
Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya akan tercium juga. Hal itulah yang kini dirasakan oleh Blair Wilmer. Dia ditangkap oleh pihak kepolisian karena seseorang telah melaporkan kejahatan yang dilakukannya selama ini.
Kejahatan Blair rupanya sudah lama dilakukan. Hanya saja baru kali ini orang itu melaporkan pria yang ternyata seorang psikopat itu. Dia tidak tanggung-tanggung akan menyakiti orang yang sudah berani mengusik ketentramannya. Bukan orang lain saja, istrinya pun mengalami hal yang sama. Selama ini Bellatrix cukup bersabar menghadapi sikap suaminya.
Berita itu langsung tersebar di televisi. Sharron yang tidak biasa menonton televisi di pagi hari mendadak ingin menonton. Dia tak sengaja menangkap berita yang sangat menarik. Perihal penangkapan Blair di mansionnya, pihak kepolisian hanya menemukan Blair saja. Padahal dari rumor yang beredar kalau pria itu tinggal bersama istrinya. Bellatrix tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Sayang, bangunlah!" Sharron menggoyang-goyangkan lengan suaminya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Darrell.
"Blair ditangkap polisi, tetapi Bellatrix menghilang."
"Benarkah?" Darrell langsung duduk dan menghadap televisi.
Pengusaha kelas kakap dari AX Corporation akhirnya tertangkap juga setelah pihak kepolisian mendapatkan laporan kejahatannya. BW tertangkap di mansionnya seorang diri. Istrinya mendadak menghilang. Saat berita ini diturunkan, dari pihak keluarga tidak ada yang bisa dimintai keterangan perihal hilangnya sang istri.
"Baguslah kalau dia tertangkap. Kita bisa mengusut perihal kematian Samuel Alexander. Penyelidikan pasti akan mengarah ke situ juga," ucap Darrell lega.
Pikirannya sekarang bukan tentang apa saja kejahatan yang dilakukan pria itu, tetapi siapa yang telah melaporkan hingga pihak kepolisian turun tangan. Selama ini tidak ada yang pernah berani mengusik kehidupan keluarga Blair beserta perusahaannya.
"Jadi, pertunangan palsu itu tidak akan terjadi, bukan?"
"Tidak, Sayang! Semuanya sudah bebas, tetapi yang mengganjal di benakku, siapa yang melaporkan Blair?"
"Kurasa sebaiknya kita minta Alan ke sini. Akan sangat berbahaya kalau kita turun menemui dia. Coba telepon saja. Ini masih sangat pagi sekali. Kalian ke kantor sedikit siang, bukan? Aku akan menyiapkan sarapan pagi."
Darrell mengirim pesan pada Alan. Sebelum mereka bertemu, Darrell lebih dulu harus membersihkan diri.
[Alan, datanglah ke unitku.]
Darrell meninggalkan ponselnya di atas nakas. Sementara Sharron memasak, Darrell mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Sementara bel apartemen berbunyi sehingga Sharron bergegas membukakan pintunya.
"Selamat pagi, Nyonya!" sapa Alan.
"Pagi, Alan! Silakan masuk dan duduklah!" jawab Sharron. "Aku lanjutkan di dapur dulu, tunggu sampai suamiku keluar."
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Sharron menelisik Alan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepertinya tidak terlalu aneh. Maksud Sharron, pria itu tidak tahu berita yang lagi trending pagi ini.
"Alan, wajahmu datar sekali."
Alan menatap Sharron. Sangat aneh sekali kalau wanita muda itu mengeluarkan ejekannya.
"Ehm, sebaiknya Anda kembali ke dapur, Nyonya!" ucap Alan.
Sharron masih memakai apronnya.
"Ah, baiklah. Tunggulah suamiku saja."
Sharron kembali ke dapur. Alan mencoba memikirkan sesuatu yang membuat Sharron menatapnya aneh seperti barusan. Diambilnya ponsel di saku jasnya. Dia mencari situs pencarian berita. Pagi ini sepertinya Alan sudah melewatkan sesuatu.
Deg!
Pandangannya jatuh pada sebuah berita yang sangat mengejutkan. Baru merencanakan saja sudah mendapatkan kabar seperti ini.
"Jadi, Blair sudah ditangkap polisi? Lalu, siapa yang berani melaporkannya?" gumam Alan.
Alan merasa tidak ada rencana seperti itu. Dia sebenarnya ingin sekali menggunakan caranya sendiri, tetapi penangkapan Blair bersamaan dengan hilangnya Bellatrix. Misteri apalagi ini?
"Aku merasa seperti asisten yang bodoh, Tuan. Mengapa aku tidak tahu bahwa Blair sudah ditangkap?"
"Kau pikir aku tidak seperti itu? Sharron pagi-pagi membangunkan aku untuk melihat berita di televisi. Padahal dia jarang sekali menonton ketika aku di rumah. Apa kamu mencurigai sesuatu? Maksudku, siapa orang yang berani melaporkan Blair?"
Alan pun menggeleng. Padahal dia baru mau memulai perangkapnya sendiri, tetapi keburu tertangkap. Rasanya seperti memasang perangkap tikus, tetapi Alan sendiri yang menjadi tikusnya.
"Kenapa pagi-pagi sudah pusing seperti itu?" tanya Sharron. Dia datang membawakan satu nampan berisi kopi dan Tortilla.
"Kurasa Anda tadi sempat menertawakan aku, bukan?" tuduh Alan.
Sharron mengangguk. "Sudahlah! Anggap aku sedang bercanda. Silakan nikmati sarapan paginya. Aku akan bersiap."
"Mau pergi ke mana, Sayang?" tanya Darrell.
"Apartemen Noelle. Aku rindu Noelle dan Mama. Apa kamu tidak mengizinkan aku?"
Bukan tidak mengizinkan, tetapi Darrell khawatir kalau orang suruhan Blair masih berkeliaran di luaran sana. Selain itu, Blair pasti mencurigai salah satu dari mereka. Bisa saja Alan, ataupun Noelle. Selama ini yang bersinggungan dengan Blair hanya dua orang itu.
__ADS_1
"Alan akan mengantarmu," ucap Darrell pasrah.
"Tuan, kenapa harus aku?" tanya Alan.
"Mereka tahu bahwa Sharron adalah calon tunanganmu. Jadi, lebih baik kalian pergi berdua."
"Baiklah. Aku bersiap lebih dulu. Silakan lanjutkan obrolan kalian," pamit Sharron undur diri.
"Kira-kira siapa, Alan?" tanya Darrell.
Selama ini mereka tahu bahwa Blair tidak pernah memiliki musuh. Kalaupun ada, mereka tidak akan berani menunjukkan taringnya. Mengapa ini terkesan mendadak sekali?
"Hanya ada satu yang mungkin terjadi, Tuan. Maksudku ada kemungkinan kalau nyonya Bellatrix lah yang melaporkan semua ini. Kurasa itu mungkin terjadi."
"Bellatrix?"
"Ya, Tuan. Nyonya Bellatrix sepertinya tidak sepaham dengan tuan Blair. Itulah mengapa wanita itu mungkin tega melaporkan suaminya sendiri."
Ada beberapa kemungkinan yang lain. Bisa juga orang-orang di masa lalu Blair yang hadir kemudian melengserkan kepemimpinan di AX Corporation yang seharusnya bukan menjadi hak warisnya.
"Alan, bersiaplah! Sebentar lagi istriku akan turun menemuimu. Antarkan dia ke tempat Noelle. Pastikan dia selamat sampai tujuan," perintah Darrell.
Alan turun membawa banyak pertanyaan. Dia baru saja menyusun rencana, tetapi siapa yang sudah melangkah lebih maju daripada dirinya?"
Sementara Sharron sedang merias dirinya. Pagi ini dia nampak senang sekali. Memoleskan lipstik warna merah jambu yang terlihat sangat cantik sekali. Tak lupa blush on di pipi kiri dan kanannya. Sangat natural sekali.
"Sayang, tumben kamu terlihat seceria ini," ucap Darrell. Dia berdiri tepat di belakang istrinya kemudian memandang cermin yang sama.
"Tentu saja aku bahagia. Aku tidak perlu melakukan pertunangan palsu dengan Alan. Kamu pikir aku tidak kecewa harus berdekatan dengan pria lain kecuali dirimu? Aku terlanjur jatuh cinta padamu, Darrell. Kurasa kamu pun memahami aku dengan baik, bukan?"
Darrell mengangguk. Sharron benar. Hati dan pikirannya memang tidak sejalan. Sampai kapan Darrell kuat melihat kemesraan palsu yang terjadi antara istri dan asisten pribadinya?
Masih berada di depan cermin yang sama, Sharron memandang wajah suaminya dari sana. Tampan, hanya saja banyak kekecewaan yang didapatkan pria itu. Tapi, tidak pernah menunjukkan sama sekali di hadapan Sharron. Itulah yang membuat Sharron jatuh cinta lebih dalam. Belenggu cinta Darrell telah membuatnya bertahan sejauh ini.
Terima kasih sudah menjadi wanita yang berjasa dalam hidupku. Tanpamu, Blair tidak akan bisa ditaklukkan. Aku tidak ingin melibatkan suamiku terlalu jauh. Ini masalahku. Ini masa laluku. Aku bisa membuat pria itu bertekuk lutut dengan sekali menjentikkan jari. Nikmatilah prosesnya!
...🌻🌻🌻...
Hai guys, yuk mampir karya teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1