
"Kau datang, Noelle," sapa Sharron.
"Aku sudah berjanji pasti datang. Aku ini sahabat yang baik. Oh ya, ini ada hadiah kecil dariku dan daddy. Katanya supaya kau senang." Noelle menyerahkan buket bunga dan sebuah box hadiah.
Sharron menerimanya kemudian meletakkan di meja yang sudah disediakan.
"Terima kasih."
"Aku belum mengucapkan selamat padamu. Selamat ya, Sayang. Sebentar lagi kau akan menikah," ucap Noelle sembari memeluknya.
"Terima kasih, Noelle. Kau selalu yang terbaik. Aku menyayangimu." Sharron tidak mampu mengendalikan air mata bahagianya.
Salah satu jari berusaha membersihkan air mata yang menetes dari gadis secantik Sharron.
"Aku tidak akan membiarkan wanitaku menangis," ucap Darrell.
Dia memilih meninggalkan Marcello untuk menemui Noelle.
"Kau manis sekali, Darrell," balas Noelle kemudian melepaskan pelukannya. "Sahabatku ini paling tidak bisa untuk tidak menangis disaat yang membahagiakan seperti ini."
"Nantinya tidak akan seperti ini. Dia akan selalu bahagia. Ingat janjiku!" ucap Darrell sembari merengkuh pinggang Sharron supaya lebih mendekat.
"Tentu. Kalau kau sampai membuatnya menangis, tidak hanya dirimu yang kuhancurkan. Seluruh perusahaanmu akan kuhancurkan," canda Noelle.
"Ya, ya, ya. Aku tahu itu. Kau selalu kuat. Kurasa kau akan mengerahkan seluruh pasukanmu untuk menyerangku," balas Darrell. Dia tahu kalau Noelle sudah menjadi sugar baby primadona di kalangan pebisnis teratas. Beberapa dari mereka adalah kolega yang dimiliki Darrell saat ini. Mereka pun memiliki kekayaan yang jumlahnya cukup fantastis. Walaupun Darrell bukan yang teratas, setidaknya mereka sejajar.
"Apakah kau akan membuat tamu kita mengobrol terus?" tanya Sharron. "Setidaknya izinkan dia mencicipi wine yang sudah dirindukannya."
Sharron hapal betul bagaimana Noelle sangat menggemari wine. Setidaknya selain untuk memberikan ucapan selamat, Noelle juga perlu dimanjakan.
"Wow, aku hampir lupa kalau negara ini penghasil wine terbesar. Aku akan mencobanya."
Mereka bergeser ke tempat jamuan makan yang berisi makanan dan minuman. Sharron mengambil segelas wine di tangan kemudian berniat untuk meminumnya, tetapi Darrell menahannya.
"Jangan diminum kalau kau tidak biasa meminumnya," ucap Darrell.
"A-aku ingin mencobanya, Darrell," pinta Sharron.
"Letakkan kembali!" perintah Darrell.
__ADS_1
Daripada mengundang tatapan mata para tamu undangan, Sharron meletakkan kembali minumannya. Terlihat jelas bahwa apa yang Sharron lakukan tak pernah benar di mata Darrell. Sharron lantas menepi kemudian diikuti oleh Noelle. Sementara Darrell tetap berada di tempatnya.
"Noelle, kau lihat kan bagaimana dia melarangku melakukan ini dan itu?" Curahan hati Sharron pada sahabatnya.
"Memangnya apa salahnya? Dia melarangmu itu benar. Kalau kamu tidak bisa meminum wine, cari minuman lainnya. Jangan buat dia kecewa!"
"Kau membelanya, Noelle?"
"Tidak. Aku hanya melihat sorot matanya yang penuh cinta. Ah, andaikan aku mendapatkan pria sepertinya. Aku rela melepaskan pekerjaanku yang sekarang. Aku akan duduk di mansion mewah, membangunkan suamiku setiap pagi dengan kecupan mesra, menyiapkan segala keperluannya. Di sore hari, aku akan menunggunya datang dari kantor. Aku akan memberikan ciuman mesra padanya, kemudian membuatnya terjaga setiap malam untuk memberikan kepuasan padaku."
Sungguh cita-cita yang indah. Sayangnya Sharron keburu kesal pada sikap Darrell barusan.
"Ya, baiklah. Terus saja manyun seperti itu. Harusnya kamu bersyukur. Mengapa? Sebentar lagi kamu hanya menengadahkan tangan di hadapan suamimu, maka semuanya akan jatuh begitu saja," ucap Noelle lagi.
"Memangnya apa yang jatuh?" Perlahan Sharron mulai memahami ucapan sahabatnya.
"Keberuntungan yang jatuh, Sayang. Kau tinggal menyebutkan apa permintaanmu, kemudian katakan password-nya, maka semuanya akan jatuh begitu saja."
"Aku benar-benar tidak paham, Noelle."
"Kemarilah!" Noelle menarik Sharron untuk membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa?"
"Kau gila, Noelle!" balas Sharron dengan suara yang sengaja dipelankan.
"Itu kenyataan, Sayang. Sudahlah kamu nikmati saja apa yang ada di hadapanmu sekarang. Kau tahu bahwa track record seorang Darrell Wesley adalah pria baik-baik. Kau wanita pertama yang beruntung, Sayang."
Sharron sengaja mencari tempat duduk untuk meredam rasa lelahnya sebentar.
"Semua yang kamu ucapkan, aku tidak paham."
Noelle menyentil jidat sahabatnya.
"Auw!" teriak Sharron. "Mengapa kamu menyentilku?"
"Dasar bodoh! Darrell itu pria yang baik, Noelle. Dia bukan pemain wanita. Kamu beruntung. Percayalah, dia hanya over protektif padamu. Nikmati dan selalu bersyukur."
Perbincangan konyol mereka tidak akan berhenti sampai seorang pria datang mendekat. Bukan Darrell, melainkan pria yang tak sengaja bertemu dengan Sharron di Swiss.
__ADS_1
"Hai, ladies! Apa aku mengganggu?" tanya Marcello.
"Apakah kita seakrab itu?" cibir Noelle. Dia terlihat tidak senang dengan pria yang tiba-tiba datang kemudian sok akrab dengannya ataupun Sharron.
"Tidak. Aku hanya mengenal Sharron. Kami tidak sengaja bertemu di Swiss beberapa bulan yang lalu," balas Marcello.
Oh, ini rupanya pria yang dimaksud Sharron beberapa hari yang lalu. Awas saja kalau macam-macam dengan sahabatku. Aku bisa menjungkirbalikkan perasaannya kalau perlu orangnya sekalian. Menyebalkan!
"Noelle." Noelle mengulurkan tangannya. Walaupun terlihat tidak suka, dia tidak mau mengacaukan suasana malam perayaan pertunangan Sharron yang sedang berlangsung.
Sharron mendadak dipanggil Darrell sehingga Noelle berdua saja dengan pria yang belum menyebutkan namanya.
"Marcello."
"Tatapanmu nakal sekali," ucap Noelle setelah melepas jabatan tangan dengan pria di hadapannya.
"Aku selalu mengagumi ciptaan Tuhan yang paling indah sepertinya."
"Ck, kau itu seperti pria yang tidak laku saja. Dia itu akan menjadi milik orang lain. Lebih baik jaga matamu atau aku akan--"
"Akan apa? Kau mengancamku?" tanya Marcello.
"Aku akan mencongkel matamu itu."
Marcello pura-pura terperanjat. "Mengerikan! Apakah kau seorang psikopat?" ledek Marcello.
"Aku bisa menjadi pembunuh berdarah dingin kalau kau berani macam-macam pada sahabatku."
Marcello pikir ini hanya lelucon yang dilontarkan Noelle untuk menakuti Marcello. Namun, tatapan wanita muda yang mengaku sebagai sahabat Sharron itu menatapnya dengan penuh kebencian.
"I'm sorry. Aku hanya bercanda," kilah Marcello.
"Kamu pikir aku wanita bodoh? Matamu tidak bisa membohongi kalau kau suka dengan sahabatku. Sayang, kamu terlambat. Lagi pula, dia juga tidak suka dengan sikapmu yang sok arogan itu."
Glek!
Sial! Wanita ini nyatanya lebih ganas dari yang kupikirkan. Dia benar-benar mengerikan. Aku heran, mengapa Sharron mau berteman dengan wanita sepertinya?
"Jangan pikirkan aku!" sentak Noelle.
__ADS_1
Oh God, bahkan aku bicara dalam diam pun dia masih mengerti. Jangan-jangan dia memiliki kekuatan untuk membaca pikiran orang lain? Ah, lebih baik aku diam saat ini.
Perseteruan Marcello dan Noelle jelas ada sebabnya. Noelle sendiri tidak menyukai sikap dan tatapan pria seperti Marcello. Sudah banyak sugar daddy yang berhubungan dengan Noelle sehingga dia paham betul mana pria brengsek dan yang baik.