Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 84. Sedikit Lagi


__ADS_3

Alan sudah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Dia sudah mereservasi kamar hotel yang akan digunakan Noelle untuk menyelesaikan misinya. Sedangkan Darrell malam ini harus meminta izin Sharron supaya bisa keluar. Pasalnya siang tadi, Darrell mendadak hilang selera makannya karena memikirkan adiknya, Maggia. Hingga akhirnya Sharron merasa kesal seperti dipermainkan oleh suaminya.


"Sayang, apa kamu masih marah padaku?" tanya Darrell. Kalau dia sampai tidak bisa merayu Sharron, bisa dipastikan akan kehilangan sebagian besar rencananya.


"Tidak, untuk apa aku marah padamu?" tanyanya sembari memanyunkan bibir.


"Kondisikan bibirnya! Kalau tidak marah, kenapa harus manyun?"


"Tidak apa-apa. Nanti juga kembali seperti semula."


Hening.


Darrell sedang bersiap-siap untuk menghadiri pertemuan dengan tuan Blair seperti rencananya. Namun, sesekali dia melirik Sharron yang duduk menepi di ranjang. Dia memakai selimut untuk menutupi kaki sampai perutnya.


Darrell selesai bersiap. Sharron penting baginya, tetapi tuan Blair juga jauh lebih penting untuk saat ini.


"Sayang, jangan tunggu aku! Tidurlah! Aku akan pergi menemui klien malam ini," pamit Darrell. Sebelum berangkat, Darrell mengecup kening istrinya. Tak ada penolakan selain pasrah membiarkan suaminya memberikan kecupan sejenak kemudian meninggalkannya.


Gegas Darrell menuju ke basemen. Alan sudah menunggunya di sana.


"Semuanya sudah siap, Tuan. Noelle akan pergi ke sana sendirian. Jadi, kita bisa langsung menuju ke sana, Tuan."


"Baguslah, Alan. Oh ya, kita akan ke sana menggunakan mobilku saja. Biar aku yang mengemudi."


Darrell tak ingin membuang waktu. Malam ini harus mendapatkan semua bukti yang menjelaskan bahwa Sharron memang benar memiliki hubungan darah dengan Samuel Alexander.


...****************...


Bar di kota besar seperti ini selalu ramai. Apalagi di sana merupakan tempat nongkrong pengusaha dan kliennya. Terkadang mereka juga ditemani wanita malam yang sudah disewanya. Itupun tidak secara terang-terangan. Mereka selalu berkelompok.


Menurut kabar yang diterima Alan, tuan Blair sudah datang lebih dulu. Tak lama, Alan dan Darrell pun menyusulnya setelah mobil yang mereka tumpangi berjajar rapi di tempat parkir.


"Noelle sudah datang?" Darrell berusaha memastikan saja.


"Dia tidak mengabariku sama sekali, Tuan."

__ADS_1


Kekhawatiran Alan jelas terlihat. Kalau sampai Noelle tidak datang, habislah dia oleh tuannya. Namun, Darrell tetap berusaha setenang mungkin. Dia meyakini kalau Noelle akan datang tepat pada waktunya.


Dari kejauhan, Alan dan Darrell berpandangan setelah melihat tuan Blair tidak datang sendirian.


"Alan, dia datang dengan orang lain?" bisik Darrell.


"Maaf, Tuan. Kurasa dia datang sendirian. Noelle masuk lebih cepat dari yang kuduga."


Darrell merasa lega. Semoga malam ini tidak ada kendala yang berarti. Keduanya bergegas mendekat kemudian menyapa tuan Blair.


"Selamat malam, Tuan," sapa Darrell.


"Malam, Darrell. Maaf, aku datang bersama wanita cantik ini." Tunjuknya pada Noelle. Sebenarnya Blair tidak sengaja bertabrakan dengan gadis itu saat masuk ke dalam. Setelah berkenalan, Noelle sadar kalau target yang dituju memang orang ini.


Noelle pura-pura mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Alan maupun Darrell.


"Marylou," jawab Noelle. Dia sengaja memperkenalkan diri dengan nama itu.


"Senang berkenalan denganmu, Nona Lou," ucap Alan.


"Begini Tuan, perusahaanku tertarik untuk menjalin kerjasama dengan AX Corporation," ucap Darrell mengawali pertemuannya.


Sesekali mereka menikmati minuman karena Alan sudah memesannya sesuai dengan rencana.


"Tidak masalah, Tuan Darrell. Ajukan proposalnya. Kita akan bertemu di dalam meeting. Untuk malam ini, bolehkah kita tidak terlalu bersikap resmi. Maksudku, aku ingin suasana senyaman mungkin. Lagi pula, aku tidak akan membicarakan bisnis bersama dengan gadis cantik sepertinya." Blair tidak ragu untuk mentoel dagu Noelle yang mengaku bernama Marylou di hadapan banyak orang.


Darrell mengangguk. Dia lantas meneguk Wine sama seperti yang dilakukan Alan. Sementara Blair sengaja minum dari tangan Noelle. Pria itu langsung tergila-gila padanya.


"Kau tahu, Tuan, malam ini kamu membawa keberuntungan padaku. Aku bisa bertemu wanita secantik dirinya setelah sekian purnama aku tidak menikmatinya."


Ya, Blair terlalu fokus pada perusahaan hingga dia sendiri melupakan cara untuk membahagiakan dirinya. Darrell dan Alan pun cuma bisa tersenyum melihat tingkah pria mendekati 50 tahun itu.


"Tuan bisa saja," balas Noelle. Sebenarnya Blair bukan pria yang buruk. Dia lumayan tampan dan memiliki segalanya. Bahkan, disaat pertemuan pertamanya, pria itu sudah meminta maaf karena tidak sengaja menabraknya.


"Anda terlihat senang sekali, Tuan Blair. Apakah kesibukan perusahaan yang membuat Anda menjadi seperti ini?" goda Alan. Bagaimanapun dia juga mengenal tuan Blair dengan sangat baik.

__ADS_1


"Anda benar, Alan. Aku terlalu sibuk mengurus perusahaan sehingga lupa untuk membahagiakan diri sendiri. Ya, kurasa malam ini aku lebih dari sekadar beruntung. Marylou membuatku menggila," jelas Blair.


Kurasa dia sudah mulai mabuk. Semoga Noelle tidak melupakan apa yang sudah kusampaikan seharian ini.


"Tuan Blair, bagaimana kabar Nyonya Bellatrix?" Tak ada yang penting bagi Darrell selain mencoba menggali informasi sebanyak mungkin mengenai keluarganya. Darrell hanya tahu Blair dan Bellatrix saja selama ini. Dia tak pernah tahu sangkut pautnya dengan masa lalu AX Corporation.


"Dia baik. Begini rasanya mengurus perusahaan yang diwariskan dari mertuaku. Aku harus memperbaiki semuanya," ucap Blair.


Glek!


Alan dan Darrell berpandangan. Sepertinya kamar hotel itu tidak akan berguna kali ini. Perlahan Blair membuka sedikit rahasianya.


"Maaf, Tuan. Jadi, sebenarnya AX Corporation bukan milik Anda?" tanya Alan. Dia sangat tidak sabaran kali ini.


"Bukan. Aku menjadi CEO setelah orang tua istriku meninggal."


Oh God, sebenarnya apa yang tidak kami tahu? Jadi, ini berurusan dengan mertuanya? Itu artinya seluruh rahasia ada di mansion Blair.


"Kami sangat tertarik dengan cerita Anda, Tuan Blair. Ini sangat menarik sekali," ucap Darrell.


Blair terus saja minum. Dia malah seperti orang yang tidak pernah memuaskan dahaganya dengan minuman sebanyak ini. Alan mencoba memberikan kode bahwa Blair tidak mungkin diinterogasi dalam kondisi seperti ini.


"Tuan, jangan minum lagi! pinta Noelle. "Anda sudah mabuk, Tuan." Noelle mengguncang tubuh pria itu untuk berhenti. Namun, tetap saja Blair menghabiskan minumannya.


"Bawa dia ke kamar seperti yang sudah kupesan. Kurasa kamu akan mendapatkan jawabannya di sana," bisik Alan pada Noelle.


"Tuan, lebih baik Anda pulang sekarang. Anda sudah sangat mabuk," perintah Darrell.


"Tidak, Tuan, aku tidak mabuk," racaunya.


Padahal sejak awal berbincang, Blair sudah meminum sebanyak itu. Dia memang tipikal pria yang kuat minum. Beda dengan Darrell yang bisa mabuk hanya dengan satu atau dua gelas.


"Pergilah, Alan. Bantu Tuan Blair!"


Darrell yang akan membayarnya. Dia belum puas kalau mendapatkan berita setengah seperti itu. Sedikit lagi perihal keluarga Samuel Alexander akan terungkap.

__ADS_1


Susah payah Alan membantu Noelle membawa Blair ke kamar hotel. Mereka harus menyeberang jalan untuk sampai ke sana sehingga Alan memasukkan Blair ke dalam mobilnya. Sementara membiarkan Darrell menunggu di bar sebelum kembali ke apartemen.


__ADS_2