Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 39. Rencana Mengakhiri


__ADS_3

"Callie?" sapa Darrell. Dia sudah tidak tahan. Ternyata selama ini Callie sangat dekat dengan Marcello.


"Sa-yang?" Jelas saja Callie terkejut. Dia tidak menyangka kalau suaminya sedang bisnis trip ke negara yang sama dengannya. Kalau tahu begini, mending dia ikuti ucapan Marcello untuk menyusulnya ke Italia tanpa harus ribet bertemu dengan Darrell segala. Alan pun tidak mengatakan kalau suaminya akan ke negara ini. Mungkin saja Alan sengaja supaya hubungannya dengan Marcello mudah terendus oleh suaminya.


"Kau berada di sini, sementara orang tuaku sedang di mansion," ucap Darrell lirih. Dia tidak ingin memancing keributan di sebuah restoran yang menurutnya masih sepi itu.


"Darrell, mama dan papa akan baik-baik saja di mansion. Kamu jangan khawatir," balasnya lirih. Semenjak kedatangan Darrell, dia sudah melepaskan genggaman tangannya pada Marcello.


"Tapi, tidak seharusnya kamu meninggalkan mereka. Alan sudah bilang padamu kan kalau aku ada pekerjaan di sini? Kenapa kamu tinggalkan mereka? Urusan anak adopsi, bagaimana?"


Callie sedikit lega. Pasalnya Darrell tidak mempermasalahkan kedekatannya dengan Marcello.


"Callie, sebaiknya kamu selesaikan dulu urusanmu dengan suamimu. Setelah itu, baru temui aku," pamit Marcello merasa tidak ada hubungannya sama sekali dengan keributan yang terjadi antara Darrell dan Callie.


"Oke, Pho. Pergilah!" balas Callie.


Darrell yang semula ingin menikmati sarapan pagi, mendadak kesal pada istrinya. Bukan tanpa alasan, ternyata selama ini cinta Darrell diabaikan begitu saja oleh istrinya. Dia merasa menjadi pria yang gagal di dalam rumah tangganya. Hatinya terlanjur sakit. Dia tidak mungkin mendamprat kasar pada Callie di depan umum. Setelah ini, dia akan menyelesaikan semua masalahnya di kamar hotelnya. Walaupun tujuan awalnya ingin bertemu dengan Sharron, tetapi rupanya semesta menunjukkan kebohongan istrinya.


"Duduk, Sayang!" pinta Callie.


Darrell tak menolak. Dia mengikuti permainan istrinya. Walaupun dia tahu bahwa ini sangat sulit, tetapi perceraian mungkin jalan yang tepat. Tidak mudah memang, Darrell harus menunjukkan beberapa bukti yang meyakinkan pengadilan untuk memutuskan pernikahannya.


"Kau sudah memesan makanan, Sayang?" tanya Darrell yang mencoba bersikap selembut mungkin. Keputusannya untuk berpisah sementara dengan Sharron sudah tepat. Ini kesempatan bagus untuk mencecar Callie dengan semua pertanyaannya.


"Marcello sudah memesannya."


"Sebenarnya itu bukan untukku, kan?"


"Sayang, tak masalah. Daripada harus memesan lagi, nanti malah kelamaan," ucapnya beralasan. Hati Callie sudah bergetar tak karuan.


Darrell tetap tenang. "Oh ya, kapan kamu sampai?"


"Ehm, semalam, Sayang. Memangnya kenapa?" tanya Callie sudah mulai ketar-ketir.


"Kenapa bisa bersama dengan Marcello? Apa kamu sengaja menemuinya? Semalam kamu tidur di mana?" Semua pertanyaan Darrell jelas membingungkan.


Callie harus menjawabnya dari mana dulu. Semua pertanyaan itu jelas menyudutkannya. Beruntung makanan dan minuman yang dipesan datang lebih dahulu sehingga dia bisa mengelak.


"Makan dulu, Sayang. Setelah ini aku akan menjawab semua pertanyaanmu."


Darrell setuju saja. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanpa protes. Walaupun sebenarnya dia ingin tertawa melihat mimik muka istrinya yang terlihat mulai kacau.


Kita lihat saja, Callie. Siapa yang akan bertahan di sini. Bukannya aku tidak bisa tegas. Aku akan menyelesaikan semuanya di kamarku nanti.

__ADS_1


Sampai sarapan pagi selesai, Callie tak lekas menjawabnya. Dia lebih memilih untuk berpura-pura ke kasir membayar makanannya. Padahal dia bisa meminta bill-nya secara langsung tanpa ribet. Darrell menunggunya dengan cukup sabar. Ini kesempatan bagus untuknya.


"Sudah?" tanya Darrell yang sudah berdiri di sampingnya.


"Eh, iya, Sayang. Aku sudah selesai," balas Callie.


"Kamu mau ada acara dengan Marcello atau kembali bersamaku?"


Pilihan yang sangat sulit menurut Callie. Semua perlengkapan Callie masih berada di kamar Marcello. Dia bingung bagaimana caranya mengambil kopernya di sana.


"Ikut bersamamu, Sayang." Tak ada pilihan lain selain menuruti suaminya.


"Kopermu di mana?"


Pertanyaan ini lagi yang membuat Callie pusing. Namun, semakin Callie menghindar, Darrell akan terus mengejarnya.


"Di kamar Marcello, tapi kami tidak tidur seranjang kok. Semalam aku sangat lelah. Mau check in sendiri kan susah. Aku sudah sangat lelah," ucapnya berkilah.


"Kenapa kamu tidak mengabariku? Kamu kan tahu kalau aku juga berada di sini."


"Tapi, Alan tidak mengatakan kalau kamu sedang berada di sini, Sayang," ucapnya sembari berjalan beriringan menuju ke kamar Darrell.


"Kamu tidak bertanya. Itulah mengapa Alan tidak mengatakannya padamu. Di mana kamar Marcello? Kita ambil semua barangmu," ucap Darrell.


"Eh, tidak-tidak. Sebaiknya kamu duluan saja, Sayang. Aku ada hal penting sebentar dengan Marcello. Aku juga sekalian mau minta maaf sudah merepotkannya."


"Kamu kan istriku. Aku tidak akan membiarkan kamu kesulitan membawa kopermu itu. Aku yakin kalau bawaanmu pasti banyak sekali, kan?"


Oh God, aku harus bagaimana lagi ini? Darrell pasti sudah tidak mempercayaiku. Tapi, tak masalah. Hubungan pernikahan kita pasti baik-baik saja. Aku sangat yakin itu. Jadi, biarkan saja Darrell ikut denganku.


"Ayo, Sayang. Bantu aku membawakan koperku," ajak Callie akhirnya.


Callie berjalan diikuti Darrell di belakangnya. Setibanya di depan pintu kamar Marcello, Callie menekan belnya. Tak butuh waktu lama, pria itu sudah membukanya.


"Kau pasti mau mengambil kopermu, kan?" tanya Marcello.


"Iya, Pho. Terima kasih sudah membantuku."


"Terima kasih sudah mengizinkan istriku bermalam di sini. Mungkin niatnya memberikan kejutan untukku, tetapi malah aku yang terkejut."


"Sama-sama, Darrell. Istrimu kan sahabat baikku. Jadi, kamu tak perlu khawatir."


"Ehm, Pho. Aku dan suami langsung pamit, ya. Kami mau ke kamar," pamit Callie.

__ADS_1


Kamar presiden suit tak jauh dari kamar yang disewa Marcello. Keduanya sudah sampai di dalam sana. Darrell meletakkan kopernya tepat di ruang tamu. Callie yang sebenarnya ingin langsung ke kamar mandi mendadak tertahan karena ucapan Darrell.


"Kau mau ke mana, Callie?" Suara bariton Darrell membuatnya sedikit terlonjak.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar. Boleh?"


"Kalau kamu memang tidak terlalu perlu ke kamar mandi, kita bicara sebentar."


Deg!


Ada hawa lain yang mencoba menyusup di balik hubungan Callie dan Darrell.


"Sayang, sebentar saja. Aku sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Sebentar saja. Boleh ya?"


Sebenarnya Darrell sudah tidak sabaran. Namun, dia juga harus mengerti posisi Callie saat ini.


"Pergilah! Aku tunggu di sini."


Sampai di kamar mandi, Callie semakin cemas. Dia sebenarnya hanya ingin mengalihkan pembicaraan dengan Darrell. Rasa bersalahnya kian menyusup ke ulu hatinya. Namun, ada rasa puas yang dirasakannya.


"Aku bahagia sekali. Dua pria sekaligus berada di sampingku. Wanita mana yang tidak beruntung mendapatkan dua pria yang sama-sama disayangi berada di tempat yang sama. Aku mencintai kalian berdua," ucap Callie di depan cermin.


Darrell yang sudah tidak sabaran lantas mengetuk pintu kamar mandi. Callie bergegas membukanya.


"Maaf, apakah aku terlalu lama?" tanya Callie.


"Aku tidak mau basa-basi lagi. Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Marcello? Katakan!"


Deg!


"Kami hanya bersahabat, tidak lebih. Kamu mencurigai aku berselingkuh?" Callie berusaha memojokkan suaminya.


"Aku tidak pernah mengatakan itu. Kurasa memang selain hubungan persahabatan, kalian sangat intim sekali. Bahkan, orang lain akan mengatakan kalau kalian seperti sepasang suami istri. Lalu, pegangan tangan di tempat umum juga wujud persahabatan yang kalian jalin? Iya?" Aura Darrell sangat berbeda.


"Sayang, kamu percaya padaku, kan? Aku dan Marcello tidak ada hubungan apapun selain persahabatan. Aku tidak bohong," ucapnya.


"Sepertinya pernikahan kita sudah harus diselesaikan dengan cepat, Callie."


Deg!


Sangat mengejutkan sekali. Callie bingung. Dia tahu bahwa pernikahan mereka memang tidak bisa dipisahkan secara administrasi, tetapi secara cinta dan logika itu bisa saja terjadi.


...🌲🌲🌲...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya



__ADS_2