Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 81. Suami Mesum


__ADS_3

"Sayang, apa kau sibuk malam ini?" tanya Sharron yang melihat suaminya berkutat dengan laporan dan laptop di mejanya. Sejak menolak makan siang bersama, rasanya Sharron yang kesal. Namun, suaminya malah lebih banyak diam dari biasanya.


"Sayang," panggil Sharron lagi untuk yang kedua kalinya.


"Hemm, ada apa? Aku masih sibuk. Sedikit lagi baru selesai."


"Ehm, aku boleh minta sesuatu padamu?" tanya Sharron ragu-ragu.


"Katakan!"


"Bisakah kita merencanakan makan malam romantis?"


Sejenak Darrell melirik istrinya yang sedang mencoba merayu itu. Bukan tanpa alasan. Hari ini Darrell sudah melarangnya untuk datang ke kantor karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Endingnya, Darrell akhirnya kesal karena Sharron datang kemudian memintanya untuk menemani makan siang di Bellinghausen, restoran yang berada dekat gedung perkantorannya.


Terjadi perdebatan sebentar hingga akhirnya Sharron memutuskan untuk pergi. Ternyata dia malah bertemu dengan Alan dan Noelle.


"Bisa, tetapi sesuaikan dengan jadwalku. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku harus menyiapkan pengajuan proyek bersama dengan tuan Blair. Kamu ingat, kan? Kalau memang kamu menginginkan makan malam romantis, siapkan saja di apartemen. Kita bisa makan berdua saja, bukan?"


Ulala, bukan itu! Maksud Sharron, dia merencanakan makan malam bersama Alan dan Noelle. Kalau hanya makan berdua, itu namanya bukan double date.


"Bukan itu, Sayang! Hari ini aku melihat Noelle dan Alan bertemu di Bellinghausen. Aku curiga kalau keduanya menjalin hubungan di belakang kita."


Deg!


Jadi, Sharron sudah bertemu dengan mereka? Kuharap Sharron tidak tahu rencana kami. Kalau sampai tahu, dia bisa mengubah segalanya.


"Mungkin hanya kebetulan bertemu saja. Kamu jangan terlalu curiga pada mereka. Lagi pula apa salahnya mereka bertemu? Bukankah di pernikahan kita tempo hari mereka selalu berdua?" ucap Darrell melunak.


Tumben sekali pria ini tidak membuat Sharron kesal. Mungkin dia sudah lelah bermain-main dengan istrinya.


"Jadi, apakah kau mengizinkan kalau kami merencanakan double date?"


"Terserah kau saja! Tapi ingat, jangan sampai rencanamu itu bertabrakan dengan jadwal meetingku dengan klien."


Darrell kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara Sharron sendiri pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk suaminya. Malam ini mereka memesan makanan dari restoran sehingga Sharron tak perlu lagi memasak.

__ADS_1


Dua cangkir kopi sudah disiapkan. Taquito yang baru saja dibuatnya disajikan di piring hidang. Tidak rumit karena Sharron sudah terbiasa membuatnya. Tinggal campur-campur, masukkan, dan goreng. Semua itu sudah diletakkan di atas nampan. Siap untuk dibawa ke kamarnya.


"Darrell hari ini sangat aneh sekali. Dia bahkan tidak terkejut kalau Alan dan Noelle bertemu. Aku saja heran. Kenapa makhluk beda tujuan itu bisa disatukan di meja yang sama? Ini sangat aneh. Yang satunya dingin, sok tidak butuh wanita, dan yang satunya lagi butuh pria, tetapi menolak kehadiran Alan yang jelas ada di depan matanya. Memangnya apa bedanya Alan dan para daddy itu? Dompetnya saja?" Sharron cekikikan membayangkan sahabatnya itu bersatu dengan asisten suaminya. Akan menjadi seperti apa rumah yang akan mereka tinggali kelak?


Puas mengkhayal tentang sahabatnya, Sharron sudah kembali ke kamar kemudian duduk lagi di ranjang. Dia meletakkan makanan itu di meja sofa. Suaminya masih bekerja di mejanya sendiri.


"Tumben hari ini kamu kreatif?" sindir Darrell.


"Ish, hanya Taquito, Sayang. Kamu menyukainya?"


"Hemm, terima kasih," ucapnya sambil mencicipi makanan kecil buatan istrinya. Kemudian dia menyeruput kopi yang masih panas itu.


"Sayang, itu masih panas!" tegur Sharron.


"Tidak apa-apa. Aku suka aromanya," elak Darrell. Padahal dirinya sendiri kehausan. Ada kopi pun diseruput begitu saja. "Ehm, kau tidak membawa air minum, istriku?"


Sharron yang semula asyik dengan ponselnya mendadak beralih menatap suaminya.


"Kau harus, Sayang? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Sharron gegas turun kemudian menuju ke dapur. Rasanya ingin tertawa melihat suaminya kepanasan seperti tadi.


Tanpa berlama-lama, Share sudah membawa segelas air minum yang diambil dari dispenser. Dia pun menyerahkan pada suaminya setelah sampai di kamar.


"Untuk apalagi minta maaf?"


Seharian ini sikap istrinya agak aneh. Mendadak datang ke kantor, kemudian ngambek, dan sekarang sering sekali minta maaf.


"Aku tidak perhatian padamu. Aku lalai menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Sekali lagi, aku minta maaf."


Darrell tersenyum. Sharron lebih penurut dari biasanya. Dia bisa lebih tenang sekarang.


"Iya, dimaafkan."


Sharron merasa lega. Dia hanya takut kalau Darrell akan marah lagi karena kopi panas yang tiba-tiba diseruputnya barusan.


"Sayang, aku berniat menjodohkan Noelle dengan Alan. Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


Deg!


Itu tidak akan mungkin terjadi. Seharusnya Alan akan bersanding dengan adiknya yang entah di mana rimbanya.


"Aku tidak setuju!"


Glek!


Netra Sharron mengunci wajah Darrell dengan seksama. Tak ada keraguan sedikitpun pria itu mengatakan penolakan.


"Ke-kenapa kamu tidak setuju?" tanya Sharron gugup. "Apa karena dia bekas para pria itu?"


Sharron sedih setelah mengucapkan semuanya. Dia seharusnya tidak mengatakan itu di hadapan Darrell. Kesalahpahaman kecil terjadi lagi.


"Bukan seperti itu, Sayang. Kau tahu kan kalau Alan itu tipikal pria yang tidak mudah jatuh cinta. Aku pernah punya angan-angan kalau adikku ditemukan, maka aku bisa menjodohkannya dengan Alan. Alan pria yang baik. Dia tidak akan tega menyakiti wanitanya."


"Ck, sudah kuduga. Kamu anti sekali dengan Noelle. Seandainya aku bekas orang lain, apa kamu dan keluargamu mau menerimaku?" Air mata Sharron mengalir pada kedua pipinya.


"Hei, bukan seperti itu! Itu hanya masa lalu. Cinta tidak bisa dipaksakan, Sharron. Noelle itu tidak menyukai Alan. Dipaksa seperti apapun, keduanya tidak akan mungkin menyatu. Lihatlah diri kita! Kita saling mencintai. Bagaimanapun semesta mencoba memisahkan, akhirnya kita bersama juga, kan?"


"Tapi, hari ini mereka bertemu. Aku yakin kalau keduanya itu saling menyukai, tetapi mereka itu malu untuk mengakuinya."


Sharron tetap kekeh pada pendiriannya. Kalau Darrell tidak bisa menyatukan mereka, Sharron yang akan mengusahakan.


"Lupakan tentang mereka! Kapan kamu selesai?" Darrell sudah tidak sabar untuk membuat penerus Wesley sebanyak mungkin.


"Apanya?"


"Itu!" Darrell menunjuk sesuatu yang selama ini dirindukannya.


"Astaga! Dasar suami mesum!" Sharron paham maksudnya. Dia kemudian melempar bantal tepat di hadapan suaminya. Beruntung posisi Darrell saat itu sedang berdiri hendak berjalan menuju ranjang.


"Sudahlah, lupakan mereka berdua. Kita buat kisah indah bersama-sama. Biarkan Alan dan Noelle tenggelam pada keinginannya masing-masing. Fokus kita hanya membuat Darrell junior atau Sharron junior."


"Darrell, tunggu! Aku belum selesai. Kurasa lebih baik kita fokus pada rencanamu untuk mencari adikmu, Maggia."

__ADS_1


Deg!


Darrell menghentikan aktivitasnya yang berniat untuk membuat Sharron tidak akan berhenti menyebut namanya. Namun, mengingat nama Maggia, dia teringat akan tugas Alan yang harus mengurus sesuatu mengenai Tuan Blair.


__ADS_2