
Mobil meluncur dari rumah sakit menuju ke apartemen. Allegra dan Javer sudah mengabari kalau posisi mereka saat ini berada di bandara.
"Turunkan aku di apartemen! Aku akan menyiapkan beberapa kebutuhan kakak dan Sharron. Sementara itu, bisakah kamu jemput mama dan papa?" tanya Noelle.
"Kenapa tidak sekalian jalan saja. Aku juga mau membersihkan diri dulu."
Sejujurnya Noelle malas sekali bersama dengan Alan, tetapi ingat kakaknya yang masih memerlukan dirinya, terpaksa dia menyetujui pria itu.
"Baiklah. Bersihkan dirimu dulu! Aku akan masuk ke apartemen kakakku," pamit Noelle.
Tak butuh waktu lama hingga mereka kembali ke mobil yang sama. Mobil yang sejatinya sudah terparkir rapi di basemen. Jika bukan karena tuannya, Alan pun malas sekali keluar. Dia ingin beristirahat di dalam kamarnya.
Tujuan pertama mereka adalah bandara. Menjemput orang tua Darrell yang mendadak harus datang karena kabar duka itu.
Rupanya mereka sudah menunggunya di sana. Javer dan Allegra segera masuk ke mobil. Sepasang suami istri itu duduk di belakang, sementara Noelle terpaksa duduk di samping Alan atas permintaan mamanya.
"Kalian cocok," ucap Allegra saat mobil mulai melaju meninggalkan bandara.
Uhuk!
Alan dan Noelle terbatuk-batuk. Mereka berdua tidak menyangka kalau ucapan Allegra barusan sangat menggangu sekali.
"Loh, kenapa respon kalian seperti itu? Apa ucapanku ada yang salah?" tanya Allegra.
"Tidak, Ma. Bukan itu. Mama hanya salah paham saja. Aku dan Alan hanya mengikuti perintah kakak. Tidak ada maksud apa pun dalam hubungan ini." Noelle menoleh sejenak ke arah mamanya dan meyakinkan wanita itu.
"Alan, sudah waktunya kamu mencari pendamping hidup," ucap Javer.
Glek!
Alan berusaha bersikap biasa saja. Padahal dia sedang mengemudikan kendaraannya. Kalau setiap kata-kata orang tua tuannya itu selalu membuat dadanya berdebar, dia menakutkan sesuatu akan terjadi pada dirinya. Bisa saja Alan jantungan, bukan?
"Ah, apa yang Tuan katakan? Aku masih fokus mengurus perusahaan tuan Darrell yang diserahkan padaku," jawab Alan.
__ADS_1
Sebagai pria normal, Alan pun sebenarnya menginginkan hal yang sama. Namun, kesibukan perusahaan seolah mengikatnya selama 24 jam. Lalu, kapan dia akan mengurusi hatinya?
"Cinta dan pekerjaan harus sejalan, Alan. Semakin hari, usia seseorang tidak muda. Perlahan mulai menua. Seperti putraku, saat ini dia sedang berduka karena keinginannya untuk memiliki anak harus tertunda karena masalah ini. Kami pun ingin lekas memiliki cucu. Kalau kejadiannya sudah seperti ini, tidak akan bisa dinego lagi. Ini urusannya dengan garis takdir," jelas Javer.
Sebagai orang tua, Javer memang sangat bijak. Kali ini pihak keluarganya tidak memaksakan kehendak lagi untuk memiliki cucu. Mereka membiarkan anak-anaknya dengan jalan hidup masing-masing.
Semula Allegra tidak setuju dengan keputusan Javer. Namun, setelah mendengar semua pendapat suaminya, Allegra jadi memikirkan posisinya sebagai Sharron yang saat ini terpuruk.
"Anda benar sekali, Tuan. Kalau tuan Darrell mau memerger perusahaan nyonya Sharron dan perusahaan lama, mungkin aku bisa lekas mencari pendamping hidup. Saat ini kami sibuk sekali mengurus beberapa proyek yang sempat terbengkalai," jelas Alan.
Sebenarnya takdir Alan bergantung pada tuannya. Sempat Darrell menyampaikan untuk segera mencari kekasih, tetapi kenyataannya waktu Alan lebih banyak mengurus Darrell daripada hatinya.
Sesampai di rumah sakit, Noelle membawa satu tas penuh baju milik Darrell dan Sharron. Alan diam saja. Dia tidak ingin menawarkan bantuan apa pun yang akan mengakibatkan kesalahpahaman.
"Mana tasnya? Biar Mama yang bawa!" pinta Allegra.
Noelle menyodorkan tas itu kemudian ikut berjalan di belakang orang tuanya. Alan tidak ikut masuk. Dia lebih memilih duduk di dekat tempat parkir.
Selama perjalanan menuju kamar rawat Sharron, sesekali Allegra bertanya pada Noelle. Perihal hati dan rencana kedepannya.
"Aku tidak tahu, Ma. Maaf, Noelle bukan seperti wanita pada umumnya yang masih suci atau apa. Pasti banyak pria yang menolakku karena tahu masa laluku yang buruk."
Perjalanan singkat itu membawa mereka ke sebuah kamar VVIP yang di dalamnya berisi sepasang suami istri. Mereka sedang berada di dalam pikiran masing-masing hingga tamunya datang mengejutkan.
Perubahan mimik muka Sharron sangat jelas. Dia ketakutan sekali saat mama mertuanya datang.
"Mama, Papa! Kalian sudah sampai?" Darrell berdiri menyambut mereka.
"Iya, dari bandara langsung ke sini. Oh ya, kenapa ini bisa terjadi? Bukankah kamu selalu mengetatkan pengawalan?" tanya Javer. Dia yakin kalau putranya kali ini kecolongan.
"Aku tidak tahu, Pa. Ini kelalaianku. Aku minta maaf." Darrell pasang badan supaya orang tuanya tidak menyalahkan Sharron.
"Pasti ada orang yang tidak suka dengan kalian. Maksud Mama, ini pasti ulah Bellatrix atau Blair," sahut Allegra. Dia meletakkan tas itu tidak jauh dari tempat duduk Darrell.
__ADS_1
Semula Darrell pun memikirkan hal yang sama. Namun, kenyataannya yang tertangkap malah Marcello.
"Bukan, Ma! Itu semua ulah Marcello. Aku kehilangan bayiku gara-gara dia. Kali ini kami tidak akan pernah memaafkannya," ucap Darrell.
Hal itu yang membuat Sharron terkejut. Awalnya dia pikir keracunan ini adalah hal biasa. Nyatanya malah pria itu yang menyebabkan dirinya seperti ini.
Kenapa semua ini terjadi padaku? Bukankah aku tidak ada hubungan dengannya? Kenapa pria itu selalu saja menghantui pernikahan kami?
"Hei, Sayang. Jangan dipikirkan. Mama tidak masalah. Hanya saja, Mama turut berdukacita karena kehilangan calon cucu kami," jelas Allegra.
"Terima kasih kalau Mama sudah mau mengerti. Kami tidak tahu kalau kejadian ini akan menimpaku dengan sangat cepat. Rasanya aku masih tidak percaya, Ma." Kecemasan Sharron tidak terbukti.
"Ma, bisakah aku minta tolong padamu?" tanya Darrell. Sedari tadi dia kewalahan untuk merayu istrinya.
"Ada apa, Darrell?"
"Mungkin putramu ingin agar kau merayu Sharron, Ma. Biasanya dia kalau sudah menyerah, maka kamu akan dilibatkan di dalam urusannya," sahut Javer.
Papanya selalu mengamati tingkah laku anaknya yang terlihat tidak biasa itu. Kali ini dugaannya tidak akan salah sama sekali.
"Papa bisa membaca pikiran Kakak?" tanya Noelle. Jangan sampai papanya bisa membaca pikirannya juga.
"Sedikit. Terkadang Papa tahu apa yang ingin disampaikan Darrell pada Mama," ucap Javer.
Sejenak mereka menertawakan Darrell. Pria berkharisma dan sangat berumur itu masih mengandalkan mamanya sebagai senjata.
"Apa yang ingin Mama lakukan untukmu?" tanya Allegra.
"Paksa istriku untuk makan, Ma! Sulit sekali mengendalikan wanita. Siapa tahu sesama wanita kalian bisa berkompromi," ucap Darrell tanpa malu lagi di hadapan banyak orang.
"Sayang!" seru Sharron. Dia malu sekali diperlakukan seperti ini.
"Kenapa kamu tidak makan, Sharron? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Kali ini Noelle berinisiatif.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Sharron bisa makan dengan tenang? Sementara dirinya baru saja kehilangan janinnya. Keceriaan yang semula ditunjukkan kini berubah menjadi diam tanpa kata. Bayangan menggendong bayi yang semula menjadi cita-citanya, kini pupus dalam satu waktu.