
Flashback on.
Seorang wanita sedang menangis meratapi papanya yang terbaring tak berdaya di sebuah brankar sumpah sakit. Ya, dialah Callie Mavis. Dia sedang menunggu kedatangan kekasihnya, Darrell Wesley, yang sudah berjanji untuk menemui papanya yang sedang sekarat itu.
Tak lama, laki-laki muda yang belum genap berusia 30 tahun itu masuk kemudian mendekati brankar pasien.
"Sayang, bagaimana kondisi papamu?" tanya Darrell.
"Seperti ini, Sayang. Sejak tadi dia menunggu kedatanganmu. Aku takut kalau Papa lebih dulu pergi sebelum menyampaikan pesannya padamu. Aku takut tidak ada siapapun di dunia ini setelah kepergiannya," ucap Callie yang baru berusia 22 tahun.
Posisi yang tidak memungkinkan untuk seorang Alex Mavis bercerita panjang lebar, namun disisa napasnya yang sudah tersengal itu masih menyempatkan diri untuk menitipkan Callie pada pria yang selama ini bersama anak gadisnya itu.
"Da-rell, kau ta-hu bah-wa ak-u ti-dak a-kan la-ma la-gi. Ku-ti-tip-kan Ca-llie pa-da-mu. Ber-jan-ji-lah un-tuk ti-dak per-nah men-ce-raikan pu-tri-ku da-lam ke-adaan apa-pun," ucap Alex menggenggam erat tangan Darrell.
"Om, aku berjanji untuk selalu mencintainya sepanjang waktu dan aku tidak akan pernah meninggalkannya," ucap Darrell yakin.
"Se-te-lah a-ku per-gi, me-ni-kah-lah de-ngan-nya. Ka-li-an ha-nya bi-sa ber-ce-rai ji-ka sa-lah sa-tu ma-ti."
Deg!
Itu artinya janji Darrell pada papa Callie berlaku sampai maut yang memisahkan. Itu bukan masalah. Lagi pula, Callie dan Darrell saling mencintai. Mereka pasti bisa melaluinya dengan sangat baik.
Setelah mengucapkan janji pada papa Callie, tiba-tiba napas Alex tidak beraturan sehingga dia menghembuskan napas terakhirnya.
Setelah kematian papanya, Callie menikah dengan Darrell. Sebagai wujud janji yang diberikan pada mendiang papanya, Darrell selalu mencintai Callie dengan sepenuh hati. Dia juga sudah berjanji untuk tidak akan pernah menceraikan wanita yang dicintainya itu.
Flashback off.
"Darrell, maafkan aku. Tapi, aku tidak mau kalau kau menceraikan aku. Apa kamu lupa tentang janjimu pada papaku sebelum meninggal kala itu? Kau sudah berjanji untuk tidak menceraikanku dalam kondisi apapun. Mari kita perbaiki hubungan kita, Darrell. Aku berjanji tidak akan menemui Marcello lagi."
Ya, semuanya salah. Tidak hanya Darrell, Callie pun juga salah. Teringat janji yang diberikan pada papa Callie, Darrell pun melunak. Dia bukan pria yang mudah mengingkari janjinya.
"Kemarilah, Callie! Aku minta maaf padamu. Kalau memang kamu berniat untuk memperbaiki hubungannya, mari kita pulang bersama kemudian memulai kehidupan yang baru. Tapi, aku minta satu hal darimu. Kejujuran. Maukah kamu jujur padaku tentang apa yang terjadi?" ucap Darrell.
Banyak kebohongan yang sudah dibuat oleh Callie pada suaminya. Mungkinkah pria itu mau memaafkan kesalahannya di masa lalu? Ah, bukan masa lalu. Lebih tepatnya beberapa waktu yang lalu.
"Aku mau. Tapi, maukah kau juga jujur padaku?" tanya Callie.
__ADS_1
"Tentu. Demi janjiku pada mendiang papamu dan hubungan pernikahan kita. Kurasa sudah saatnya kita berbaikan," ucap Darrell yakin.
Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Darrell sudah terlanjur membagi cintanya pada Sharron. Sanggupkah dia mengatakan kejujuran pada istrinya itu?
Keputusan yang tepat adalah pulang kemudian kembali pada kehidupan yang sesungguhnya. Callie pun setuju dengan permintaan Darrell untuk kembali ke mansionnya.
...***...
Suasana mansion masih sama. Kedua orang tua Darrell masih berada di sana ketika melihat putra dan menantunya kembali.
"Akhirnya kalian kembali juga," ucap Allegra.
"Ma, tolong biarkan kami menyelesaikan masalah ini dulu. Aku minta maaf," ucap Darrell kemudian mengajak istrinya untuk langsung masuk ke kamar.
Seusai membersihkan diri kemudian memakan makanan yang dikirimkan ke kamarnya, sepasang suami istri ini memulai perbincangannya.
"Kau jatuh cinta dengan Marcello?" tanya Darrell.
"Iya. Aku mencintainya sebelum kita menjalin hubungan. Maafkan aku, Darrell. Tapi, aku sudah berjanji untuk melepaskannya demi kembali padamu. Lalu, bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?"
"Aku sudah jatuh cinta padanya, Callie. Namun, aku memintanya untuk mengakhiri sejenak hubungan ini. Aku sudah terlalu jauh mengenalnya. Namun, demi janjiku pada papamu, aku akan mengakhiri segalanya sama seperti hubunganmu dengan Marcello yang harus berakhir."
"Cantik kah wanita itu? Sampai kau sudah jatuh cinta padanya." Rasa penasaran Callie sangat tinggi.
"Kau sudah tahu orangnya, Callie."
"Siapa?"
"Alexa."
Deg!
Wanita yang pernah dinner bersamanya di mansion Tuan Blair beberapa bulan lalu. Sangat cantik menurutnya.
"Kau masih mencintainya?" tanya Callie.
"Iya, aku sangat mencintainya. Tapi, aku telah merusak segalanya. Tentang janjiku pada papamu."
__ADS_1
"Tidak mengapa, Sayang. Kita sama-sama bersalah dalam hal ini. Kurasa sebaiknya kau mengubah cara kerjamu." Callie sebenarnya ingin menikmati suasana di luar mansion.
"Cara kerja yang bagaimana?"
"Ehm, sekali waktu ajaklah aku untuk pergi ke kantor. Setidaknya supaya aku tidak jenuh di sini. Bagaimana?"
Bukan perkara yang sulit untuk menyetujui permintaannya itu.
"Apa kamu tidak bosan menungguku bekerja?" Sudah pasti sama-sama terganggu. Darrell tidak menyukai kalau seseorang sedang menunggunya. Sementara Callie sendiri sebenarnya takut bosan berada di kantor Darrell seharian.
"Aku bisa melihat lingkungan kantormu. Bisa juga aku keluar sebentar untuk mencari angin. Tidak masalah, kan?"
Darrell tidak bisa menolaknya. Dia juga tidak akan menanyakan perihal adopsi anak yang digadang-gadang beberapa hari yang lalu. Saat ini yang dibutuhkan ketenangan untuk mengembalikan mood masing-masing.
Rumah tangganya sudah kembali seperti sedia kala. Itu artinya Darrell harus menemui Sharron untuk yang terakhir kalinya. Bagaimanapun hubungannya dengan Callie patut dipertahankan karena sebuah janji di masa lalu.
...***...
Keesokan harinya, walaupun dia tidak bisa bertemu Sharron secara langsung karena gadis itu masih berada di Swiss, Darrell menitipkan sebuah surat pada Noelle, sahabatnya.
"Maaf, Anda siapa, Tuan?" tanya Noelle yang baru saja membuka pintu apartemennya.
"Aku Darrell. Bisakah aku menitipkan surat ini untuk Sharron?" ucap Darrell sembari menunjukkan sebuah amplop berwarna putih.
"Maaf, apakah Anda mengenal Sharron?" tanya Noelle.
"Dia sugar baby-ku. Aku hanya mengirimkan ini saja. Berikan padanya ketika pulang nanti."
Sugar baby? Kok sepertinya Darrell ini lebih paham Sharron daripada Alan. Apakah ada yang Sharron sembunyikan padaku? Atau, sebenarnya dia sudah selesai dengan Alan kemudian berhubungan dengan Darrell. Hari ini Darrell mengirimkan bayaran untuknya di dalam sebuah amplop. Oh God, aku tidak paham.
"Baiklah. Akan kusampaikan padanya."
Darrell kembali. Dia merasa berat dengan janji dan masa lalunya yang tetap harus ditepati. Bagaimanapun buruknya Callie ataupun dirinya di masa lalu, masih ada waktu untuk berubah dan memperbaiki diri menjadi lebih baik.
...🌲🌲🌲...
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya
__ADS_1