Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 115. Kisah Masa Lalu Alexandria


__ADS_3

Balita berusia enam bulan lebih yang tengah lucu-lucunya membuat kebahagiaan Samuel Alexander dan istrinya tiada terhingga. Balita lucu yang selalu menggunakan segala kemewahan yang diberikan oleh daddynya.


"Sayang, kamu terlalu memanjakan bayi kita," ucap Philipia, istrinya.


"Sayang, ini masih wajar. Memangnya kenapa?"


Ya, Samuel memberikan perhiasan lengkap untuk putri tunggalnya itu. Selain itu, gaun-gaun indah untuk seorang balita selalu dipesannya dari desainer ternama. Kemewahan yang selalu diberikan ini sebanding dengan kekayaan yang dimilikinya.


Samuel memiliki istri yang cantik, kekayaan yang melimpah, dan gadis mungil yang lucu. Banyak orang yang iri pada keluarganya. Sedari kecil, Samuel memang terlahir dari keluarga kaya raya. Dia merupakan anak tunggal, sehingga generasi penerus AX Corporation diteruskan olehnya. Selain karena dia anak tunggal, bukan menyurutkan semangatnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia menjadi CEO yang selalu disegani semua karyawannya. Sikapnya yang ramah dan tidak tega membuatnya sangat dicintai seluruh karyawannya.


"Alexa masih kecil, Sayang. Tidak seharusnya kamu dandani layaknya wanita dewasa seperti itu. Lihat, penampilannya terlalu glamor! Aku tidak suka. Boleh aku simpan perhiasannya?" tanya Philipia.


Perbedaan pendapat antara Philipia dan Samuel adalah hal yang sangat wajar sekali. Itu tidak hanya terjadi saat ini, tetapi beberapa bulan lalu saat Alexandria terlahir. Hal itu terjadi saat pemberian nama pada Alexandria. Sebenarnya istrinya sudah memiliki nama lain, yaitu Juliette. Namun, Samuel tidak suka nama itu. Sebagai istri yang baik, hal itu tentu membuat Philipia menurut saja.


"Hemm, setidaknya dia menjadi Alexa ku, bukan Juliette milikmu," canda Samuel.


"Sayang, lupakan itu!"


Philipia tidak pernah lupa bagaimana cara Samuel mendapatkan nama Alexandria. Dia harus menggunakan semua karyawannya untuk mengikuti acara pemilihan nama secara masal sebelum kelahiran putrinya. Dia menyodorkan selembar kertas pada semua orang dan memintanya untuk menuliskan antara nama Alexandria ataupun Juliette. Pilihan terbanyak akan menjadi nama bayi yang akan menjadi penerus AX Corporation.


"Sudahlah! Hari ini katamu mau jalan-jalan. Aku akan mengantarmu," ucap Samuel.


Philipia yang sedang menyiapkan beberapa barang milik putrinya pun menghentikan aktivitasnya.


"Kita pakai sopir saja. Aku tidak mau pergi bertiga saja," tolak Philipia.

__ADS_1


Samuel memang selalu bersikap manis pada istrinya. Itulah mengapa Philipia selalu bersikap manis padanya. Bermanja selalu menjadi jalan ninjanya jika Samuel mulai menyebalkan.


"Sayang, sesekali gunakan suamimu ini sebagaimana mestinya. Maksudku, tidak ada salahnya kita quality time bersama. Mungkin saja ini pertama dan terakhir kalinya aku membahagiakan kalian," ucapnya dengan senyuman mengembang.


Selama beberapa hari ini, hati Samuel resah. Dia tidak biasa mengutarakan hal itu secara langsung pada istrinya. Dia tidak ingin membuat wanita yang sudah melahirkan anaknya itu ikut merasakan keresahan sepertinya.


Maafkan aku, Sayang. Aku selalu mencintaimu dan Alexandria.


"Kau bicara apa, Sayang? Seperti mau pergi jauh saja. Kita akan tetap bersama-sama untuk menjadikan Alexandria sebagai seorang CEO pertama di perusahaan. Aku tidak akan pernah membedakannya dengan anak laki-laki jika kelak Alexandria ditakdirkan memiliki adik," ucapnya penuh keyakinan.


"Jadi, kau sudah memikirkan adik untuk Alexa, atau memikirkan sesuatu yang membuatmu bahagia?" tanya Samuel.


"Ck, kau selalu saja mesum!"


Samuel memeluk istrinya dari belakang. "Aku ingin selalu seperti ini, Phi. Kuharap kamu selalu mau menemaniku dalam suka dan duka. Apa pun yang terjadi nantinya, kuharap kamu selalu menyayangiku dengan sepenuh hatimu."


"Tunggulah, Sayang. Biarkan seperti ini. Setidaknya kalau aku pergi jauh, aku sudah puas memelukmu sepanjang hari."


"Sam, hentikan mengucap hal yang tak penting itu!" Philipia membuka pelukan suaminya karena mendadak Alexa menangis.


"Tuh, Alexa menangis gara-gara kamu, kan," ucap Samuel.


"Maaf, Nyonya. Baby A sejak tadi menangis, tetapi saya sudah mengetuk pintu berulang kali, Anda terlihat sedang sibuk dengan Tuan. Jadi, saya urungkan," ucap baby sitter Alexandria.


"Kemarikan bayiku," pinta Philipia. "Oh ya, selesaikan berkemasnya, ya."

__ADS_1


Philipia menggendong bayinya. Alexa sudah tenang, sementara Samuel menatapnya dengan penuh sukacita.


"Sayang, kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Philipia.


"Sudahlah, Sayang. Kau mau bergosip terus, atau apa? Kita harus secepatnya berangkat," ucap Samuel.


"Iya, ini juga sudah selesai."


Samuel membawa perlengkapan Alexa. Mereka memang benar-benar ingin quality time. Tidak ada yang ikut. Sopir, pelayan, baby sitter, dan semua orang diliburkan selama mereka pergi berlibur. Sebelum itu, Samuel tak lupa memberikan kebahagiaan pada karyawan yang bekerja di mansionnya. Dia memberikan beberapa bonus yang tidak akan pernah dilupakan bahwa ternyata itu adalah bonus paling akhir dari tuannya.


Bergegas Samuel mengemudikan mobilnya. Semula, tak ada firasat apa pun bagi Philipia. Dia merasa kalau suaminya sengaja ingin memanjakan dirinya. Liburan ini pun sudah diagendakan sejak lama, tetapi dokter anak Alexa baru mengizinkan mereka pergi saat Alexa berusia enam bulan lebih.


"Sayang, aku berharap kelak putri kita mendapatkan suami yang sayang sekali padanya," ucap Philipia.


"Phi, pemikiranmu terlalu jauh, Sayang. Bahkan, bayi kita baru berusia enam bulan, kamu sudah sibuk memikirkan jodohnya," ucap Samuel.


"Tidak masalah, Sam. Aku merasa kalau kehidupan ini akan berakhir. Terkadang aku memandangi wajah Alexa saat tertidur. Aku merasa kalau akan meninggalkannya untuk selamanya. Terkadang, aku memikirkan bagaimana cara dia hidup sendirian di luar sana," ucapnya sendu.


"Hei, lihatlah Alexa! Dia terlelap dan sangat damai sekali dalam gendonganmu," ucap Samuel disela-sela fokusnya untuk mengemudi.


Philipia fokus memandangi putrinya hingga mobil yang mereka tumpangi melaju tidak terkontrol.


"Sayang, mobilnya kenapa?" teriak Philipia panik.


"Aku tidak tahu, Sayang. Kurasa remnya blong!" teriak Samuel.

__ADS_1


Mobil terus melaju tanpa bisa dihentikan sama sekali. Jalanan Copper Canyon yang dikelilingi jurang menjadi kisah cinta abadi antara Samuel Alexander dan Philipia Maureen diakhir kisah hidup mereka. Mobil mereka masuk ke jurang, tetapi sebelum itu, Philip secara sadar telah melemparkan putrinya sehingga dia jatuh lebih dulu. Setelah itu mobilnya meledak.


Pasca kecelakaan itu, asisten pribadi Samuel menemukan keberadaan Alexandria kemudian menitipkan bayi mungil itu ke sebuah panti asuhan. Dia menitipkan nama asli dan samaran pada bayi itu. Hanya orang lama yang tahu mengenai bayi Alexa. Namun, setelah itu satu persatu orang-orang yang melindungi Alexandria hilang tanpa pesan. Hingga kisah Alexandria yang berubah nama menjadi Sharron Alexandria untuk menghilangkan jejaknya. Karena setelah nama itu, Alexandria dikenal sebagai Sharron sampai saat ini. Sungguh memilukan sekali karena orang tuanya meninggal dengan cara yang tragis. Setelah itu, perusahaan tiba-tiba dipegang oleh Blair, pria yang tidak ada hubungan sama sekali dengan Samuel Alexander ataupun Philipia Maureen.


__ADS_2