
Darrell hari ini bekerja di kantor. Dia sudah kembali seperti semula. Memimpin perusahaan yang selama ini sudah dibangun berkat jerih payahnya selama ini. Walaupun sempat beberapa kali mendapatkan back up dari perusahaan papanya di Italia, tetapi akhirnya bisa berkembang pesat.
Alan yang baru saja datang dengan tampangnya yang terlihat loyo. Semalaman dia berada di rumah sakit untuk menunggui wanita yang ditolongnya.
Tok tok tok.
Alan mengetuk pintu ruangan atasannya kemudian langsung masuk. Dia melihat tuannya sedang fokus melihat ke arah laptopnya.
"Baru datang?" tanya Darrell.
"Iya, Tuan. Aku mengantar Noelle pulang ke apartemennya."
"Bagaimana kondisinya?"
"Dia cerewet sekali!" seru Alan.
"Bukan itu. Kondisi kesehatannya setelah pulang dari rumah sakit."
"Seperti tidak terjadi apapun. Aku heran sama psiko model sepertinya. Tuan tahu bahwa dia tidak merasa salah sekali dalam hal ini. Padahal sudah jelas kalau dia itu dijadikan bahan taruhan oleh sugar daddynya."
Darrell memandang lekat asistennya itu. Biasanya dia tidak secerewet itu mendadak seperti berubah total.
"Kau berubah, Alan. Sejak kapan kamu peduli pada orang lain? Maksudku, sejak kapan kamu peduli pada wanita? Apalagi tipe seperti Noelle itu wanita yang sangat sulit ditaklukkan kalau tidak ada uang. Bukan berarti aku menyepelekan kamu sebagai asistenku. Atau, jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta padanya?"
Glek!
Cinta? Mana mungkin Alan jatuh cinta pada wanita bar-bar sepertinya? Jelas saja kalau Noelle tipikal wanita yang mudah gonta-ganti laki-laki. Mungkin karena sebuah pekerjaan yang menuntutnya seperti itu.
"Tidak mungkin, Tuan. Kalau aku boleh memilih, aku pasti akan memilih wanita seperti Sharron. Dia cantik, menarik, dan polos," pujinya pada Sharron.
"Apa? Jadi, kau tertarik pada calon istriku? Yang benar saja, Alan. Di dunia yang luas ini masih banyak wanita selain Sharron dan Noelle. Kau harus tertarik pada mereka. Oke?"
Darrell tidak ingin asistennya itu mencintai wanita yang sama dengan dirinya. Sharron adalah hak paten yang sudah tidak bisa dimiliki orang lain. Mengingat calon istrinya, dia sangat rindu sekali.
__ADS_1
Darrell mengambil ponselnya berniat untuk menghubunginya. Nyatanya malah ponsel Sharron tidak aktif.
"Sial! Mama dan papa rupanya benar-benar membuatku gila."
"Kenapa, Tuan? Apa ada yang salah?"
"Mereka membiarkan Sharron tinggal di mansion sementara mengusirku seperti anak tirinya. Entahlah, mungkin karena mama teringat pada Maggia. Andaikan saja Maggia masih hidup. Aku pasti akan menjodohkanmu dengannya."
Alan memang pernah mendengar kisah Maggia. Bayi yang memiliki rentang usia 10 tahun dari Darrell, kakaknya. Namun, segala upaya sudah diusahakan keluarga besar Wesley. Nyatanya tidak ketemu sampai hari ini. Sebenarnya keluarga Wesley menyimpan rahasia besar karena kejadian itu.
"Tuan, bolehkah aku bertanya satu hal padamu? Aku tahu ini sangatlah tidak pantas kutanyakan."
"Katakan! Kalau aku bisa menjawab, maka akan aku jawab."
"Sebenarnya apa yang Tuan ingat saat kejadian hari itu? Kejadian di mana Maggia diculik. Mungkin ada sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh tuan Javer. Apakah tidak ingin mencoba pencarian lagi? Siapa tahu kalau ternyata Maggia itu masih hidup."
Alan benar. Apalagi sebentar lagi orang tuanya akan mengadakan pesta pernikahan untuknya. Seandainya adiknya kembali, orang tuanya tidak akan sibuk menahan Sharron di mansionnya.
Alan mencoba mencerna ucapan tuannya. Jawabannya memang hanya ada pada Javer, papanya. Ada sisi lain yang tidak diketahui Alan dari pria paruh baya itu.
Mungkin tidak sekarang. Kesempatanku hanya pada saat pernikahan tuan Darrell. Aku akan banyak menggali informasi supaya aku bisa membantu menemukan putrinya. Tuan Javer harus menjawab semuanya.
"Tuan, bagaimana kalau siang ini kita makan bersama? Sudah lama kita tidak makan siang bersama sekaligus membicarakan pekerjaan."
Benar. Setelah meninggalnya Callie kemudian selama beberapa bulan Darrell berada di Italia. Tak ada waktu hanya untuk sekadar makan siang, membicarakan proyek, dan tentunya curahan hati masing-masing. Walaupun sebagai bawahan dan atasan, kedua pria ini bisa terlibat hubungan pertemanan yang cukup unik.
...****************...
Darrell memilih restoran Italia yang menyediakan berbagai makanan dari negaranya itu. Seperti biasa, Darrell akan duduk santai dengan beberapa makanan yang dipesan sebelum dia datang.
"Tumben restoran tidak seramai biasanya?" tanya Darrell. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka berkunjung ke sini.
"Mungkin sedang lelah saja, Tuan. Maksudku ibarat seorang pria kepada wanita. Kalau wanitanya menarik, pria itu pasti akan sering datang. Mungkin orang-orang sedang bosan saja dengan restoran ini."
__ADS_1
Darrell yang semula berpikir akan mendapatkan jawaban bahwa tempat ini sepi karena banyak restoran lain yang membuka usaha di sekitar malah dihubungkan dengan wanita.
"Kau ini menyindirku! Jadi, kau anggap Sharron itu restoran Italia buatku, hah? Kurasa sebaiknya kamu cepat-cepat mencari wanita dan lekas nikahi dia," perintah Darrell.
"Bukan seperti itu, Tuan! Aduh, aku salah lagi. Sepertinya Anda sudah menjadi pria labil sekarang."
Glek!
Asistennya sudah berani mengatainya. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam, Alan hanya mencoba membandingkan saja.
"Aku labil?"
"Iya, Tuan labil sekarang. Seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja."
"Bukan seperti itu, Alan. Mendekati hari H pernikahan, pikiranku semakin tidak menentu. Ada rindu yang tertahan karena orang tuaku memutus akses hubungan dengan Sharron. Kau kira aku sanggup seperti ini selama dua minggu? Tanpa tahu kabar darinya aku bisa gila!"
"Mengapa Anda tidak mencoba menghubungi nyonya Allegra? Dia pasti mau membantu." Alan sesekali mencicip makanan di hadapannya. Anggap saja seperti makan siang santai tanpa beban.
"Kau pikir mama semudah itu memberikan akses untukku? Tidak, Alan. Kau tahu bahwa mama memperlakukan Sharron seperti putrinya sendiri sedangkan aku seperti anak yang terbuang!"
Alan tersenyum memandang tuannya. Beginikah perilaku orang yang sedang jatuh cinta? Selain sensitif, terkadang juga lebih emosional.
"Bersabarlah, Tuan. Hanya tinggal beberapa hari lagi maka Anda dan nona Sharron akan hidup di dalam satu mansion. Ehm, apakah setelah menikah Anda akan tinggal di mansion sebelumnya?"
Maksud Alan karena mansion yang lama adalah kenangan antara Darrell dan Callie. Mungkin sebaiknya dia memiliki tempat yang baru.
"Tidak! Aku akan tinggal di apartemen yang dulu. Tempat kami selalu bersama," ucap Darrell membuat perhatiannya semakin lekat ke arah Alan.
"Bukan ide yang buruk. Bagaimana setelah itu kita menyelediki kehidupan masa lalu nona Sharron? Siapa tahu kalau orang tuanya masih hidup."
"Apa sebenarnya tujuanmu, Alan? Mengapa kau ingin sekali menemukan keluarga Sharron?"
Darrell semakin curiga pada asistennya. Entah, apa yang akan terjadi jika Sharron bertemu dengan keluarganya? Marahkah? Bencikah? Atau, ada sesuatu yang terjadi dengan keluarganya di masa lampau? Rasa cinta Darrell pada Sharron telah membuat mata hatinya terbuka untuk setuju dengan saran yang diberikan Alan. Dia juga akan mencari keberadaan adiknya jika masih diberi kesempatan bahwa adiknya itu hidup.
__ADS_1