untuk masuk ke ruang makan diikuti Allegra dan lainnya.
Darrell merasa kebahagiaannya malam ini begitu lengkap. Hidup bersama adik kandungnya dan dekat dengan orang tuanya.
"Apakah ini Mama semua yang masak?" tanya Darrell.
"Mama mana mau, Darrell. Dia sudah fokus sama putrinya. Papa saja dilupakan," ucap Javer.
"Alan yang memesan makanannya. Ya, itu semua atas rekomendasi yang diberikan oleh Maggia, ehm maksud Mama Noelle," sahut Allegra.
Terlihat jelas kalau makanan ini khas restoran langganannya bersama Sharron. Aroma makanannya pun tidak asing. Makanya Darrell mencoba menggoda mamanya.
"Ya, baiklah. Kalian selalu yang terbaik," sahut Darrell.
Hari ini Darrell terlihat menghangat. Biasanya dingin dan terkesan tidak peduli. Semenjak pertengkarannya dengan Sharron, dia memang perlu mengubah banyak hal dalam hidupnya. Dia harus menanamkan eksistensi budak cinta dalam kesehariannya. Kalau bisa dalam setiap waktu.
Sharron mengambilkan piring makan untuk suaminya. Mereka pun melakukan hal yang sama untuk mengambil piring makan masing-masing. Sharron lekas mengisi dua piring yang berbeda. .
"Terima kasih, Sayang," ucap Darrell setelah menerima piring makannya.
__ADS_1
"Hemm, kalian makin ke sini buat Mama iri, yah," canda Allegra.
"Mama, Sharron jadi malu," balas Sharron.
"Tidak apa-apa, Sharron. Papa juga begitu. Tidak pernah malu untuk mengumbar kemesraan di hadapan orang banyak. Apalagi Mamamu tipe pencemburu," jelas Javer.
Darrell hanya tersenyum menanggapi ucapan papanya. Alan dan Noelle diam mendengarkan pembicaraan mereka. Sesekali Alan melirik ke arah Noelle. Hal itu sempat dilihat oleh Darrell.
"Mama sebentar lagi akan mengadakan pesta pertunangan sesi dua," canda Darrell.
"Hah?" Tatapan cengo seorang Noelle terlihat jelas.
"Apa maksudmu, Darrell?" tanya Allegra.
"Mama siap-siap saja ada pasukan berkuda putih untuk menjemput anak bungsu Mama itu," goda Darrell melirik ke arah Alan.
"Tuan, bercandanya tidak lucu. Aku hanya melirik ke arahnya karena ada makanan yang menempel di tepi bibirnya," ucap Alan.
Padahal dia sengaja melirik ke arah Noelle karena ada sebuah sebab. Alan tidak tahu lagi bagaimana nasib gadis itu di hadapan orang tuanya. Apalagi tentang masa lalunya yang sangat kelam.
Rasanya Sharron ingin mengungkap sendiri siapa Samuel Alexander. Namun, dia tidak boleh gegabah. Kalau Noelle gagal, tidak menutup kemungkinan dia akan berhasil.
Selesai makan, mereka kembali berbincang di ruang tengah apartemen. Walaupun tidak terlalu luas, tetapi ruangannya sangat mewah.
"Sayang, boleh Mama tanya padamu?" tanya Allegra.
"Ya," jawab Noelle. Dia masih rikuh sekali untuk memanggilnya mama.
"Apartemen ini kamu beli atau bagaimana?"
Deg!
Noelle rasanya ingin menenggelamkan diri ke dasar lautan yang paling dalam. Sharron pun merasakan kekhawatiran yang sama.
"Kami patungan, Ma," sahut Sharron.
"Patungan?" Allegra masih tidak percaya. Apartemen yang dihuni mereka ini merupakan apartemen berkelas. Kalaupun patungan, itu masih belum cukup untuk membelinya.
__ADS_1
"Ehm, memang belum lunas sampai sekarang," sahut Sharron lagi dengan berbohong. Dia tahu arah pembicaraan mama mertuanya itu. Wanita paruh baya itu hendak mengorek sesuatu pada putrinya.
Noelle melotot pada Sharron. Dia sendiri bingung harus menanggapi semua pertanyaan mamanya seperti apa.
"Mama, aku minta izin untuk berbicara sebentar dengan Noelle," ucap Sharron.
"Hemm, pergilah!"
Setelah mendapatkan izin, kini keduanya berada di kamar yang sama. Sama-sama terdiam hingga akhirnya Noelle buka suara.
"Apa yang kamu lakukan, Sharron?"
"Aku tidak tahu, Noelle. Ini benar atau salah? Mama sedang menginterogasi dirimu. Menguak masa lalumu. Bagaimana kita bisa menceritakan kisah kelam yang kita hadapi selama ini?"
Ternyata pikiran Sharron pun sama dengan dirinya. Namun, kenyataan hidup yang dilalui Noelle memang sangat berat.
"Kita tidak akan berbohong lagi, Sharron. Kehidupan yang sudah kita lalui bersama memang begitu adanya. Aku tidak mau membuat mama semakin salah paham lagi padaku. Kebaikan atau keburukanku di masa lalu tetaplah harus mereka ketahui. Aku juga tidak ingin memilih kehidupan yang seperti ini, tetapi kamu tahu kan kalau kita hidup sebatang kara. Kita menyalahkan orang tua kita telah membuat seperti ini. Tapi, kenyataannya itu semua salah besar."
Sharron bukannya merespon, tetapi malah memilih melamun. Dia memikirkan kehidupannya di masa lalu yang rasanya kelam sekali. Banyak tabir yang mesti diungkap, tetapi mengingat kejadian Noelle tempo hari harus masuk ke rumah sakit, lebih baik Sharron memilih untuk diam. Biarkan kehidupannya yang sekarang.
"Ya sudah, lupakan. Aku minta maaf padamu. Lebih baik kita temui mama," ajak Sharron.
Sekembalinya mereka, Allegra tidak menanyakan apa pun lagi. Namun, Darrell mendadak memberikan kejutan pada mereka.
"Liburanku di Swiss gagal. Aku mau membawa kalian berlibur ke sana. Anggap saja ini adalah hadiah terindah untuk seluruh anggota keluargaku," jelas Darrell.
Alan tersenyum bahagia karena dia terbebas dari jeratan tuannya. Namun, ternyata dia salah besar.
"Alan, kamu juga ikut," ucap Darrell lagi.
Glek!
"Kenapa, Alan? Kamu tidak mau ikut keluarga kami untuk berlibur?" tanya Javer.
Sharron malah tertawa. Dia puas sekali melihat wajah Alan seperti kelinci yang gagal move on. Bibirnya sedikit mengerucut dan wajahnya lesu.
"Bukan begitu, Tuan. Ini kan liburan keluarga besar Wesley, lebih baik aku berada di kantor saja untuk mengurus rapat penting saat Anda pergi," tolak Alan. Dia tidak mungkin pergi bersama mereka. Mereka semu berpasangan, sementara dirinya sendiri. Tidak mungkin kan dia harus bersama Noelle.
__ADS_1