
"Wow, ini mengejutkan sekali! Apakah aku orang pertama yang tahu kabar ini?" tanya Noelle.
"Sepertinya begitu," jawab Sharron lirih.
"Hemm, tidak masalah. Congratulations, Baby!" Noelle berdiri menarik tangan Sharron untuk memberikan pelukan.
"Terima kasih, Noelle." Sharron kembali duduk setelah berpelukan dengan sahabatnya.
"Jadi, bagaimana rencana kalian?" tanya Noelle.
"Aku akan mengajak Sharron bertemu orang tuaku dulu. Setelah itu, baru kami menyiapkan pesta pertunangan," jawab Darrell.
"Wow, terima kasih, Tuan. Kurasa itu ide yang bagus dan akupun setuju." Noelle merasa bahwa Sharron akan menjadi satu-satunya wanita di hati Darrell. Pria yang sudah membuat sahabatnya jungkir balik dengan perasaannya.
"Iya, Noelle. Terima kasih."
Sharron hanya terdiam melihat interaksi Darrell dan Noelle. Dia lebih memilih duduk menyandarkan kepalanya karena lelah.
"Jangan lupa undang aku! Aku pasti datang. Memangnya pesta pertunangan akan dilangsungkan di mana?"
"Italia, mungkin. Aku belum memutuskannya."
"Sharron, kau lelah ya? Sebaiknya tidurlah lebih dulu. Ini sudah larut," ucap Noelle tidak tega melihat Sharron yang kelelahan.
"Kalau begitu, aku pamit saja. Besok pagi aku kembali," pamit Darrell.
"Minumlah dulu, Tuan. Jangan buru-buru seperti itu. Kurasa Anda bisa menginap di sini," pinta Noelle.
"What? Tidak, tidak, tidak. Apartemennya juga tidak jauh dari sini, Noelle." Sharron keberatan.
"Baby! Tuan Darrell juga butuh istirahat. Ada kamar tamu yang bisa dipakai. Kamu bisa sekamar denganku. Atau, kau yang sekamar dengannya? Ayolah, kasihan. Ini sudah larut malam."
"Apaan sih, Noelle?" protes Sharron.
"Tidak masalah, aku pulang saja," ucap Darrell.
__ADS_1
"Tuan, tidak pantas menolak tuan rumah. Mari aku antarkan ke kamar Anda," ajak Noelle.
Sebenarnya Noelle tidak tega saja membiarkan Sharron berpisah terlalu lama dari Darrell. Beberapa bulan yang lalu sebelum pergi meninggalkan Meksiko, Sharron sempat mengatakan rasa putus asanya. Ketakutan yang berlebihan mengenai masa depannya karena dia takut kalau bertemu pria jahat di luaran sana. Pria yang hanya memanfaatkan kepuasan di atas ranjang semata tanpa mementingkan cinta dan kesepakatan untuk bersama.
Darrell pun tidak bisa menolak. Sejatinya hati dan pikirannya ingin tetap bersama dengan Sharron di manapun dia berada. Kalau perlu, Darrell akan ikut ke Austria sampai membawanya kembali ke Italia untuk bertemu orang tuanya. Dia tidak ingin terpisah lagi dengan Sharron.
"Baiklah. Kalau begini, aku tidak bisa menolaknya," ucap Darrell kemudian mengikuti pergerakan Noelle.
Tak butuh waktu yang lama sampai ke kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari kamar utama. Hanya saja kalau mau menuju ke kamar tamu harus melalui jalan berbentuk L sehingga kamar utama ataupun kamar tamu tidak langsung bisa terlihat.
"Istirahatlah, Tuan. Kalau Anda memerlukan sesuatu, bisa mencari di lemari pakaian atau kalau bingung, bisa memanggilku ke kamar utama. Ada baju ganti di lemari. Aku sengaja menyiapkan untuk daddy-ku, tapi Tuan jangan khawatir. Semuanya baju baru," jelas Noelle.
Sebagai wanita yang sering berganti Sugar Daddy, rupanya Noelle tipe wanita yang memiliki persiapan matang. Sehingga tak sulit untuk menerima Darrell menginap di apartemennya. Setelah mempersilakan Darrell masuk ke kamar, Noelle kembali menemui Sharron yang masih bertahan di ruang tamu.
"Kenapa kau biarkan dia menginap di sini?" protes Sharron.
"Sayang, kurasa kau perlu mencuci otak dan hatimu lagi. Kau ini rindu, tapi mengelak. Sebenarnya kau suka kan kalau dia berada di sini? Sudahlah, jangan terlalu ketinggian ego. Kalau nanti dia direbut wanita lain, baru nyesel kan?"
"Bukan seperti itu, Noelle. Aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku. Kau tahu kan, naluri wanita kalau sedang jatuh cinta. Dia pasti ingin terus bersama dengan pria yang dicintainya."
"Noelle ...." Sharron melemparkan bantal di sofa entah untuk yang ke sekian kalinya.
Noelle tertawa. "Kurasa perilaku orang yang sedang jatuh cinta itu aneh-aneh sekali. Bantal di sofa ini sudah kamu lempar berulang loh. Kasihan bantalnya."
Sharron mengabaikan sahabatnya. Dia lebih memilih masuk ke kamarnya untuk merebahkan diri di ranjang. Dia sebenarnya tidak melupakan cincin yang diberikan Darrell, tetapi dia belum yakin untuk memakainya.
"Kau mau mengelak karena sudah jatuh cinta padanya. Atau, karena dia masih memiliki istri?" tanya Noelle yang menyusul Sharron berbaring ke ranjangnya.
Mengingat bahwa Callie sudah meninggal, Sharron duduk di ranjang.
"Tidak, Noelle. Istrinya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Aku hanya takut kalau orang tuanya tidak bisa menerimaku."
Noelle pun mengikuti posisi Sharron. Dia memutar duduknya supaya bisa berhadapan langsung dengan sahabatnya. Dia langsung menangkup kedua pipi Sharron dengan tangannya.
"Baby, kau percaya cinta, kan? Kalian saling mencintai. Kurasa orang tua Darrell akan menerimamu dengan baik. Percayalah! Kau seorang model terkenal. Lalu, apa masalah mereka?"
__ADS_1
"Bisa saja mereka mempermasalahkan masa laluku, Noelle. Aku tidak punya keluarga."
"Baby, kau keluargaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Percayalah. Aku akan selalu ada untukmu."
Sharron beranjak menuju meja tempatnya meletakkan tas. Dia lantas mengambil satu kotak perhiasan kecil yang diberikan Darrell padanya.
"Dia memberikan ini padaku." Sharron memberikannya pada Noelle.
Noelle langsung membukanya. Dia memandang cincin berlian indah yang menurutnya sangat berkelas. Pemilihan yang luar biasa untuk ukuran seorang pria karena Noelle yakin bahwa ini bukan pilihan Sharron.
"Pakailah! Kurasa Darrell sangat mencintaimu." Noelle menutup kembali kotak perhiasan itu.
"Tidak, sebelum aku tahu persetujuan dari orang tuanya. Aku tidak mau memakai cincin karena urusanku dengan managerku belum selesai."
"Urusan yang bagaimana?"
"Kalau aku keluar, harus membayar ganti rugi yang tidak sedikit. Darrell sudah setuju."
"Oh sayangku, ini kesempatan bagus. Jangan sia-siakan, Sharron."
"Ada satu alasan mengapa aku belum siap, Noelle."
"Kenapa? Apa kamu jatuh cinta dengan pria lain selama di Austria?"
"Bukan itu." Sharron kembali merebahkan dirinya setelah meletakkan kotak perhiasan di atas nakas. "Dia pria yang kutemui ketika di Swiss. Kau tahu, dia sangat ambisius sekali untuk memilikiku. Entah, obsesi apa yang dimilikinya sehingga dia terus memburuku sampai ke Austria."
"Kau meninggalkan nomor ponsel untuknya?"
"Tidak! Entah mengapa seakan dia tahu semua dunia permodelan. Dia mengejarku karena tahu bahwa aku bekerja di sebuah agensi model terkenal di Austria. Dia datang khusus untuk mengunjungiku."
"Wah, kau benar-benar beruntung, Sharron. Para pria itu menginginkanmu menjadi bagian dari hidupnya. Aku salut padamu, Sharron."
"Tapi, aku ngeri kalau bertemu dengannya lagi. Dia pria yang sangat ambisius. Bahkan, dia sudah berani mengancam diriku."
"Kemarilah, Sharron!" panggil Noelle. Dia kemudian memeluk sahabatnya dengan sangat erat kemudian memberikan semangat supaya Sharron memutuskan untuk menerima Darrell demi masa depannya. "Kurasa tak perlu mempertimbangkan lagi untuk menerima Darrell. Dia itu pria yang baik. Dia juga yang akan melindungimu dari pria ambisius yang kamu maksud. Kamu akan aman."
__ADS_1
Noelle benar. Dia harus menghapus keraguannya pada Darrell kemudian memilih bersamanya sampai akhir cerita kehidupannya.