
Semalam, tak ada pertarungan seru di ranjang. Hanya perdebatan seru untuk menjodohkan Alan dan Noelle yang kalau diperkirakan hanya akan terjadi sekitar 0% alias tidak mungkin.
Pagi ini, Darrell terburu-buru ke kantor. Dia tidak bisa sarapan di apartemen. Mendadak Alan mengabari kalau tuan Blair bisa bertemu malam ini.
"Sayang, maafkan aku. Malam ini aku tidak pulang ke apartemen. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di luar kota. Kuharap kamu tidak salah paham, ya! Maksudku, ada pekerjaan yang menyebabkan aku harus menginap di sana."
"Iya, Sayang. Tidak masalah. Tapi, mengapa mendadak sekali?"
"Ah, iya. Alan barusan memberitahukan padaku kalau klien ini datang kemudian ingin langsung menjalin kerjasama dengan perusahaanku."
"Baiklah. Hati-hati, ya! Jangan lupa kabari aku kapanpun kamu senggang."
"Tentu." Darrell memberikan kecupan selamat pagi.
...****************...
Suasana kantor masih pagi. Alan pun sudah sampai di sana. Mereka berada di ruangan yang sama.
"Alan, kurasa kita memang harus memutar haluan. Aku tidak ingin membiarkan Noelle terjebak seorang diri. Rencana kita ke Klub malam lebih baik kita tukar ke villa atau hotel. Setidaknya supaya tuan Blair tidak curiga. Bagaimana?"
Klub malam memang riskan bertemu dengan banyak orang. Apalagi pengusaha kelas atas seperti Darrell. Beberapa relasi bisnisnya pasti datang ke Klub untuk sekadar melepas penat.
"Putuskan saja, Tuan. Kalau memang villa, aku akan mencarinya."
"Jangan. Lebih baik kita cari hotel yang ada bar-nya. Atau, bar yang tidak jauh dari hotel."
Ini keputusan yang baik. Namun, dia harus hati-hati. Alan harus mempersiapkan Noelle sebaik mungkin.
"Kamu sudah mengabari Noelle?" tanya Darrell yang merasa gugup untuk menjalankan misi ini.
"Tuan jangan khawatir! Noelle sudah berpengalaman soal ini. Percayakan padanya. Informasi mengenai Samuel Alexander akan segera kita dapatkan."
Ya, hari ini Alan harus mempersiapkan segalanya. Dia harus briefing langsung pada Noelle. Tidak perlu catatan khusus, cukup dengan ucapan, gadis cantik itu pasti langsung paham. Apalagi ini berhubungan dengan sahabatnya.
"Kalau begitu kita putuskan untuk mencari bar terdekat, kemudian sebuah kamar hotel untuk menginap tuan Blair. Kurasa Noelle memang bisa mengatasinya." Darrell harus yakin kalau usahanya ini tidak akan sia-sia. Setelah Sharron menemukan keluarganya, selanjutnya giliran Darrell mencari Maggia. Keyakinannya pada gadis itu semakin kuat bahwa cepat atau lambat, mereka pasti akan dipertemukan.
Maggia, di mana kamu berada? Entah, kakak sempat meyakini kalau kamu memang masih ada di dunia ini. Semoga saja kita masih sempat dipertemukan.
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan pesan pada Noelle. Namun, pertemuan kami tidak akan berlangsung di Bellinghausen. Nyonya Sharron bisa curiga," pungkas Alan.
"Pergilah! Sementara aku akan mengawasi Sharron." Darrell tidak ingin Sharron sampai menemukan Alan dan Noelle bersama. Fantasinya untuk menyatukan kedua orang berbeda kutub itu akan sulit dimengerti.
Setelah Alan pergi, Darrell mengambil ponselnya. Dia berniat mengirim pesan pada Sharron supaya wanita itu tidak berniat menemui Noelle yang seharusnya memiliki janji dengan Alan.
Sayang, bisakah kamu ke kantor siang ini? Aku rindu sekali dengan masakanmu. Jangan lupa hidangkan menu paling enak, ya!
Sharron yang mendapatkan pesan, rasanya kesal sekali. Dia berencana untuk pergi ke apartemen Noelle. Bahkan, dia sudah mengirim pesan pada sahabatnya itu.
"Oh, ya ampun! Suamiku labil sekali. Padahal aku sudah mengirimkan pesan padanya. Aku harus membatalkannya sekarang." Sharron lekas mengambil ponselnya. Mengirimkan pesan untuk Noelle bahwa hari ini tidak bisa bertemu.
Noelle, aku minta maaf. Sebenarnya aku sangat ingin bertemu denganmu. Kau tahu kan, daddyku itu sedang labil. Mendadak dia memintaku bertemu hari ini. I'm sorry.
Sharron harus menyiapkan segalanya sebelum datang ke kantor Darrell. Dia berkutat dengan beberapa menu makanan. Sebagai seorang istri yang baik, dia harus belajar banyak hal untuk menyenangkan hati suaminya.
Sharron sengaja tidak mengirimkan pesan balasan pada suaminya. Dia akan memberikan kejutan pada pria itu. Namun, Darrell yang saat ini berada di kantor merasa gelisah yang teramat sangat. Dia khawatir kalau sampai istrinya datang untuk menemui Noelle, sedangkan gadis itu harus menyelesaikan tugasnya bersama Alan.
Setiap selesai mengerjakan pekerjaannya, Darrell beranjak dari tempat duduknya. Sesekali dia membuka tirai ruangannya. Pemandangan perkantoran yang padat membuatnya sedikit mengurai rasa khawatirnya.
"Jangan sampai Sharron menemui Noelle hari ini. Semoga saja apa yang direncanakan Alan tidak mengalami kendala."
"Tuan, mengapa tidak memanggilku?" tanya office boy yang kebetulan sedang berada di pantry.
"Tidak usah khawatir. Aku ingin membuat kopi sendiri. Lanjutkan pekerjaanmu!"
"Baik, Tuan. Terima kasih." Office boy itu kemudian undur diri.
Berkutat dengan secangkir kopi di pantry agaknya tak mampu mengurangi kegelisahannya. Sampai pada suara seseorang mengejutkannya.
"Sayang, rupanya kau di sini. Aku mengetuk ruang kerjamu berulang kali, tetapi tidak ada respon. Office boy yang barusan lewat memberi tahuku."
"Iya, Sayang. Kupikir kamu tidak akan datang ke kantor." Darrell terlihat tenang. Dia tidak menunjukkan sikap yang aneh di hadapan istrinya.
Kecupan romantis didaratkan tepat di kening istrinya.
"Sayang, jangan seperti ini! Nanti kalau karyawamu melihat, bagaimana?"
__ADS_1
"Biarkan saja. Kamu kan istriku."
Itu tidak mudah bagi Sharron. Kantor ini jelas memiliki banyak kenangan antara Darrell dan Callie. Pria itu mungkin saja lupa kalau istrinya sekarang adalah Sharron. Pertunangan dan pernikahan yang dilangsungkan di Italia tak banyak orang yang tahu, apalagi karyawannya.
"Bukan begitu, Sayang. Apa mereka tahu kalau aku ini istrimu? Ya, lebih tepatnya istri barumu. Bukankah pertunangan dan pernikahan kita dilangsungkan di Italia. Mereka semua tidak banyak yang tahu, Sayang. Aku takut kalau mereka salah paham."
Sharron tidak mau dikira sebagai wanita perebut suami orang. Apalagi ketika berjalan menuju ruangan suaminya, beberapa pasang mata nampak aneh memandangnya. Entah, itu hanya perasaannya saja atau memang benar seperti itu?
"Jangan khawatir. Kalaupun mereka belum mengenalmu, aku yang akan memperkenalkanmu pada mereka. Kita bisa membuat pesta penyambutan, kan?" usul Darrell.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu?"
"Kita lanjutkan pembicaraan ini di ruanganku. Apa kamu mau terus berdiri di sini?"
Darrell menarik tangan istrinya kemudian membimbingnya menuju ke ruang kerjanya. Sementara tangan Sharron yang satunya membawa paper bag yang berisi makan siang untuk suaminya.
"Duduklah!" perintah Darrell.
Sharron meletakkan paper bag itu di depan meja kerja suaminya.
"Sayang, pindahan paper bag ini ke meja itu!" Darrell menunjuk meja sofanya.
Sharron beranjak memindahkannya. Kemudian dia lebih memilih duduk di sofa. Darrell pun menyusul ke sana.
"Mengapa tidak membalas pesanku?"
"Hanya ingin memberikan surprise. Kenapa?" tanya Sharron sembari melirik sejenak pada suaminya.
"Kupikir kamu tidak datang."
"Rencananya hari ini aku mau ke apartemen Noelle, tetapi kamu mengirimkan pesan, yah akhirnya aku memilih datang ke sini dan membatalkan janji bertemu Noelle."
Darrell bisa bernapas lega. "Kamu jangan terlalu sering bertemu Noelle. Mungkin saja dia sedang sibuk. Apalagi dia kan sedang mencari pekerjaan."
Darrell benar. Sudah lama Noelle tidak menjadi sugar baby.
"Apakah di sini tidak ada pekerjaan untuk Noelle?" Sharron pun sedang mengusahakan agar sahabatnya itu bisa bekerja.
__ADS_1
"Belum. Maksudku belum ada yang cocok untuk dia. Sementara ini, aku juga sedang menunggu kabar Alan. Dia yang akan merekomendasikan Noelle di tempat yang cocok. Kamu jangan khawatir, ya!"
Usaha Darrell untuk memberikan jarak antara Noelle dan Sharron berhasil. Dia bukan bermaksud untuk memisahkan dua sahabat itu, tetapi untuk sementara waktu memberikan kesempatan Noelle membantu membuka tabir rahasia perusahaan AX Corporation.