Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 34. Rahasia Besar


__ADS_3

Lama tidak bertemu dengan suaminya membuat Callie rindu. Setelah perjalanan jauh bersama mertuanya, kini Callie berada di mansion. Suaminya pun sedang berada di kamar saat dia datang.


"Sayang, kau di sini?" tanya Callie.


"Kau baru pulang? Mama dan Papa jadi ikut?"


"Iya, Sayang. Turunlah! Temui dulu sebelum mereka pergi beristirahat."


Darrell beranjak turun dari ranjang. Dia sudah mengenakan piyama tidurnya. Terlihat sangat manis sekali setelah seminggu tidak bertemu.


"Sayang, kamu tidak mau memberikan kecupan selamat datang untuk istrimu ini," rayu Callie.


"Kemarilah!" Darrell meminta Callie untuk mendekat. Dia memberikan kecupan mesra pada kening istrinya. "Aku akan turun menemui mereka."


Darrell bertemu dengan orang tuanya di meja makan. Pelayan mansion sedang menyiapkan makan malam untuk kedua orang tuanya itu.


"Hei, Boy! Apa kabarmu?" tanya Javer.


"Aku baik, Pa. Kalian apa kabar?"


"Kami juga baik, Darrell. Mama bingung, mengapa Callie menjemput kami? Apakah pernikahan kalian ada masalah?"


"Entahlah, Ma. Aku pusing pada sikap Callie akhir-akhir ini," ucap Darrell tertunduk lesu.


"Memang seharusnya kalian memiliki anak. Kalau seperti ini, kamu sibuk bekerja, Callie bisa merawat anaknya sendiri," ucap Allegra.


Deg!


Kali ini tidak hanya Callie yang membahas anak, mamanya juga. Darrell sudah berjanji pada Callie untuk tidak memberitahukan kabar buruk itu pada orang tuanya.


"Entahlah, Ma. Apa memang harus seperti itu?"


"Sebaiknya kalian pergi ke dokter. Ingat, pernikahan kalian sudah cukup lama. Apa kalian tidak ingin memiliki anak? Setidaknya supaya mansion kalian tidak sepi," jelas Allegra.


"Aku berencana mengadopsi anak, Ma. Bagaimana menurut Mama?" tanya Darrell.


Allegra sebenarnya tidak suka dengan usul yang diberikan putranya. Darrell masih bisa memiliki seorang anak dari istrinya.


"Papa tidak setuju! Seluruh hak waris kekayaan Papa yang ada di Italia hanya akan kuberikan pada keturunanmu saja. Tidak akan ada dari anak angkat ataupun anak adopsi," jelas Javer.


Kalau sudah seperti ini, Darrell tidak tahu harus berbuat apalagi. Mungkinkah dia harus mengikuti kemauan Callie untuk lekas menghamili Sharron? Kemudian anak dari wanita itu diberikan untuk istrinya. Darrell jahat sekali kalau sampai melakukan apa yang dipaksakan Callie padanya.


"Kita bicarakan nanti, Pa. Oh ya, berapa lama kalian berada di sini?" tanya Darrell.

__ADS_1


"Kau ini, Mama dan Papa baru datang sudah ditanyakan kapan pulang. Dasar anak tidak tahu diri!" balas Allegra.


"Ayolah, Ma. Aku tidak bermaksud seperti itu. Mungkin saja aku bisa mengosongkan jadwal meeting di kantor untuk sekadar mengajak kalian berkeliling di kota ini."


Perbincangan sedang berlangsung. Makan malam yang disiapkan untuk Javer dan Allegra pun telah siap.


"Kami mau makan dulu. Panggil istrimu! Kita bicarakan lagi rencana kalian di ruang keluarga," ucap Allegra.


Darrell beranjak menuju ke kamarnya. Dia melihat Callie sedang berbaring di ranjangnya.


"Sayang, Mama memintamu untuk turun," ucap Darrell.


"Aku malas sekali. Kau tahu, setiap Mama berbicara, dia selalu membahas anak terus. Kau pikir aku tidak capek? Bukankah kau tahu kalau aku tidak bisa hamil?"


"Sebaiknya kita jujur saja pada mereka, Callie. Mereka pasti bisa mengerti, bukan? Daripada kita menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya malah membuat mereka akan kecewa."


"Darrell, lupakan pembicaraan kita mengenai anak. Aku ingin meminta izinmu untuk pergi ke Italia lagi. Aku ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum pembahasan lebih jauh."


"Callie, kau ini bagaimana? Kau baru sampai mansion, sekarang mau pergi lagi? Apa kau sengaja ingin menunjukkan pada kedua orang tuaku bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja?"


Callie sebenarnya malas sekali. Sampai waktu yang ditentukan pun Darrell belum mendapatkan wanita yang dimaksud. Semakin lama Darrell mengulur waktu, kesempatannya untuk menjadi model semakin tipis. Usianya pun semakin menua. Satu-satunya solusi yang tepat, dia harus mengikuti kemanapun Marcello pergi. Pria itu sudah berjanji akan membuatnya menjadi model yang langsung bisa dikenal banyak orang.


"Hubungan kita sudah lama tidak baik, Darrell. Pernikahan kita juga tidak sehat. Kita memang tidak bisa bercerai, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau aku bisa mencintai pria lain selain dirimu. Katamu mencintaiku, tetapi mana buktinya?"


"Sudah kubilang, aku minta anak darimu, Darrell. Kau harus bisa menghamili satu wanita kemudian berikan anak itu padaku!"


"Tidak akan pernah kulakukan, Callie. Kau itu kejam. Coba posisikan kamu sebagai wanita itu kemudian dipisahkan dengan anakmu sendiri. Bagaimana perasaanmu? Tidakkah kau pikir pakai hati nurani bahwa seorang ibu tidak akan bisa terpisah dari anak-anaknya?"


"Persetan dengan semua itu, Darrell! Banyak wanita diluaran sana yang mau hamil anakmu. Bahkan, mereka mau dibayar dengan harga yang cukup tinggi. Begitu saja kau tidak bisa melakukan untukku," sentak Callie.


Prang!


Darrell menjatuhkan beberapa barang dari meja rias istrinya. Callie sangat keterlaluan sekali. Suara itu sampai ke telinga orang tua Darrell sehingga membuat Allegra naik ke kamar putranya.


Allegra mengetuk pintunya. Walaupun sebenarnya tidak ingin ikut campur, tetapi Allegra tidak ingin terjadi keributan.


Ceklek!


"Kalian kenapa?" tanya Allegra.


Allegra melihat peralatan make up Callie yang sudah hancur berantakan seperti itu. Callie terduduk lemas di ranjangnya. Allegra memberanikan diri untuk masuk melerai keributan yang terjadi.


"Tanyakan pada menantu Mama, kenapa aku bersikap seperti ini?" ucap Darrell. Dia kemudian meninggalkan kamar dalam kemarahannya.

__ADS_1


"Callie, kau kenapa, Sayang? Apa kedatangan kami membuatmu dan Darrell bertengkar?" Sebagai orang tua, perasaannya juga tersentuh melihat pertengkaran seperti ini.


"Aku menginginkan anak, Ma. Darrell tidak mau," ucapnya.


Deg!


Allegra tidak tahu harus mempercayai siapa? Putranya bersikap seolah ada rahasia yang disembunyikan. Sementara Callie sendiri seolah menyalahkan anaknya yang tidak bisa memberikan keturunan pada keluarga Wesley.


"Malam ini beristirahatlah! Mama yang akan berbicara pada Darrell."


Allegra turun. Rupanya Darrell sedang berada di ruang kerjanya. Allegra tahu dari suaminya, Javer.


"Dia masuk ke ruang kerjanya. Kau jangan khawatir. Darrell tidak akan kabur begitu saja. Dia butuh menenangkan diri," ucap Javer.


"Mereka seperti ABG. Aku harus bicara dengan Darrell. Sepertinya ada rahasia yang tidak kuketahui." Allegra memang merasa perlu turun tangan.


Tok tok tok.


Allegra mengetuk pintu ruang kerja putranya. Sebanyak dua kali, barulah Darrell membukanya.


"Masuk, Ma!"


Darrell sudah terlihat lebih tenang.


"Boleh Mama duduk?"


"Silakan, Ma. Maaf sudah membuatmu tidak nyaman. Entah, beberapa minggu terakhir ini aku sangat emosional."


"Memangnya kau ada masalah apa? Jangan sembunyikan beban seorang diri. Mama ini masih orang tuamu, kan?"


"Ma, Callie sudah tidak mungkin hamil."


Deg!


"Apa maksudmu?"


"Rahim Callie sudah diangkat, Ma. Kami tidak akan bisa memiliki anak. Mama tahu, apa yang diusulkan Callie untuk bisa mendapatkan anak?"


Allegra terkejut. Callie jelas sudah membohongi dirinya dengan menuduh putranya yang tidak berguna. Padahal Callie sendiri yang sudah tidak berguna. Bagaimanapun juga, akan kesulitan menceraikan Callie dari putranya karena mereka terikat pernikahan sekali seumur hidup, kecuali salah satu dari mereka meninggal, barulah diizinkan untuk menikah lagi.


...🪴🪴🪴...


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya Bestienya Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️

__ADS_1



__ADS_2