
"Lebih baik kalian sarapan dulu," usul Allegra.
"Kita tunggu Noelle dan Sharron, Ma," sahut Darrell.
"Dia tidak akan mau turun karena masih kesal sama Mama," balas Allegra.
"Tinggal saja tidak apa-apa. Nanti mereka pasti menyusul," sahut Javer.
Mereka menikmati sarapan paginya yang sudah terlambat itu. Beruntung sekali pihak restoran menyiapkan makanan ketika mereka baru datang.
Sharron dan Noelle rupanya menyusul. Mereka memilih duduk di kursi yang masih kosong dan kebetulan berjajar.
"Makanlah dulu, Sayang. Nanti kita bicara lagi," ucap Allegra pada Noelle. Dia mulai melunak pada putri bungsunya itu.
"Terima kasih, Ma." Bagaimanapun Noelle terdidik menjadi wanita yang kuat sama seperti Sharron. Itu artinya dia tidak boleh khawatir lagi apa pun yang akan terjadi di masa mendatang.
"Setelah ini, kalian bisa belanja sepuasnya. Temani Mama, ya!" pinta Javer.
Pria paruh baya itu sengaja supaya anak, istri, dan menantunya bisa bercengkrama lebih lama. Supaya mereka mengenal lebih dekat satu sama lain. Apalagi Noelle baru saja diketahui kalau dialah anak yang selama ini dicari keluarga Wesley.
"Wah, terima kasih, Papa," balas Sharron girang.
Kebetulan di dekat penginapan memang ada pusat perbelanjaan. Mereka akan bersenang-senang di sana.
"Mau aku antar, atau Alan saja." Darrell memberikan opsi.
"Alan saja, Sayang. Kalau kamu mau mengobrol dengan Papa, silakan dilanjutkan. Atau, mau ikut kami berbelanja?" tanya Sharron.
"Pergi saja. Kalau ada sesuatu, jangan lupa kabari!" jawab Darrell.
Semula Noelle merasa tidak layak untuk ikut, tetapi Sharron mencoba meyakinkannya. Selain itu, Allegra sudah memberikan ruang bagi putrinya untuk bisa lebih dekat dengannya.
...🍄🍄🍄...
Sebuah pusat perbelanjaan di Swiss sangat ramai pengunjung. Apalagi ini adalah akhir pekan. Sangat wajar sekali kalau mereka harus sedikit mencari celah supaya bisa berbelanja beberapa barang.
"Kamu mau cari apa?" tanya Allegra pada Noelle.
"Entahlah, Ma. Kurasa lebih baik aku ikut di belakang kalian saja," jawabnya lesu. Sejujurnya Noelle sudah memiliki segalanya.
__ADS_1
Sebelum memutuskan untuk memilih beberapa barang, mereka menikmati berkeliling pusat perbelanjaan itu. Sesekali sembari memilih dan memilah. Mereka mulai berpencar karena tertarik dengan pilihan masing-masing. Noelle dan Allegra berjalan beriringan. Sesekali keduanya mengobrol. Namun, Sharron yang memilih mundur untuk memberikan ruang bagi dua orang itu malah dibekap mulutnya oleh seseorang.
Sharron berusaha menggigit tangan itu. Hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Aduh!" teriaknya tertahan.
Setelah tangannya terlepas, kedua orang itu saling pandang.
"Kamu?" Sharron terkejut.
Sekian lama tidak bertemu dengan pria ini, kali ini entah mengapa dia bertemu lagi? Ya, dialah Marcello.
"Justru aku yang terkejut melihatmu di sini. Kamu pergi dengan mertuamu dan wanita menyebalkan itu," ucapnya.
"Kalau begitu biarkan aku pergi sekarang," ucap Sharron. Dia mundur untuk mencari keberadaan mertua dan sahabatnya.
"Tunggu!" Lagi-lagi Marcello menarik tangan Sharron.
"Kamu mau melepaskan aku, atau aku akan menelepon suamiku," ancam Sharron.
"Ck, kamu selalu saja begitu. Lagi pula untuk apa meneleponnya? Dia itu pria yang lemah. Buktinya, menjaga Callie saja dia tidak sanggup. Apalagi menjaga kamu. Kenapa kamu keluar dari agensi model itu? Bukankah itu cita-cita kamu sedari dulu?" Marcello masih menarik tangan Sharron. Sekian lama dia merindukan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
Lagi-lagi Sharron memberontak dengan cara menggigit tangan pria itu kemudian kabur. Hingga dia menabrak seorang pria lagi.
"Sayang, kamu di sini?" Sharron terkejut.
"Iya. Noelle menelepon Alan ketika tahu kalau kamu mendadak menghilang. Memangnya ada apa? Apa kamu baik-baik saja?"
"Ada Marcello. Dia yang menarikku."
Glek!
Pria yang lama tidak ingin didengar namanya oleh Darrell pun akhirnya harus didengar juga. Darrell tidak tahu kalau keberadaannya di Swiss ini juga ada pria itu.
"Lebih baik kamu menghindarinya," pesan Darrell.
"Iya, aku pun begitu. Aku sampai kesal padanya. Lebih baik kita pulang sekarang," ajak Sharron.
Rasanya tidak nyaman sekali harus bertemu lagi dengan Marcello. Namun, dari kejauhan mereka melihat Marcello sedang mengobrol dengan Allegra dan Noelle.
__ADS_1
"Sayang, lihatlah!" tunjuk Sharron.
"Kita ke sana sebentar," ajak Darrell.
Pendengaran mereka terhenti manakala Allegra memperkenalkan Noelle sebagai putrinya. Wajah Marcello sampai terkejut luar biasa.
"Dia anakku, Marcello. Maggia Wesley. Kenapa kau terlihat terkejut begitu? Seperti tidak suka kalau anakku telah kembali," jelas Allegra.
Marcello menggeleng. Itu jelas tidak mungkin.
"Anda pasti bercanda, Nyonya. Mana mungkin bayi yang sudah dinyatakan hilang puluhan tahun masih bisa ditemukan. Itu sangat mustahil, kecuali Nona ini mengaku-ngaku sebagai putrimu," tuduh Marcello.
"Kenapa kau menuduh adikku seperti itu?" sahut Darrell.
Marcello menoleh ke arah Darrell. Dia melihat Sharron bersama suaminya seperti sangat mengkhawatirkan sesuatu.
"Adik? Lelucon apa ini, Darrell? Kau mau membohongi semua orang lagi? Dulu, kau bilang bahwa kau sangat mencintai Callie. Sehingga kau tak mampu berpaling darinya. Setelah dia meninggal, ternyata kau lebih cepat move on darinya. Kau menikahi Sharron dalam waktu yang sangat dekat dengan kematian istrimu. Itu artinya selama ini kau sudah memainkan perasaan Callie hingga dia mengeluhkan sikapmu padaku."
Marcello mengeluarkan seluruh isi hatinya selama ini. Antara kecemburuan yang dia miliki dan dendam masa lalunya. Membalaskan dendam melalui Callie sudah gagal. Satu-satunya hanyalah melalui Sharron. Namun, wanita itu sulit sekali didekati.
"Wah, kamu luar biasa, Marcello. Kurasa kamu harus pergi berobat. Selama ini aku tidak mengenalmu dengan baik, tetapi mengapa kamu terlihat tidak suka denganku? Atau, kamu mempunyai dendam masa lalu yang belum usai denganku?" tuduh Darrell.
Ya, Darrell. Aku memiliki dendam di masa lalu. Suatu saat kamu pasti mengerti apa yang telah membuatku seperti ini. Tidak sekarang. Aku ingin kalian semua merasakan penderitaan yang berkepanjangan.
"Sayang, lebih baik kita pulang sekarang. Jangan perpanjang lagi keributan dengannya," bisik Sharron.
"Tunggu, Sayang! Urusan kita belum berakhir," ucap Marcello.
Lancang sekali dia memanggil istri Darrell dengan sebutan sayang. Darrell memerah mukanya. Tinjunya sudah mengepal siap menghantam rahang kokoh pria kurang ajar di hadapannya.
Sharron menarik mundur suaminya. Dia juga meminta mama mertua dan Noelle untuk lekas keluar dari pusat perbelanjaan tersebut.
"Sayang, mengapa kau menarikku seperti ini? aku belum puas menghajarnya," protes Darrell.
"Tangan ini tidak akan boleh menghajar siapa pun. Kita tidak tahu motifnya apa selalu membuat kita seperti ini? Percayalah!" rayu Sharron.
"Mama, dosa masa lalu apa yang telah dibuat keluarga kita padanya? Sejak hubunganku dengan Callie, dia selalu masuk ke dalam kehidupan kami," ucap Darrell.
Allegra tertunduk. Dia diam tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
"Ma, rahasia apalagi yang kalian sembunyikan dariku?" selidik Darrell.
Hubungan rumah tangganya selama ini selalu dibayang-bayangi oleh Marcello. Dia baru tahu setelah kematian istrinya tempo hari. Banyak rahasia yang belum terkuak.