
Darrell merasa kacau karena tidak mendapatkan apa pun hari ini, tetapi dia tidak akan putus asa. Masih ada hari esok yang menantinya.
Sepulang dari rumah tahanan, Darrell mendadak ingin sekali menemui istrinya. Rindunya sudah tidak tertahan.
"Alan, kamu mampir ke mansion atau langsung pulang ke apartemen?"
"Kalau Tuan masih memerlukan aku, bisalah mampir sejenak. Kalau sudah tidak ada lagi, aku langsung pulang saja, Tuan."
Alan melajukan kendaraannya. Kali ini memang sengaja menjemput Darrell pulang pergi dari mansion. Sebenarnya Darrell sudah tidak sabar ingin tahu kisah lama Blair bersama istrinya.
Memasuki halaman mansion, nampaknya Alan ingin secepatnya kembali. Dia tidak nyaman kalau harus bertemu dengan Noelle. Bukannya mendapatkan ketenangan, yang ada malah keributan tidak terkontrol.
"Tuan, kurasa cukup sampai di sini saja. Aku tidak jadi masuk," tolak Alan.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, Tuan. Kalau Anda memerlukan aku lagi, silakan kabari, Tuan!"
"Sebenarnya aku juga lelah harus bolak-balik kantor ke mansion. Lebih dekat kalau tinggal di apartemen."
"Tunggu setelah semuanya selesai, Tuan. Orang tua Anda juga masih ada di sini. Ada baiknya tunggu sampai semua masalah ini kondusif. Mungkin juga tuan Javer masih enggan untuk meninggalkan nona Noelle."
"Terima kasih, Alan. Aku turun dulu."
Darrell bergegas masuk ke mansion. Tak ada sambutan dari pihak keluarganya sama sekali.
"Di mana orang-orang?" tanya Darrell pada pelayan.
"Mereka berada di dekat kolam renang, Tuan."
"Semuanya?"
"Iya, Tuan."
Hemm, tumben sekali mereka bisa berkumpul seperti ini. Biasanya jarang sekali terjadi hal aneh seperti ini. Memangnya apa yang mereka rencanakan?
Darrell masuk ke kamarnya lebih dulu. Sebelum menemui semua orang, dia lebih memilih membersihkan diri. Namun, sesampainya di kamar mandi, dia melihat pemandangan yang tidak biasa. Sepertinya seseorang baru saja lupa menyembunyikan sesuatu.
"Tespek? Jadi, Sharron hamil? Astaga, aku tidak menyangka secepat ini. Rasanya aku bahagia sekali. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Daddy yang sebenarnya. Tanpa kuinginkan, Tuhan telah memberikannya lebih dulu."
Secepat mungkin Darrell mengganti pakaiannya. Dia ingin secepatnya menemui istrinya. Ingin lekas memeluk dan memberikan perhatian lebih. Itu artinya, dia harus membelikan rumah baru yang tidak jauh dari kantornya. Mansion ini akan dijual karena mengingatkan Darrell dengan wanita masa lalunya.
__ADS_1
Berada di dekat kolam dengan candaan yang tidak biasa tiba-tiba membuat semua orang diam. Ya, kedatangan Darrell membungkam semua orang begitu saja.
"Hemm, apakah aku mengganggu kalian? Kenapa mendadak diam?" tanya Darrell.
"Oh, begini, Kak. Mama membayangkan kalau aku menikah dan memiliki anak. Rasanya pasti akan sangat bahagia." Noelle beralasan. Sesungguhnya dia sedang menyembunyikan kabar bahagia itu dari kakaknya.
"Wow, itu cita-cita yang bagus, Noelle. Memangnya kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Darrell.
"Jangan sudutkan adikmu seperti itu! Dia hanya berandai-andai saja," sahut Allegra.
"Oh." Darrell hanya ber oh ria di depan mamanya.
"Bagaimana urusanmu hari ini?" tanya Javer. Dia mengambil segelas teh yang sudah disiapkan.
"Belum selesai, Pa. Hari ini jam kunjungan berakhir dengan cepat. Aku sudah tidak sabar untuk berpindah menjadi hari esok dan mengorek informasi sebanyak mungkin pada Blair."
Javer sudah menduganya. Kunjungan yang singkat akan membuat orang merasa terburu-buru sehingga masalah penting yang ingin disampaikan menjadi tertunda.
"Apakah kamu perlu bantuan Papa?"
Darrell nampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia pun bisa mengatasinya, tetapi ada hal yang menjadi pertimbangan. Kalau membiarkan Javer ikut dalam rencana ini, perusahaan bisa dijalankan oleh Alan seorang diri. Kesempatan untuk mendapatkan informasi jadi lebih cepat.
Semua orang nampak serius mendengarkan perbincangan antara Javer dan Darrell. Pandangan Darrell sesekali melirik Sharron dengan tatapan dan senyuman yang berbeda. Noelle yang menyadarinya lebih dulu lantas menggoda kakaknya sendiri.
"Kak, tumben melihat istrimu seperti itu? Serasa sudah lama tidak bertemu saja," tegur Noelle dengan candaan ala dirinya.
Kenapa semua orang tidak membahas kehamilan istriku? Apakah mereka sengaja merahasiakannya dariku?
"Sayang, apakah kamu ingin menyampaikan sesuatu padaku?" tanya Darrell. Dia mendekati istrinya kemudian menggenggam erat tangannya.
"Hah? Apa? Tidak, tidak ada hal penting yang harus kusampaikan saat ini. Aku hanya sedikit lelah," ucapnya. Sebenarnya kalaupun Sharron berbohong, Darrell sudah bisa merasakannya.
Lalu, alasan apa yang melandasi Sharron menyembunyikan kehamilan dari dirinya? Tidak pantaskah dia akan menjadi seorang Daddy yang tampan dan menarik?
"Oh ya, rasanya aku ingin istirahat. Ma, Pa, Noelle, Sayang, aku ke kamar dulu."
Hamil muda membuat Sharron lebih banyak lelah. Padahal ini baru kehamilan trimester pertama dan tidak merasakan mual dan muntah seperti kehamilan pada umumnya.
"Aku ikut!" Darrell tidak bisa lepas dari istrinya sebelum tahu alasan jelas dari mulut wanita itu.
Berbaring di ranjang membuat kondisi Sharron semakin baik. Darrell pun ikut duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sakit?" tanya Darrell.
"Tidak. Aku hanya sedikit lelah," ucapnya.
"Kamu tidak mau berbagi cerita tentang apa pun yang kamu lakukan hari ini?" selidik Darrell.
Sharron menggeleng. Kalau istrinya belum mau mengaku, sebaiknya Darrell masuk ke kamar mandi untuk mengambil tespek yang ditemuinya saat ini.
"Kamu mau ke mana?" tanya Sharron.
"Ke kamar mandi sejenak, Sayang. Kamu mau ikut?"
Lagi-lagi Sharron menggeleng.
Baiklah, Sayang. Kamu belum mau mengakuinya juga.
Tespek itu masih ada di kamar mandi. Dia mengambilnya untuk ditunjukkan pada istrinya.
"Sayang, apa kamu yakin tidak ingin menyampaikan sesuatu padaku?" tanya Darrell entah untuk yang kesekian kalinya.
"Tidak ada, Sayang. Kenapa kamu jadi aneh seperti ini?" protes Sharron.
"Kamu yang aneh, Sayang. Apakah aku tidak boleh mengetahui hal seperti ini?" Darrell menunjukkan tespek itu di hadapan istrinya.
Astaga, kenapa aku seceroboh itu?
"Ehm, aku minta maaf, Sayang. Aku punya alasan khusus untuk menyembunyikan kabar bahagia ini."
"Kamu tidak suka kalau aku tahu bahwa istriku sedang hamil? Kamu mau membuat aku curiga anak siapa yang kamu kandung itu?"
"Darrell! Jaga ucapanmu!" bentak Sharron. "Ada alasan khusus kenapa aku dan semua orang sepakat menyembunyikan ini." Sharron memindah posisinya untuk duduk di hadapan Darrell. "Karena kami tidak ingin fokusnya terpecah. Setelah urusan dengan tuan Blair selesai, aku akan menyampaikannya."
"Bagaimana kalau urusanku dengan pria itu tertahan? Itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Sharron. Kalau aku tahu kamu hamil, aku akan berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hak yang seharusnya kamu miliki. Kurasa itu cukup adil untukku."
"Baiklah. Aku minta maaf padamu. Aku memang hamil, tetapi untuk melihat kondisi kehamilanku, aku akan pergi ke rumah sakit dengan Mama."
Ya, salah satu pembicaraan yang terjadi di dekat kolam renang tadi memang membahas untuk pergi ke rumah sakit. Namun, sepertinya ada yang tidak terima dengan jawaban Sharron barusan.
"Aku daddynya. Yang akan menemanimu pergi ke rumah sakit, bukan mama atau siapapun, melainkan aku sendiri."
Darrell tidak bisa dibantahkan lagi. Mau bagaimanapun harus dituruti, jika tidak dia akan semakin berulah.
__ADS_1