
Tatapan mata wanita tua itu terhenti pada sebuah nama yang sebenarnya sangat diragukan kebenarannya. Tahun yang dimaksud wanita muda bernama Sharron Alexandria itu bukanlah tahun yang tepat saat dia masuk ke dalam panti ini. Tapi, wanita tua itu mencoba memberikan pertanyaan lagi.
"Tidak ada nama Sharron Alexandria di dalam buku jurnalku, tetapi ada nama Alexandria saja. Itupun masuk ke panti ini sekitar tahun 2001 akhir. Tertulis di sini bahwa Alexandria masuk ke panti asuhan ini karena orang tuanya mengalami kecelakaan dan semuanya meninggal dunia. Hanya tersisa putrinya saja yang masih hidup. Sehingga dari pihak kepolisian memasukkan Alexandria ke dalam panti ini."
Deg!
Apakah itu kisahnya? Tetapi, mengapa hanya ada nama Alexandria saja?
"Boleh tahu detailnya, Nyonya? Sebenernya aku ingin mencari orang tuaku, tetapi sepertinya aku tidak bisa menemukan informasi secara utuh di sini."
"Benar, Nona. Aku minta maaf. Pada saat itu pekerja di panti ini memang keluar masuk. Sementara pendataan masih manual. Belum semodern saat ini. Semua serba canggih."
"Bagaimana, Sharron? Apa kamu perlu ke tempat lainnya?" tanya Noelle yang tidak puas dengan apa yang didapatkan hari ini.
"Tidak! Aku hanya ingin mendapatkannya di sini saja. Ehm, apakah ada tanggal lahir yang ada di data ini, Nyonya? Aku ingin mengeceknya. Apakah sama dengan tanggal lahirku atau tidak," ucap Sharron lagi.
"Hanya ada bulan dan tahunnya saja, Nona. Apa kamu mau?"
"Tentu!" jawab Sharron yakin.
"Nopember 1997."
Deg!
Bulan dan tahun yang sama saat dia dilahirkan ke dunia ini. Namun, ada sedikit kejanggalan. Ada nama Sharron yang tersemat di depan nama Alexandria. Mungkinkah ini nama pemberian orang tua asuhnya? Tetapi, seingat Sharron, dia tidak pernah diadopsi siapapun.
"Boleh aku tahu siapa nama orang tua Alexandria?" tanya Sharron semakin penasaran. Mungkin dari sini dia bisa menemukan segalanya.
"Samuel Alexander."
Informasi yang dikumpulkan ini sudah lebih dari cukup. Kalaupun Sharron ingin bertanya lagi tentang siapa Samuel Alexander, jelas wanita tua itu tidak akan pernah tahu. Mungkin saja dia tidak bisa mengingat masa lalu begitu banyaknya anggota keluarga panti asuhan.
"Terima kasih, Nyonya. Kalau begitu, kami pamit," ucap Sharron.
"Terima kasih, Nyonya," ucap Noelle sebelum mereka benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Sama-sama. Semoga informasi itu benar untukmu, Nak," ucap wanita tua itu.
Sharron dan Noelle menyusuri gedung tua itu. Sesekali Sharron mencoba mengingatnya. Mungkin dengan melihat-lihat keadaan gedung itu mampu membuka kenangan masa lalunya.
"Noelle, bagaimana kalau Samuel Alexander itu memang benar orang tuaku?"
__ADS_1
"Setidaknya kamu tahu kalau mereka sudah meninggal," jawab Noelle yakin.
"Iya juga, tetapi aku tidak mau melanjutkan pencarian ini. Walaupun kenyataannya sudah meninggal, rasanya nyeri sekali. Kalaupun itu benar mereka, rasanya aku terlalu buruk menuduhnya tidak bertanggung jawab atas diriku."
"Jangan, Sharron! Anggap saja informasi ini setengah jalan. Siapa tahu kalau kamu sebenarnya anak orang kaya yang hilang. Keluarga besar Alexander itu akan mencarimu kemudian memberikan warisan perusahaan, misalnya," saran Noelle.
"Ck, kau terlalu banyak membaca novel online. Mana mungkin bisa seperti itu? Kalaupun harus mencarinya, mengapa tidak dilakukan 5 tahun yang lalu atau maksimal 10 tahun yang lalu? Ini sudah 20 tahun lebih. Itu sangat mustahil."
"Apa yang akan kamu katakan pada Darrell?"
"Aku tidak menemukan informasi apapun," jawab Sharron dengan entengnya.
"Jangan bodoh, Sharron! Darrell itu bukan pria bodoh yang mudah kamu bohongi. Bahkan, aura wajahmu jelas menunjukkan bahwa informasi yang kamu terima itu telah membuatmu kalut. Kamu bingung, kan?"
Kini, sampailah keduanya di jalanan untuk menunggu taksi yang lewat. Sesekali Sharron terlihat melamun.
Benarkah aku anak dari Samuel Alexander? Siapa dia sebenarnya? Jujur, sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengannya. Menurut informasi yang kudapat, Samuel Alexander telah tiada karena kecelakaan. Setidaknya aku akan menemukan di mana makamnya.
"Sharron, kamu baik-baik saja?" tanya Noelle yang sudah berhasil menghentikan taksi. "Ayo naik!"
"Iya, Noelle. Aku baik."
"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Noelle.
"Mau ke mana, Nona?" tanya sopir taksi.
"Bellinghausen, ya!" jawab Noelle pada sopir taksi. "Iya, tidak masalah. Setelah dari sana, kamu mau mampir ke kantor atau pulang?"
"Aku ingin mampir ke kantor sebentar. Sekalian membawamu ke sana untuk bertemu dengan Alan. Setidaknya aku punya alasan kalau kamu bekerja di kantor. Aku bisa sering ke sana," ucap Sharron dengan nada yang serius.
"Kamu ini aneh. Harusnya kamu bisa datang ke kantor sewaktu-waktu karena suamimu berada di sana. Dasar wanita aneh!" canda Noelle.
"Noelle, Darrell itu tidak sama seperti pria pada umumnya. Dia itu tipikal cuek saat bekerja. Aku takut kalau ke kantor malah mengganggunya."
"Kamu pesimis karena belum mencobanya."
Taksi yang membawanya akhirnya sampai di Bellinghausen. Sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor Darrell. Keduanya masuk kemudian memesan makan siang. Berlama-lama di panti asuhan membuatnya sadar kalau hari sudah siang.
"Kamu tidak mau mengabari Darrell?"
"Sebenarnya aku ingin sekali mengirimkan pesan padanya. Tapi, aku takut tidak bisa menjawab semua pertanyaannya."
__ADS_1
"Kirimkan saja pesanmu! Ada aku. Aku yang akan membantumu menjawabnya," saran Noelle.
Mau bagaimana lagi. Setidaknya Sharron ada yang membantunya saat ini.
"Baiklah. Aku akan mengirimkan pesan padanya."
Sayang, aku di Bellinghausen sekarang. Temui aku di sini, ya. Kalau kamu tidak sibuk.💖
Sharron memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang dibawanya. Dia tidak menunggu pesan balasan dari suaminya, tetapi menunggu kedatangan pria itu.
"Sudah?" tanya Noelle.
"Iya. Kamu sudah memesan makanan?"
"Iya. Aku pesan sekalian untuk Darrell, ya."
"Eh, kalau dia datang. Kalau tidak?" Sharron pesimis.
"Dia pasti datang. Demi istrinya tercinta."
"Noelle!"
"Sharron!"
Keduanya tersenyum. Rasanya sungguh aneh dengan persahabatan mereka saat ini. Satunya sudah menikah, yang satunya lagi kekeh dengan status singelnya.
Pikiran Sharron dan Noelle yang bertolak belakang telah membuktikan bahwa Darrell datang. Pria itu tersenyum manis memandang istrinya yang terlihat salah tingkah seperti itu.
"Sayang, kau di sini rupanya," sapa Darrell kemudian mengecup kening istrinya di hadapan Noelle.
"Hemm, romantis sekali!" seru Noelle.
"Apakah kalian mendapatkan informasinya?" Darrell langsung duduk di samping Sharron.
Sharron memandang Noelle seolah meminta persetujuan darinya. Noelle pun mengangguk.
"Sedikit. Aku mendapatkan nama Samuel Alexander, Sayang. Tetapi, aku tidak yakin karena hanya ada nama Alexandria di sana. Bukan Sharron Alexandria," jelas Sharron.
Samuel Alexander? Nama itu sepertinya tidak asing di telingaku. Tapi, siapa dia?
"Sayang, apa kamu mengingat sesuatu?" Sharron penasaran karena mimik mukanya terlihat tidak biasa.
__ADS_1
Darrell menggeleng. Dia juga tidak yakin, apakah Samuel Alexander ini merupakan orang yang sama yang pernah dikenalnya?