Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 111. Kerjasama


__ADS_3

Alan sampai ke kantor sudah sangat terlambat sekali. Darrell sudah mencoba menghubunginya, tetapi Alan tidak mengangkat sama sekali. Dia sudah memberikan pesan pada resepsionis untuk meminta Alan datang ke ruangannya.


"Tuan Alan, Anda baru datang," ucap resepsionis.


"Iya, kenapa?"


"Tuan Darrell meminta Anda untuk lekas masuk ke dalam ruangannya."


Oh God, sebentar lagi dia pasti marah besar. Sharron juga penting, rupanya dia lebih penting dari apapun.


Alan mengetuk pintu kemudian lekas masuk. Tatapan mata Darrell membulat sempurna ketika melihat kedatangannya.


"Apakah apartemen Noelle sudah pindah?" sindir Darrell.


"Tuan, aku minta maaf. Ini pertama kalinya. Ponsel Nyonya Sharron tadi ketinggalan di mobil. Aku harus mengambilkannya lebih dulu. Nanti Tuan akan kesulitan menghubungi kalau ponselnya bersamaku."


"Baiklah, kali ini kamu lolos. Ada perkembangan apa? Atau, apakah kamu bertemu dengan seseorang?" selidik Darrell.


"Tidak, Tuan. Aku hanya bertemu dengan Nyonya Allegra, tetapi ada yang sedikit aneh dengan Nyonya Sharron."


Deg!


"Apa menurutmu istri kecilku itu semakin aneh?"


"Bukan begitu, Tuan. Kurasa dia mulai berbohong. Ah tidak, maksudku dia mulai--"


"Kamu pikir istriku tidak waras, begitu?" Darrell meradang. Bisa-bisanya sang asisten menuduh istrinya seperti itu.


Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah. Alan menceritakan kronologi kejadian hari ini. Hal itulah yang membuat Darrell akhirnya berpikir.


"Apakah mereka sedang menyembunyikan sesuatu?"


"Aku tidak tahu, Tuan. Hanya saja sikap mereka sangat aneh. Oh ya, apakah Anda tidak berencana menemui tuan Blair di dalam penjara?"


Sebenarnya usul dari Alan bukan suatu masalah, tetapi mengingat ada kejadian buruk yang dialami adiknya kala itu membuat Darrell mengurungkan niatnya.


"Kurasa aku tidak perlu datang ke sana, Alan. Daripada aku menemuinya, lebih baik aku berpikir bagaimana caranya mendapatkan informasi mengenai Samuel Alexander. Nyonya Bellatrix pun menghilang entah ke mana. Aku butuh bantuan wanita itu."


"Apa perlu meminta bantuan orang lain?" tanya Alan.


"Tidak! Kita bicarakan nanti saat makan siang. Lebih baik kamu kembali ke ruangan dan bekerjalah dengan baik."


Darrell memilih sendiri. Kasus Blair membuatnya tidak tenang. Dia masih penasaran dengan orang-orang yang berada di balik kejadian itu.

__ADS_1


Alan melihat ponselnya. Tak ada pesan masuk di sana. Dia mencoba memberikan kabar pada istrinya.


[Sayang, kau di mana?]


Lama tak mendapatkan balasan, Darrell meninggalkan kantornya menuju ke apartemen Noelle. Perasaannya tidak nyaman, tetapi sebelum pergi, Darrell menuju ke ruangan asistennya.


Darrell mengetuk pintu, Alan kebetulan baru saja dari pantry membawa secangkir kopi.


"Tuan?"


"Oh, Alan. Aku mencarimu."


"Maaf, Tuan. Aku baru saja dari pantry. Silakan masuk!"


"Tidak perlu, Alan! Aku terburu-buru. Hari ini tidak ada rapat penting lagi, aku harus segera pergi sekarang."


"Anda mau ke mana, Tuan?"


"Menjemput istriku. Perasaanku tidak enak sekali," ucapnya.


"Baiklah, Tuan."


Darrell bergegas menuju ke mobilnya. Tak lupa dia membawakan oleh-oleh untuk istri dan keluarga besarnya. Orang tuanya entah kapan akan kembali lagi ke Italia. Sepertinya mereka terlalu senang mendapati anak perempuannya kembali.


Darrell menenteng beberapa kantung plastik. Dia membawakan beberapa kue dan sedikit belanjaan. Tak lupa satu buket bunga untuk istrinya. Dia memang bukan tipikal pria yang sangat romantis, tetapi dia paham betul bagaimana cara membahagiakan istrinya.


Darrell menekan bel berulang kali. Dia merasa kalau apartemen ini sedang kosong.


"Ke mana perginya semua orang?" ucapnya lirih.


Tak lama, Sharron dan semua orang baru saja datang.


"Sayang, kau di sini?" tanya Sharron.


"Iya, kalian dari mana saja?"


"Kami baru saja berbelanja, Darrell. Kau terlihat sangat khawatir sekali," balas Allegra.


Noelle membuka pintu apartemennya dan membiarkan semua orang masuk. Javer yang paling belakang membawa beberapa barang belanjaan dibantu oleh Darrell.


"Kau membawakan aku bunga? Tumben sekali. Kau tidak sedang sakit, kan?" canda Sharron.


"Tidak, aku baik-baik saja. Aku datang ke sini karena pesan yang kukirimkan tidak pernah kamu balas."

__ADS_1


Sharron mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Benar saja dia tidak tahu, ponselnya mode silent.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu cemas."


"Kau tahu, Sharron. Semenjak Blair tertangkap, aku sangat mengkhawatirkanmu. Bagaimana kalau dia mencoba menyakitimu dari orang lain? Bellatrix juga tidak ada di mansionnya, bukan. Mereka mengira kita yang telah melakukannya," ucap Darrell.


"Memang kami yang melakukannya, Darrel," sahut Javer.


"What? Apa aku tidak salah dengar?"


Javer menggeleng.


"Nyonya Bellatrix berada di mansionmu, Kak," sahut Noelle.


"Tunggu! Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku seperti pria bodoh yang tidak tahu apa pun? Apakah kalian melakukan konspirasi?" tuduh Darrell.


"Tunggu, Sayang! Dengarkan penjelasan mereka dulu," pinta Sharron.


Allegra maju kemudian menjelaskan semua permasalahannya. Kini, tugas yang paling akhir diserahkan pada Darrell dan istrinya. Karena mereka merasa kalau Sharron masih ada hubungannya dengan AX Corporation. Allegra meminta putranya untuk masuk ke perusahaan. Lebih tepatnya ke perpustakaan.


"Kurasa kalian semua sudah tidak waras. Ini namanya tindakan kriminal. Papa juga mendukung mereka semua?"


Javer mengangguk. "Bukan sepenuhnya rencanaku. Nyonya Bellatrix menyerahkan beberapa kunci duplikat supaya kalian bisa masuk ke sana," jelas Javer.


"Oh ya ampun, bagaimana caraku bisa masuk ke sana? Sementara penjagaan kantor itu sangat ketat sekali."


Itulah yang saat ini sedang dipikirkan Sharron. Mereka tidak mungkin bisa masuk ke sana siang hari atau selama ada kegiatan perkantoran.


Darrell pun ingin lekas mendapatkan kejelasan mengenai istrinya, tetapi kalau cara yang dilakukan harus seperti ini, dia merasa sisi romantis dengan Sharron hanyalah bayangan semu.


"Kita minta petunjuk Alan, Sayang. Dia pasti memiliki seribu cara untuk bisa masuk ke sana. Maaf, bukan maksudku meremehkan kamu, tetapi kerjasama ini juga perlu. Benar begitu kan, Ma?" ucap Sharron.


"Darrell, pikirkan baik-baik! Kita sudah setengah jalan. Sebelum Blair bisa bebas, kita harus memanfaatkan situasi ini dengan sangat baik. Setelah semua kejadian di sini selesai, barulah Mama dan Papa akan kembali ke Italia," jelas Allegra.


"Kak, ayolah! Demi Sharron juga, kan? Setelah itu kehidupan keluarga kita semakin tenang."


Noelle benar. Sharron harus mendapatkan apa yang menjadi haknya. Jika memang kenyataannya Sharron adalah anak dari Samuel Alexander, maka AX Corporation akan menjadi miliknya secara sah.


"Baiklah. Aku akan meminta Alan untuk datang kemari, tetapi kita tidak akan melakukannya malam ini. Mungkin besok malam kita baru pergi ke kantor itu," ucap Darrell.


"Jangan, Darrell! Lebih cepat lebih baik," tegas Javer.


Ada alasan kuat mengapa Javer menolak usul putranya. Semakin Darrell mengulur waktu, kemungkinan besar Blair bebas akan terlihat jelas. Pria itu pasti menggunakan segala cara liciknya untuk menjegal lawannya. Malam ini juga, mereka harus menyelesaikan tugasnya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2