
Beberapa orang yang ada di dalam acara sudah mendapatkan pengobatan masing-masing. Begitu juga dengan Darrell dan Alan. Kondisi mereka baik-baik saja. Tapi, siapa sangka malah kondisi kesehatan Sharron yang memburuk.
"Alan, di mana Sharron?" tanya Darrell yang saat ini sudah mulai membaik.
"Aku tidak tahu, Tuan. Kurasa dia dibawa Noelle ke sebuah rumah sakit. Coba Tuan telepon saja!" ucap Alan.
Ya, Sharron dibawa ke rumah sakit yang berbeda. Untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya, Noelle rela bertarung nyawa di jalanan. Dia sampai tidak memikirkan nyawanya sendiri.
Darrell merasa ketakutan. Dia takut kalau terjadi sesuatu dengan kehamilan istrinya. Namun, dia tidak memungkiri ada orang jahat yang terlibat di balik semua ini.
"Kenapa Anda cemas, Tuan?" tanya Alan. Sejak kejadian keracunan makanan itu, Alan pun ikut tumbang.
"Aku cemas karena memikirkan kandungan Sharron, Alan. Aku takut kalau dia sampai keguguran. Ibu hamil tidak boleh keracunan makanan apa pun. Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkan orang yang ada di balik semua ini."
Alan hampir lupa, tetapi pada saat kejadian, beberapa polisi sudah datang. Namun, dia belum mengetahui kabar selanjutnya mengenai tersangka utamanya.
"Setelah keluar dari sini, aku segera membereskannya, Tuan."
Pekerjaan Alan tidak pernah mengecewakan. Kali ini dia tidak menyangka ada kejadian yang sangat luar biasa. Setelah ini, Darrell harus mengganti biaya para tamu undangan yang sudah masuk ke rumah sakit. Beberapa dari mereka ada yang keracunan biasa sampai parah.
***
Berada di tempat yang berbeda, Noelle tidak lupa mengabari kedua orang tuanya. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang ke Meksiko. Kondisi Sharron tidak baik. Dokter belum mengabari lagi perkembangannya.
"Maaf, Nona. Di mana suaminya pasien? Ada yang ingin aku informasikan padanya untuk meminta persetujuan tindakan selanjutnya."
Deg!
"Sebenarnya ada apa, dokter?" tanya Noelle.
"Maaf, saya harus membicarakan masalah ini hanya dengan suaminya saja. Ini keadaan darurat," ucap dokter itu membuat cemas Noelle.
Daripada berdebat tidak penting, Noelle segera mengabari kakaknya. Dia mengirimkan pesan padanya.
"Sebentar lagi suaminya akan datang, dokter."
__ADS_1
"Baik, Nona. Saya tunggu di ruangan sebelah sana." Dokter itu pun menunjukkan ruangan yang tidak jauh dari ruang emergency.
Beruntung kakaknya segera menjawab pesan itu. Buruh waktu sampai Darrell tiba di rumah sakit yang dimaksud.
"Noelle, di mana istriku?" Kegugupannya jelas berasalan.
"Masih di ruang emergency, Kak. Tapi, dokter meminta kakak masuk ke ruang sana."
Perasaan Darrell semakin tidak menentu. Dia merasa akan ada bencana yang lebih besar dari ini. Mungkin saja tentang kesehatan istrinya dan yang lebih parah kalau sampai mengancam janin yang dikandung istrinya.
Darrell mengetuk pintu. Tak lama, dia pun sudah berada di ruangan dokter.
"Permisi, dokter. Aku suami dari Sharron Alexandria. Apa ada masalah?"
"Silakan duduk dulu, Tuan!" perintah dokter.
Setelah Darrell duduk, dokter baru memulai pembicaraan. Rasanya berada di ruangan itu sangat lama sekali.
"Maafkan saya. Kabar ini mungkin akan membuat Anda sangat terkejut. Nyonya Sharron harus mendapatkan perawatan selanjutnya. Kandungannya tidak bisa diselamatkan. Akibat keracunan makanan itu, janinnya tiba-tiba berhenti berdetak. Kami sudah mengusahakan yang terbaik, tetapi itu bukan dalam kuasa kami, Tuan. Kami minta maaf," jelas dokter.
"Baiklah, dokter. Selesaikan semua prosedur yang seharusnya. Aku berharap istriku kembali sehat seperti sedia kala. Tidak masalah kalau kami harus kehilangan janin itu. Asalkan nyawa istriku tetap tertolong."
"Baik, Tuan. Kami segera melakukan tindakan pada istri Anda."
Setelah urusannya selesai. Darrell kembali pada adiknya. Terlihat sekali wajah murung pria itu. Lesu dan tidak bersemangat.
"Kak, sebenarnya ada apa? Dokter tidak mau berbicara padaku sama sekali," ucap Noelle.
"Sharron keguguran."
Deg!
"Kak, sabar ya! Sebentar lagi pasti akan diganti dengan hal-hal yang membahagiakan." Noelle mencoba menenangkan kakaknya.
"Sebenarnya apa salahku pada Tuhan. Hingga terus saja menghukumku seperti ini. Kamu tahu kan kalau aku sangat menginginkan bayi itu? Kamu tahu kan umur kakak berapa? Sudah tidak muda lagi, Noelle. Sampai kapan aku harus bersabar menunggu lagi?"
__ADS_1
Justru semua pertanyaan itu ditujukan pada pemilik semesta. Noelle pun tidak akan mampu menjawabnya.
"Noelle tidak tahu, Kak. Oh ya, bagaimana kabar Alan? Apa dia sudah keluar dari rumah sakit? Aku mencoba mengambil paksa kunci mobilnya. Dia saat ini pasti kesulitan."
Darrell melirik wajah adiknya. "Kamu sangat mengkhawatirkan Alan, ya? Kasihan dia. Kakak harap kamu bisa dekat dengannya. Setidaknya sebagai seorang teman."
Itu mustahil bagi Noelle. Kisah kelam masa lalunya sangat tidak pantas berteman dengan Alan. Noelle wanita yang kotor. Itulah mengapa dia tidak pernah terpikirkan untuk bisa dekat dengan pria sebaik Alan.
"Tidak, Kak. Aku cuma takut kalau dia menuduhku membawa kabur mobilnya," ucapnya lirih.
"Itu tidak akan mungkin. Dia pria yang baik. Jangan sampai kamu menyesal kalau nantinya dia akan memilih wanita lain. Kesempatan itu hanya datang sekali, Noelle. Jangan pernah sia-siakan."
Noelle mengalihkan pandangannya. Di usianya saat ini, dia bahkan tidak memikirkan untuk membangun komitmen dengan pria lain.
"Kak, lebih baik jangan bahas dia dulu. Aku sangat mengkhawatirkan Sharron. Semoga dia baik-baik saja."
Keputusan yang dibuat oleh Darrell telah mengantarkan Sharron menjalani proses selanjutnya. Butuh waktu setengah jam lebih sampai dia selesai. Namun, dia belum sadar. Walaupun sudah dipindahkan ke ruang rawat, posisinya masih dalam pengaruh bius.
Darrell menggenggam erat tangan istrinya. Dia merasakan penyesalan yang teramat sangat. Kejutan ini berakhir duka mendalam.
"Kak, sabar ya! Tunggu sampai Sharron sadar," ucap Noelle menguatkan.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Dia pasti menyalahkan kita semua. Oh ya, apa ada perkembangan dengan kasus ini?"
Noelle belum mendapatkan informasi apa pun. Alan pun belum mengabarinya. Mungkin saja dia sedang berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menangkap pelaku sebenarnya.
"Aku belum mendapatkan kabar, Kak. Kalau Kakak pikir, siapa orang yang paling dominan dalam hal ini?"
Ingatan Darrell hanya tertuju pada Blair ataupun istrinya, Bellatrix. Dia merasa kalau Sharron tidak berhak mendapatkan perusahaan sebesar AX Corporation.
"Apakah ini ulah Blair atau Bellatrix?"
Rupanya tidak hanya Darrell yang memikirkan hal itu, tetapi juga Noelle. Apa pun alasannya, itu tidak dibenarkan.
"Kurasa aku juga memikirkan orang yang sama. Dia ingin membunuh kami semua. Awas saja kalau sampai orang itu tertangkap. Aku juga tidak akan pernah mengampuninya," jelas Noelle.
__ADS_1
Semua masalah yang terjadi masih berhubungan dengan masa lalu. Orang-orang yang berpotensi melakukan tindakan buruk itu akan dilaporkan kepada pihak kepolisian. Walaupun itu hanya dugaan, tetapi tidak ada salahnya mereka mengambil sikap.