
Sangat aneh memang. Kalaupun dia menjadi simpanan Darrell, harusnya Sharron tetap menggunakan nama pria itu. Apa mungkin agar Sharron dan Darrell leluasa menjalani hari-harinya?
Pusing memikirkan hubungan dengan Sugar Daddy-nya, Sharron menutup kembali laptopnya. Bersamaan dengan kedatangan Noelle yang membawa beberapa makanan untuk Sharron.
Sharron menerimanya dengan senyum merekah di bibirnya. "Terima kasih, Noelle." Bergegas Sharron membukanya. Matanya mendadak melotot sempurna pada Noelle. "Hanya ini?"
Noelle mengangguk. "Demi kecantikanmu, sebaiknya salad dan jus yang tepat untuk makanan sehari-hari. Biar daddy Alan semakin cinta."
"Noelle! Ini menyiksaku," teriak Sharron.
Noelle tersenyum puas telah berhasil mengerjai sahabatnya. "Makanan kita tertukar. Kamu selalu saja suka makanan fast food. Aku sampai hapal. Semoga saja daddy Alan itu mau mengubah kebiasaan burukmu!"
Noelle mengambil makanan di tangan Sharron kemudian menukarnya.
"Terima kasih, Noelle. Ini baru benar."
Sharron jelas tersenyum riang. Pasalnya, Noelle membelikannya dua porsi Hot dog yang menjadi favoritnya selama ini. Secepatnya dia mengambil satu porsi Hot dog itu kemudian memakannya.
"Melihat cara makanmu seperti ini, kurasa daddy Alan lupa memberimu makan."
Uhuk!
Secepatnya Noelle memberikan segelas air padanya. "Maaf, telah membuatmu tersedak."
"Noelle! Aku memang tidak sarapan pagi setelah keluar dari hotel itu. Alan sudah pulang. Yang mengantarkan aku pulang ke apartemen ini asistennya Alan," ucap Sharron berbohong. Sungguh rumit, karena ulah Darrell, Sharron harus menciptakan sebuah kebohongan baru demi menutupi kebohongan sebelumnya. Ini benar-benar membuatnya gila.
"Ya sudah, lekas habiskan makananmu. Apakah siang ini kamu mau pergi?"
"Tidak," jawabnya sembari mengunyah Hot dog yang sudah masuk ke mulutnya.
"Kau mau ikut aku atau di apartemen saja?" tanya Noelle.
Sharron sudah diperingatkan Alan bahwa dia tidak boleh ke manapun selama menjalin hubungan dengan Darrell. Itu artinya bukan tubuhnya saja yang dibeli, tetapi kebebasannya juga. Rasanya Sharron ingin berteriak sekencang mungkin, tetapi itu diurungkannya. Dia sudah mengikatnya dengan kontrak kerjasama yang tidak bisa dibatalkan atau dilanggar sama sekali.
__ADS_1
"Aku mau istirahat saja. Aku khawatir sewaktu-waktu Daddy Alan mencariku."
Noelle tersenyum puas. "Kau tertarik dengannya?"
Glek!
Tertarik dari mananya? Alan itu hanya asisten yang menyebalkan dan Darrell, pria aneh yang tidak bisa kumengerti.
"Tidak! Maksudku, aku tidak tertarik padanya."
"Iya, kau tidak tertarik sekarang. Ingat, jangan sampai kamu kemakan ucapanmu sendiri."
Noelle menyumpahinya. Sungguh, Sharron tidak tahu harus bagaimana lagi. Memang kenyataannya dia belum tertarik pada Darrell. Setiap melihat pria itu, hanya satu kalimat yang mengusik ketenangannya. Darrell pria hiper. Walau sebenarnya Sharron belum tahu yang sesungguhnya.
"Apakah kau juga menyukai daddy-daddy-mu itu?" tanya Sharron. Dia mencoba mematahkan ucapan Noelle padanya.
"Tidak! Aku hanya berhubungan dengan mereka tidak memakai hati. Aku hanya membutuhkan uang, kemewahan, dan perhatian. Selebihnya, mereka menganggapku sebagai teman sekaligus biro curhat saja."
"Apa bedanya denganmu, Sharron? Kau baru permulaan. Lambat laun kau akan menginginkan lebih. Ingat itu!" Noelle memang tidak bisa marah. Lagi pula kehidupan yang seperti ini sudah dinikmatinya sejak lama. Semua ucapan Sharron pun dianggap seperti angin lalu. Mereka hanya mencari kepuasan dari Noelle. Sementara Noelle, butuh uang yang besar untuk menikmati hidup.
...***...
Keesokan harinya, Sharron menerima sebuah paket dari Alan Clarence. Noelle yang menerima paket itu karena Sharron sedang mandi. Tak lama, Sharron pun keluar dengan handuk yang melilit di kepalanya. Dia baru saja keramas.
Semalam, Alan mengirimkan pesan bahwa besok malam akan menjemputnya untuk pergi dinner ke tempat kolega tuannya.
"Alan sangat romantis, ya? Dia mengirimkan gaun bersamaan buket bunga mawar untukmu." Noelle menyerahkan satu paper bag dan buket bunga mawar yang cukup besar.
Aku bingung. Ini harus kuakui pemberian dari Alan atau Darrell? Ish, aku seperti berhubungan dengan dua pria sekaligus.
"Ah, iya. Dia sangat romantis. Terima kasih, kau sudah membantuku mengambilkan paket itu. Hari ini aku ingin istirahat sepanjang hari. Oh ya, jangan paksa aku untuk pergi ke salon karena aku benar-benar malas."
"Sharron! Aku tidak suka kau berdiam diri terus di apartemen. Kita harus ke salon! Mempersiapkan semuanya supaya sempurna. Aku juga akan ke sana karena daddy-ku juga memanggil untuk datang ke apartemennya malam ini."
__ADS_1
Gagal rencananya untuk berdiam diri di apartemen barang sejenak. Noelle seolah tidak kehabisan akal untuk membuat Sharron bergerak terus tanpa henti.
"Oh ya, kamu tidak ingin belajar pole dance?"
"Ish, tidak! Aku tidak mau banyak belajar darimu. Biarkan aku seperti ini saja. Kurasa itupun tidak perlu, Noelle."
Pasti pikiran Noelle tak jauh-jauh dari ranjang dan memuaskan daddynya. Apalagi yang Sharron tahu bahwa pole dance itu sangat menarik dan susah sekali. Sharron tidak ingin belajar dan tidak akan mau jika Noelle memaksanya.
"Ayolah, Babe! Ini hanya berlatih supaya otot-otot di tubuhmu itu tidak kaku. Aku akan mengantarmu ke tempat yang tepat. Percayalah! Daddy Alan akan lebih tergila-gila padamu."
Sebenarnya Sharron cukup muak. Setiap berbincang selalu menyebut nama Alan, Alan, dan Alan. Seperti menjadi Sugar Baby Alan daripada Darrell Wesley. Tapi, pria itu benar-benar mengunci dirinya agar tidak diketahui oleh orang lain. Ini Sharron yang bodoh atau memang ada sesuatu yang Darrell sembunyikan.
"Kau diam, berarti setuju." Noelle memutuskan secara sepihak.
"Tidak, Noelle! Aku belum pernah mencobanya, tetapi aku pernah tahu dari internet. Yang ada aku bisa patah tulang. Lagi pula, aku tidak pandai menari!" Sharron benar-benar tidak ingin dan tidak mau untuk melakukan pole dance.
"Ayolah! Kita akan pergi bersama. Daddy-ku memintanya untuk mencoba juga. Kalau aku tidak ada teman, rasanya tidak semangat. Please!" Usaha Noelle tidak berhenti di situ saja. Dia tetap merayu sampai mendapatkan kata sepakat dari Sharron.
"Baiklah, tetapi--"
"Hemm, katakan syaratnya. Pasti kamu mau mengatakan itu, kan?"
Sharron tersenyum. "Iya. Tunggu sampai daddy Alan menyetujuinya. Aku tidak bisa mengambil keputusan tanpanya."
"Oh, so sweet! Kurasa aku semakin penasaran dengan daddy Alan-mu itu. Sepertinya dia pria yang cukup menarik. Kau baru mengenalnya, tetapi dia sudah bisa mengendalikan dirimu. Kurasa hubungan ini tidak biasa, Sharron."
Sharron menghela napas panjang. "Entahlah, Noelle. Aku ingin menolaknya, tetapi dia mengatakan kalau aku wanita pertama yang dipilihnya. Aku semakin ngeri saja kalau bertemu dengannya."
Noelle berusaha membuat Sharron tenang sehingga meyakinkannya untuk tetap bertahan.
"Itu artinya kamu bisa mendapatkan kontrak menjadi Sugar Baby-nya seumur hidup, Babe. Ayolah, semakin perbanyak kemampuanmu. Aku tahu, kamu cantik, menarik, dan yang paling penting segelmu belum ada yang melepaskan. Nilai jualmu di matanya akan semakin tinggi."
Noelle selalu saja mengingatkan perihal nilai jual. Dia memang belum banyak berbincang dengan Darrell. Apalagi melihat saldo debit card yang diberikan padanya. Itu belum dilakukan sama sekali oleh Sharron sebelum semuanya jelas.
__ADS_1