
Seusai Noelle menghilang dari pandangan Alan, pria itu langsung menuju ke ruangan atasannya. Pesan yang disampaikan Noelle harus sampai ke Darrell tepat pada waktunya. Selain itu, Alan akan meminta persetujuan pada Darrell untuk menyewa detektif swasta yang akan melakukan tugas mencari keberadaan Maggia.
"Selamat siang, Tuan," sapa Alan saat sudah berada di dalam ruangan tuannya.
"Siang, Alan. Ada apa?"
"Ehm, begini Tuan, Noelle baru saja datang ke tempatku. Dia memberitahukan padaku bahwa nyonya Sharron mulai mencurigai Anda bersama Noelle."
Kecurigaan yang seperti apa? Bukankah Alan sendiri juga tahu kalau Darrell tidak pernah melakukan apapun pada Noelle? Apalagi sampai memiliki hubungan khusus.
Alan menceritakan kecerobohan Noelle. Hingga Sharron tak sengaja menemukan baju yang semalam bekas digunakan pada malam itu.
"Oh, ya ampun. Pantas saja Sharron terlihat aneh setelah pulang dari apartemen Noelle. Kamu jangan khawatir, aku yang akan menyampaikannya pada Sharron."
Alan merasa lega, tetapi pikirannya tentang Maggia masih saja membayangi kehidupannya.
"Tuan, pencarian terhadap Maggia akan kulakukan dengan segera. Kurasa ini kesempatan yang bagus lantaran Noelle masih mengurus tuan Blair. Aku berharap mendapatkan kabar secara bersamaan."
"Kau akan memulainya darimana, Alan?"
"Italia. Tempat semua kejadian bermula, tetapi aku tidak akan melakukannya sendiri. Aku akan mencari detektif swasta. Tuan bisa membantuku untuk membayar mereka, bukan?" Ya, Alan harus berhemat. Saat kejadian menyelamatkan Noelle tempo hari, dia tidak lagi meminta ganti rugi pada tuannya. Lagi pula tuannya pun sudah keluar uang yang banyak sekali.
"Lakukanlah semua rencanamu itu. Dalam waktu singkat kalau kau bisa menemukan adikku, kau bisa menikah dengannya."
Glek!
Darrell benar-benar to the poin. Alan tidak mungkin berani melakukan itu. Bagaimana kalau adiknya menolak menikah dengannya? Itu akan semakin membuat Alan terluka. Belum lagi kalau kenyataannya adik Darrell sudah menikah dengan pria lain. Itu mungkin saja bisa terjadi karena sudah puluhan tahun menghilang.
Darrell seperti memberikan oase di dalam gersangnya hati Alan, tetapi langsung dipatahkan sendiri oleh Alan.
Selepas perbincangan siangnya, Darrell mencoba pulang lebih awal. Bukannya tidak ada pekerjaan lagi, tetapi dia harus pulang untuk menyelesaikan masalahnya dengan Sharron. Tak mungkin dia bisa berbohong lagi.
Memasuki unit apartemen yang masih sepi membuat Darrell bertanya-tanya ke mana perginya Sharron. Namun, seketika melihat Sharron yang baru saja keluar dari kamarnya menyadari bahwa istrinya itu tengah beristirahat.
"Sayang, kupikir kamu pergi," ucap Darrell.
__ADS_1
"Aku tidak ke manapun hari ini. Noelle juga akan bekerja. Aku tak punya kesibukan lain selain tidur di apartemen."
"Hemm, baguslah. Aku jadi tidak khawatir lagi."
Sharron diam. Dia hanya ke dapur untuk mengambil air minum. Setelah itu, dia kembali lagi ke kamarnya. Darrell sudah menunggunya di atas ranjang dengan dada bidangnya yang sudah terpampang nyata di sana. Sayang sekali, Sharron belum tertarik.
"Kemarilah! Aku ingin berbicara," panggil Darrell padanya.
Sharron menurut. Dia mengambil tempat di samping suaminya. Sedikit berjarak.
"Kalau ada masalah, katakan saja. Jangan dipendam seperti ini. Semuanya akan menghambat ruang gerakmu!" tegur Darrell.
"Harusnya aku yang mengatakan itu padamu," jawabnya jutek.
"Aku tahu kalau kamu sedang salah paham padaku, bukan? Aku tidak ada hubungan apapun dengan Noelle. Kami hanya sebatas membuat kerjasama."
Deg!
Apa aku tidak salah dengar? Kerjasama dia bilang? Kerjasama urusan apa? Mengapa aku baru tahu sekarang.
"Kurasa aku diam karena kalian tidak mau jujur padaku. Aku seperti orang bodoh, Darrell."
Kecurigaan karena mengetahui bahwa Noelle dan Darrell pergi bersama, tetapi yang membuatnya tidak tenang, mengapa Noelle dan Darrell sama-sama bungkam? Lantas, apa kerjasama yang mereka buat sebenarnya?
"Aku hanya ingin menyelidiki keluargamu, Sharron! Aku ingin memberikan kejutan kalau kabar itu benar, maka kamu akan memiliki keluarga."
Sesaat Sharron melangkah mundur. Dia tidak mau ini dilanjutkan, tetapi suaminya kekeh pada pendiriannya.
"Sudah kukatakan sejak awal kalau aku tidak mau bertemu dengan mereka, Darrell. Mengapa kamu memaksakan?"
Darrell sudah terlalu jauh. Apalagi keputusan yang diambil Noelle juga sudah jauh. Haruskah dia menghentikannya sekarang?
"Sharron, dengarkan aku! Noelle ingin membantumu menemukan keluargamu, tetapi atas permintaan dariku. Dia bisa menggali informasi lebih banyak dari yang bisa kulakukan."
"Ya, baiklah. Tapi, untuk apa, Darrell? Kau tahu, aku takut sekali membahayakan Noelle. Bagaimana kalau rencana kalian gagal? Jujur, aku sangat tidak suka karena kalian berbohong. Kalian menyusun strategi tanpa memberitahukan padaku. Aku takut, Darrell. Ketakutanku bukan tanpa alasan. Bagaimana kalau kenyataannya orang tuaku kecelakaan karena dibunuh?"
__ADS_1
Deg!
Ketakutan Sharron jelas. Kalau Noelle sudah masuk terlalu jauh, kemudian mereka terlambat mengetahui siapa lawannya, mungkin akan jauh lebih rumit lagi.
"Kau mau memaafkan aku dan Noelle, kan? Lain kali aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Aku minta maaf," ucap Darrell. Tak ada gunanya mendebat. Kecemburuan Sharron terlihat jelas ketika Darrell membicarakan Noelle, tetapi baguslah, itu artinya Sharron sangat khawatir pada dirinya.
"Iya, aku akan bertemu Noelle lagi untuk meminta maaf."
"Tidak perlu. Alan yang akan menyampaikannya. Kurasa dia akan bekerja di perusahaan yang ditinggalkan tuan Samuel Alexander."
Sejauh itukah yang sahabat dan suaminya lakukan demi menemukan keluarga Sharron? Kali ini Sharron merasa bersalah telah mencurigai suaminya.
"Aku minta maaf telah curiga padamu," ucapnya lirih.
Darrell merengkuh Sharron ke dalam pelukannya. "Sangat wajar sekali. Kamu pasti takut kehilangan suamimu yang sangat tampan ini, kan? Jangan khawatir, Sayang, aku tidak akan pernah selingkuh darimu. Apalagi Noelle itu sahabatmu. Mana mungkin aku tega. Yang mungkin terjadi kalau Alan kita jodohkan dengan Noelle, bagaimana?"
"Benarkah?" tanya Sharron dengan binar mata bahagianya, kemudian dia tenggelam lagi dengan rasa putus asanya. "Tidak, Sayang. Kurasa tidak perlu mengikuti usul konyolku tempo hari. Biarkan Noelle menemukan kehidupannya masing-masing. Begitu juga dengan Alan. Kamu juga tidak bisa memaksakan padanya, Sayang."
"Aku lebih suka kalau kamu fokus mengurusi suamimu ini. Kurasa kita perlu pergi berbulan madu. Aku ingin kita pergi ke Swiss, Sayang. Aku merindukan tempat itu," pinta Darrell.
Selama Noelle dan Alan melakukan tugasnya, Darrell perlu menikmati hari liburnya. Apalagi niatnya untuk memberikan cucu pada orang tuanya belum terwujud.
"Kenapa harus Swiss?" tanya Sharron. Kenangannya mengenai tempat itu tidaklah indah. Ada pria yang bernama Marcello yang selalu mengejarnya. Darrell pun tahu siapa pria itu, tetapi tidak tahu bagaimana gencarnya Marcello mendekatinya.
"Kenapa? Swiss sangat indah. Dia sepertimu, Sharron. Menarik. Kita akan pergi ke sana sebagai hadiah pernikahan kita yang dikirim oleh orang tuaku. Kau tidak bisa menolaknya, Sayang."
Deg!
Haruskah dia pergi bersama suaminya ke sana? Sementara, Marcello pasti akan selalu ada di sana sebagai orang yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkannya.
...🌤️🌤️🌤️...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1