
Menerima pesan dari Alan membuat Sharron mengernyitkan mata. Dia hampir lupa bahwa selama seminggu ini posisinya aman dari gangguan Alan. Sekarang, dia harus bekerja lagi untuk mengumpulkan banyak uang dari Darrell. Biarlah dia dikatakan wanita murahan, lagi pula dia juga sudah terikat kontrak.
"Kau kenapa, Sharron? Selama seminggu ini kau berdiam diri di apartemen tanpa melakukan aktivitas apapun. Apakah daddy-mu sedang dalam fase ngambek?" tanya Noelle yang bersiap hendak pergi ke tempat daddy-nya.
"Tidak ada apa-apa, Noelle. Ini hanya pesan dari Alan. Ehm, maksudku daddy Alan memintaku untuk bersiap. Sore ini dia akan menjemputku. Oh ya, selama tiga hari ke depan, jangan rindukan aku, ya? Aku mau pergi dengan daddy Alan," ucapnya.
Noelle yang hampir keluar dari kamar, kembali terfokus pada sahabatnya.
"Ini luar biasa, Sharron. Kau harus bersiap-siap. Oh ya, jangan lupa mampir ke apotek untuk membeli pengaman. Hanya untuk berjaga-jaga jika mendadak daddy-mu menginginkan. Cepat atau lambat, itu pasti akan terjadi."
Glek!
Setiap bertemu dengan Noelle, bahasan yang diutarakan selalu mengenai tempat tidur saja. Seakan tidak ada pembahasan lain yang lebih berarti.
"Itu tidak mungkin, Noelle. Aku tidak perlu membawa apapun karena aku sedang datang bulan," ucapnya beralasan. Kenyataannya selama beberapa bulan terakhir ini, siklusnya tidak sebagus suasana hatinya. Bisa dikatakan siklus yang dialami Sharron tidak biasa. Terkadang harus menunggu dua bulan untuk mendapatkan siklusnya kembali. Bisa dikatakan normal untuk gadis sepertinya.
"Jangan bohong! Aku tahu kalau kamu belum waktunya. Biasanya selalu heboh," balas Noelle yang beberapa hari terakhir ini suka sekali menggoda Sharron.
"Noelle! Jangan ingatkan aku lagi mengenai hal itu. Aku belum siap menyerahkan bagian terpenting dalam hidupku." Sharron melemparkan bantal ke arah Noelle.
Noelle menangkap bantal itu kemudian mengembalikannya. Dia belum jadi pergi. Dia duduk tepat di sebelah Sharron.
"Kau mencoba mengubah alur kehidupanmu? Itu mustahil, Sharron! Harusnya kamu memikirkannya sebelum memutuskan bertemu dengan Alan. Risiko sebagai wanita simpanan seperti kita harus siap dengan segala konsekuensi yang akan ditimbulkan. Kau tidak bisa kabur dari kenyataan itu. Semakin cepat tugasmu selesai, semakin cepat pula kontrak kerjamu berakhir."
Ya, Noelle tahu bahwa setiap hubungan yang dijalin dengan Sugar Daddy selalu berhubungan dengan kontrak. Paling cepat mereka akan menuliskan rentang waktu tiga bulan. Maksimal tergantung kebutuhan sugar Daddy-nya. Selama ini, Noelle yang paling lama hanya berjalan satu tahun. Itupun karena Noelle tidak mau lebih dari itu.
"Oh ya, apakah kamu sudah menandatangani perjanjian kontrak dengannya? Kalau belum, kamu bisa mengakhirinya sekarang. Jika sudah, nikmatilah sampai kontrakmu berakhir."
Deg!
Sharron melupakan perihal masa kontrak yang dimaksudkan. Dia bahkan melupakan hal sepenting itu.
Oh, ya ampun! Aku harus membuka kembali laptopku. Kurasa aku melewatkannya.
"Kenapa diam lagi?" tanya Noelle.
"Ah, tidak apa-apa. Pergilah!" Sharron mengusir Noelle untuk lekas pergi.
__ADS_1
"Hemm, baiklah. Jaga dirimu baik-baik! Kabari jika kau membutuhkanku." Noelle keluar meninggalkan Sharron.
Sharron turun dari ranjang. Dia mengambil laptopnya yang ada di meja. Dibawanya menuju ke sofa. Bergegas dibukanya untuk melihat apa yang dimaksud Noelle. Perasaannya mendadak tidak menentu. Ada rasa takut yang menggelora di dalam batinnya.
"Bagaimana kalau kontrak itu tidak akan pernah berakhir?" ucapnya.
Glek!
Tatapan mata Sharron terpaku pada satu kalimat yang terlewati saat membaca surat kontrak itu tempo hari. Perjanjian kontrak terikat waktu yang tidak terbatas sampai pada pihak pertama memutuskannya.
...***...
Tepat jam lima sore, Alan sudah sampai di depan apartemen yang ditinggali Sharron selama ini. Sharron sudah menunggunya. Dia lekas turun kemudian masuk ke mobil Alan.
"Apakah kau menungguku terlalu lama?" tanya Sharron yang baru saja masuk.
"Tidak! Aku baru saja sampai."
"Oh, baiklah."
Alan lekas mengemudikan mobilnya. Sebelum menuju ke apartemennya, dia membawa Sharron mampir dulu ke sebuah butik. Dia menjalankan pesan tuannya dengan baik.
"Tuanku memintamu untuk berbelanja ke butik. Belilah beberapa pakaian untuk tiga hari ke depan."
"Tidak harus ke butik, Alan. Antarkan aku ke toko baju biasa saja. Aku akan membelinya di sana."
"Tapi, Nona--"
"Alan, aku bukan mau ke pesta, kan? Aku butuh baju santai saja. Antarkan aku ke toko baju di jalan X. Tunggulah aku di sana sebentar."
Sebelum Sharron turun ke toko baju yang dimaksud, Alan memberitahukan bahwa dia boleh menggunakan debit card-nya. Sharron menanggapinya hanya dengan anggukan kepala.
Sekitar satu jam berlalu, Sharron baru saja keluar dengan beberapa paper bag di tangannya.
"Maaf, Alan. Aku terlalu lama, ya?" ucap Sharron sembari memasukkan paper bag ke dalam bagasi.
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu menyiapkan kebutuhan bajumu selama tiga hari ke depan, kan? Ini bukan masalah untukku."
__ADS_1
"Terima kasih."
Perjalanan dilanjutkan. Perasaan Sharron mulai was-was. Apa yang akan dilakukan Darrell padanya mulai malam ini.
"Oh ya, setelah sampai di apartemen, jangan lupa cek seluruh kebutuhan dapur. Kalau memang ada yang habis, kirim pesan padaku. Aku akan meminta orang lain untuk membelanjakannya."
"Baik, Alan. Oh ya, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Silakan!"
"Ehm, mengapa tuanmu memintaku berada di sini selama beberapa hari?"
"Tentu saja dia merindukanmu, Nona. Selama seminggu dia tidak bertemu. Tidak ada salahnya kan kalau meminta Anda untuk menemaninya?" Sebenarnya Alan ingin mengatakan perintah tuannya, tetapi dia tidak mau melakukan. Alan sudah meminta Darrell untuk menuliskan pesan yang akan diberikan pada Sharron. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman antara Darrell dan Sharron dengan mengatakan rencananya untuk menggunakan lingerie ketika Darrell datang. Justru secara langsung Alan malah akan mempermalukannya.
"Ck, mana mungkin? Selama seminggu ini saja tidak ada kabar darinya. Kurasa dia bahagia bersama istrinya. Harusnya kontrak ini diakhiri saja. Waktunya lebih banyak dengan istrinya, kan?"
"Anda sudah menandatangani kontrak. Sebaiknya Anda menjalankannya dengan baik sampai kontrak itu berakhir, Nona."
"Mengapa rentang waktunya tidak pasti seperti itu?"
"Maaf, Nona. Jika Anda ingin bernegosiasi mengenai hal itu, silakan langsung berbicara pada tuan Darrell."
Tidak ada gunanya berbicara dengan Alan. Lebih baik Sharron diam. Lagi pula sebentar lagi dia akan sampai di apartemennya. Walaupun berada di lokasi yang sama, Alan pun tidak akan menggangunya.
Sampailah keduanya di basemen apartemen. Sharron secepatnya ingin turun kemudian mengambil paper bag yang diletakkan di bagasi. Namun, Alan mencegahnya.
"Tunggu dulu, Nona! Ada yang ingin kusampaikan padamu."
Sharron mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Tatapannya beralih kepada Alan.
"Ada apalagi, Alan?"
"Tuan memberikan ini untukmu." Alan menyerahkan sebuah amplop.
"Apa ini?"
"Mungkin surat cinta. Oh ya, bukalah ketika sampai di dalam unitmu. Itu pesan dari tuanku. Lakukan apapun yang diperintahkan olehnya. Ingat, jangan coba-coba untuk menolak permintaannya!"
__ADS_1
"Ck, ini surat cinta atau ancaman?" Sharron menggeleng. Dia memasukkan amplop itu ke dalam tas kecil miliknya. Dia bergegas turun untuk mengambil paper bag kemudian masuk ke unitnya. Dia sudah penasaran dengan amplop yang diterimanya.