
Seminggu kemudian, Callie dan Marcello berpisah. Callie harus menjemput mertuanya. Sebelum itu, Marcello mengatakan padanya bahwa Callie tidak seharusnya menjadi model sebelum meninggalkan suaminya.
"Mengapa kamu berkata seperti itu, Pho? Apa aku tidak pantas kalau tetap bersama Darrell? Bukankah dunia model memperbolehkan aku memiliki suami?" tanya Callie.
"Baby, bisakah kau melepaskan suamimu saja. Sejujurnya, aku tidak bisa kehilangan kamu. Kalau kamu kembali, bagaimana rencana bahagia yang sudah kita susun selama ini? Kau menginginkan kehidupan mewah dan berkeliling dunia, bukan? Itu hanya bisa kau dapatkan dariku," ucap Marcello penuh percaya diri.
"Pho, kau tahu bahwa aku juga mencintai Darrell. Dia pria yang sangat sempurna untukku. Mengertilah! Kumohon," pinta Callie.
"Terserah kau saja. Kabari kalau ingin bertemu denganku. Setelah ini, aku akan pergi ke Swiss. Kalau kau merindukanku, terbanglah ke sini lagi. Aku akan menjemputmu," ucap Marcello.
"Mengapa tidak langsung ke Swiss?" tanya Callie penasaran.
"Karena aku ingin menikmati perjalanan dari Italia menuju Swiss bersamamu."
"Hemm, kamu manis sekali. Aku harus datang ke rumah mertuaku dulu. Setelah itu, aku akan pulang ke Meksiko menemui Darrell. Tunggu aku kalau kamu mau."
"Santai saja, Baby. Lekaslah jemput Tuan Javer dan Nyonya Allegra! Semoga keduanya tidak menyusahkanmu."
Marcello jelas hapal betul siapa mertua Callie. Wanita itu selalu menceritakan kebaikan dan keburukan mertuanya. Sejujurnya, Darrell sangat berbeda dengan mereka. Itulah sebabnya mengapa Callie sangat mencintai suaminya itu. Sayang, karena keegoisan Callie, hubungan rumah tangganya dengan Darrell terlihat sedikit rumit.
Setelah perpisahannya dengan Marcello, Callie sudah berada di mansion Tuan Javer, papa mertuanya.
"Callie, kau sudah datang, Sayang?" sapa Allegra.
"Ya, Ma. Aku berlibur beberapa hari di sini. Aku juga bermaksud menjemput Mama dan Papa untuk berkunjung ke mansion kami yang ada di Meksiko."
"Kau tidak bersama Darrell?" tanya Javer.
"Darrell sangat sibuk, Pa. Aku jalan-jalan ke tempat Marcello. Papa masih ingat, kan?"
Ya, antara Marcello dan Javer memang saling mengenal. Javer juga tahu kalau pria itu adalah sahabat dekat menantunya. Walaupun keduanya menjalin hubungan lebih dari sekadar sahabat, Javer tidak mengetahuinya.
"Ya, dia sahabatmu, kan. Dia apa kabar?" tanya Javer lagi.
"Baik, Pa. Sangat baik. Oh ya, Papa sudah menyiapkan semuanya, bukan?"
__ADS_1
Ya, mereka sudah sepakat untuk datang ke mansion putranya yang ada di negara Meksiko. Walaupun jarak yang lumayan itu, Callie masih menyempatkan diri untuk menjemput mereka.
"Iya, Callie. Semuanya sudah siap. Apa kau mengatakan pada Darrell kalau aku dan papamu akan datang?" sahut Allegra.
"Iya, Ma. Kalau tidak seperti itu, aku tidak akan diizinkan untuk pergi."
Callie menceritakan bagaimana Darrell menjadi pria yang posesif dan sangat protektif sekali terhadapnya. Bahkan, ketika mau ke manapun, tak akan diizinkan kecuali mendapatkan izin darinya.
"Wah, suamimu keterlaluan!" sahut Javer.
"Tapi, dia sangat menyayangiku, Pa," balas Callie seolah suaminya itu sempurna di matanya. Padahal dia sengaja membuat kedua mertuanya itu percaya bahwa hubungan mereka baik-baik saja.
"Ya, ya, dia memang yang luar biasa," sahut Allegra. Dia tahu kalau putranya itu sangat menyayangi Callie dengan tulus.
Persiapan keberangkatan mereka ke Meksiko telah siap dari beberapa hari yang lalu. Pasport dan seluruh dokumen yang akan mereka bawa juga sudah siap.
...***...
Sepasang kekasih sedang memadu cinta di atas ranjang apartemen. Siapa lagi kalau bukan Darrell dan Sharron. Keduanya sangat menikmati permainan panas di pagi buta sebelum Darrell pergi ke kantor.
Desahannya sangat menggema ke seluruh kamar. Keduanya saling bersahutan manakala wortel impor Darrell menghujam keras inti Sharron. Rintihan kenikmatan terus mereka kumandangkan sebagai wujud bahwa keduanya saling menikmati.
"Dad, faster!" teriak Sharron sambil terengah-engah menikmati wortel impor yang terus saja keluar masuk di dalam liang kenikmatannya.
Sampai pada lenguhan panjang Darrell bahwa sebentar lagi dia juga akan sampai. "Bersama, Sharron!"
Darrell terkulai lemas setelah permainan panjangnya. Pria itu terbaring tepat di samping wanita simpanannya itu.
"Thank, Baby! Ini permainan ranjang yang sangat memuaskan untukku. Aku sampai lemas seperti ini. Rasanya hari ini aku ingin tidur seharian setelah berperang denganmu, Baby!"
Selama seminggu ini, Darrell tidak lagi pulang ke mansion. Dia selalu tidur bersama dengan Sharron untuk menumpahkan segala kegundahan hatinya. Bahkan, dia hampir tidak pernah menerima pesan atau panggilan dari Callie. Darrell sudah berusaha menelepon atau mengirimkan pesan padanya. Nyatanya, dia tidak pernah mendapatkan balasan sama sekali.
"Dad, pergilah ke kantor. Debit card-ku perlu diisi. Aku ingin pergi berbelanja dengan Noelle, boleh kan? Aku ingin membelikannya sesuatu. Selama ini aku sudah bergantung padanya."
"Yah, pergilah. Asalkan sewaktu-waktu aku membutuhkanmu, kau harus siap, Baby."
__ADS_1
"Iya, Dad. I love you," ucap Sharron kemudian turun dari ranjang. Namun, Darrell menahannya.
"One more time, Baby!" pinta Darrell manja. Salah siapa kalau Sharron sudah menjadi candunya sekarang.
"Dad, aku lelah. Sangat lelah sekali. Apa Daddy lupa kalau kita sudah melakukannya dalam waktu tiga ronde dengan durasi yang sangatlah cepat. Sekarang mau minta lagi? Astaga! Tidak, Dad! Aku lelah."
Sharron tetap melepaskan dirinya supaya lekas sampai ke kamar mandi. Dia juga harus belanja bersama Noelle. Tak lupa, Sharron selalu membelikan Darrell pengaman. Dia hanya khawatir kalau pria itu dalam keadaan on fire, tetapi lupa membawa alat tempur. Bisa berbahaya untuk Sharron.
Sharron mempercepat prosesnya di kamar mandi. Dia tidak mau terlambat pulang ke apartemen. Dia tidak ingin didahului oleh Noelle karena selama seminggu ini dia tidak pulang.
Selesai memakai bajunya, Sharron kembali ke kamar untuk mengambil tas dan high heels-nya. Sebelum pulang, dia berpamitan pada Darrell.
"Dad, aku langsung pulang, ya? Sarapan paginya di restoran saja. Aku tidak sempat memasak. Aku sangat lelah," pamit Sharron.
Masih pagi memang, tetapi dia harus secepatnya pulang ke apartemen.
"Jangan lupa kecupan selamat pagi untuk kekasihmu ini," ucap Darrell. Ya, beberapa hari yang lalu, Darrell tanpa sengaja meminta Sharron menjadi kekasihnya. Dia butuh teman wanita sebagai tempat mencurahkan semua perasaannya selama Callie pergi.
Sharron sedikit membungkuk. Dia memberikan kecupan kening pada Darrell. Setelah itu memundurkan tubuhnya lagi bersiap untuk keluar kamar. Lagi-lagi, Darrell menahannya.
"Baby, apa kau lupa?" tanya Darrell yang masih menggenggam pergelangan tangan Sharron.
"Apakah aku melupakan sesuatu?" tanya Sharron balik.
"Kecupan kening itu hanya untuk pria terhadap wanita. Kalau wanita kepada pria, kecupannya berbeda, Baby."
Deg!
"Adakah aturan demikian, Dad?" tanya Sharron semakin penasaran dengan maksud Darrell.
"Yes. I will let you kiss me here ... for ten seconds!" Darrell menunjuk bibirnya.
Tanpa banyak bicara, Sharron melakukan apa yang diminta Darrell. Dia hanya mengira-ngira saja supaya pas sekitar 10 detik. Setelah itu, Sharron segera kabur meninggalkan Darrell seorang diri. Pria itu tersenyum puas melihat tingkah Sharron yang penurut dan sangat menggemaskan.
...🪴🪴🪴...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️