
Allegra manggut-manggut tanda setuju saat suaminya telah kembali. Pria paruh baya itu mencoba menenangkan kemarahan istrinya.
"Sayang, Darrell benar. Dengarkan dulu penjelasan Noelle tentang ini. Kita juga tidak tahu mengapa dia bisa melakukan operasi pada wajahnya dan penggantian namanya. Jangan langsung menghukumnya seperti itu!" Javer menggenggam erat tangan istrinya. "Puluhan tahun kita terpisah darinya. Saat ini adalah kesempatan yang baik untuk memperbaiki keadaan. Dia tidak salah, kita pun tidak. Hanya saja garis takdir yang telah memporak-porandakan kehidupan kita. Panggil dia! Dengarkan ceritanya!"
"Aku tidak mau mendengarkan hal yang menjijikkan seperti itu. Lebih baik kamu saja. Setelah itu, ceritakan padaku," pinta Allegra.
"Sayang, tidak seperti itu konsepnya! Kamu ini mamanya. Dia jelas butuh kasih sayang darimu. Dekati dia! Bicarakan dari hati ke hati. Papa yakin kalau dia akan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Kamu mau kehilangan Maggia untuk selamanya?"
Jelas Allegra tidak mau. Susah payah dia mencarinya sampai lelah. Ketika keluarganya sudah menyerah, ternyata takdir memiliki alur yang berbeda. Dia dipertemukan dengan Maggia yang sedang terpuruk.
"Baiklah. Tunggulah di sini. Aku dan Darrell yang akan berbicara padanya." Javer tidak memiliki pilihan lain selain mengalah.
Kedua pria itu mencari keberadaan Noelle. Hingga mereka bertemu dengan Alan yang sedang duduk bersantai menikmati secangkir kopi.
"Ada apa ini?" tanya Alan.
"Noelle dan Sharron pergi ke mana?" tanya Darrell.
"Masuk ke kamar Nona Noelle," jawabnya.
Tanpa melanjutkan pembicaraan, kedua pria itu memilih masuk ke kamar Noelle. Sebelumnya, Darrell mengetuk pintu lebih dulu. Pintunya yang tidak dikunci membuat mereka bisa berada di kamar lebih cepat.
Mereka melihat Noelle yang sedang menangis ditenangkan oleh Sharron. Sharron tidak pernah menganggap ucapan mama mertuanya barusan. Lagi pula wanita itu hanya emosi sejenak.
"Sayang, tenangkan pikiranmu! Mama hanya syok mendengarkan penuturanmu. Bisa kita bicara dari hati ke hati?" tanya Javer.
Noelle diam. Dia tidak menanggapinya.
"Pa, sebaiknya bicara denganku saja," jawab Sharron. "Biarkan Noelle istirahat."
__ADS_1
Bukan usul yang buruk. Suasana hatinya yang sedang sedih membuat Noelle enggan berbicara sedikitpun. Kebahagiaan hidupnya seolah lenyap karena bentakan demi bentakan yang dilontarkan mamanya. Menyesal pun tiada guna karena semuanya sudah terjadi.
"Baiklah. Kalau begitu kita bicara ini di luar saja," ucap Javer.
Usulan Javer tak sepenuhnya benar. Dia langsung membawa Sharron menghadap langsung ke istrinya. Perasaan Sharron semakin takut sekali. Darrell mencoba menguatkan istrinya.
"Jangan khawatir! Mama hanya ingin mengobrol. Percayalah!" bisik Darrell.
"Ma, Noelle tidak bisa diajak bicara sekarang. Sebagai gantinya, aku membawa menantu kita untuk menjelaskan semuanya. Dia pasti tahu segalanya tentang Noelle," ucap Javer.
"Kalau begitu, lekas ceritakan!" perintah Allegra.
Sharron memang tahu segala sesuatunya tentang Noelle, tetapi dia tidak tahu alasannya mengapa dia melakukan operasi wajahnya dan juga mengganti namanya. Yang Sharron tahu, bahwa sahabatnya itu telah dipaksa untuk menjadi budak pemuas sedari umur belasan tahun. Sehingga dia kabur saat ada kesempatan. Setelah itu cerita terputus.
Allegra lebih dari syok. Dia tidak menyangka kehidupan Noelle seburuk itu di masa lalunya. Hati orang tua mana yang tidak ngeri mendengarnya. Setelah itu, kebiasaan Noelle tidak pernah berhenti untuk memuaskan kebutuhan orang lain yang membutuhkannya. Apalagi dengan bayaran yang besar.
"Lalu, bagaimana denganmu sendiri?" selidik Allegra.
Pekerjaan yang dijalani Sharron memang hanya sebagai pelayan, terkadang dia harus berpindah-pindah tempat kerja lantaran tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Terakhir kali dia tergiur untuk menjalani kehidupan seperti Noelle. Itulah mengapa dia nekad masuk ke aplikasi yang membuatnya terikat dengan Darrell sampai saat ini.
"Mama minta maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak, Sayang. Kemarilah!" Allegra merasa bersalah lantaran menuduh Sharron seperti wanita murahan. Ternyata dia jauh lebih menderita dari yang dibayangkan.
Tabir masa lalu Sharron pun belum terlihat. Namun, dia merasa lebih bersyukur kehidupannya saat ini. Memiliki suami, sahabat, dan mertua yang baik. Selain itu, kehidupannya tidak kekurangan suatu apa pun. Lalu, apalagi yang diinginkannya?
"Mama, tolong jangan salahkan Noelle! Dia melakukan hal seperti itu bukan murni keinginannya sendiri. Kebiasaannya di masa mudanya telah membuatnya terjerembab lebih jauh. Untuk alasan mengapa dia melakukan operasi dan mengganti nama, lebih baik Mama temui langsung. Noelle pasti terluka. Dia ingin kebahagiaan saat bertemu dengan keluarganya. Kalau Mama memberikan penolakan padanya, dia akan memilih pergi, Ma," jelas Sharron sembari memeluk mama mertuanya.
"Terima kasih, Sayang. Mama hanya khawatir tentang masa depannya," ucapnya sendu setelah melepaskan pelukannya.
"Masa depan yang bagaimana, Ma?" tanya Javer.
__ADS_1
"Dia harus menikah. Bagaimana kalau suaminya tidak bisa menerima kondisinya?" Kekhawatiran Allegra jelas.
"Mama jangan khawatir. Pria yang mencintai Noelle pasti mampu menerima masa lalunya. Takdir tidak pernah salah, hanya saja terkadang kita yang menyalahkan takdir. Mama mau menemui Noelle atau nanti saja?" tanya Darrell.
Allegra masih mencoba berdamai dengan keadaan. Dia tidak mungkin menemuinya sekarang. Yang paling penting, dia mengetahui kisah kelam putrinya.
"Kita sarapan pagi dulu. Panggil Noelle dan Alan!" perintah Allegra.
Suasana memang masih pagi, tetapi keburu Allegra emosional mendengar pengakuan putri bungsunya. Semua makanan sudah siap di restoran hotel. Mereka harus segera turun ke sana.
"Mama dan Papa duluan saja. Aku mau menjemput Noelle ke kamarnya," pamit Sharron.
Darrell ikut orang tuanya lebih dulu ke restoran. Sharron perlahan berjalan menemui sahabatnya.
Semua akan baik-baik saja. Noelle tidak salah. Dia harus mendapatkan kebahagiaannya.
"Nyonya, Nyonya," panggil Alan hingga asisten suaminya itu menepuk pundaknya.
"Eh, ada apa?" tanya Sharron.
"Tadi Anda melamun. Semuanya baik-baik saja, kan?" tanya Alan.
"Hanya masalah kecil, Alan. Semuanya akan baik-baik saja. Oh ya, lebih baik kamu turun ke restoran. Suami dan mertuaku menunggu di sana. Aku akan menjemput Noelle ke kamarnya," pamit Sharron.
Alan memang tidak tahu keributan di pagi hari. Makanya dia lebih memilih langsung turun ke restoran. Saat ini Sharron sedang berada di kamar sahabatnya.
"Ayo turun! Kita sarapan bersama," ajak Sharron.
"Aku di sini saja, Sharron. Orang tuaku memang tidak menginginkanku," ucapnya sendu.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, Noelle. Mama pasti bisa menerimamu dengan baik. Itulah sebabnya aku diminta untuk menjemputmu. Lekaslah bersiap! Lima menit, aku tunggu di sini," ucap Sharron.
Noelle masih ogah-ogahan karena teringat kisah lamanya yang membuat Mama kandungnya marah besar. Namun, bagaimanapun dia tetaplah mamanya. Harusnya Noelle lebih beruntung karena dipertemukan keluarganya secara utuh.