Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 11. Pengaman


__ADS_3

Sharron memutuskan pulang naik taksi dengan menggerutu. Dia tidak menyangka kalau apartemen yang ditempatinya masih berada di tempat yang sama dengan Alan.


Sesampainya di apartemen, dia bertemu dengan Noelle yang baru saja pulang. Penampilannya terlihat sangat seksi. Noelle mengenakan gaun pendek dengan belahan dada yang sedikit rendah.


"Wah, baru pulang, Sharron?" tanya Noelle yang sama-sama baru turun dari taksi.


"Seperti yang kau lihat," jawabnya.


Sharron dan Noelle berjalan beriringan menuju ke apartemen. Noelle secepatnya membuka akses masuk ke unitnya.


"Aku sangat lelah, Sharron. Kau tahu, daddy-ku semalam sangat brutal. Dia mengajakku bermain sampai berulang kali. Bagaimana dengan daddy-mu? Apakah dia juga seperti daddy-ku? Kau sampai pulang pagi, kan?" Noelle memilih untuk duduk di sofa sembari merilekskan kakinya.


Ingatan Sharron hanya terpaku pada kecupan pertama yang diberikan Darrell. Pria itu membuatnya bersemu merah karena malu. Walaupun ini bukan ciuman yang pertama bagi Sharron, tetapi rasanya sungguh berbeda. Semacam pemanasan untuk Sharron.


"Hei, kenapa diam?" tanya Noelle. "Bagaimana daddy-mu?"


"Oh, daddy Alan hanya mengajakku berbincang sampai malam. Kami baru pulang makan malam dan tidak ingin melakukan apapun." Sharron melepaskan high heels-nya kemudian meletakkan di rak sepatu. Dia meletakkan tasnya ke meja rias di sebelah ranjang.


"Hemm, mustahil. Apakah dia tipe pria yang tidak mudah bernafsu? Ya, maksudku kalian hanya berdua saja. Apakah tidak ada ketertarikan khusus padamu?"


Berbincang dengan Noelle harus bisa mengimbangi. Sharron memang tidak bisa berbohong padanya, tetapi kenyataannya semalam memang tidak terjadi apapun. Dia memang berbincang dengan Alan, sementara Darrell sudah tertidur pulas karena mabuk.


"Jangan-jangan daddy Alan-mu itu imp--"


"Noelle, jangan seperti itu, ih! Aku kok geli sendiri kalau kamu terlalu gamblang menjelaskan secara detail. Oke, kamu memang sudah terbiasa dengan hal itu, tetapi bagaimana denganku? Aku masih takut kalau melakukan hal itu lebih jauh, kemudian aku hamil, bagaimana?"


"Ish, pintar-pintar kamu yang mengaturnya, dong. Kalau aku, terus terang saja, aku tidak mau kalau daddy-ku itu bermain tanpa pengaman. Aku juga tidak menggunakan alat kontrasepsi. Kurasa kamu paham alasannya apa?"


Glek!


Sharron tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Noelle. Dia benar-benar wanita yang cerdas sekali untuk mengontrol semua daddy yang sedang bersamanya.

__ADS_1


"Cukup, Noelle! Jangan lanjutkan lagi. Aku mau membersihkan diri dulu," pungkas Sharron.


Sharron masuk ke kamar mandi. Dia melepaskan gaunnya kemudian mengisi bathtub. Tak lupa dia memasukkan aroma terapi agar suasana hatinya lebih baik.


Semalam berada di apartemen barunya kemudian pagi hari disuguhkan kejutan yang luar biasa, tidak menutup kemungkinan Darrell akan memaksanya untuk menyerahkan diri.


Makin ke sini, kenapa aku semakin takut? Aku sudah menerima debit card, apartemen, dan perhatian Darrell. Apakah setelah ini dia menagih apa yang seharusnya dilakukan?


Sharron memejamkan matanya. Dia berusaha membuang pikiran itu. Dia mencoba mengatur mindset-nya bahwa Darrell tidak akan pernah melakukan hubungan yang lebih intim lagi. Kalau sebatas ciuman dan kecupan, Sharron tidak masalah. Namun, bagaimana kalau Darrell menagih isi surat perjanjian yang ditandatanganinya tempo hari?


Ah, aku makin lama makin ketakutan seperti ini. Huft, salah sendiri mengapa aku nekad? Aku harus minta tolong pada Noelle supaya aku tidak sampai hamil. Ya, walaupun aku harus merelakan kehilangan apa yang kujaga selama ini.


Sharron bergegas pindah ke shower untuk melanjutkan membersihkan dirinya. Kemudian dia mengambil bathrobe. Dia keluar kamar mandi masih dengan bathrobe-nya.


"Kau sudah selesai? Aku mau mandi dulu," ucap Noelle yang beranjak dari sofa.


"Tunggu, Noelle! Aku ingin berbincang denganmu."


Sharron tak lagi melihat keberadaan Noelle. Dia sendiri selepas mengeringkan rambut, Sharron segera berganti pakaian. Kali ini sedikit terlihat lebih girly. Dia menggunakan rok mini berwarna merah muda dengan atasan kaos yang berwarna putih. Sangat cantik sekali.


Sharron beralih ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi setengah siang. Sarapan yang tidak terlalu rumit. Sharron hanya menyiapkan macaroni schotel yang tidak terlalu rumit menurutnya. Setelah memasukkannya ke dalam oven, Sharron menyiapkan teh hijau untuk melengkapi sarapan paginya.


Aroma wangi makanan yang dibuatnya menjadikan perutnya semakin lapar. Setelah timer pemanggang menunjukkan tanda selesai, Sharron mengambil sarung tangan oven untuk mengeluarkan loyang.


"Wah, calon istri idaman!" seru Noelle yang baru muncul dengan penampilan tak jauh berbeda dengan Sharron. Bedanya, Noelle tidak memakai rok melainkan celana pendek.


"Apa sih, Noelle? Aku dan Alan tidak akan pernah bisa menikah. Kau tahu kan, pernikahan mereka hanya sekali seumur hidup. Itu artinya, aku hanyalah simpanan," ucapnya sembari meletakkan beberapa macaroni schotel itu ke piring hidang. Dia kembali ke dapur untuk mengambil dua cangkir teh yang telah dibuatnya.


"Ya, ya. Baiklah. Kita sarapan dulu, baru mengobrol lagi. Memang tidak ada pekerjaan lain selain ini, kan?" ucap Noelle yang kini duduk di meja makan.


Sharron dan Noelle menikmati sarapan paginya. Mereka kelaparan setelah bekerja semalaman. Bedanya, Sharron tidak melakukan apapun selain tidur di apartemen.

__ADS_1


"Oh ya, apa yang ingin kamu tanyakan?" Noelle teringat ucapan Sharron sebelum dirinya masuk ke kamar mandi.


"Bagaimana caranya aku bisa berhubungan, tetapi tidak sampai hamil?"


"Mengapa bertanya seperti itu? Kan sudah kujelaskan. Pilihannya hanya ada satu. Daddy-mu yang memakai pengaman, atau kamu yang menggunakan alat kontrasepsi."


Glek!


Ini sungguh rumit. Sharron mengambil ponselnya kemudian membaca internet sejenak.


"Hah? Apakah aku harus menggunakan salah satu dari ini?" Sharron menunjukkan beberapa pilihan alat kontrasepsi.


Noelle mengangguk. "Tapi, aku tidak mau! Kalau memang daddy-mu menginginkan, sebaiknya suruh dia pakai pengaman. Enak saja, mau enaknya sendiri ya jangan menyiksa lawan mainnya dong. Aku tidak setuju kalau kamu yang menggunakan alat kontrasepsi. Aku tidak suka!"


Glek!


"Mengapa?"


"Ya tidak suka saja, Sharron. Apa kamu mau menyiksa dirimu sendiri?"


"Menyiksa bagaimana?" tanya Sharron yang semakin penasaran.


"Apa kamu mau meminum obat penunda kehamilan setiap hari? Kalau kamu lupa, risikonya sudah pasti hamil. Hubungan kalian tidak bisa menikah. Itu artinya apa, kamu yang paling dirugikan!"


Glek!


Sharron mulai berpikir. Dia harus bisa menjauhkan dirinya dari rencana Darrell. Apapun itu caranya. Dia harus keluar dari jeratan pria itu. Bukan tanpa alasan. Sharron merasa ngilu mendengar cerita Noelle tentang keduanya.


"Kalau begitu, aku akan menolaknya jika dia meminta," ucapnya penuh keyakinan.


"Mana bisa, Sharron? Kau lihat aku, kan? Hubunganku dengan Sugar Daddy hanya sebatas materi dan hubungan saling memuaskan. So, mau tidak mau dia harus menggunakan pengaman. Jika tidak, akupun tidak mau!"

__ADS_1


Glek! Upaya untuk menghindari Darrell sangatlah sulit. Sewaktu-waktu, Sharron harus merelakan dirinya untuk pria itu. Noelle pun benar. Sepenuhnya karena kesepakatan berdua sehingga salah satunya tidak bisa memutuskan sampai hubungan kontrak berakhir.


__ADS_2