Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 91. Tanda Itu?


__ADS_3

Tugas Alan tidak hanya mengurusi detektif swasta yang akan disewanya, tetapi juga mengurusi Noelle yang sebentar lagi harus bekerja di perusahaan AX Corporation.


Pagi-pagi sekali Alan sudah pergi ke apartemen wanita muda itu. Walaupun sebenarnya dia malas, tetapi demi menjalankan tugasnya, Alan pun berangkat. Tak lupa dia membawakan sarapan pagi dan kopi yang dibeli dari restoran langganannya.


"Sebenarnya aku malas menemuinya, tetapi ini misi rahasia. Aku harus bertemu langsung dengannya." Gegas Alan mengemudikan mobilnya.


Sesampainya di sana, hari memang masih pagi. Alan sudah bisa memastikan kalau wanita muda itu masih berada di ranjang empuknya beradu dengan mimpi panjangnya.


Tanpa membuang waktu, Alan lekas mengambil makanan yang sudah dibelinya. Dia kemudian memencet bel apartemen setelah berada di depan pintu unit milik Noelle.


Sekali, dua kali, tiga kali, dan bel keempat barulah empunya unit membuka pintunya. Noelle jelas mengira jika yang datang adalah Sharron. Sahabatnya itu terkadang datang tidak tahu waktu.


Deg!


"Alan!" seru Noelle yang terkejut karena mendapati pria itu sudah terlihat rapi dengan menenteng paper bag di tangannya.


"Boleh masuk?" tanya Alan. Berpura-pura baik memanglah rumit, tetapi demi terlaksananya sebuah mega proyek pengungkapan Samuel Alexander, apa salahnya?


"Kamu tidak lagi sakit, kan?" tanya Noelle yang masih terpaku di pintu masuk.


"Tidak! Aku masih waras, Noelle," jawabnya.


"Hemm, baiklah Tuan Alan Clarence. Silakan masuk!"


Tanpa basa-basi, Alan menerobos begitu saja. Dia sudah lelah berdiri. Dia ingin segera masuk kemudian sarapan pagi bersama.


"Oh ya, meja makan di mana?" tanya Alan.


"Kenapa tanya meja makan?"


"Kita sarapan bareng. Aku sudah membelikan sarapan untukmu," ucapnya sembari menunjukkan paper bag di tangannya.


"Ayo ikut aku!" ajak Noelle. Pagi ini Noelle sebenarnya ingin bermalas-malasan dulu sebelum berangkat ke kantor tuan Blair. Nyatanya tidak sesuai dengan ekspektasi.

__ADS_1


Meja makan yang rapi, dapur yang bersih, dan seluruh peralatan masak tertata dengan rapi. Itu sudah cukup membuktikan bahwa Noelle itu wanita yang mandiri. Tidak bergantung pada pelayan atau siapapun selama ini.


"Kamu tinggal sendiri?" tanya Alan. Sebenarnya dia ingin menyiapkan makanannya, tetapi ditahan oleh Noelle.


"Sendiri setelah Sharron memutuskan menikah. Kenapa? Kamu pikir kalau aku wanita yang manja?"


Glek!


Pandai sekali Noelle membaca situasi yang sedang dipikirkan Alan saat ini. Rasanya tambah canggung. Jangan-jangan sebentar lagi Noelle bisa membaca apapun yang ada di dalam pikiran Alan?


"Tidak, bukan itu."


"Lalu, kau mau mengejekku?" sindir Noelle.


"Ah, aku ke sini bukan untuk berdebat. Ini masalah penting yang harus kita selesaikan bersama. Tuan Darrell mengirimkan pesan padaku semalam. Dia akan pergi honeymoon dengan nyonya Sharron ke Swiss untuk beberapa waktu. Jadi, apapun yang berhubungan dengan pekerjaan penting, aku yang turun tangan langsung.


Tumben sekali Sharron tidak pamit padaku? Mungkinkah dia masih salah paham padaku sehingga memutuskan untuk pergi ke Swiss tanpa memberitahukannya padaku. Ah, aku coba positif thinking saja. Semoga dia sudah tidak salah paham padaku.


"Ah, aku minta maaf. Ehm, kalau kau mau sarapan, silakan duluan saja. Aku harus membersihkan diri kemudian bersiap," pamit Noelle. Dia sangat tidak nyaman tampil berantakan di hadapan Alan. Dia bisa mandi terlebih dahulu kemudian sarapan lalu memoles sedikit wajahnya dengan make up natural seperti biasa.


"Baiklah. Aku akan membuatkanmu bekal kalau kau mau?"


"Tidak perlu, Alan. Kamu tamuku. Cukup duduk dan nikmati sarapan pagimu. Aku akan lekas menyusul." Noelle bergegas menuju ke kamar kemudian masuk ke kamar mandi.


Alan sebenarnya bisa saja menunggu Noelle, tetapi perutnya tidak bisa diajak kompromi. Dia lapar dan harus mengisinya lebih dulu.


"Aku kelaparan. Padahal semalam juga baru saja makan. Huft, baiklah. Aku sarapan dulu, Noelle. Aku minta maaf," ucap Alan seorang diri. Kalaupun dia tidak mengatakan apapun, bukan masalah juga untuk Noelle.


Sekitar 10 menit, Noelle kembali lagi ke meja makan. Penampilannya memang sudah berubah, tetapi belum sepenuhnya. Wajah cantik alaminya terlihat jelas bahwa sebenarnya dia itu sangat cantik. Rambutnya yang basah masih dibalut sempurna dengan handuk di kepalanya, tetapi dia sudah buru-buru ke meja makan.


"Kenapa buru-buru? Apa kau takut kalau aku pergi?" Pertanyaan konyol yang lolos begitu saja dari mulut Alan membuat Noelle tertawa.


"Anda terlalu percaya diri, Tuan. Aku merasa tidak enak saja meninggalkan tamuku terlalu lama. Takut tiba-tiba apartemenku dirampok," canda Noelle sembari langsung duduk di meja makan.

__ADS_1


"Oh," jawab Alan tersipu malu.


Noelle menikmati sarapan paginya dalam diam. Hari pertamanya kerja, dia tidak ingin terlambat. Itulah sebabnya mengapa dia memilih membersihkan diri dulu daripada melanjutkan sarapan paginya. Dia akan terbuai dengan nikmatnya sarapan pagi yang didapatkan secara gratis itu. Itulah alasan sebenarnya.


"Apa kamu mau kuantar ke AX Corporation? Anggap saja ini fasilitas yang diberikan W Corporation untukmu," ucap Alan. Dia tidak mau kebaikannya disalah artikan oleh Noelle.


"Hemm, kupikir kamu baik, ternyata tidak seperti yang kubayangkan," canda Noelle. Dia lebih senang kalau bisa memojokkan Alan secara terus-menerus. Seperti mendapatkan mainan baru di dalam kehidupannya.


"Noelle, mau atau tidak, aku akan tetap mengantarmu. Tuan Darrell bisa marah padaku kalau aku tidak mengikuti apapun keinginan pria itu."


Beruntung sebenarnya. Hari ini Noelle tidak akan membuang uangnya hanya untuk ongkos taksi.


"Baiklah. Aku mau, tetapi aku duduk di belakang. Aku tidak mau duduk di sampingmu!" balas Noelle sengit.


"Ck, untung kamu hanya karyawan biasa. Kalau seorang bos, aku tidak yakin asistenmu akan betah berada di sampingmu dengan sikap aroganmu itu," balas Alan.


"Hemm, terkadang aku membanggakan diri menjadi seorang bos ketika bersama sugar daddyku. Kamu tahu sendirilah, apa pekerjaanku selama ini? Tapi, setelah keluar dari sana, aku menyadari tak ada salahnya kembali pada kebaikan. Setidaknya ketika aku mati, tak ada penyesalan lagi, bukan?"


Alan tidak menyangka dibalik sikap cuek Noelle padanya, tersimpan beberapa sikap manis yang tidak didapatkan dari wanita lain. Alan sempat terpaku seketika menamatkan pandangannya.


"Alan, jangan memandangku seperti itu!" tegur Noelle lagi.


Alan kemudian membuang pandangannya. Namun, sepertinya Noelle sengaja membuat Alan tertarik pada tingkahnya kali ini. Ya, Noelle berdiri kemudian membalikkan badannya. Lalu, dia melepaskan handuk yang sejak tadi menutupi rambutnya yang basah. Kemudian Noelle memasangkan penjepit rambut untuk memperlihatkan leher jenjangnya, tetapi tatapan Alan tak sengaja tertuju pada sebuah tanda yang ada dibalik telinga Noelle. Alan seperti pernah mendengar ciri tanda seperti itu.


Deg!


Tanda itu? Mungkinkah?


...🌳🌳🌳...


Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya yang Emak rekomendasikan. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️


__ADS_1


__ADS_2