Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 58. Maggia Wesley


__ADS_3

Seusai acara, para tamu undangan berpamitan pulang. Allegra mengumumkan bahwa pernikahan Darrell akan digelar dua minggu lagi dari acara hari ini. Sangat cepat memang karena itulah yang diinginkan papanya, Javer. Pria paruh baya itu tidak suka memundurkan sesuatu yang penting seperti pernikahan. Apalagi status baru Darrell yang merupakan seorang duda tanpa anak. Dia sangat pantas sekali menyandang gelar hot Daddy dengan postur tubuhnya yang tak kalah tampan dengan papanya.


Sharron sendiri sebenarnya ingin menginap di hotel, tetapi Allegra melarangnya.


"Masih ada kamar tamu, Sayang. Kamu jangan khawatir. Anak Mama tidak akan bertindak kurang ajar kepadamu," ucap Allegra.


Deg!


Bagaimana kalau sampai Allegra tahu bahwa Darrell lah yang telah mengambil hal yang terpenting dalam hidupnya? Mungkinkah wanita paruh baya itu akan menghukumnya?


"Terima kasih, Ma," jawab Sharron.


"Sharron, kalau Darrell macam-macam, papa mengizinkan kamu untuk menghajarnya," sahut Javer yang bersikap ramah pada Sharron.


Sharron merasa diterima dengan baik di keluarga besar Wesley. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan rencana yang akan dilangsungkan dua minggu lagi. Allegra yang akan mengurus semuanya dibantu dengan Sharron yang akan berada di Italia selama dua minggu.


"Darrell, papa tidak mengusirmu. Alangkah baiknya kamu kembali bekerja di Meksiko. Sementara Sharron akan berada di sini bersama mama," ucap Javer.


"Sebenarnya anak Papa itu aku atau Sharron?" tanya Darrell. Dia tidak menyangka bahwa setelah pertunangannya harus kembali lagi ke Meksiko.


"Kau mau menuruti Papa, atau pernikahan tidak akan pernah terjadi?" ancam Javer pada putranya.


Deg!


Sharron dan Darrell berpandangan sejenak. Entah, ini ancaman bercanda atau serius hanya Javer yang tahu.


"Papa yang membawaku ke Italia. Sekarang memintaku untuk kembali ke Meksiko. Apa maksudnya?" Darrell benar-benar tidak mengerti dengan keputusan papanya.


"Memangnya kau mau mengandalkan harta kekayaan Papa? Enak saja! Kalau sudah beristri, kamu juga harus bekerja. Kamu bisa memulai hidup barumu di Meksiko. Persiapkan segala sesuatunya untuk istrimu. Jangan hanya berpangku tangan saja."


Glek!


Astaga! Darrell pusing mendengarnya. Oke, yang memintanya untuk tinggal di Italia selama beberapa waktu adalah mamanya. Kali ini dia harus kembali lagi ke Meksiko dengan status dudanya. Perkara pernikahannya, semua akan diurus oleh asisten papanya.


"Sharron, kamu akan tinggal dengan mama sampai hari H pernikahanmu. Biarkan Papa menghukum anak nakal itu," ucap Allegra.

__ADS_1


Sharron tersenyum, sedangkan Darrell malah terlihat sedikit kesal.


"Mama! Aku ini pria dewasa. Mengapa seolah aku anak belasan tahun yang baru saja melakukan sebuah kesalahan terus mendapatkan hukuman yang tidak jelas ini? Kurasa Mama dan Papa sengaja membuatku menahan rindu pada calon istriku ini." Darrell mengacak rambut Sharron yang posisinya berada tepat di sampingnya.


"Darrell, turunkan tanganmu!" teriak Javer.


Oh God, begini saja sudah mendapatkan pembelaan dari Papa? Aku seperti anak tiri.


Sangat wajar kalau Allegra mencintai Sharron dengan cepat. Kisah masa lalunya yang membuatnya begitu cepat mencintai calon istri putranya.


"Mengapa Mama bersedih?" tanya Sharron.


"Ikut Mama ke kamarmu! Kita mengobrol di sana. Papa, jangan lupa besok pagi pastikan Darrell setelah bangun dari tidur langsung berangkat ke Meksiko. Jangan biarkan dia menengok anak gadisku," tegas Allegra.


Darrell ingin mengumpat kasar. Mamanya benar-benar berkuasa untuk menjaga calon istrinya. Bahkan, dia tidak diizinkan bertemu lagi dengan Sharron sampai hari H pernikahan.


"Pa, kalian tega sekali!" protes Darrell.


"Setidaknya Papa akan mengamankan gadis itu darimu. Papa tidak mau ada rumor kalau gadis itu hamil duluan atau apapun. Ingat, keluarga Wesley bukan keluarga yang suka tebar pesona dengan wanita yang bebas di luaran sana. Papa akan menjadikan Sharron sebagai wanita terhormat di sini. Tolong hormati keputusan Papa," ucap Javer yakin. Ada alasan mengapa dia melakukan hal itu. Pertama, status Sharron yang belum jelas membuatnya kesulitan. Kedua, kalau terus dibiarkan berdekatan dengan Sharron, bisa-bisa Darrell melupakan usahanya yang sudah dipercayakan pada Alan.


...🪴🪴🪴...


"Kamu sudah mengantuk?" tanya Allegra.


Hari memang sudah sangat larut sekali. Namun, Sharron masih penasaran. Mengapa tadi Allegra bersedih? Sharron juga sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang sudah disiapkan. Dia juga sudah membersihkan sisa make up di wajahnya.


"Belum, Ma. Oh ya, mengapa Mama bersedih?"


"Mama hanya teringat pada putri mama yang entah saat ini berada di mana."


"Putri mama hilang? Kalau boleh tahu, sekarang umur berapa, Ma?"


"Kalau dia masih hidup, kemungkinan seusia kamu, Sayang. Makanya, ketika Mama tahu bahwa Darrell memutuskan menikah denganmu, Mama langsung suka."


Deg!

__ADS_1


Apa mungkin kalau aku putrinya mama Allegra? Ah, itu tidak mungkin. Aku saja tidak tahu di mana aku dilahirkan. Hanya perasaanku saja. Kalau sampai aku adalah adiknya Darrell, aku tidak mungkin bisa menikah dengannya.


"Loh, kenapa kamu malah diam?" tanya Allegra.


"Ehm, tidak, Ma. Aku hanya khawatir saja. Jangan-jangan aku ini anak Mama yang hilang. Buktinya, Mama bisa langsung suka padaku," ucap Sharron.


"Itu tidak mungkin, Sayang. Kamu dan Mama ataupun dengan anggota keluarga juga tidak ada kemiripan, kan? Kalau sampai kamu itu anak Mama yang hilang, mana mungkin bisa menikah dengan Darrell? Itu larangan. Mama yakin kalau kamu memang bukan anak Mama. Kamu mencintai Darrell, kan?"


My goodness! Apalagi ini? Aku memang mencintai Darrell. Mengapa mamanya seolah ingin tahu semua isi hatiku?


Sharron tersenyum. "Iya juga, Ma. Kita bahkan tidak ada kemiripan sama sekali, ya. Ehm, apakah dia cantik?"


Melihat Darrell saja wajahnya sudah setampan itu, pasti adiknya jauh lebih cantik.


"Jawab dulu pertanyaan Mama! Apa kamu mencintai Darrell? Ya, walaupun rentang usia kalian cukup jauh, Mama rasa itu bukan masalah."


Deg!


Ternyata Allegra belum puas jika tidak mendapatkan jawaban apapun dari Sharron.


"Iya, Ma. Aku mencintai Darrell, anak Mama. Apa cukup jawabannya?"


"Terima kasih, Sayang." Allegra merentangkan tangannya supaya Sharron mendekat kemudian memeluknya.


Merasa diberikan kesempatan, Sharron pun lantas memeluk wanita paruh baya itu.


"Andaikan Maggia masih ada, aku pasti sebahagia ini, Sharron. Sayangnya sebuah tragedi telah memisahkan kami sampai saat ini. Pernah sekali waktu Mama membayangkan bahwa dia masih hidup. Dia pasti cantik, menarik, dan menjadi incaran banyak pria. Sayang, itu hanya halusinasi Mama yang selalu berharap dia masih hidup dan ada di sekitar kami."


Sharron mengelus punggung calon mama mertuanya untuk memberikan kekuatan. Jelas wanita itu rapuh.


"Mama harus merelakannya. Mungkin saja Maggia akan jauh lebih bahagia dengan jalan takdir yang diberikan Tuhan padanya. Kalaupun Maggia masih hidup, sewaktu-waktu Mama pasti dipertemukan lagi dengannya."


"Terima kasih, Sayang. Tidurlah! Maaf, Mama sudah membuatmu ikut merasakan kesedihan yang Mama pendam selama ini." Allegra melepaskan pelukannya.


Sharron membaringkan tubuhnya ke ranjang kemudian dibantu Allegra untuk memasang selimut tebal di kamarnya. Wanita paruh baya itu kemudian menghidupkan lampu tidur supaya Sharron merasa nyaman.

__ADS_1


"Tidurlah, Sayang! Besok masih banyak yang harus kita rencanakan."


Sharron mengangguk dalam temaram lampu kamar yang teduh itu. Dia memang sudah mengantuk. Allegra pun keluar dari kamar calon menantunya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan.


__ADS_2