
"Dad, hentikan! Geli," tolak Sharron.
"Aku akan berhenti kalau kamu tidak kesal lagi padaku. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu permasalahkan setiap kali membahas sesuatu yang panas seperti itu."
"Karena aku belum siap, Dad!"
"Kau belum pernah melakukan sebelumnya dengan kekasihmu? Ehm, maksudku apakah sebelumnya kau punya kekasih?" Darrell salah bicara. Hal itu semakin membuat Sharron tambah kesal.
"Lepaskan! Aku mau mandi. Ada atau tidaknya kekasih di masa laluku, itu bukan urusan Daddy!" Sharron bisa lepas dari jeratan Darrell karena gadis itu mencoba menggigit tangan Darrell.
Setelah Sharron berhasil lolos dari Darrell, pria itu cukup senang melihat tingkah Sugar Baby-nya itu. Banyak wanita di luaran sana yang akan sukarela menawarkan tidur dengan Darrell. Namun, Darrell selalu menolaknya. Ini merupakan sisi lain yang langka bagi Darrell. Menurutnya kepuasan sesaat seperti itu malah membuatnya seperti pria murahan.
Bersama Sharron, Darrell seakan menemukan kebahagiaan tersendiri. Gadis muda itu sepertinya masih amatiran untuk urusan menjadi Sugar Baby-nya. Itulah yang menyebabkan semakin hari, Darrell semakin tertarik padanya. Bukan hanya segi fisiknya yang terlihat sempurna di mata Darrell, tetapi kepolosan Sharron yang membuatnya menarik.
Setiap pertemuannya dengan Callie, istrinya, Darrell selalu merasa tertekan. Callie seolah tidak memahami takdir yang harus diterimanya. Dia yang membuat Darrell berubah. Dari pria baik-baik kemudian terpaksa memiliki simpanan.
Beruntung, Alan mencarikan gadis muda yang ada di situs kencan buta. Darrell langsung mau menerima tawaran asistennya itu setelah Alan menunjukkan fotonya.
Merasakan Sharron terlalu lama di dalam kamar mandi, Darrell mengetuk pintunya. Dia juga memanggil nama gadis itu berulang kali.
Tok tok tok.
"Sharron, Sharron! Kamu baik-baik saja, kan?" teriak Darrell dari luar.
Sharron yang sedang berendam di dalam bathtub tidak mendengar panggilan itu. Dia sangat menikmati suasana hatinya yang mulai membaik karena menghirup aroma terapi yang dicampurkan ke dalam air di bathtub-nya.
Masih di luar kamar mandi, Darrell mencoba mengetuk untuk kesekian kalinya. Namun, tetap tidak mendapatkan respon. Darrell mencoba memutar handel pintu, ternyata pintu kamar mandi tidak dikunci oleh Sharron.
"Dasar ceroboh!" gerutu Darrell. Daripada dia hanya mengira-ngira saja apa yang terjadi di dalam, Darrell memutuskan untuk masuk ke dalam. Dia tidak melihat keberadaan Sharron di depan cermin ataupun di kamar mandi shower.
Darrell bisa tersenyum lega manakala melihat gadisnya itu sedang memejamkan mata, berendam di dalam bathtub. Sepertinya memang ketukan pintunya barusan sama sekali tidak mengganggunya.
__ADS_1
Agresif. Satu kata itu yang membuat Darrell maju untuk mendekati Sharron. Dia ingin langsung membelai wajah Sharron dengan lembut. Ingin diurungkan niatnya itu, tetapi mengingat wajah Callie yang terus memaksanya untuk menyukai wanita lain membuat Darrell nekad.
Sapuan perlahan tangannya sampai di pipi Sharron. Tentu saja gadis itu terperanjat. Sharron langsung membuka matanya.
"Dad?"
Darrell langsung memberikan kecupan lembut di kening Sharron. Sepersekian detik keduanya sangat menikmati sampai akhirnya Darrell melepaskan kecupannya.
"Kau ini ceroboh sekali! Harusnya dikunci dari dalam. Atau, kau sengaja memancingku supaya bisa masuk dengan mudah?"
"Tidak! Daddy saja yang ingin masuk. Iya, kan?" balas Sharron.
Posisi Sharron saat ini dalam keadaan polos berada di dalam gelembung sabun yang berada di bathtub-nya.
"Dad, tolong keluar sebentar! Aku mau membersihkan diri," ucap Sharron lagi.
"Memangnya kenapa kalau aku ada di sini, Baby?" tanya Darrell.
"Iya, iya. Aku keluar. Cepat bersihkan dirimu. Aku akan memesan sarapan pagi untuk kita," ucap Darrell.
Sharron melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda gara-gara kedatangan Darrell yang tiba-tiba masuk ke kamar mandi. Setelah Darrell keluar, secepatnya dia keluar dari bathtub, pindah ke kamar mandi yang ada shower di dalamnya. Sharron segera mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower. Rasanya segar sekali setelah semalaman tidur berdua dengan Darrell yang membuat irama jantungnya tidak terkondisikan.
Selesai membersihkan diri, berganti pakaian, dan memoles wajahnya dengan natural make up, Sharron lekas keluar dari kamar mandi. Cukup lama dia berada di sana.
"Sudah selesai?" tanya Darrell.
"Iya, Dad." Sharron memilih duduk di sofa karena pria itu sudah memesan makanan untuk sarapan pagi. "Sarapan paginya sudah di antar? Atau, mau kubuatkan kopi?"
"Belum. Aku minta tolong Alan untuk membelikannya. Aku tidak mau ada orang lain yang melihatku di sini selain Alan."
"Oh, apakah dia tidak pergi ke kantor, Dad?" tanya Sharron penasaran. Sejujurnya dia penasaran. Ini sudah menunjukkan jam sembilan lebih. Mengapa asisten Darrell mau saja menuruti keinginan tuannya? Harusnya Sharron bisa memasak kan sudah cukup untuk mereka tanpa harus mengganggu Alan.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Meeting jam 10 diundur menjadi jam 11. Sebentar lagi Alan datang. Aku yang membuka pintunya. Tunggulah di ruang makan. Kalau kau mau membuat teh hangat atau apapun, silakan!"
"Baiklah." Sharron beranjak ke ruang makan. Dia mampir ke dapur sebentar untuk membuat teh hangat tawar yang menyegarkan. Tak lupa, dia juga membuatkan untuk Darrell.
Bel apartemen berbunyi. Darrell yang sedianya berjanji untuk mengambil makanan yang dikirim Alan pun lantas keluar. Ya, Alan yang datang membawa beberapa paper bag makanan.
"Kau bawa semua pesananku?" tanya Darrell yang lebih dulu membuka percakapan dengan Alan.
"Iya, Tuan. Sesuai permintaan Anda." Alan menyerahkan tentengan paper bag di tangannya.
"Terima kasih. Oh ya, kau mau mampir sarapan bersama kami, atau langsung pergi ke kantor?"
"Tidak, Tuan. Terima kasih. Oh ya, maaf kalau aku lancang. Semalam Nyonya Callie mengirimkan pesan padaku. Dia mengatakan kalau nomor Anda tidak bisa dihubungi."
"Iya, aku menonaktifkan ponselku sampai aku kembali ke mansion. Ada pesan apa darinya?"
"Setelah Anda kembali, Nyonya meminta Anda untuk bersiap dinner romantis bersamanya. Dia juga sudah mengirimkan alamat restorannya padaku. Apakah Tuan ingin tahu sekarang, atau dari Nyonya Callie saja?"
Darrell merasa sedikit aneh dengan pesan Callie barusan. Sudah lama sekali Callie menolak ajakan makan malam. Mengapa sekarang dia yang berminat untuk mengajaknya?
"Tidak perlu. Lusa, aku akan pulang kemudian menemuinya. Pergilah ke kantor! Rapat hari ini sangat penting untuk kemajuan perusahaan. Handel dengan baik. Aku percaya padamu, Alan." Darrell menepuk pundak Alan untuk memberikan support agar pria itu semakin semangat. "Oh ya, mulai hari ini, jangan lupa berkencan dengan para gadis. Aku tidak mau kau menjadi perjaka tua hanya gara-gara peraturanku. Terima kasih sudah memperkenalkan aku pada Sharron. Dia gadis yang luar biasa."
Glek!
Alan tertegun menatap tuannya. Mungkinkah Darrell sudah jatuh cinta pada Sharron? Secepat itukah Sharron mampu mengendalikan pria di hadapannya itu? Atau tuannya yang sudah menghipnotis Sharron dengan rayuan mautnya selama ini?
"Apakah Anda sudah--"
"Tentu saja, Alan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik ini, bukan."
Glek!
__ADS_1
Rupanya Alan sudah bisa menduga bahwa Darrell sudah tidur dengan Sharron. Itu artinya sebentar lagi Alan akan kerepotan mengurus kompensasi besar yang akan diberikan pada Sharron. Namun, sebagai laki-laki mendadak dia iba pada Sharron. Sanggupkah dia kehilangan bayinya?