Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 14. Partner Hidup


__ADS_3

Sharron baru saja sampai di apartemen. Dia meletakkan semua paper bag itu di ruang tamu kemudian beranjak menuju dapur. Di sana, dia akan mengecek seluruh kebutuhan bahan makanan yang mungkin habis atau bahkan yang tersisa sedikit saja.


"Ck, ini benar-benar habis. Belum diisi malah. Alan ini ada-ada saja." Sharron mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada Alan untuk membelanjakan sayur, buah, ikan, dan segala keperluan lainnya. Alan pun lekas menjawabnya. Butuh waktu satu atau dua jam katanya. Sharron setuju saja. Memang kenyataannya belanja tak semudah menjentikkan jari.


Sharron masuk ke kamar membawa paper bag. Dia meletakkannya di atas ranjang. Tak lupa dia melepaskan tas selempang kecilnya yang sejak tadi menemani perjalanannya. Hampir lupa, karena rasa penasarannya yang cukup tinggi, Sharron lekas mengambil amplop yang dititipkan Darrell pada Alan.


"Apa isinya?" ucapnya penasaran. Dia menyobek tepi amplop agar isinya tidak ikutan tersobek. Pelan-pelan Sharron mengeluarkan selembar kertas tersebut. Dia membukanya kemudian membaca secara perlahan.


Jam tujuh malam, aku ingin melihatmu mencoba salah satu gaun yang ada di lemari pakaian. Darrell


Glek!


"Hah? Aku harus menggunakannya? Jangan-jangan malam ini semuanya akan berakhir? Aku juga lupa tidak mengindahkan saran Noelle untuk mampir ke apotek. Huft, apa aku minta Alan untuk membelikannya, ya?" Sharron terlanjur malu.


Sharron memutuskan untuk tidak memesan apapun pada Alan kecuali barang-barang yang sudah dipesan sebelumnya. Sesuai yang dijanjikan Alan, satu setengah jam kemudian datang seseorang mengantarkan barang belanjaan yang dipesan Sharron.


"Terima kasih. Oh ya, apakah semuanya sudah dibayar?" tanya Sharron pada kurir tersebut.


"Sudah, Nona. Tuan Alan sudah membayarnya."


"Terima kasih." Sharron menutup kembali pintu apartemennya. Dia membawa beberapa kantong belanjaan ke dapur kemudian menyusunnya. Sebelum Darrell datang, dia menyiapkan makan malam terlebih dahulu.


Sharron mengambil daging. Dia ingin membuat daging panggang ala-ala dirinya. Walaupun bukan chef handal, Sharron masih bisa menyiapkan makanan ala kadarnya. Tak lupa dia menyiapkan minuman dan makanan penutup yang ingin disuguhkan pada Darrell.


"Ish, kenapa aku mendadak baik padanya?" ucap Sharron ketika setengah perjalanan memasaknya hampir selesai.

__ADS_1


Sharron sangat menikmati perannya di dapur. Dia seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang dari kantor. Tak terasa waktu memasaknya telah usai, namun Darrell belum juga datang. Dia menata semua hidangan di meja makan.


"Sebaiknya aku membersihkan diri dulu sebelum dia datang," ucap Sharron. Dia melirik jam dinding sudah menunjukkan jarum jam di angka tujuh. Mungkin sebentar lagi Darrell datang. Sharron memutuskan untuk berendam di bathtub untuk beberapa lama.


Darrell yang baru saja memasuki basemen apartemen, kemudian memarkirkan mobilnya di sana. Tak lupa dia mengambil beberapa barang yang akan diberikan pada Sharron. Dia mendapatkan kabar dari Alan bahwa Sharron sudah berada di unitnya.


Darrell berjalan menuju unitnya. Sesampainya di sana, Darrell mengeluarkan kartu akses masuk kemudian menekan PIN-nya. Pintu terbuka, tetapi Darrell belum menemukan keberadaan Sharron.


"Mungkin dia berada di kamar," gumam Darrell.


Sebelum masuk ke kamar, Darrell mampir ke dapur. Dia melewati meja makan yang sudah terhidang beberapa makanan di sana. Aroma harum masakan itu yang menuntunnya untuk sampai ke sana.


"Rupanya dia baru saja selesai memasak. Tidak buruk juga hasilnya."


Darrell menuju ke kamar. Dia membuka pintunya dengan perlahan karena takut kalau Sharron terkejut. Dia harus memulai membiasakan diri untuk lebih agresif pada Sharron agar rencananya memiliki anak dari Sugar Baby-nya itu lekas terlaksana.


Ceklek!


Pintu kamar mandi dibuka. Sharron muncul dengan bathtub dan handuk yang melilit kepalanya. Dia tidak terlalu terkejut ketika melihat Darrell sudah berada di dalam kamar, tetapi dia langsung menutup mata karena penampilan Darrell yang hanya menggunakan celana panjangnya saja.


"Tolong kemejanya dipakai. Aku tidak bisa melihat pria dengan telanjang dada seperti itu," protes Sharron.


"Jangan pura-pura malu seperti itu! Lambat laun kau akan terbiasa denganku seperti ini. Kemarilah!"


Sharron teringat ucapan Alan untuk tidak melawan apapun ucapan Darrell. Dia terpaksa menuruti ucapan Darrell. Sharron merasakan degup jantungnya yang tidak menentu. Seakan-akan dia berhadapan dengan pria yang dicintainya selama ini.

__ADS_1


"Duduklah di sampingku!" Darrell mengulurkan tangannya untuk memberikan kecupan lembut pada Sugar Baby-nya.


Terkejut? Tentu saja. Darrell bersikap romantis padanya. Jantungnya semakin tidak menentu.


"Dad, jangan seperti ini! Aku malu," ucapnya sembari memejamkan mata.


Darrell puas bisa melihat wajah Sharron yang sedang terpejam seperti itu. Senyuman pun mengembang di bibirnya. Tangannya mencoba menyentuh bibir Sharron yang masih basah karena sedikit air yang tersisa. Ranum dan terlihat memabukkan.


Sharron merasakan sentuhan itu menjadikan sensasi yang luar biasa di dalam tubuhnya. Sengatan aliran listrik yang mendadak menguat. Sentuhan tangan itu hilang digantikan oleh bibir yang mengecupnya. Aroma mint menguat bersamaan dengan bersatunya dua bibir Darrell dan Sharron.


Darrell menggigit bibir bawah Sharron agar gadis itu membuka akses masuk untuk memainkan ciuman yang paling dalam. Sudah jelas kalau Sharron masih amatiran sehingga Darrell yang terus saja berperan besar di dalamnya.


Sharron yang awalnya tidak mengerti apapun kemudian perlahan memulai belajar untuk mengimbangi pergerakan Darrell. Sungguh, dia tergerak untuk membalas belitan lidah Darrell yang mengabsen inci demi inci. Kecapan demi kecapan terdengar beradu dari keduanya.


Ya, Darrell sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertindak lebih agresif lagi. Ini sudah dibuktikan dengan ciuman yang mendadak diberikan pada Sharron. Sudah cukup bagi Sharron sampai gadis itu hampir kehabisan napas. Sharron mendorong dada bidang Darrell dengan napas tersengal-sengal. Sharron lantas membalikkan badan karena malu.


"Kenapa berbalik begitu?" tanya Darrell. Dia berusaha menarik dagu Sharron untuk berhadapan dengannya. Mata keduanya beradu. "Jangan malu. Biasakan untuk memberikan kecupan atau ciuman agar kita terbiasa. Semakin cepat kamu belajar, maka aku akan melakukan tugasnya dengan baik. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apapun jika belum siap, tetapi tidak dengan kecupan, ciuman, dan pelukan. Itu pengecualian."


Deg!


Sharron tidak bisa berkata apapun. Dia hanya bisa mengangguk tanpa protes. Ya, Sharron sudah terbuai oleh rayuan maut pria di hadapannya. Sikapnya yang mendadak agresif itu membuat Sharron terhipnotis.


"A-apakah aku akan belajar menjadi seorang istri tanpa terikat pernikahan?" Pertanyaan yang lolos begitu saja dari kepolosan Sharron.


Deg!

__ADS_1


"Ya, kita akan menjadi partner hidup yang saling menguntungkan. Aku tidak akan mengecewakanmu. Percayalah!" ucap Darrell yang menurunkan tangannya dari dagu Sharron. Dia beralih menggenggam tangan Sharron dengan caranya supaya Darrell bisa mencintai gadis itu dengan cepat. Ada sesuatu hal yang membuat Darrell yakin pada gadis di hadapannya itu. Hanya dia dan Alan yang tahu.


__ADS_2