
Darrell tidak menyadari kalau Noelle memberitahukan kabar menyusulnya pria itu ke tempat Sharron. Sharron yang sengaja menghilang untuk beberapa waktu dari keberadaan Darrell memutuskan untuk pindah tempat. Walaupun kedatangan Darrell masih beberapa jam lagi, dia terburu-buru sampai menabrak seseorang yang kebetulan baru saja keluar dari kamar hotelnya.
Brug!
"Maaf," ucap pria itu lantas menatap intens kepada wanita yang menabraknya.
"Aku yang harusnya minta maaf, Tuan. Aku buru-buru," ucap Sharron. Dia lantas menarik kopernya yang sedikit tergeser karena tabrakan yang tidak sengajanya itu.
Pria itu langsung tertarik pada wanita yang menabraknya itu. Dia cukup tidak sabaran dengan rasa ingin tahunya yang cukup tinggi.
"Marcello." Pria itu mengulurkan tangannya.
Sharron sebenarnya enggan untuk menanggapi pria itu. Namun, meninggalkan begitu saja juga terasa tidak nyaman. Sharron bukan wanita yang terlalu cuek sehingga menanggapi uluran tangan tersebut.
"Sha--" Belum sempat menyelesaikan perkenalannya, ponsel Sharron berdering sehingga dia buru-buru untuk melihat siapa orang dibalik ponselnya yang sedang berbunyi. Sebuah nama yang membuatnya semakin buru-buru. Siapa lagi kalau bukan Darrell. "Maaf, Tuan. Aku harus segera pergi."
Marcello merasa kagum pada penampilannya. Cukup menarik, sayangnya perkenalannya tidak sampai tuntas.
"Tidak sekarang, tetapi kita akan bertemu lagi," ucap Marcello. Ketertarikannya cukup beralasan. Dia berharap wanita itu adalah jodoh yang dinantikannya selama ini. Hubungannya dengan Callie tidak akan pernah langgeng karena wanita itu terikat pernikahan.
Marcello lantas menuju ke restoran untuk menikmati makan siangnya. Walaupun belum terlalu siang, tetapi dia sudah sangat lapar sekali.
Marcello memesan makanan kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja. Suasana tidak terlalu ramai sehingga dia merasa nyaman sekali. Sesekali pria itu melirik ponselnya kemudian mendapati kabar kalau Callie menyusulnya.
"Hemm, Callie ... seharusnya kau tak perlu menyusulku ke sini. Suamimu pasti curiga kalau kita sering bertemu," ucapnya sembari menunggu pesanannya datang.
...***...
Darrell yang baru saja turun dari pesawat setelah perjalanan jauhnya merasa sedikit kesal. Pasalnya dia menelepon Sharron, tetapi wanita itu tidak lekas mengangkatnya.
"Kamu ke mana, Sharron?" tanya Darrell dengan suara lirihnya. Darrell lantas naik taksi menuju hotel yang dituju.
__ADS_1
Perjalanan dari bandara menuju hotel memang tidak terlalu jauh karena itu merupakan tempat yang paling dekat. Sesampainya di sana, Darrell segera mencari keberadaan Sharron dari front office hotel. Namun, dia mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan. Pasalnya, Sharron sudah melakukan check out beberapa jam yang lalu.
"Apakah tahu perginya ke mana?" Pertanyaan konyol ini jelas saja membuat pegawai hotel meminta maaf.
"Maaf, Tuan. Kami tidak tahu perginya ke mana."
Jelas saja sangat aneh. Pihak hotel juga tidak akan mau tahu ke mana tamunya setelah check out. Kecuali tamunya masih berada di dalam lingkungan hotel kemudian memberikan pesan kalau ada tamu yang akan masuk atau pertemuan rapat dan kebutuhan lainnya.
Darrell lelah. Dia memutuskan untuk menginap beberapa malam sampai menemukan keberadaan Sharron di sini.
Sebuah kamar presiden suit menjadi tujuannya sekarang. Keberadaan Darrell di manapun, dia pasti selalu mengambil kamar hotel kelas atas ini.
Lelah sudah pasti, tetapi demi mengejar Sharron, apapun akan dilakukan. Dia sudah tergila-gila pada gadisnya itu. Darrell sangat takut kalau gadisnya itu kabur dan tak pernah kembali.
...***...
Lain halnya dengan Callie yang baru sampai di bandara pada malam hari. Dia meminta Marcello untuk mengirimkan alamat dan kamar hotel yang ditempatinya saat ini. Supaya ketika Callie sampai, dia tidak perlu lagi menanyakan pada resepsionis.
Bahagia. Itulah yang dirasakan Callie saat ini. Namun, ada hal lain yang ingin disampaikan pada Marcello bahwa keputusannya untuk menjadi model tidaklah tepat. Banyak waktu yang tersita untuk mengurusi satu pekerjaan itu. Suaminya pun pria kaya raya yang akan memenuhi segala kebutuhannya.
"Pho, kau sengaja mau menggodaku?" canda Callie yang menarik kopernya.
"Tidak. Aku baru saja tertidur dan kau sudah datang. Masuklah kemudian bersihkan dirimu dulu. Kalau kamu lapar, pesan saja makanan atau cari makanan ringan di tempat biasanya. Aku mau tidur lagi."
Harapannya pupus sudah. Mungkin hanya perasaan Callie saja atau memang Marcello sedikit berubah. Callie lekas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sudah larut memang, tetapi kerinduan yang menggebu tak menyulitkan Callie saat berada di dalam kamar mandi. Dia bisa menggunakan air hangat.
Setelah itu, Callie memakai gaun tidurnya yang berbahan sutra lembut sehingga menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi. Callie naik ke ranjang untuk tidur bersama Marcello. Pria itu benar-benar pulas sehingga tak menyadari bahwa kekasih sekaligus sahabatnya itu telah memeluk mesra dirinya.
...***...
Pagi menyambut. Kemesraan Callie masih terus berlangsung sampai keduanya membuka mata. Marcello melihat tangan Callie melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Pho, kau sudah bangun? Semalam tidurmu nyeyak sekali. Aku tidak tega mau membangunkannya," ucap Callie yang terus saja menatap mata sahabat dekatnya itu.
"Hemm, aku lelah sekali. Tidak banyak kegiatan yang kulakukan, tetapi rasanya aku ingin beristirahat sepanjang waktu."
Kalau dibilang siapa yang paling agresif di antara keduanya, jelas sangat terlihat bahwa keduanya sama-sama agresif. Namun, pagi ini Marcello lebih banyak diam. Callie yang memberikan kecupan selamat pagi di kening Marcello.
"Call, turunlah lebih dulu. Kita sarapan di restoran saja, yah?"
"Baiklah. Ehm, kau tidak ingin menciumku?" tanya Callie.
"Tidak pagi ini, Callie. Kau pasti lelah. Kita sarapan kemudian jalan-jalan. Okey?"
"Baiklah." Tak ada penolakan bagi Callie. Memang Marcello sedikit berubah menurutnya, tapi tidak akan ditanyakan sekarang. Nanti saja setelah kembali lagi ke kamarnya.
Keduanya keluar bergandengan tangan mesra setelah beraktivitas di pagi hari. Suasana Swiss di bulan ini sedang memberikan keberuntungan pada Callie yang tidak harus memakai jaket tebal. Swiss belum masuk musim dingin.
"Kita sarapan di restoran saja, ya," ajak Marcello.
Callie tak menolak. Dia tetap fokus menggandeng mesra Marcello layaknya sepasang kekasih yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya seolah merasa kalau restoran ini hanya miliknya karena sikap romantis yang selalu mendominasi.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya. Pagi ini mau sarapan dengan menu apa?" tanya pelayan yang mengira keduanya sebagai sepasang suami istri.
Tanpa banyak bicara, Marcello yang mendominasi untuk memesan makanan. Callie cukup diam saja dan menyetujui apapun yang dipesan pria di hadapannya itu.
Seusai pelayan itu pergi, Callie memberanikan diri untuk menggenggam tangan pria yang selama bertahun-tahun selalu terhubung dengan kehidupannya. Walaupun kala itu masih berupa hubungan jarak jauh yang sulit diwujudkan, namun saat ini semuanya terlihat begitu mudah.
"Pho, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Ke manapun kamu pergi, aku tidak akan lelah untuk mengejarmu."
Dari sudut lain di sebuah restoran, sepasang mata menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ya, Darrell melihat istrinya sedang bersama pria yang sudah dikenalkan padanya sebagai seorang sahabat. Namun, melihat keakraban yang tak biasa, Darrell ingin mendekat kemudian mengejutkan keduanya.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren Author Bubu.id dan jangan lupa tinggalkan jejaknya