
"Callie tidak boleh tahu mengenai hubungan kita, Sharron!" ucapnya penuh keyakinan.
"Tapi, Dad--"
Darrell terlalu terburu-buru untuk membungkam bibir Sharron dengan bibirnya. Ciuman yang hangat seperti yang telah diberikan beberapa hari yang lalu. Puas membuat Sharron merona merah, Darrell melepaskan ciumannya.
"Dad, kau selalu melakukannya secara mendadak. Aku terkejut sekali," ucap Sharron.
"Maaf. Berjanjilah untuk selalu menurutiku. Aku tahu ini tidaklah mudah. Kau menjalin hubungan dengan pria beristri itu karena aku. Aku butuh kamu sebagai wanita yang rencananya akan menjadi rahim pengganti untuk mengandung anakku. Kemudian aku meminta anak itu untuk wanita lain yaitu istriku. Aku kejam, bukan? Demi kebahagiaan wanita lain, aku rela menghancurkan kebahagiaan wanita lainnya."
Sharron tidak tahu harus mengatakan apapun lagi. Pria di hadapannya ini terkadang seperti malaikat. Kadang juga membuat hatinya resah. Perasaan apa ini? Ada desiran aneh di dalam tubuh Sharron.
"Dad, sebaiknya aku tidur dulu. Aku sudah mengantuk," pamit Sharron. Menanggapi ucapan Darrell membuatnya pusing. Sekaligus dia berpura-pura untuk melupakan pesan Darrell hari ini.
"Sharron, jangan ingkar janji!"
Glek!
Sharron yang sudah beranjak dari tempat duduknya kemudian menoleh lagi.
"Hah? Janji apa, Dad?" Sungguh, akting Sharron ini tidak layak untuk mendapatkan penghargaan. Dia bahkan tidak pandai berpura-pura.
"Aku hanya ingin agar kau memakai lingerie seksi yang ada di lemari pakaian," ucap Darrell.
Deg!
"Pergilah! Aku akan menyusulmu sebentar lagi. Ingat, jangan ingkar!" ucap Darrell lagi.
Sungguh, Sharron merasakan sesuatu yang berbeda. Dia merasa sangat aneh jika berpenampilan terlalu mencolok di hadapan Darrell. Mungkinkah pria itu sengaja membuatnya terbuai malam ini?
__ADS_1
"Baiklah." Dengan langkah gontai, Sharron masuk ke kamar. Dia bergegas mencari lingerie yang menurutnya tidak terlalu terbuka. Sayang, Sharron salah besar. Alan rupanya membelikan Sharron lingerie dengan model yang benar-benar minim bahan. Akhirnya, pilihan Sharron jatuh pada lingerie hitam transparan. Tidak begitu mencolok, tetapi sangat terlihat seksi ketika dipakainya.
Darrell yang menunggu di luar kamar harap-harap cemas. Walaupun Sharron tidak melakukan apapun sesuai permintaannya, itupun tidak menjadi masalah. Namun, bagaimana kalau Sharron mengikuti permintaannya? Mampukah Darrell mengendalikan keinginannya untuk tidak menyentuh Sharron?
Perlahan Darrell masuk ke kamar. Tak lupa dia menutup pintu kamarnya sehingga tak ada lagi cahaya yang masuk ke sana. Dia mencari sakelar lampu untuk menyalakannya. Darrell lupa di mana dia harus menemukan saklar tersebut. Yang dia ingat hanya ada lampu tidur yang mudah dijangkau tombol on-off-nya.
Kaki Darrell tak sengaja tersandung kemudian menindih tubuh seseorang. Sungguh, ini di luar nalarnya bahwa Sharron telah terbaring di ranjang dengan gaun yang sangat tipis. Darrell bisa merasakannya.
"Kau menggunakannya?" tanya Darrell dengan perasaan canggung.
"Seperti yang kau minta, Dad. Namun, aku tidak mau kau melihatnya secara langsung. Aku malu sekali," balas Sharron.
Sama. Itulah yang dirasakan Darrell saat ini.
"Tetaplah seperti ini, Sharron. Aku sebenarnya tidak ingin memaksamu untuk memakainya, tetapi kamu mau melakukannya untukku. Terima kasih," ucapnya.
Darrell turun dari atas tubuh Sharron. Pria itu kemudian menyalakan lampu tidur di atas nakas. Remang-remang cahaya dari lampu itu mampu menggambarkan keindahan tubuh Sharron yang terlihat jelas dalam pandangannya. Sharron terduduk di ranjang. Dia bersandar pada headboard ranjang.
"Ganti pakaianmu!" ucap Darrell. Dia terkesan plin-plan di hadapan Sharron.
Terkejut? Tentu saja. Sejak awal dia yang memaksa, sekarang malah memintanya untuk berganti pakaian lagi.
"Dad? Ini tidak salah? Aku harus ganti lagi? Bukankah malam ini kau ingin mengambil seluruh tubuhku seperti perjanjian kontrak yang sudah kita sepakati?" Pertanyaan Sharron bukan tanpa alasan. Memakai gaun yang transparan seperti ini sudah jelas akan menimbulkan gairah panas pada Darrell.
Kenyataannya, pria itu benar-benar menahan diri untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Jika di luaran sana seorang pria dengan suguhan seindah ini, kemungkinan besar langsung tancap gas. Berbeda dengan Darrell. Ada sedikit perasaan lega dan ketertarikan kuat yang ada pada Sharron untuk Darrell.
"Tidak sekarang, Sharron! Kita akan melakukannya atas dasar cinta. Suka sama suka. Pergilah ke kamar mandi. Ganti bajumu. Terima kasih sudah menyuguhkan keindahan tubuhmu di hadapanku."
Sharron turun dari ranjang kemudian beralih ke kamar mandi. Sebelum mencapai handel pintu kamar mandi, suara bariton Darrell mengejutkannya lagi.
__ADS_1
"Jangan pernah berpenampilan seperti itu di hadapan laki-laki lain. Ingat, hanya di depanku!" ucap Darrell.
Sharron tersenyum. Dia menyetujui ucapan Darrell tanpa membantah sedikitpun.
Sharron bergegas masuk ke kamar mandi. Dia menatap cermin kamar mandi dengan penampilannya yang sangat tidak pernah terlintas di benaknya. Namun, Darrell rupanya paham dengan kondisinya saat ini. Sharron sangat bersyukur sekali.
"Kau tahu, Noelle, jantungku hampir saja berhenti berdetak. Kau benar, bagaimanapun aku lari, waktu yang ditentukan Darrell pasti akan datang. Mungkin tidak hari ini. Bisa terjadi kemungkinan lusa atau hari-hari berikutnya. Aku harus siap. Ini risiko yang sudah kuambil. Darrell membayarku dengan sangat mahal. Walaupun tidak sebanding dengan apa yang sudah kuberikan padanya, tetapi aku terikat perjanjian."
Secepatnya Sharron mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra. Walaupun tidak terlalu transparan, tetapi terlihat seksi. Sharron sengaja membeli baju tidur seperti ini karena kebanyakan baju tidur Noelle yang tertata rapi di lemari pakaian juga persis seperti yang dibelinya.
Ceklek!
Sharron melihat Darrell sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur juga. Entah, sejak kapan pria itu sudah mengganti pakaiannya. Sharron berjalan menuju sofa karena berniat untuk tidur di sana.
"Kemarilah! Tidur denganku," panggil Darrell.
Deg!
"Tidak, Dad. Aku tidur di sini saja," tolaknya.
"Sharron! Naik ke ranjang atau aku akan--"
"Ya, ya, baiklah." Sharron berjalan mendekati ranjang.
Darrell yang sudah berada di dalam selimut kemudian membuka selimutnya sebentar supaya Sharron bisa masuk. Kini, keduanya berada di ranjang dan selimut yang sama. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Darrell ketika menghirup aroma parfum yang dipakai Sharron. Dia sangat tertarik.
"Tidurlah!" Darrell menekan tombol off di lampu tidurnya. Suasana kamar menjadi gelap.
Irama jantung Sharron berdetak lebih cepat. Sekarang, dia berada di ranjang yang sama dengan pria yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya, tetapi tidak bisa membawanya ke gerbang pernikahan karena itu hal yang mustahil.
__ADS_1
Darrell melingkarkan tangannya untuk memeluk Sharron. Malam ini keduanya tidur dengan perasaan yang tidak menentu. Semakin dekat, ada sesuatu yang berbeda yang mereka rasakan.