Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 113. Kesepakatan


__ADS_3

Alan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Dia harus secepatnya mengecoh penjaga AX Corporation.


"Tuan, setelah ini kita akan masuk ke dalam gang. Aku harus sampai di mansion Anda. Tidak aman kalau kita ke apartemen Noelle."


"Lakukan apa yang menurutmu baik."


Darrell terluka di bagian kepalanya, sementara Alan sudah babak belur karena berkelahi. Sementara Sharron sendiri merasa resah. Mungkinkah dia bisa menerima kenyataan bahwa dialah satu-satunya penerus AX Corporation? Melihat usaha suami dan asistennya itu.


"Sayang, kenapa kau diam?"


"Darrell, kau tahu, kan. Ini seperti mimpi. Walaupun aku masih bingung akan hasil akhirnya, tetapi aku yakin kalau aku masih ada hubungannya dengan AX Corporation."


Sharron sampai melupakan beberapa hal. Pertama, Darrell terluka di wajahnya akibat lemparan batu. Kedua, Alan pun babak belur karena berkelahi dengan beberapa penjaga perusahaan Blair.


"Nyonya jangan khawatir. Kita semua akan membongkar keburukan yang disembunyikan Blair selama ini. Dia sudah menggenggam perusahaan sudah cukup lama. Kurang lebih 15 tahun lamanya," sahut Alan.


"Itu saat aku berusia 10 tahun. Aku belum mengerti apa pun, tetapi kecelakaan itu terjadi harusnya sebelum aku menjadi anak-anak, bukan?"


Sebenarnya mereka masih ingin membicarakan hal penting lainnya, tetapi mobilnya sudah sampai di mansion. Mereka lekas turun, tetapi pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang rasanya tidak asing.


"Kurasa papa ada di sini," ucap Darrell.


"Iya kah?" tanya Sharron.


"Lihatlah mobil itu! Itu mobil yang biasa dipakai Papa."


"Tuan, mungkinkah mereka juga tahu kalau kita akan langsung ke sini?" tanya Alan.


"Kurasa begitu. Rute yang mereka ambil pun kemungkinan ke sini juga, kan?"


Bergegas mereka masuk. Rupanya memang benar kalau di dalam ada orang tuanya.


"Bagaimana, Alan? Apa kalian berhasil?" tanya Allegra. Sepertinya Allegra sengaja tidak melihat luka-luka yang diderita kedua pria di hadapannya.


"Nyonya tanyakan saja pada Tuan," ucap Alan. Dia sedang menahan nyeri.


"Darrell, apa kalian mendapatkannya?" tanya Allegra.


Fokusnya saat ini bukan itu, tetapi dia mengambil remote televisi. Terlihat berita perampokan di gedung AX Corporation. Pelakunya sedang diburu.


"Apa ini akan aman?" tanya Darrell pada Javer.


"Papa tidak tahu, Darrell. Yang pasti orang-orang Blair akan secepatnya melaporkan kejadian ini. Tapi, kalian tidak meninggalkan bekas, bukan? Maksudku jejak?"

__ADS_1


"Pertanyaan Papa itu membuat Mama kesal sekali. Walaupun mereka tidak meninggalkan jejak, tetapi bekas kejahatan ini akan tetap ada. Bukan begitu?"


"Lupakan! Lebih baik bantu obati luka-luka Darrell dan Alan," perintah Javer.


Berdebat tidak akan menghentikan mereka yang akan terus berbicara. Darrell mengajak istrinya untuk masuk ke kamar tamu, bukan lagi kamar masa lalunya bersama dengan Callie.


"Kenapa ke kamar ini? Bukankah ini kamar tamu?" tanya Sharron. Dia meletakkan tasnya di atas meja.


"Kita bersihkan diri dulu. Malam-malam begini tidak bagus menggunakan pakaian bekas kejahatan demi kebaikan ini."


"What? Apa maksudmu?" tanya Sharron.


"Ck, kau ini keturunan Samuel Alexander. Begitu saja tidak tahu!" keluh Darrell.


"Aku belum yakin sebelum kita membuka semua bukti ini. Oh ya, Noelle bilang kalau Nyonya Bellatrix di sini. Di mana?"


"Sebaiknya kamu bersihkan diri dulu. Kurasa ada baju bersih di lemari itu."


"Tidak, aku akan mengobati lukamu lebih dulu," ucap Sharron.


"Oh ayolah, Sayang. Suamimu ini akan baik-baik saja." Darrell memaksanya. Dia bukan pria lemah yang menyerah karena luka sekecil ini.


Sharron mengalah. Dia membuka lemari. Benar saja kalau ada baju baru di sana. Jumlahnya memang tidak sedikit. Ada beberapa paper bag juga di sana.


"Lekas bersihkan diri. Semua orang pasti sudah menunggu," jawabnya dingin.


Daripada berdebat, mereka lekas membersihkan diri. Selama Sharron masuk ke kamar mandi, Darrell memilih keluar menemui papanya.


"Kamu belum membersihkan diri, Darrell?" tanya Javer.


"Aku masih kepikiran laporan anak buah Blair ke kepolisian, Pa. Mungkinkah mereka akan mengetahui keberadaan kita?"


"Papa tidak tahu. Sebenarnya lebih cepat lebih baik. Kita bisa menggunakan kekuatan media untuk menyerang Blair dan antek-anteknya. Itu setelah kami semua tahu kebenaran mengenai Sharron."


Papanya benar. Kali ini Darrell tidak boleh menyerah. Bergegas dia ke kamar untuk mengambil tas. Dia pun melihat Sharron sudah selesai mengganti pakaiannya.


"Cepatlah keluar! Papa sudah menunggu."


Sebenarnya tidak hanya Papa saja, tetapi ada Alan dan yang lainnya. Alan sudah terlihat bersih. Luka-lukanya juga sudah diobati.


"Alan, lukamu sudah diobati?" tanya Sharron.


Alan semula biasa saja malah bersikap aneh seperti itu. Dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Sharron barusan.

__ADS_1


"Iya, sudah Nyonya," jawab Alan.


"Siapa yang mengobati?" selidik Darrell. "Tidak mungkin kan Mamaku yang mengobati kamu?"


Glek!


Sindiran versi Darrell. Alan pikir terlepas dengan sangat mudah, tetapi nyatanya Darrell dan Sharron berusaha mengorek informasi lebih jauh lagi.


"Aku, Kak!" sahut Noelle.


Darrell dan Sharron mencoba menahan tawa. Namun, Javer lekas menguasai keadaan.


"Bercandanya nanti saja. Sekarang ada yang lebih penting dari itu semua. Sharron, lekaslah buka tasmu itu!" ucap Javer.


Sharron mengambil tas yang sudah dibawa suaminya. Satu buah foto, buku harian, dan beberapa penunjang lainnya.


"Noelle, ajak Nyonya Bellatrix ke sini!" perintah Javer.


Satu-satunya kunci kehidupan Sharron adalah wanita itu. Setelah semuanya berkumpul, Bellatrix pun memulai berbicara.


"Maaf sudah membuat kalian terlibat masalahku," ucapnya.


"Tidak, Nyonya. Sebenarnya kami ingin tahu perihal tuan Blair dan masa lalu seseorang," balas Darrell.


"Nyonya, seperti yang sudah kami sampaikan, ada kemungkinan sahabatku ini adalah putri dari tuan Samuel Alexander yang meninggal karena kecelakaan," sahut Noelle.


"Itu tidak mungkin. Anak Samuel memang hilang dalam kecelakaan itu. Aku sempat ragu, kalaupun hidup itu kemungkinan kecil," jelas Bellatrix.


"Tapi, bukti panti asuhan juga jelas kalau Samuel Alexander itu hanya nama satu orang," balas Noelle sengit.


Noelle merasa kesal pada sikap Bellatrix. Jangan-jangan dia itu tidak tulus. Lebih tepatnya kalau dia itu mengalahkan Blair melewati orang lain.


"Tunggu dulu, Nona! Maksudku, darimana Anda mendapatkan informasi itu?" Bellatrix membuat semua orang pusing.


"Kami sudah mendatangi panti asuhan tempat Sharron dititipkan. Anda jangan membohongi kami, Nyonya. Kalau sampai niat Anda ini hanya untuk mengelabuhi kami, kami tidak akan percaya." Noelle kesal sekali melihat sikap wanita itu.


"Nyonya, sebelumnya kami minta maaf. Sharron memang sudah mencari informasi mengenai dirinya. Jika Anda berkenan untuk memberikan informasi kepada kami, jangan khawatir. Kami akan selalu memberikan perlindungan pada Anda. Kurasa Anda juga paham apa maksud kami," sahut Darrell.


Jelas kalau Blair akan membalasnya. Namun, Bellatrix harus mendapatkan keamanan dari orang lain. Sebenarnya tidak ada salahnya Bellatrix memberikan informasi yang seharusnya. Toh kehidupannya akan lebih terjamin daripada sebelumnya.


"Baiklah, aku setuju," ucap Bellatrix.


Semua orang tidak sabar untuk membuka tabir misteri. Kalau pada akhirnya Sharron adalah pewaris AX Corporation, Darrell akan membantunya.

__ADS_1


__ADS_2