
Keesokan harinya, Javer datang bersama dengan Alan. Kali ini Darrell tidak datang karena harus mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Kontrol kehamilan untuk pertama kalinya. Ini merupakan permintaan dari Allegra.
"Tuan, tumben hari ini tuan Darrell tidak memintaku datang ke kantor," ucap Alan.
"Hari ini dia mengantar istrinya ke rumah sakit. Intinya, hari ini adalah final dari semua masalahnya. Aku tidak mau mundur lagi. Lagi pula Blair harus mengakuinya secara detail tanpa berbelit-belit lagi. Kamu sudah bawa surat perjanjiannya, kan?"
Semua permintaan Darrell sudah disiapkan. Bahkan, pria itu pun sudah menandatangani semua berkasnya. Satu salinan untuk tuannya dan satu lagi untuk penjahat itu.
Bertemu untuk kesekian kalinya membuat Alan sedikit kesal. Harusnya hari ini adalah final dari segalanya. Baik Javer maupun Alan sebenarnya sudah lelah sekali.
"Aku sebenarnya sudah lelah sekali harus bertemu dengan kalian. Namun, ini kuanggap sebagai bayaran atas kerja kerasku selama ini. Di mana Darrell? Padahal aku ingin bernegosiasi dengannya lagi."
Alan dan Javer pun merasa kesal sekali. Mengingat hal ini adalah sesuatu yang membuat semua keluarga harus mencurahkan segala urusan pada satu tempat saja.
"Anakku ada urusan. Kalau kau perlu sesuatu, katakan saja padaku!" balas Javer.
"Tidak, terima kasih."
Alan mengeluarkan map yang berisikan dua lembar surat perjanjian. Ini sudah mendapatkan briefing langsung dari bosnya sendiri.
"Jadi, apakah Anda akan menandatangani dulu atau bercerita sekarang?" tanya Alan.
Blair sebenarnya enggan sekali untuk melanjutkan ceritanya. Baginya, kehilangan AX Corporation sudah merupakan pukulan telak. Posisi perusahaannya saat ini masih tidak jelas. Lebih tepatnya terjadi kekosongan perusahaan untuk saat ini sampai bukti-bukti mengenai kejelasan anak dari Samuel ditemukan.
"Baiklah. Aku akan bercerita sedikit. Intinya, aku tidak tahu siapa pembunuh sebenarnya tuan Samuel. Yang aku tahu kalau mertuaku itu tiba-tiba memimpin perusahaan AX Corporation. Sedangkan aku, sebagai menantu laki-laki satu-satunya yang diberikan kewenangan untuk melanjutkan perusahaan," jelasnya. Namun, baik Javer maupun Alan tidak percaya.
"Bagaimana mertuamu bisa meninggal?" tanya Javer.
"Kalian tidak perlu tahu. Yang pasti bahwa aku mendapatkan pengalihan kekuasaan atas nama mertuaku. Bukankah itu sudah cukup?" jelas Blair.
Javer terdiam sejenak. "Bagaimana kalau sebenarnya mertuamu meninggal itu atas ulahmu?" tuding Javer. Secara logika, susah payah mertuanya merebut kekuasaan dari Samuel. Hal itu yang menyebabkan tidak mudahnya orang tua Bellatrix menyerahkan hal sepenting itu pada menantunya.
"Anda menuduhku, Tuan?" tanya Blair sembari mengetuk meja secara perlahan.
__ADS_1
"Tidak. Hanya aneh saja, Tuan. Tapi, terima kasih sudah memberikan informasi itu." Javer menjawabnya sebagai akhir dari pertemuannya dengan Blair.
"Tunggu dulu, Tuan!" panggil Blair saat melihat Javer dan Alan baru saja berdiri hendak meninggalkan pertemuan mereka.
Darrell memang memberikan setengah dari apa yang sudah dijanjikan. Walaupun sudah menandatanganinya, tetapi dia yakin bahwa Darrell akan ingkar janji.
"Tuan, anakmu licik sekali. Harusnya di dalam surat perjanjian ini tertulis secara keseluruhan harta yang menjadi milikku. Ternyata ini tidak sama sekali. Setelah aku keluar dari sini, aku akan datang menuntut apa yang seharusnya menjadi milikku." Ancaman Blair tidak pernah main-main.
"Seharusnya Anda mengingat sesuatu sebelum berbicara, Tuan Blair. Anda juga butuh pengacara untuk menyelesaikan kasus ini, bukan? Nah, tuan Darrell sudah menyediakan pengacara untuk menangani kasus Anda. Itulah sebabnya Anda tidak akan mendapatkan secara keseluruhan. Bukankah Anda sudah memilih kebebasan dan harta setelah keluar dari penjara ini?" jelas Alan.
Glek!
Rupanya Darrell lebih pintar darinya. Blair salah orang kalau berurusan dengan pria itu.
...🍄🍄🍄...
Sebuah rumah sakit besar di kota, Darrell dan Sharron baru saja keluar dari sana. Urusannya untuk memeriksakan kandungan sudah selesai. Mereka mampir ke sebuah restoran untuk menikmati makan siang berdua.
"Entahlah. Tinggal sedikit lagi penyelidikan. Maka semuanya akan jelas."
"Bisakah kamu hentikan semua ini, Darrell? Aku sangat lelah sekali. Apalagi di kehamilanku ini. Sungguh, rasanya tidak ingin mengejar kembali apa yang telah hilang dari hidupku."
Darrell melongo melihat istrinya. Sejauh ini sudah diusahakan sebaik mungkin. Kini istrinya mau menyerah begitu saja.
"Kenapa kamu menyerah? Aku sudah berjuang sejauh ini. Tinggal sedikit lagi, Sayang."
Sharron semula membuka buku menu kemudian menutupnya lagi. Pandangannya tertuju pada wajah suaminya yang terlihat letih itu.
"Kebahagiaanku sudah lebih dari apa pun, Sayang. Aku memiliki suami yang baik, anak dalam kandunganku ini sudah lebih dari apa pun."
Sesederhana itu keinginan Sharron. Padahal kalau boleh saran, sebenarnya dia adalah anak dari pebisnis terkemuka. Namun, karena suatu hal akhirnya terpisah dari keluarganya.
"Sudah. Sebaiknya kita pesan makanan dulu, ya. Setelah itu kita berbincang lagi."
__ADS_1
Darrell memanggil pelayan. Tak lama, setelah pesanan usai dicatat, pelayan itu pun kembali. Sembari menunggu makanan datang, pandangannya tertuju pada seseorang yang sudah lama sekali tidak ditemuinya.
"Sayang, bukankah itu Marcello? Kenapa dia ada di sini?"
Glek!
Setelah sekian purnama kehidupannya tenang, pria itu kembali lagi. Seakan ke manapun perginya, pria itu selalu ada.
"Lebih baik kita pulang sekarang," ajak Darrell.
"Sayang, makanannya sudah dipesan. Bagaimana?"
"Kita bayar saja. Selebihnya biarkan diberikan pada orang lain."
Darrell bukannya kabur dari Marcello, tetapi dia malas sekali untuk bertemu lagi dengan pria itu.
"Sayang, kita hadapi berdua. Ingat, aku tidak akan pernah berpaling darimu. Biarkan saja dia ke sini."
Setelah cukup meyakinkan dirinya, benar saja Marcello datang menemuinya. Terlihat aura kerinduan yang mendalam.
"Hai, kurasa semesta sangat adil padaku. Berbulan-bulan aku mencarimu, ternyata kita dipertemukan di sini. Ehm, apakah kamu terlalu menjaga istri kesayanganmu itu, Tuan Darrell?"
Sekali lagi, setiap bertemu dengan Marcello, perkataan pria itu membuat Darrell ingin mengeluarkan ototnya daripada otaknya. Rasanya ingin sekali menghajar Marcello saat ini juga.
"Marcello, aku harap kamu tidak membuat keributan di sini. Kalau kamu macam-macam, aku akan membuatmu dalam masalah," ancam Sharron.
"Wow, sabar. Baby, kau tahu apa yang kupikirkan selama ini? Aku ingin bertemu denganmu. Kita bicarakan hal yang indah dan hanya berdua saja. Dan, aku pun tidak peduli dengan suamimu itu."
Marcello benar-benar membuat Darrell mendidih. Namun, Sharron lekas menguasai keadaan.
"Kalau sudah selesai membual, lebih baik kamu pergi dari sini. Kalau tidak, aku akan panggil security supaya kamu diseret keluar dari sini."
Marcello terdiam sejenak. Tujuannya hanya untuk makan siang. Sebenarnya sangat malas sekali harus bermain drama seperti ini. Semenjak Callie meninggal, kehidupannya hampa lantaran tidak ada seorang pun yang bisa memahami dirinya. Mengejar Sharron pun sangat melelahkan. Wanita itu jauh lebih hati-hati dibandingkan Callie.
__ADS_1