
Tabir misteri harus segera terungkap sebelum Sharron melanjutkan kehidupannya. Sebelum pergi ke kantor AX Corporation, mereka menunggu Alan. Darrell sudah mengirimkan pesan pada asistennya itu.
"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Alan yang terlihat polos sekali. Dia memang tidak tahu menahu perihal Blair, Bellatrix, dan rencana yang akan dijalankan kali ini.
"Alan, malam ini kita harus masuk ke kantor AX Corporation," jawab Darrell.
"What? Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Alan.
"Kau jangan seperti wanita, Alan. Begitu saja sok kaget. Ini misi penting. Kamu harus ikut," sahut Noelle. Sejak awal dia sangat gemas sekali pada sikap Alan. Dia memang cerdas, tetapi terkadang kecerewetannya yang membuat Noelle ingin mencubit pria itu.
"Apa yang harus aku lakukan ketika sampai sana? Berkelahi dengan penjaga? Lalu, membiarkan kalian masuk, begitu?"
Noelle kesal sekali. Dia mendekati Alan kemudian menyentil telinganya.
"Noelle, apa yang kamu lakukan?"
"Aku kesal padamu, Alan. Kurasa kamu laki-laki yang punya nyali, ternyata nyalimu ciut sekali," ejek Noelle.
"Baiklah. Aku akan ikut Tuan Darrell," pungkasnya.
Darrell dan Sharron tersenyum memandang dua orang dengan karakter yang bertolak belakang. Bukan berarti antara Darrell dan Sharron tidak memiliki sisi yang rumit. Justru hubungan keduanya jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan Noelle dan Alan. Mereka tidak terikat hubungan asmara.
Segala persiapan sudah dilakukan. Terutama ganti kostum seperti orang-orang yang berada di dalam film untuk memecahkan sebuah misteri.
Menjelang malam, Noelle berada di apartemen. Dia tidak ikut masuk ke perusahaan milik Blair. Hanya Alan, Sharron, dan Darrell.
"Kurasa kita sudah seperti orang-orang yang beraksi untuk memecahkan misteri, Tuan," ucap Alan sembari mengemudikan mobilnya.
"Kamu harus berkelahi dengan penjaga Blair, sementara aku mau menutupi CCTV yang ada. Biar kita mudah masuk."
"Tugasku apa, Sayang?" tanya Sharron.
"Tugasmu hanya di perpustakaan. Mencari informasi apa pun yang dibutuhkan."
"Oh God, aku tidak habis pikir. Mama, Papa, dan Noelle kenapa bisa memiliki ide segila ini?" tanya Sharron.
"Entahlah, Sayang. Kurasa itu karena nyonya Bellatrix yang memintanya. Kira-kira rahasia apa yang akan kita dapatkan di sana?" tanya Darrell.
"Mungkin saja seperti yang Noelle maksud. Ada foto keluarga Samuel Alexander dan beberapa rahasia lagi."
__ADS_1
Sampailah mereka di suatu tempat yang tidak jauh dari perusahaan. Mereka semua menonaktifkan ponselnya. Mereka masuk melalui gerbang samping. Walaupun di sana aman, tetapi harus memanjat pagar setinggi itu.
"Lemparkan jangkarnya!" perintah Darrell.
Tempat yang sepi seperti yang sudah dikatakan oleh Bellatrix. Ada alasan mengapa Bellatrix melakukan itu. Dia bahkan tidak bisa masuk ke perusahaannya sendiri.
Susah payah Darrell dan Sharron naik menggunakan tali. Hingga Darrell lebih dulu turun ke bawah. Namun, Sharron kesulitan untuk turun lantaran dia bisa naik, tetapi kesulitan untuk turun.
"Sayang, aku tidak bisa turun," ucap Sharron.
"Lompat!"
"What? Kamu gila! Aku bisa patah tulang semua," tolaknya.
"Cepat, Sharron! Kita tidak punya banyak waktu."
Sepasang suami-istri itu masih meributkan bagaimana cara Sharron turun hingga Alan sampai tepat di belakang Sharron. Melihat keributan itu membuat Alan mengambil sikap.
"Lompat!" perintah Alan.
"Tidak mau!" tolak Sharron. Dia masih sayang dengan nyawanya.
Pagar setinggi kurang lebih 3 meter itu membuat nyali Sharron menciut. Setelah Alan memberi kode pada Darrell. Asisten itu lantas melakukan sesuatu di luar ekspektasi Sharron. Dia mendorong Sharron sehingga Darrell harus bersiap di bawah.
Sharron jatuh menindih tubuh Darrell. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Darrell lekas membekap mulut istrinya supaya tidak berteriak.
"Darrell!" serunya, tetapi dengan suara yang masih bisa dikondisikan.
"Cepat, jangan seperti ini terus! Apa kamu tidak malu dilihat Alan?"
Sharron secepatnya bangkit. Setelah itu, Alan turun. Tak lupa pria itu membereskan tali dan jangkar yang dibawanya. Dia takut tidak punya cara untuk keluar kalau semua alat tidak dibawanya kembali.
Mereka bertiga sangat terkejut mendapati gedung perkantoran itu dijaga dengan cukup ketat. Beberapa orang tampak lalu-lalang untuk mengecek beberapa pintu. Semuanya nampak baik-baik saja.
"Tuan, kalau seperti ini, bagaimana kita bisa masuk? Perpustakaan ada di dalam ruangan CEO. Jelas itu akan dijaga paling ketat."
Alan benar. Perusahaan ini nyatanya lebih mirip sarang mafia daripada gedung perkantoran pada umumnya. Beberapa penjaga dilengkapi dengan pistol.
Darrell yang bukan seorang mafia, rasanya ingin masuk ke dalam sebuah novel dan mengubah alur ceritanya. Kalau sudah seperti ini, Darrell harus memikirkan satu cara.
__ADS_1
"Kita cari alarm kebakaran, Alan. Dari sanalah kita mulai."
Alan tidak bisa mengajak kedua orang itu untuk membunyikan alarm kebakaran bersamaan, tetapi yang jadi pilihannya sekarang, Alan harus menghadapi situasi yang rumit.
Sampai di sana, rupanya Alan tidak mampu menjangkau alarm itu sehingga dia memutuskan untuk menghajar beberapa orang yang kebetulan ditemuinya. Walaupun dia babak belur, setidaknya bisa mengikat mereka menjadi satu.
Sementara Darrell dan Sharron bergegas menuju ke ruang CEO. Di sana dia harus mengalami kesulitan. Pasalnya ada salah satu pintu yang menggunakan password.
"Sayang, pintu ini menggunakan kode. Kira harus bagaimana?" tanya Sharron. Berbekal kunci saja tidak cukup.
Sial! Apa password-nya?
Darrell mencoba mengingat sesuatu. Mungkin saja bisa membantu. Lama dia berpikir hingga Darrell memutuskan untuk memasukkan tanggal di mana Blair mengisi kekosongan jabatan perusahaan. Itulah pertama kalinya menjadi hari ulang tahun perusahaan.
"Masukkan yang kukatakan!"
"Kau yakin?" tanya Sharron.
"Lekaslah!"
"Berapa?"
"111107."
Tanpa banyak bicara, Sharron mengetikkan nomor itu pada pintu berkode. Setelah beberapa detik, tidak ada reaksi apa pun. Keduanya lemas sekali, rasanya itu tidak mungkin. Detik ke 10, ceklek. Pintunya terbuka. Secepatnya Darrell dan Sharron harus memasuki ruangan tersebut. Mereka tidak perlu khawatir lagi karena Alan yang akan menonaktifkan CCTV itu.
Bergerak dengan cepat adalah tujuan mereka semua sebelum pihak Blair menyadari. Perpustakaan ini gampang sekali untuk dijangkau. Setelah sampai di sana, Darrell dan Sharron lekas berpencar.
Darrell berkeliling membuka beberapa buku-buku penting, sementara Sharron terpaku pada sebuah foto. Dia merasa ada keterikatan khusus antara dia dan foto itu. Tanpa banyak bicara, dia langsung memasukkan beberapa barang penting ke dalam tas yang dibawanya. Selain itu ada sebuah buku harian. Untuk bisa membacanya harus menggunakan password lagi. Kali ini tidak akan dilakukan di tempat. Mereka butuh Bellatrix untuk melanjutkan penyelidikan.
Waktu berjalan dengan cepat. Alan terpaksa membunyikan alarm kebakaran lantaran salah seorang bodyguard dan penjaga perusahaan menyadari ada pencurian.
"Sayang, alarm. Kita harus cepat keluar dari sini," Darrell membawa tas yang berisi beberapa barang itu. Satu buah foto terjatuh sehingga mereka tidak menyadarinya. Namun, mereka keburu harus menyelamatkan diri. Mereka akan mengambil jalan yang berbeda dengan Alan.
Saat dikejar oleh penjaga gedung perkantoran itu, Darrell melemparkan granat asap untuk mengelabuhi penjaga tersebut.
"Cepatlah!"
Darrell melemparkan jangkar dan talinya. Kemudian membiarkan Sharron naik lebih dulu. Setelah itu, Darrell mencoba naik dengan membawa beberapa tas tersebut. Naas, salah seorang sempat melemparinya dengan batu hingga mengenai kepala Darrell. Dia tak peduli lagi, penjaga mulai mendekat. Sampai di atas, Darrell melemparkan tasnya kemudian memotong talinya.
__ADS_1
Hup!
Sharron dan Darrell melarikan diri menuju ke tempat mobil penjemputan. Alan sudah bersiap di sana, tetapi mereka harus cepat karena pihak AX Corporation sudah menyadari bahwa ada penyusup.