Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 85. Kondisi Tersulit


__ADS_3

Tingkat kesadaran tuan Blair kali ini lumayan parah. Bahkan, Alan harus membantunya sampai masuk ke dalam kamar hotel. Sungguh gila rasanya seperti mengantarkan Noelle untuk melayani pria itu. Padahal hanya melakukan sebuah misi, tetapi mengapa Alan merasa kasihan padanya?


"Alan, ini bagaimana? Dia 90% teler. Aku harus apa?" bisik Noelle saat Alan membaringkan Blair di ranjang king size kamar hotel itu.


"Lakukan apa yang seharusnya. Jangan biarkan kamu keluar tidak membawa informasi apapun!"


Alan buru-buru keluar. Sementara Noelle berdiri kikuk. Dia tidak tahu harus berbuat apa? Hendak melepaskan sepatu tuan Blair juga percuma. Dia bekerja bukan untuk tuan Blair, tetapi untuk Darrell.


"Mary oh Mary," racau Blair.


Dalam pengaruh alkohol pun dia masih mampu mengingat wanita yang ditemuinya. Sungguh, dia seperti dewa mabuk yang kuat minum.


Apa yang harus aku lakukan? Naik ke ranjang untuk menyerahkan tubuhku padanya, atau berdiam diri di sini tanpa mendapatkan informasi apapun.


Noelle merasa dilema. Dengan naik ke ranjang memang harus siap dengan segala konsekuensinya.


Okay, demi Sharron. Aku akan melakukan apapun.


Perlahan Noelle mulai membuka sepatu pria itu. Walaupun mabuk, sebenarnya Noelle masih bisa memancing supaya pria itu merespon. Sedikit nakal, tetapi dia akan mencobanya.


Noelle membuka jas yang dipakai pria itu kemudian beralih pada kemejanya. Semua kancing bajunya dibuka satu persatu hingga semuanya terbuka. Bulu-bulu tebal tumbuh di dada pria itu yang diperkirakan usianya mendekati 50 tahun versi Noelle. Padahal sebenarnya Blair baru berusia 45 tahun. Hanya perkiraan, terlihat tidak terlalu tua dikisaran usia tersebut.


Noelle naik ke atas perut pria itu kemudian mengelus pipinya secara perlahan. Tak lupa dia membisikkan sesuatu di telinga Blair supaya pria itu sedikit tersadar.


"Baby, bangunlah!" Sangat lembut sehingga Blair mengira itu hanyalah sebuah mimpi belaka.


Blair sedikit mengerjapkan matanya seolah ada bidadari yang sedang bersamanya. Kesadarannya yang tersisa beberapa persen masih mampu menggerakkan tangannya untuk sekadar menarik wanita cantik yang saat ini bersamanya.


"Baby," jawabnya kemudian hilang lagi suara itu.


"Baby, apa kamu mengenal Samuel Alexander?" bisik Noelle ke inti permasalahannya. Dia tidak sanggup untuk menanyakan satu persatu yang Alan maksud. Bisa-bisa sebelum pertanyaan itu selesai, Blair sudah tertidur.


"Hemm, entahlah."

__ADS_1


Ya ampun, susah sekali menggali informasi seperti ini. Dianya keburu tidur.


Usaha Noelle tak sampai di situ saja. Setelah Blair merespon menarik tangannya, pegangan pria itu mengendur. Noelle yakin kalau Blair lebih memilih tidur daripada sekadar merespon dirinya.


Astaga! Apakah dia mengalami blackout? Aduh, jangan sampai. Aku harap dia hanya mengalami brownout. Setidaknya masih mengingat sebagian kecil pertanyaan dariku. Kalau sampai dia mengalami blackout, mampus aku!


Noelle lari ke ruang tamu kamar hotelnya saat ini. Beruntung di sana ada air minum yang disediakan pihak hotel. Gegas diambilnya air yang ada di dalam gelas kemudian dibawa ke kamar. Diletakkan gelas itu di atas nakas kemudian mencoba mendudukkan Blair supaya bersandar pada headboard ranjang.


"Huft, susah sekali!" seru Noelle. Dia tidak boleh menyerah. Setidaknya malam ini akan berguna untuk informasi yang akan diberikan pada suami sahabatnya.


"Tuan, tolong minum airnya," pinta Noelle.


Walaupun Blair tidak membuka mulutnya, Noelle mencobanya menyentuhkan bibir gelas dengan bibir pria itu. Dia mendorong gelasnya supaya air bisa masuk ke tenggorokan.


Uhuk!


Setengah sadar Blair meresponnya. Perlahan dia membuka matanya lalu menutup kembali.


"Oh, ya ampun! Ini susah sekali," gerutu Noelle. "Tuan, bangun!"


"Siapa?" tanya Blair yang mencoba mengingat situasi.


Noelle melihat kalau kondisi Blair saat ini mengalami brownout, di mana dia mabuk, tetapi masih mampu mengingat walaupun sedikit. Mengingat suatu kejadian yang pernah berhubungan langsung dengannya.


"Marylou, Tuan. Anda mabuk. Jadi, aku membawa Anda ke hotel ini. Tidak masalah, kan?" Noelle sedang mencoba membangun komunikasi intens dengan pria itu. Semoga dia merespon.


Blair memukul kepalanya sejenak. "Aku bisa, aku bisa," ucapnya tidak jelas. Samar-samar dia membuka matanya. Pandangannya tidak jelas. Dia mencoba fokus untuk mengingat sesuatu. Namun, sangat sulit sekali sehingga dia merosot ke ranjang dalam posisi terlentang. Sangat pusing sekali.


Noelle tidak kekurangan akal. Dia naik ke atas perut Blair seperti apa yang biasa dilakukan dengan daddynya.


"Dad, jangan tidur! Temani aku!" pinta Noelle dengan suara yang jelas, tetapi sangat lembut sekali.


"Hemm, aku pusing sekali," tolak Blair, tetapi tangannya sudah mencapai punggung Noelle kemudian mengelusnya di sana.

__ADS_1


Oh, ya ampun! Mabuk pun dia masih bisa mesum


Noelle tidak sabar. Bibirnya disatukan dengan bibir Blair supaya pria itu merespon. Awalnya Noelle yang mendominasi hingga dia menggigit bibir bawah pria itu supaya memiliki akses masuk lebih dalam lagi. Sejujurnya aroma alkohol yang dikonsumsi Blair bukan menjadi masalah bagi Noelle. Dia sudah terbiasa sekali dengan hal semacam ini. Jadi, saat dia menenggelamkan bibirnya bersama Blair, itu sudah hal biasa.


Blair semakin mengeratkan pelukannya. Ciuman yang semakin dalam itu membuatnya perlahan bisa mengingat sesuatu. Hingga dia membuka matanya kemudian menatap wanita muda di hadapannya.


"Marylou?"


Yes, usahanya tidak sia-sia.


Tingkat kemesuman Blair rupanya meningkat. Dia meninggalkan jejak kepemilikan tepat di beberapa tempat di leher Noelle. Saat hendak mencapai aset terindah milik Noelle, wanita muda itu mendadak menghentikan aktivitasnya pria di hadapannya.


"Dad, tunggu! Kita tidak bisa langsung melakukannya. Bukankah kita baru kenal?"


Blair menarik tangannya. "Benarkah?"


Kesadaran Blair perlahan mulai membaik. Hingga dia mencoba merengkuh Marylou ke dalam pelukannya.


"Dad, terima kasih, ya."


Dekapan hangat Blair terasa sangat jelas menusuk seluruh persendian Noelle. Semakin Blair sadar, dia pasti kesulitan untuk mendapatkan informasinya.


"Dad, kenal Samuel Alexander?"


Merasa pernah mendengar nama itu, Blair mencoba mengingatnya. Dalam ingatan Blair, dia pernah sekali waktu mendengar nama itu dari mertuanya dan istrinya.


"Pernah dengar, tapi--"


"Tapi apa, Dad? Coba ingat-ingat lagi!"


Noelle sedang berusaha keras untuk itu. Rasanya sebentar lagi dia akan mendapatkan jawabannya. Kalau sampai malam ini dia gagal, tidak tahu harus darimana lagi dia memulainya.


"Aku tidak ingat. Sungguh, aku lupa."

__ADS_1


Noelle rasanya ingin kabur saat ini juga. Tidak mendapatkan informasi apapun, tetapi dia terjebak dengan pria ini. Kalaupun dalam kondisi seperti ini tak mendapatkan informasi, baiknya Noelle mencoba bertahan untuk mendapatkan informasi saat pria itu sudah ingat semuanya.


__ADS_2