
Allegra dan suaminya masih berada di Italia. Dia merindukan Sharron sehingga memutuskan untuk menyusulnya ke Meksiko. Namun, mereka lupa jika Sharron dan Darrell sedang pergi berbulan madu.
Sesampainya mereka di mansion Darrell, Allegra mendapatkan keanehan. Semua pelayan mengatakan padanya kalau Darrell tidak pernah pulang ke mansion selama ini. Apalagi mereka sempat mendengar bahwa tuannya itu sudah menikah lagi.
"Apa? Jadi, Darrell tidak pernah lagi pulang ke mansion?"
Semua pelayan yang sedang berkumpul itu mengangguk. Allegra harus memutuskan untuk meninggalkan Italia dan menetap di sini. Walaupun pada akhirnya mendapatkan penolakan dari suaminya.
"Kita ke sini hanya untuk sementara. Kalaupun Darrell tidak pulang ke mansion ini, mungkin dia tidak ingin mengenang masa lalunya dengan Callie. Kuharap kamu mengerti keputusan yang sudah diambilnya."
Javer benar. Mansion mewah ini menjadi tempat tinggal Darrell dan Callie beberapa tahun yang lalu sampai akhirnya Callie meninggal dengan cara tragis. Sebuah kecelakaan tunggal telah merenggut nyawanya.
"Lalu, selama ini Darrell tinggal di mana?"
"Mungkin saja di apartemen. Kita bisa tanyakan ini pada Darrell di kantor." Usul Javer memang bukan tanpa alasan. Jam-jam seperti ini tentunya Darrell masih berada di kantor.
Gegas Javer mengendarai mobilnya menuju ke kantor. Allegra pun bersamanya. Dia ingin lekas bertemu dengan Darrell karena ada hal penting yang ingin disampaikan pada putranya. Tidak bisa melalui telepon sehingga Allegra memaksa datang ke Meksiko.
Kekecewaan bertambah manakala mereka tidak mendapati Darrell berada di kantor. Alan menyampaikan kalau Darrell sedang berada di Swiss untuk menikmati bulan madunya.
"Jadi, mereka pergi ke Swiss tanpa mengabariku?" tanya Allegra.
Saat ini mereka sedang berada di dalam ruangan Alan. Javer yang merasa mengingat sesuatu kemudian menyampaikan hal itu pada istrinya.
"Ma, bukankah kamu yang mengirimkan tiket liburan mereka?" tanya Javer.
Allegra lantas memegang keningnya sendiri. Dia yang merencanakan, dia juga yang lupa. Beberapa hari terakhir ini tidurnya tidak tenang. Setiap kali tidur, dia selalu memimpikan bayinya yang hilang sudah tumbuh menjadi dewasa. Namun, dia tidak tahu wajahnya secara jelas. Semula dia mengira kalau wajah putrinya itu hancur tak bisa dikenali.
"Ya ampun, maafkan aku, Alan. Aku melupakannya." Allegra mengaku salah, tetapi mimpinya itu membuat Allegra ketakutan sekali.
__ADS_1
"Kenapa, Nyonya?" tanya Alan.
Allegra terlihat ingin bercerita, tetapi seperti tertahan. Sebagai seseorang yang dekat dengan keluarga tuannya, Alan bisa merasakan kekhawatiran Allegra.
"Mama sebaiknya cerita saja pada Alan. Dia juga sudah seperti Darrell. Dia bisa membantu Mama mengatasi semua masalah."
"Alan, kamu mau kan mendengarkan ceritaku?" tanya Allegra.
"Silakan saja, Nyonya."
Allegra menceritakan semua mimpinya selama ini. Setiap mimpi itu datang, Allegra selalu ketakutan. Selain itu, wajah gadis dalam mimpinya itu terlihat tidak jelas. Sehingga membuat Allegra semakin setres memikirkannya. Terkadang, dia merasa kalau Maggia masih hidup, tetapi Javer selalu menguatkan supaya Allegra ikhlas.
Kalaupun putri bungsunya itu masih hidup, mereka akan sangat sulit mencarinya. Sudah 25 tahun mereka tidak lagi melakukan pencarian. Akan sangat sulit menemukan keberadaan Maggia.
"Nyonya jangan khawatir. Aku sudah menyewa detektif swasta di Italia. Ini atas permintaan tuan Darrell, tetapi sampai saat ini aku belum mendapatkan kabar dari mereka."
Allegra bukannya semakin semangat, dia malah sedih. Usahanya untuk menemukan Maggia tidak kali ini saja. Ketika Maggia masih kecil pun mereka sudah berusaha. Penjahat itu telah menghilangkan jejak kehidupan anak gadisnya. Itulah yang membuat Allegra maupun Javer sulit menemukannya.
Tidak mungkin. Kalaupun Noelle adalah Maggia, mengapa keluarga Wesley tidak ada yang mengenalnya?
Pekerjaan Alan semakin rumit. Urusannya mengenai Sharron belum selesai, sekarang Maggia. Sebenarnya kehidupan Alan digunakan untuk mengurusi wanita, tetapi dia tidak memiliki seseorang yang bisa menguatkannya.
...🌽🌽🌽...
Selama menunggu Darrell dan Sharron kembali ke Meksiko, Javer dan Allegra menginap di hotel. Dia tidak tega untuk tinggal di mansion putranya yang mana bayangan Callie juga terus menari di pelupuk matanya.
Menjelang makan malam, Allegra sudah menunggu suaminya di restoran. Dari kejauhan pandangan mata Allegra tertuju pada seorang gadis yang dikenalnya sedang bersama pria berumur. Walaupun tidak terlihat jelas berapa umur pria itu, tetapi Allegra sudah bisa menebak bahwa pria itu terlihat seperti sedang mencoba memanjakan gadisnya.
Pria itu mengapa memperlakukan Noelle seperti itu? Apa sebenarnya pekerjaan Noelle? Dia seperti wanita murahan. Kasihan sekali keluarganya kalau sampai tahu bahwa dia terlihat seperti ******.
__ADS_1
"Mama!" tegur Javer.
"Eh, Papa! Mengagetkanku saja."
"Kenapa Mama melamun?" Javer duduk di kursi tepat di hadapan istrinya.
"Aku seperti melihat Noelle dengan seorang pria, Pa. Ya, walaupun aku tidak terlalu dekat dengan gadis itu, tetapi aku tidak suka sikapnya yang suka menempel dengan pria. Menjijikkan!" cibir Allegra.
Wanita paruh baya itu memang anti sekali dengan hubungan sebebas itu. Mengapa Allegra bisa yakin kalau pria itu orang lain? Karena setahu Allegra, Noelle tidak memiliki pasangan.
"Mama! Dia itu orang lain. Tak seharusnya Mama bersikap seperti itu. Kalaupun dia memutuskan dengan kehidupan yang seperti itu, kita tidak berhak ikut campur."
Javer benar. Allegra kembali fokus pada makanan yang ada di mejanya. Tidak boleh mempedulikan orang lain. Dia sudah cukup memiliki masalahnya sendiri.
"Ya, Pa, aku minta maaf. Mungkin aku terlalu merasa kalau anakku masih hidup. Makanya setiap aku bertemu dengan gadis seusia Noelle ataupun Sharron, aku merasa kalau Maggia masih hidup. Kau tahu, Pa, bayanganku tentang Maggia tidaklah baik. Aku merasa kalau kehidupannya sedang berkesusahan di luaran sana."
Perasaan seorang wanita memang sangat sensitif. Apalagi ini menyangkut dengan kehidupan anaknya yang telah lama hilang. Sekuat apapun Javer meyakinkan bahwa Maggia telah tiada, Allegra selalu meyakinkan dirinya bahwa Maggia masih hidup. Hanya saja waktu yang belum mempertemukan mereka.
"Pa, boleh aku minta sesuatu?" tanya Allegra.
"Hemm, katakan!" balas Javer setelah menyuap makanan ke mulutnya.
"Bisakah aku bertemu lagi dengan Noelle? Maksudku, aku ingin mengajak makan malam gadis itu. Apa kau mengizinkannya?"
Ketertarikannya pada gadis itu semakin membuat Allegra selalu ingin melihat wajahnya. Namun, Allegra selalu menepis bahwa gadis itu jelmaan Maggia. Tidak ada kemiripan sama sekali. Hanya ingin membayangkan bagaimana saat bersama putrinya kelak. Lagi pula, Allegra tidak menyukai sikap Noelle yang sepertinya mudah sekali menempel pada pria.
"Tentu, tapi bagaimana caramu mengajaknya makan malam? Apalagi kamu tidak tahu di mana dia tinggal."
"Aku akan meminta tolong Alan."
__ADS_1
Alan lah yang akan membantu Allegra menghapus mimpi buruknya selama ini. Mungkin dengan berada di sini dan membuat sesuatu yang berbeda akan membuat Allegra jauh lebih tenang.