
Noelle sampai di kantor AX Corporation tepat waktu. Dia malah belum melihat tanda-tanda kedatangan tuan Blair. Aman baginya untuk sekadar berkeliling karena ini kali keduanya datang ke gedung yang menjulang tinggi itu.
Huft, sebaiknya aku berkeliling dulu. Sukur-sukur aku menemukan petunjuk di sini.
Noelle memantapkan keyakinan untuk sekadar berkeliling. Suasana kantor memang masih sepi, tetapi rupanya niat Noelle tertahan karena seseorang memanggilnya.
"Mary!" teriak Blair.
Oh, ya ampun! Dia sudah datang.
Noelle berbalik untuk menyambut kedatangan tuannya. Entah, hari ini pekerjaan apa yang akan didapatkan dari Blair.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa Noelle.
"Pagi! Kamu sudah datang?" tanya Blair heran.
"Bukankah Tuan tidak suka kalau punya karyawan yang datang terlambat?"
"Kamu benar! Ayo ikut ke ruanganku. Bantu aku menyiapkan beberapa berkas."
Noelle sempat bingung. Sebenarnya Blair mempunyai sekretaris, asisten pribadi atau tidak? Kebanyakan yang Noelle tahu, seperti Darrell yang berduet dengan asisten pribadinya bernama Alan. Sementara pria di hadapannya ini nampak tenang bekerja sendirian.
Ruangan yang cukup besar menjadi ruang kerja Blair. Ini tempat yang menurut Noelle lebih mewah daripada ruang kerja di perusahaan W Corporation. Memang benar kalau AX Corporation adalah perusahaan besar, tetapi Noelle tidak banyak melihat pekerja di sana. Tak banyak yang lalu lalang. Semua hanya akan dilakukan oleh satu orang yang bisa keluar masuk ruangan Blair. Termasuk dirinya saat ini.
"Tuan, bolehkah aku bertanya padamu?" ucap Noelle lirih.
"Katakan!"
Deg!
Mengapa Noelle semakin was-was ketika hanya berdua saja dengan tuannya. Rasanya aneh sekali.
"Tuan tidak memiliki sekretaris atau asisten pribadi? Maksudku sebelumnya."
Blair nampak menghentikan aktivitasnya. Dia melirik sejenak ke arah Marylou. Sebenernya tanpa keberadaan gadis di hadapannya pun bukan menjadi masalah. Dia terbiasa bekerja sendirian.
__ADS_1
"Untuk apa mempekerjakan orang kalau pada akhirnya berkhianat!"
Glek!
Apa maksud perkataannya? Dia menyindirku? Mengerikan sekali.
"Apa maksudmu, Tuan?" tanya Noelle sembari mengerjakan pekerjaannya. Dia bersikap tetap tenang untuk mendapatkan tujuannya.
"Dalam permainan bisnis, kita bisa bekerja di belakang layar, Mary! Tak perlu mempekerjakan banyak orang yang akan menghamburkan uang perusahaan. Penghasilan besar dan pengeluaran yang minim."
Deg!
Serakah sekali! Kurasa aku paham bahwa dia itu pria aneh. Lebih aneh dari Alan! Oh God, nama itu lagi?
"Lalu, mengapa Anda menerimaku, Tuan?" selidik Noelle.
"Karena aku tertarik padamu!"
Deg!
"Lupakan! Lebih baik fokus saja pekerjaanmu itu. Aku tidak mau hanya bercakap-cakap seperti ini!" tegur Blair.
Bekerja dalam diam rupanya membuat Noelle merasa bosan sekali. Padahal sebelumnya dia tidak terbiasa bekerja di perusahaan. Ini hanyalah menjalankan misi semata. Semakin cepat lebih baik.
Membolak-balikkan berkas di hadapannya membuat Noelle pusing. Dia terbiasa bekerja tanpa berhubungan dengan data seperti ini. Diamnya Blair membuatnya tidak nyaman.
"Tuan, aku minta maaf. Aku sangat bosan sekali. Semua berkas ini kurasa sudah benar. Tapi, mengapa kau terus memaksaku untuk membacanya?" tanya Noelle.
"Sudah kukatakan berulang kali. Aku hanya mempekerjakanmu di sini hanya untuk menemaniku. Kalau kau bosan, pergilah ke perpustakaan yang ada di balik pintu. Kau bisa belajar buku-buku bisnis di sana. Banyak juga cerita romantis yang bisa kau baca. Pergilah!"
Bagi Blair, kehadiran Marylou sebenarnya berupa berkah dan musibah. Berkah karena Blair tertarik padanya. Menjadi musibah lantaran Marylou cerewet sekali.
"Benarkah? Tapi, aku tetap digaji, bukan?"
Blair menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Jika bukan karena rasa terima kasih sudah membuatnya tidak terjebak oleh wanita malam yang hanya mengincar hartanya, Blair tidak akan menerima Marylou masuk ke ruangannya. Ruangan yang selama ini dijaga dengan ketat karena menyimpan banyak rahasia besar di sana.
__ADS_1
Dalam pandangan Blair, Marylou hanya gadis biasa yang sangat tidak beruntung. Dia bahkan tidak memiliki orang tua. Kehidupannya terlunta-lunta membuat Marylou mencoba bertahan hidup. Itu terlihat jelas dari sorot matanya yang tak pernah bahagia. Kenyataannya, Blair tidak tahu dirinya berhadapan dengan siapa? Bisa dikatakan kalau Marylou hanyalah wanita polos yang mengerti akan pria. Lebih tepatnya hanya untuk menyenangkan para pria di luaran sana. Penampilannya yang glamor di awal pertemuannya hanya sebagai kedok untuk mencari pekerjaan. Di situlah Blair merasa kasihan.
Sorot mata Marylou memancarkan penderitaan berkepanjangan. Terkadang dia seperti ketakutan tak menentu.
Noelle sendiri yang berada di dalam perpustakaan mencoba berkeliling. Awalnya dia mengira kalau perpustakaan ini kecil, tetapi kenyataannya sangat luas sekali. Ini seperti perpustakaan lama yang hanya disambangi beberapa orang. Terlihat selalu bersih. Debu pun tak ada yang menempel.
Noelle mencoba berkeliling. Kemudian di sudut ruangan, dia menemukan pigura foto yang sudah usang. Terlihat tidak terawat, tetapi sangat menarik untuknya. Foto sepasang suami istri dan seorang anak kecil dalam gendongan seorang anak di tangan suaminya.
Noelle mencoba mendekatinya. Agak susah memang. Dia hanya ingin melihat ada watermark kecil di sudut foto. Sebenarnya Noelle tidak terlalu tertarik, tetapi semakin mendekat, foto itu memiliki watermark warna emas yang begitu indah.
Samuel Alexander - Philipia Maureen, ini nama anaknya kenapa hilang seperti ini, sih? Ada rahasia apa di dalam foto ini? Kurasa ini berisi semua rahasia masa lalunya.
Mumpung Blair masih sibuk dengan pekerjaannya, Noelle mencoba mencari buku-buku yang penting. Siapa tahu di dalam ruangan ini, Noelle bisa menemukan beberapa informasi penting.
Tatapan matanya terfokus pada salah satu album foto. Rasa penasarannya semakin tinggi. Harapannya, dia akan menemukan jawaban di sana. Gegas diambilnya album itu kemudian dibukanya. Tak ada satupun foto tertempel di sana. Kosong.
Mengapa album foto ini kosong? Lalu, mengapa Blair masih menyimpannya?
Buru-buru Noelle menutupnya kemudian kembali ke ruangan. Dia takut semakin lama di perpustakaan, Blair bisa curiga.
"Sudah puas membaca buku-bukunya?" tanya Blair.
Rupanya dia masih berkutat dengan beberapa berkas. Selama itu dia terlalu fokus pada pekerjaannya. Hingga Noelle yang berada lama di perpustakaan merasa takut kalau Blair akan curiga kepadanya.
"Sebenarnya belum, tetapi aku buru-buru ke sini untuk melihatmu, Tuan. Aku takut kalau Anda memanggilku, tetapi aku tidak mendengarnya."
"Baguslah! Selama kamu bekerja di sini, kuizinkan masuk ke perpustakaan selagi aku bekerja. Namun, kalau kau tiba-tiba masuk tanpa seizinku, aku tidak akan memberimu ampun."
Deg!
Kejam sekali dia? Tapi, bagaimanapun aku sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai nama istri Samuel Alexander. Setidaknya ini merupakan awal yang bagus untuk melanjutkan misiku. Semoga Blair tidak menyadarinya sampai aku mengumpulkan semua bukti. Mengenai foto itu, aku yakin kalau bayi yang ada di gendongan Samuel Alexander adalah anak perempuan.
...💝💝💝...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya Bestie Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1