
Liburan di Swiss yang singkat itu membuat semua orang yang ada ikut bahagia. Allegra pulang dalam diam, tetapi Darrell mencoba memahaminya. Tak seharusnya pria itu memaksa mamanya.
Berada di dalam pesawat terbang menuju Meksiko, Allegra duduk tepat di samping Darrell dan suaminya. Sengaja dilakukan untuk bisa berbincang-bincang dengan baik.
"Mama tidak mau cerita kepadaku? Itu tidak masalah, tetapi tolong jangan diam seperti ini," ucap Darrell.
"Mama minta maaf, Darrell. Ini kesalahan kami. Kami tidak bermaksud membuat rumah tanggamu berantakan. Marcello akan terus mengincar para wanita dari anggota keluarga kita. Alasannya adalah Papamu tidak sengaja telah menembak kakak Marcello hingga meninggal dunia. Itulah sebabnya orang tua Marcello sengaja memisahkan Maggia dari keluarga kita. Biar kami pun merasakan derita yang mereka rasakan. Selain itu, siapa pun wanita yang akan menjadi istrimu, Marcello akan selalu membuat hubungan kalian renggang. Termasuk dengan Callie. Kau tahu, siapa yang harus bertugas menyampaikan dengan siapa kamu berhubungan?"
Allegra menyerah. Saatnya Darrell tahu segalanya. Kalaupun putranya itu marah, itu tidak akan menjadi masalah.
"Maksud Mama?" tanya Allegra.
"Mama dan Papa yang selalu menginformasikan di mana keberadaan istri atau gadis yang kamu cintai. Maafkan kami, Darrell."
Glek!
Darrell tentu saja langsung lemas. Dia tidak menyangka bahwa rumah tangganya selama ini dan hadiah yang diterima Callie terus-menerus adalah cara Marcello untuk mengambil hati wanita itu.
"Lalu, apakah kalian juga melakukan hal yang sama untuk Sharron?" selidik Darrell.
Allegra dan Javer saling menatap. Kemudian keduanya menganggukkan kepalanya. Hanya saat Sharron berada di apartemen Darrell saja mereka tidak bisa menginformasikan. Alan selalu sigap di semua tempat.
"Iya. Pengecualian di apartemenmu. Orang suruhan kami sempat bertemu Alan. Itulah sebabnya kami menghindar," sahut Javer.
Darrell ingin marah, tetapi tak mampu. Apa pun alasannya, ini sudah berdampak buruk pada kehidupan rumah tangganya. Pantas saja Marcello terlalu percaya diri untuk mendekati para wanita yang dekat dengan Darrell.
Setibanya di bandara internasional Meksiko, mereka sudah mendapatkan mobil jemputan masing-masing. Noelle memilih pulang ke apartemen bersama orang tuanya, Alan dan Darrell berada di mobil yang sama untuk menuju ke apartemennya.
"Alan, bagaimana rencanamu?" tanya Darrell saat berada di dalam mobil.
"Aku akan meminta salah satu even organizer untuk mengurus semuanya. Sekalian undangan ulang tahun. Pokoknya terima beres," jelas Alan.
__ADS_1
Alan jelas harus memikirkan caranya sendiri. Darrell tidak mungkin membantu untuk semua persiapannya. Kecuali kalau Alan itu bosnya, dan Darrell adalah anak buahnya.
Spesial momen ini tentunya akan mengubah tipuan yang lebih mengejutkan lagi. Alan akan menggunakan trik lamanya untuk memperdaya Blair melalui Sharron. Istri tuannya itu yang akan menjadi tamu penting dalam acara ini. Bukan sebagai orang lain, tetapi sebagai calon tunangan Alan yang sengaja digunakan untuk menjebak Blair ataupun Bellatrix.
Semua gaun yang akan digunakan untuk pesta, Alan sudah meminta desainer untuk merancang gaun milik Sharron.
"Maaf, Tuan. Hanya cara ini yang bisa kami lakukan untuk mengelabuhi tuan Blair."
Darrell tidak masalah. Dia pun akan memperkenalkan Noelle sebagai adiknya. Supaya Blair tahu kalau dia sudah berani bermain-main dengan dirinya.
...🍄🍄🍄...
Ballroom hotel megah di Meksiko menjadi tempat terpenting di dalam sejarah kehidupan Alan. Ini pertama kalinya dia merayakan ulang tahun termegah sepanjang hidupnya. Beberapa kolega berkelas pun turut datang. Termasuk Blair dan istrinya.
Kedatangan pria itu adalah pertemuan kesekian kalinya dengan Alan. Tatapannya tenang saat bertemu dengan Alan. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
"Wah, selamat Alan! Ini ulang tahun perdanamu, bukan? Ehm, maksudku semoga ini menjadi ulang tahun terakhir untukmu yang singel ini," ucap Blair.
"Terima kasih, Akan. Selamat ulang tahun, ya! Oh ya, mana kekasihmu? Apa kalian sudah putus?" tanya Bellatrix penasaran.
"Tidak, Nyonya. Sebentar lagi dia pasti datang," balas Alan.
Alan tidak tahu harus berbuat seperti apa dengan Sharron nantinya. Haruskah dia bermesraan dengannya di hadapan Darrell? Entahlah, daripada pusing memikirkan cara itu, lebih baik Alan nikmati saja prosesnya.
Seperti yang sudah diduga, rupanya Sharron muncul tepat di hadapan Blair dan istrinya.
"Sayang, maaf aku sedikit terlambat," ucap Sharron pada Alan.
Untung saja ini rencana besar, jika tidak Alan pasti malu sekali pada tuannya. Dia harus berakting supaya Blair percaya bahwa hubungan mereka baik-baik saja.
"Sayang, ada Tuan dan Nyonya Blair," ucap Alan mengingatkan Sharron.
__ADS_1
"Wah, ini pertemuan kedua kita, Nyonya." Sharron mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita itu.
"Pa, aku dan Nona Alexa ke sana dulu, ya," pamit Bellatrix pada suaminya.
"Silakan, Ma," jawab Blair.
Blair melanjutkan obrolannya dengan Alan, sementara Sharron dengan Bellatrix.
"Sudah lama mengenal Alan?" Beberapa bulan yang lalu, Bellatrix memang sudah pernah bertemu. Namun, kali ini perbincangan mereka sepertinya sangat penting sekali sehingga membuat Bellatrix mengajaknya menjauh.
"Lumayan lama, Nyonya. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, Nona Alexa. Wajahmu mengingatkan aku pada sesuatu. Entah ini salah atau benar. Rasanya tidak asing sekali," ucap Bellatrix terlihat berkaca-kaca.
"Mungkin hanya kebetulan, Nyonya. Memangnya saya mirip siapa?"
"Phili. Dia masih kerabat dekat orang tuaku. Sayang sekali, dia meninggal karena kecelakaan. Anaknya pun ikut meninggal dalam tragedi tersebut. Jika tidak, kemungkinan aku masih memiliki kerabat yang sangat muda sekali," ucapnya.
"Wah, itu menyedihkan sekali, Nyonya. Aku turut berdukacita. Oh ya, bagaimana pertemuan Anda dengan tuan Blair? Maaf, bukan maksudku mengorek masa lalu Anda, Nyonya. Aku hanya ingin tahu saja. Siapa tahu cerita kita hampir mirip, Nyonya."
Bellatrix tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana. Dia juga sudah dilarang mengumbar kisah masa lalunya dengan sembarang orang. Apalagi kisah tragis kecelakaan di masa silam.
"Kurasa tidak, Nona Alexa. Hanya saja terkadang aku memikirkan bahwa kamulah anak yang dicari oleh keluarga Alexander," ucap Bellatrix. Dia terbuai dengan kecantikan Alexa yang mengingatkannya pada wajah Philipia Maureen.
"Itu tidak mungkin, Nyonya. Aku masih memiliki orang tua," ucap Sharron beralasan.
"Mungkin hanya kebetulan, yah. Sayang sekali. Aku terkadang menyerah untuk mencarinya."
"Memangnya untuk apa Anda mencarinya? Bukankah kata Anda kalau dia sudah meninggal dunia?"
"Aku merasa berdosa, Nona. Harusnya perusahaan yang dipimpin suamiku itu miliknya, tetapi semakin aku mencoba mencarinya, Blair selalu melarangku," ucap Bellatrix lirih.
__ADS_1
Sharron tidak mau terlibat terlalu jauh, tetapi dia semakin penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Keburu keluarga Darrell datang. Mereka pun berkenalan dengan Blair dan keluarganya. Sementara Alan dan Sharron sibuk menerima tamu undangan yang hadir untuk merayakan pesta ulang tahunnya.