
Swiss dengan suasana yang berbeda. Darrell sedang menikmati kebersamaannya dengan Sharron. Pasangan suami istri ini semakin lengket dan terlihat sangat romantis. Kali ini mereka tidak tinggal di hotel yang beberapa bulan lalu digunakan untuk menginap.
"Sayang, ini bulan madu kedua kita. Kali ini kita harus berhasil mencetak gol untuk mendapatkan Darrell junior. So, ikuti aturan mainku," ucap Darrell.
"Ish, di manapun kamu selalu mesum. Kita berlibur ini untuk menyenangkan mama, papa, dan Maggia atau Noelle, ya," balas Sharron.
Tangan Darrell sudah memeluk istrinya dari belakang. Mereka sedang menikmati keindahan alam pegunungan Swiss yang menyejukkan mata, menentramkan hati, dan menghibur diri.
"Mesum sama istri sendiri, apa salahnya?" Darrell mulai bergerilya mengecup leher istrinya secara merata.
"Sayang, ini geli! Nanti kalau mama lihat, bagaimana? Aku malu!" protesnya.
"Mama pasti tidak akan protes. Kamu saja yang selalu memberikan harapan palsu padaku," balas Darrell.
"Sayang, boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Hemm, katakan!"
"Apakah tuan Blair memiliki hubungan khusus dengan Samuel Alexander? Lalu, mengapa dia ingin menyakiti Noelle? Kalau tahu pria itu kejam, aku lebih baik tidak tahu siapa keluargaku. Aku pun tidak akan menyesal, Sayang. Kalaupun mereka sudah mengambil segalanya dariku, aku lebih cukup bahagia sekarang. Jadi, untuk apalagi aku mengejarnya atau mengetahui kisah kelam yang tidak ingin kuketahui. Hidupku sekarang lebih sempurna dan sebentar lagi kita akan memiliki anak-anak yang lucu."
"Benarkah? Apakah kamu hamil?" Darrell memutar badan istrinya supaya berhadapan.
"Ish, kan belum, Sayang. Kenapa kamu buru-buru sekali?"
"Usiaku semakin hari menua, Sayang. Kalau kamu menundanya lagi, kapan kita akan mendapatkannya?"
Rayuan Darrell cukup jelas. Sharron memang tidak boleh egois. Ini kesempatan yang bagus untuk Sharron supaya lekas mendapatkan momongan.
"Baiklah. I'm yours. Lakukan apa pun yang kamu mau, Sayang." Sharron pasrah. Walau bagaimanapun ini pasti terjadi.
"Baiklah. Hari ini terakhir kali di luar kamar. Kita akan bekerja penuh di dalam kamar. Setelah kembali ke Meksiko, semoga mendapatkan kabar yang baik."
__ADS_1
Sharron cuma bisa membalasnya dengan tawa kecil. Kali ini dia tidak bisa menghindar lagi dari suaminya. Pertahanan Sharron jebol. Dia harus mau melayani suaminya dengan baik.
"Hemm, baiklah, Sayang. Oh ya, sebelumnya aku minta maaf. Sudah lama tidak bertemu Marcello. Bagaimana kabarnya?" tanya Sharron.
Darrell tidak suka mendengar nama pria itu disebut. Apalagi di hadapannya langsung. Dia melepaskan pelukannya.
"Bisakah kamu tidak menyebut namanya? Aku sudah lama melupakan nama pria itu, tetapi kamu malah menyebutnya. Atau, jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta padanya?" tanya Darrell.
Keributan yang diciptakan Sharron nyatanya masih kalah dengan apa yang didengarnya kali ini. Dari dalam kamar terdengar suara Allegra yang sedang marah pada seseorang, tetapi Sharron tidak bisa mendengar dengan jelas lantaran suaminya terus mengomel.
"Sayang, aku minta maaf. Urusan kita pending dulu. Itu mama kenapa marah-marah?" tanya Sharron.
"Apa kamu pikir ini baik, hah?" Suara melengking ini sampai terdengar di telinga Sharron dan Darrell.
"Jangan-jangan mama memarahi Noelle." Darrell bergegas menuju ke sumber suara diikuti Sharron di belakangnya.
Tepat di hadapannya, Noelle sudah bersimpuh di kaki mamanya. Air mata gadis itu tidak pernah berhenti sama sekali.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Darrell karena melihat kebungkaman mereka.
"Ma, jangan seperti itu! Dengarkan dulu alasan Noelle. Dia tidak sepenuhnya salah." Darrell tidak tahan melihat Noelle disakiti mamanya seperti itu. Dia ingin membelanya supaya mamanya tidak semakin marah.
"Jadi, kamu mau membela dia?" tunjuk Allegra pada Noelle. "Atau, jangan-jangan istri kamu juga orang yang sama dengan Noelle? Wanita murahan yang sengaja mengejar para pria kaya!"
Deg!
Darrell rasanya ingin marah saat ini juga. Entah, papanya sedang pergi ke mana dengan Alan. Sehingga adiknya ini berada berdua saja dengan mamanya. Mungkin saja semula Noelle niat mengatakan kejujurannya selama ini, tetapi Allegra sudah keburu tidak menyukai masa lalu putri bungsunya.
Sharron merasa seperti terkena besi panas yang langsung menghujam ke jantungnya. Dia pun baru tahu kalau Allegra sedang marah. Wanita paruh baya itu tidak peduli anak ataupun keluarganya.
"Sayang, ajak Noelle keluar! Aku mau bicara sama Mama," perintah Darrell.
__ADS_1
Sharron semula takut untuk menarik tangan Noelle yang saat ini berada di kaki mamanya. Namun, kalau dibiarkan begitu saja jelas dia akan dimarahi suaminya.
"Jangan berani-berani membawa Noelle keluar! Dia harus menyelesaikan masalahnya sekarang," sentak Allegra.
Darrell membantu adiknya untuk berdiri. Kalau dia tidak bertindak, mamanya akan sangat bertindak lebih jauh lagi.
"Tidak, Kak. Aku akan menyelesaikannya. Terserah Mama mau membuangku atau bagaimana," ucap Noelle lirih.
Darrell tidak peduli. Dia tetap menarik adiknya untuk keluar dari ruangan itu bersama istrinya.
"Keluarlah! Temui aku 15 menit lagi," perintah Darrell.
Kali ini kedua sahabat itu keluar. Sementara Darrell sedang berdua saja dengan mamanya.
"Mama, kenapa marah pada Noelle?" tanya Darrell setelah keduanya sama-sama bungkam.
"Mama jijik pada anak sendiri. Kamu tahu, bagaimana sakitnya Mama membayangkan anak gadis Mama ditiduri oleh banyak pria. Mama terluka, Darrell. Mama seperti tidak punya muka," keluhnya.
Darrell memang belum tahu benar apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu antara Noelle dan Sharron. Hanya saja Sharron memang terbukti masih gadis saat pertama kali Darrell yang merenggutnya di malam itu.
"Mama hanya mendengarkan dari sisi pribadi. Coba bicarakan baik-baik dengannya! Apa alasannya melakukan hal seperti itu?" Darrell sedang berusaha melunakkan hati mamanya.
"Apa kamu sudah tertarik dengan wanita murahan seperti mereka? Kalau Mama tahu Sharron pun seperti itu, pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi."
Kali ini Allegra tidak hanya menyerang Noelle, tetapi juga Sharron.
"Mama salah. Justru yang merusak kehidupan Sharron itu bukan dirinya sendiri, tetapi aku."
Allegra malah semakin terkejut dengan ucapan putranya. Susah payah Allegra membimbing anak sulungnya itu supaya tidak terjerumus dengan pergaulan bebas walaupun di tempat yang bebas untuk berhubungan seperti itu.
"Apa yang kamu sembunyikan dari Mama?" selidik Allegra.
__ADS_1
"Kebenaran kalau Sharron itu masih gadis ketika pertama kali aku bersamanya, Ma. Kalau soal Noelle, kurasa ada sesuatu yang Mama tidak pernah tahu darinya. Lebih baik aku atau Sharron yang akan bicara padanya. Mama tenangkan diri dulu. Mama rindu dengan Maggia, kan? Kalau memang Mama merindukannya, lebih baik coba berdamai dulu dengan keadaan," pinta Darrell.
Allegra terdiam. Dia mencoba mencerna ucapan putranya. Walau bagaimanapun Maggia memang putrinya. Puluhan tahun dia hidup di luaran sana seorang diri. Mungkin juga itu caranya untuk bertahan hidup selama ini.