
Kemesraan ini berlangsung dengan begitu intens. Hanya saja, Darrell dan Sharron belum siap untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan pengantin baru. Sebenarnya Darrell sudah mengatakan kalau malam ini dia menginginkannya. Namun, Sharron menolaknya karena sebuah alasan yang tidak bisa ditolak oleh Darrell.
"Mengapa malam ini kamu menolakku?" tanya Darrell. Tidak biasanya Sharron menolak dengan tegas permintaan suaminya.
"Sayang, aku baru mendapatkan menstruasiku malam ini. Siang tadi aku sudah membeli pembalut untuk stok selama seminggu ke depan. Maaf, ya," ucap Sharron. Dia sebenarnya tidak enak, tetapi mau bagaimana lagi. Beberapa kali, siklus menstruasinya mulai teratur.
"Tidak masalah, Sayang. Aku bisa mengerti. Oh ya, kita makan malam dulu. Aku sudah menyiapkannya. Mungkin sudah agak dingin. Kau tahu lah, aku mengecohmu dengan hal yang tidak penting ini. Maksudku kita hanya berputar sesaat." Darrell menuntun Sharron untuk keluar kamar menuju balkon.
Makanan sudah terhidang di meja kecil yang ada di sana. Makan malam romantis ala Darrell dan juga minuman sederhana. Dia tidak memasaknya sendiri melainkan memesan dari restoran langganannya.
"Maaf, makanannya sudah dingin, tetapi ini aku yang menyiapkannya di sini. Kamu tidak marah padaku?" tanya Darrell. Dia menarik kursi sejenak supaya Sharron bisa duduk dengan nyaman.
"Terima kasih."
Sharron dan Darrell menikmati makan malam berdua sembari melihat pemandangan. Sesekali Darrell menggenggam tangan istrinya. Dia memberikan kepercayaan penuh pada wanita yang baru saja mengisi relung hatinya.
"Terima kasih karena kamu mau menerima apapun kejutan yang biasa ini. Aku mencoba menjadi pria yang romantis untukmu. Berjanjilah padaku untuk tidak pernah meninggalkan aku atau pun membagi hatimu pada pria lain."
Rasa rapuh yang dialami Darrell akibat kehilangan Callie sangat membekas di hatinya. Dia selalu berandai-andai jika Callie meninggalkannya, apa dia sanggup hidup seorang diri? Nyatanya Darrell tidak sanggup. Ketika Callie memberinya celah, sebenarnya Darrell tak sepenuhnya mengambil kesempatan itu.
Sayang, setelah beberapa kali bertemu dengan Sharron sampai pada kejadian pada waktu itu membuat Darrell merasa bersalah. Dia merasa perlu memberikan tanggung jawab penuh pada wanita yang sudah dihancurkan kehormatannya.
Makan malam yang terlihat romantis itu telah berakhir. Keduanya pindah ke kamar kemudian melanjutkan film yang ditontonnya. Tatapan Sharron terpaku pada sebuah foto bayi yang disematkan di akhir video dengan sebuah doa dan harapan yang dilantunkan untuk foto itu.
__ADS_1
"Itu foto bayi Maggia?" tunjuk Sharron pada layar kaca.
"Iya, itu Maggia. Beberapa hari sebelum kejadian naas itu. Sampai saat ini kami belum menemukan keberadaan Maggia lagi. Alan sedang mencoba menemukannya."
"Mengapa kamu seyakin itu kalau Maggia masih hidup?" tanya Sharron penasaran.
"Karena mama meyakininya bahwa dia masih hidup. Kupikir ini kesempatan bagus untuk mencarinya walaupun aku tidak tahu di negara bagian mana Maggia tinggal."
Rumit memang untuk mencari keberadaan bayi yang 25 tahun lalu dibawa kabur penjahat harus dimulai dari penyelidikan di Italia. Itu memerlukan waktu yang cukup lama sekali. Entah, apa yang akan dilakukan Alan?
"Kenapa aku jadi menginginkan sesuatu setelah mendengarkan cerita Maggia?"
"Maksudmu?" Darrell tidak mengerti.
"Bagaimana kalau sebenarnya orang tuaku masih hidup? Maksudku, ada orang lain yang sengaja memisahkan aku dari mereka. Bisa saja itu terjadi, kan? Seperti kisah Maggia yang dipisahkan dari keluargamu."
"Kalau kamu mau menjawab beberapa pertanyaan dariku, aku dan Alan akan mencoba membantumu. Bagaimana?"
Sharron ragu dengan keputusannya. Sebenarnya dia juga penasaran dengan kedua orang tuanya, keluarganya, dan tempat tinggalnya ketika masih bayi. Namun, ada pertimbangan lain yang membuatnya bersedih dalam waktu yang bersamaan. Sharron takut kalau ternyata dia adalah anak yang tidak pernah diinginkan sehingga sejauh mungkin orang tuanya membuangnya, maka mereka tidak ingin bertemu lagi dengannya.
"Aku ragu, Sayang. Mungkin aku menginginkan pertemuan dengan mereka, tetapi jika mereka tidak ingin bertemu denganku, untuk apa aku bersusah payah mencari mereka?"
Dilema memang. Mungkin saat ini apa yang dirasakan Maggia pun sama. Javer memang sudah puluhan tahun tidak mencari keberadaan putrinya. Bukannya tidak ingin bertemu, tetapi Javer sudah putus asa. Jejak penjahat itu tidak dapat mereka temukan sama sekali. Javer pun tidak tahu siapa orang dibalik hilangnya Maggia. Motif apa yang menyebabkan mereka bertindak nekad pun sampai saat ini belum diketahui olehnya. Selain Javer sudah lelah dengan urusan seperti ini, fokus pria itu hanya untuk menjadikan Darrell pria yang kuat dan tidak mudah ditindas. Itu terbukti sampai saat ini.
__ADS_1
"Itu bukan masalah. Setidaknya kamu tahu di mana keberadaan mereka. Walaupun mereka tidak tahu kamu, tetapi kamu mengetahui mereka. Jika ternyata mereka adalah orang baik, apa kamu tidak menyesal? Kurasa kalau orang tuamu masih hidup, maka mereka akan mencoba mencari keberadaanmu."
Sharron menggeleng. "Itu tidak mungkin. Sampai aku dewasa, tak ada satu orang pun yang mencoba menginterogasiku."
"Jangan pesimis, Sayang! Kamu mau kan kalau kita mencobanya? Tanamkan keyakinan bahwa orang tuamu adalah orang yang baik."
Apakah ini kesempatan baikku untuk bertemu dengan mereka? Tapi, aku harus memulainya dari mana ceritaku? Aku bingung. Hanya beberapa saja yang kuingat di masa lalu. Semuanya tidak ada yang berkesan indah.
"Mungkin kita bisa mencoba mencarinya dari panti X di kota A. Kurasa aku berasal dari sana. Bagaimana? Apa itu sedikit membantu?"
"Itu lebih dari cukup. Kamu mau Alan yang menyelidikinya atau kita yang akan pergi sendiri?"
Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan Darrell dalam hal ini. Dia bisa pergi dengan Noelle kalau ingin mendapatkan informasi seperti itu.
"Tidak. Kurasa aku akan pergi sendiri bersama Noelle. Itu pun jika kamu mengizinkanku. Kupikir perusahaan jauh lebih membutuhkanmu."
"Yakin? Maksudku, apa kamu yakin akan pergi bersama Noelle saja?"
"Tentu. Tidak masalah, kan? Aku akan pulang tepat pada waktunya. Aku janji!"
Darrell tersenyum. Kini istri kecilnya itu mampu memahami apa yang diinginkan Darrell sebagai suaminya. Bukan maksud untuk mengekang, tetapi lebih pada tanggung jawab.
"Baguslah. Kapan kamu akan memulainya?"
__ADS_1
"Segera, Sayang. Kalau kamu sudah meyakinkan aku, aku pasti yakin bisa menemukan keberadaan orang tuaku. Apapun yang terjadi dengan mereka, aku akan mencoba menerimanya. Bisa saja kejadian yang kualami persis seperti Maggia, bukan?"
Darrell tersenyum. Dia membayangkan Maggia juga mencoba mencari keberadaan orang tuanya. Darrell melihat semangat dan keyakinan yang dipegang teguh Sharron membuatnya selalu mendorong istrinya itu untuk menemukan apa yang sudah tidak diharapkan selama ini. Malam ini, Sharron akan tidur dengan membawa rencana dan cita-citanya esok hari.