Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 83. Kerjasama Alan dan Noelle


__ADS_3

Noelle yang semula bersiap untuk mengajak Sharron pergi ke salon mendadak mengurungkan niatnya setelah menerima pesan pembatalan.


"Oh, ya ampun! Aku harus pergi sendiri lagi?" tunjuknya pada diri sendiri ketika berada di depan cermin.


Seusai memoleskan lip cream tipis di bibirnya, Noelle mengambil ponsel. Dia berniat membalas pesan Sharron, tetapi pandangannya terpaku pada sebuah pesan penting. Hingga Noelle benar-benar mengabaikan pesan Sharron demi membaca satu pesan itu.


Temui aku di Antara Mall. Kutunggu di depan butik.🙏


Noelle tersenyum memandangi pesan dari Alan. Tidak jadi pergi bersama Sharron bukan masalah lagi, ada Alan yang siap mengajaknya hari ini.


"Hemm, kenapa aku malah suka sekali menerima pesan dari Alan? Ish, aku tidak mungkin kagum padanya, kan? Aduh, jangan sampai aku tertarik padanya. Dia pria yang aneh."


Walaupun Noelle menggerutu, tetapi dia meyakini satu hal bahwa keperluan Alan hanya untuk membahas pekerjaan. Gegas Noelle memesan taksi. Tak lama, taksi yang membawanya menuju ke Antara Mall telah membelah jalanan. Sesekali Noelle memikirkan apa yang akan dilakukan demi menyelesaikan misi kali ini. Sangat sulit kah? Atau, lebih mudah dari apa yang dibayangkan selama ini.


Sesampainya di depan gedung Antara Mall, Noelle lekas masuk. Alan pasti tidak akan suka kalau menunggu lama. Benar saja, tatapan mata yang tidak bersahabat telah diperlihatkan Alan padanya.


"Kau telat 5 menit!" tegur Alan.


"Jangan salahkan aku! Aku tidak memiliki mobil pribadi," ungkap Noelle.


"Ck, sugar baby berkelas, tetapi miskin!" sindir Alan.


"Alan! Kau menyebalkan sekali. Kau ini sebenarnya mau apa? Urusan pekerjaan atau mau cari ribut?"


"Ya, ya, ya, baiklah. Aku kemari karena ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan. Malam ini di tempat dan waktu yang sudah kami tentukan. Sebelum itu, lebih baik kamu berbelanja gaun yang akan kamu gunakan malam ini. Jangan kecewakan tuanku!"


"Haruskah aku belanja bersamamu?" cibir Noelle.


"Pekerjaan ini menyangkut diriku, maka semua kebutuhanmu akan kupenuhi. Tuan Darrell tidak mau ada kegagalan. Sambil kamu memilih gaun, aku akan memberikan briefing langsung padamu."


Noelle berjalan masuk ke butik. Dia mulai memilah dan memilih gaun yang akan digunakan nanti malam.

__ADS_1


"Berapa gaun yang harus kupilih?" tanya Noelle.


"Ambillah sesuai kebutuhanmu!"


Noelle berjalan ke sana kemari sembari menentukan gaun yang akan digunakan. Tubuhnya yang seksi tentu saja akan terlihat cantik dengan gaun apapun yang dipilihnya. Alan pun tetap mengekor di belakangnya.


"Jadi, malam ini bagaimana rencananya?" tanya Noelle setelah mengambil salah satu baju kemudian mencoba menempelkan pada tubuhnya.


"Tujuan awal adalah ke bar. Buat dia mabuk, tetapi jangan sampai terlalu mabuk sehingga dia masih bisa kamu interogasi. Kurasa kamu sudah paham bagaimana membuat orang terlena padamu?" Tatapan tajam Alan terpusat pada mata Noelle.


"Jangan menatapku seperti itu!"


"Hemm, baiklah. Aku minta maaf. Sudah selesai belanjamu?"


"Sebentar lagi." Noelle memutuskan untuk mencari satu gaun lagi. Sehingga dia memilih tiga gaun untuk malam ini.


"Banyak sekali!" protes Alan.


"Kau ini niat atau tidak? Kalau tidak niat membelikan gaun untukku, jangan kamu beri harapan palsu seperti ini. Jadi atau tidak?"


"Ayo, kita makan siang di restoran. Aku yang akan membayarnya. Tapi ingat, jangan serakah!"


"Oh, ya ampun, Alan! Kau ini perhitungan sekali!"


Setiap bertemu dengan Alan, selalu saja seperti itu. Berbeda dengan pasangan suami istri, Darrell-Sharron yang selalu nampak canggung.


Tak banyak bicara, Alan mengajak Noelle ke sebuah restoran yang paling menonjol di Antara Mall. Dia memperlakukan Noelle layaknya sepasang kekasih. Kursi yang akan menjadi tempat duduk Noelle dimundurkan oleh Alan.


"Silakan duduk!"


"Terima kasih."

__ADS_1


Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, Alan memulai pembicaraan.


"Tujuanmu bersama tuan Blair sudah tahu kan untuk menggali informasi apa saja?" tanya Alan melunak. Dia tidak mungkin bersikap kasar lagi pada Noelle karena pada dasarnya ini adalah inti pertemuan mereka.


"Aku tidak paham apa yang seharusnya kutanyakan." Noelle mengatakan sejujurnya karena memang dia tidak tahu harus memulainya dari mana.


Ternyata Alan tidak melakukan briefing secara langsung, melainkan memberikan selembar kertas untuk dibaca oleh Noelle. Dia yakin kalau Noelle pasti akan mendebat semua ucapannya.


Setelah mempelajari selembar kertas itu, Pelayan restoran mengantarkan pesanan mereka. Tanpa banyak bicara, Alan langsung memakan makanannya. Begitu pula dengan Noelle. Bergegas dia menikmati makan siang gratisannya itu.


"Nanti malam kamu berangkat sendiri. Bisa?" Alan harus memastikan bar dan hotel yang direservasi atas nama tuannya itu siap dan tidak menjadi kendala untuk semua rencana yang sudah disusun.


"Iya. Share location saja. Aku akan datang tepat waktu. Oh ya, aku minta tolong padamu. Buat Sharron sesibuk mungkin supaya dia tidak curiga padaku. Maksudku, karena kamu, aku, dan tuan Darrell akan pergi juga. Kurasa dia akan mencari teman untuk malam ini.


Agak ribet memang. Selain memastikan rencananya berjalan lancar, Alan juga harus memastikan istri tuannya itu tidak menambah kerumitan pada Noelle. Bisa-bisa semua rencana yang disusun sedemikian rupa gagal begitu saja.


"Ya, kamu jangan khawatir. Mungkin terbiasa hidup denganmu, sehingga ketika bersama tuan Darrell, dia merasa kesepian."


Darrell memang tipikal pria gila kerja, tetapi sekalinya dia mencintai satu wanita, maka hidupnya akan fokus pada wanita itu. Walaupun di luaran sana banyak wanita yang mengejar ataupun mendambakan dirinya menjadi milik mereka, tetapi Darrell enggan menanggapinya. Satu kesalahan besar yang terjadi pada pria itu adalah mencintai Sharron disaat dia masih memiliki Callie di dalam kehidupannya. Terkadang, Alan sering mendengar ungkapan rasa bersalah yang ditimbulkan pada istrinya di masa lalu. Namun, semua kisah akan berakhir sebagaimana mestinya sehingga Darrell pun mencoba membuka diri dan hatinya untuk orang lain.


Setelah urusan Alan dengan Noelle selesai, pria itu berniat untuk mengantarkan Noelle untuk pulang. Namun, Noelle menolaknya.


"Terima kasih, Alan. Aku bisa pulang sendiri. Sampai bertemu nanti malam." Noelle melambaikan tangannya ketika hendak masuk ke taksi.


Alan pun membalasnya dengan senyuman dan ucapan. "Hati-hati dijalan."


Noelle merespon dengan mengacungkan salah satu jempolnya. Selepas Noelle pergi dengan taksinya, Alan hendak masuk ke mobil yang terparkir rapi di basemen Mall.


"Aku tidak menyangka, bagaimana gadis secantik dirinya harus rela menjual tubuhnya seperti itu? Sejujurnya aku merasa kasihan. Namun, itu pilihannya."


Alan kemudian membayangkan bagaimana kalau Maggia, adik Darrell, yang melakukan hal seperti itu. Tidak menutup kemungkinan dia akan bertahan hidup dengan jalan yang salah seperti yang dilakukan Noelle. Jauh akan sangat terluka jika keluarga Wesley menemukan putrinya dalam keadaan yang sangat tidak layak seperti itu.

__ADS_1


Ah, mengapa aku malah memikirkan Maggia yang belum jelas ke mana aku harus mencarinya? Bagaimana caraku menemukannya?


Gegas Alan mengemudikan kendaraannya. Dia membelah jalanan kota Meksiko untuk kembali ke kantornya. Pekerjaannya hari ini baru selesai sekitar 30%, nanti malam yang 30% akan dilanjutkan Noelle, dan 40% lagi menyelesaikan hasil yang didapatkan dari Noelle. Sehingga kesimpulan yang bisa ditarik, Alan harus bekerja sama dengan baik bersama Noelle. Walaupun itu tidak mudah.


__ADS_2