
Kepanikan Darrell terlihat jelas di wajahnya. Sharron dibawa ke sebuah kamar hotel di mana mereka melakukan konferensi pers hari ini.
"Aku akan memanggil dokter, Sayang. Tunggu dan tahan sakitnya!"
"Sayang, aku sudah baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan!"
Setelah mengalami kram sejenak, perutnya memang mulai membaik. Namun, dia ingin tahu perihal kehamilan dari mama mertuanya.
"Aku panggilkan mama, ya?"
Sharron mengangguk.
Tak lama, Allegra sudah berada di kamar mereka. Dia mengelus perut menantunya itu.
"Jangan khawatir, Sayang. Kamu hanya kelelahan. Setelah ini, aktivitasnya jangan terlalu berlebihan, ya," ucap Allegra.
Wanita itu menceritakan bagaimana ketika hamil Darrell dan Maggia. Rentang waktu yang sangat jauh membuat kehamilan Maggia seperti hamil pertama kali. Sangat aneh dan mencoba segalanya dari awal.
"Kenapa lama, Ma?" tanya Sharron.
"Iya, jaraknya 10 tahunan, Sayang. Jadi, ya agak aneh saja saat suamimu sudah masuk bangku sekolah, adiknya lahir. Darrell sempat kesal karena Mama fokus pada Maggia," jelasnya hingga membuat Darrell mencoba mengingat masa itu.
Setelah itu, Maggia hilang. Makanya sedikit banyak Darrell masih bisa mengingat dengan jelas.
"Kalau nantinya aku tidak akan mau punya anak dengan jarak yang jauh seperti Mama. Kamu mau tahu alasanku?" tanya Darrell pada istrinya.
"Memangnya apa?" tanya Sharron.
"Aku pasti terlihat sangat tua jika kamu melahirkan anak 10 tahun kemudian. Mereka pasti bertanya-tanya siapa aku?" jelas Darrell.
"Memangnya siapa kamu?" tanya Allegra.
"Kakeknya!"
Semua orang tertawa mendengar penuturan Darrell.
...🍓🍓🍓...
__ADS_1
Tak lama setelah melangsungkan konferensi pers itu, Darrell sudah membagi tugasnya bekerja di perusahaan istrinya. Beberapa perbaikan dilakukan di sana. Sementara Alan, dia masih fokus memegang perusahaan lama Darrell.
Orang tuanya pun sudah kembali ke Italia, sedangkan Noelle saat ini tinggal di apartemen yang sama dengan kakak sekaligus Alan.
Darrell memutuskan untuk meninggalkan mansion dan menjualnya. Beberapa barang itu nantinya akan dipindahkan ke mansionnya yang baru. Saat ini masih mengalami proses pembangunan.
"Sayang, kamu yakin menjual mansion lamamu?" tanya Sharron.
Setiap hari saat Darrell hendak ke kantor, Noelle selalu menemani kakak iparnya itu. Sehingga Darrell tidak perlu khawatir lagi mengenai kondisi istrinya.
"Aku yakin, Sayang. Kita mulai kehidupan baru dengan rumah baru. Paling cepat, pembangunan mansion itu akan berjalan selama 2 tahun. Maka dari itu, kamu harus bersabar sedikit untuk tinggal di apartemen ini, ya," jelas Darrell.
"Tidak masalah, Sayang. Yang penting kamu bisa menyelesaikan masalah AX Corporation dengan baik. Sebentar lagi kamu juga harus berusaha mengeluarkan Blair dari penjara, bukan?"
Darrell hampir melupakan satu hal itu. Itu tugasnya dan Alan. Papanya sudah pulang sehingga dia harus mengawal kasus ini hingga tuntas.
Sarapan pagi terhidang di meja. Semenjak Sharron hamil, maka Darrell menugaskan salah satu pelayan mansion kepercayaannya untuk mengurusi apartemennya.
"Kita sarapan dulu, setelah itu aku harus pergi ke kantor. Kalau hari ini kamu mau pergi berbelanja dengan Noelle, jaga diri baik-baik. Aku sudah meminta satu mobil khusus untuk mengantarkan kalian berdua. Akan ada sopir yang siap ke manapun kalian pergi."
Selagi menikmati sarapan, bel apartemen berbunyi hingga pelayan yang turun tangan untuk membukanya. Rupanya yang datang adalah Noelle. Dia terbiasa sarapan pagi bersama di apartemen kakaknya.
"Pagi, Sharron!" sapa Noelle.
Semenjak tahu bahwa Darrell adalah kakaknya, Noelle tetap memanggil kakak iparnya itu Sharron. Lantaran sebagai sahabat, rasanya tidak nyaman sekali harus memanggilnya kakak ipar.
"Pagi! Apa kabarmu?" tanya Sharron.
"Baik," jawabnya. Dia langsung duduk dan bergabung di meja makan.
"Seharusnya kamu tidak sarapan pagi di sini," sindir Darrell.
"Hemm, lalu aku harus sarapan di mana? Pelit sekali!"
"Kurasa lebih baik kamu turun ke apartemen Alan. Temani dia! Daripada harus menggangguku seperti ini!"
Darrell merasa privasinya sudah terganggu lantaran setiap pagi adiknya itu selalu datang untuk sarapan pagi bersama. Tidak hanya itu. Saat makan malam pun terkadang Noelle datang. Dia harus mengikuti pesan mamanya untuk selalu berkumpul bersama keluarga. Ini jalan satu-satunya untuk bisa bersama kakaknya.
__ADS_1
"Hemm, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Alan. Jadi, jangan paksa aku untuk datang ke sana."
Pertengkaran demi pertengkaran antara kakak dan adik itu terus saja terjadi. Sharron cuma bisa memandanginya dengan tatapan yang entahlah tidak bisa diartikan. Bayangannya jelas bukan pada adik dan kakak itu lagi, melainkan pada anaknya yang akan lahir.
"Noelle, Sayang, apa kalian tidak capek ribut terus? Aku saja yang mendengarnya semakin pening. Oh ya, Noelle, beberapa waktu lalu aku bertemu lagi dengan Marcello. Yah, kamu tahu sendirilah sikapnya seperti apa padaku," jelas Sharron.
Darrell merasa geram saat mendengar namanya. Bukannya kedamaian yang akan datang, melainkan keributan yang tak berkesudahan. Ingin rasanya mendepak pria itu dari dasar bumi menuju ke angkasa supaya menghilang.
"Abaikan saja, Sharron! Aku tidak mau kalau kamu dekat atau sampai bertemu dengannya," tegas Noelle yang sudah geram sekali pada Marcello. Melihat wajahnya saja enggan, apalagi bertemu dengannya.
"Daripada aku mendengar perbincangan kalian yang tidak bermutu itu, lebih baik aku pergi ke kantor. Menyelesaikan kekacauan peninggalan tuan Blair," pamit Darrell.
Sharron sebagai istri malah bermanja-manja di hadapan adik iparnya.
"Sayang, jangan lupa berikan kecupan pada istri dan anakmu ini," pinta Sharron sembari menunjuk kening dan perutnya secara bersamaan.
"Aduh, tolong berhenti bersikap romantis di hadapanku!" seru Noelle.
Noelle sengaja memberikan candaan itu lantaran sampai saat ini belum ada pria yang dekat dengannya.
"Hemm, kalau kamu mau, tinggal turun lalu tekan bel di apartemen Alan. Minta dia memanjakan kamu!" balas Darrell.
"Ih, ogah! Aku tidak suka padanya," jawab Noelle dengan gamblang.
"Benci dan cinta beda tipis, Noelle. Apalagi bodoh dan cinta, seperti aku ini. Bodoh karena terlambat mencintai Sharron," ucapnya setelah mengecup kening istrinya
Kini, dia beralih ke perut istrinya yang belum terlihat buncit itu.
"Sayang, jaga Mommy baik-baik, ya!"
"Iya, Dad. Aku pasti jaga Mommy dengan baik," ucap Sharron menirukan suara bayi yang baru bisa bicara.
"Astaga! Kak, cepat pergi sana! Semakin hari malah aku makin kesal disuguhkan hal sedemikian rupa," ucap Noelle.
Darrell semakin tidak peduli. Justru dia semakin menunjukkan kemesraan itu di depan adiknya. Biar dia tahu rasa bagaimana menahan keinginan yang menggebu. Semakin Noelle kesal, Darrell terus saja memanjakan istrinya itu di depan Noelle tanpa mau tahu perasaan adiknya itu.
Noelle rasanya ingin kabur. Namun, yang menikah dengan kakaknya adalah sahabat sendiri sehingga tidak mungkin dia mengecewakan Sharron. Bagaimanapun mereka sudah tinggal bersama cukup lama. Sehingga Noelle sudah hapal betul bagaimana perangainya.
__ADS_1