
Satu bulan menghilang dari hadapan Darrell nyatanya tidak membuat Sharron rindu pada pria itu. Dia malah lebih was-was kalau bertemu dengannya dalam kondisi hamil. Itu tidak boleh terjadi. Beberapa kali dia mengingat siklus menstruasinya. Seharusnya minggu ini dia mendapatkannya.
"Kau kenapa? Semenjak pagi selalu melihat ke kalender. Memangnya kamu siap bertemu lagi dengan daddy Alan?" tanya Noelle.
"Aku melihat siklus menstruasiku, Noelle. Aku baru bisa bertemu dengannya saat aku benar-benar tidak hamil."
"Kau tidak mau hamil anaknya?" selidik Noelle. Mungkin pemikiran Sharron hampir sama dengannya sekarang. Dia hanya ingin bersenang-senang dengan sugar daddynya.
"Tidak! Mana mungkin aku mau. Nantinya pasti kami akan dipisahkan. Lagi pula anak ini bukan untukku," sahut Sharron dengan sendu.
Sehari-hari Sharron selalu fokus pada kalender. Dia memang benar-benar tidak ingin mengandung anak Darrell. Biarkan saja sudah kehilangan hal yang berharga itu, tetapi kali ini Sharron harus lebih pintar. Dia tidak boleh membiarkan Darrell menghamilinya. Harapan satu-satunya hanyalah menunggu keajaiban menstruasinya.
Hari ini, dia merasakan kesakitan yang luar biasa di perutnya. Ini tidak pernah terjadi selama ini. Rasanya sakit sekali sampai dia harus meminta Noelle untuk tidak pergi ke manapun.
"Noelle, perutku sakit sekali. Bisakah kamu bantu aku?"
"Membantu yang bagaimana?" tanya Noelle.
"Belikan aku obat pereda nyeri. Sungguh, aku tidak tahu ini penyakit apa? Atau, jangan-jangan aku memiliki penyakit lambung? Padahal aku selalu makan dengan rutin," keluhnya.
"Makanmu memang rutin, tetapi kebanyakan selalu menu makanan cepat saji. Sekali waktu kamu makan di apartemen."
Noelle benar. Semenjak resign dari pekerjaannya, Sharron lebih sering makan di luar dengan menu makanan cepat saji. Hobi ngemilnya pun meningkat drastis, tetapi Sharron masih bisa menjaga berat badannya karena dia tipikal makan banyak dan tidak berpengaruh pada tubuhnya.
"Ah, iya. Lalu, aku harus ke rumah sakit atau beli obat saja ke apotek?"
"Tunggu! Aku akan membelikanmu obat saja. Kurasa itu tidak masalah. Tunggulah sebentar, ya! Tahan rasa sakitnya sebentar," ucap Noelle. Dia lantas meninggalkan Sharron seorang diri.
Butuh waktu beberapa menit saja karena apotek memang tidak jauh dari apartemennya. Noelle membawakan beberapa obat. Sharron bingung harus mulai yang mana dulu untuk meredakan rasa sakitnya.
"Aku bingung, Sharron. Apotek memberikan beberapa obat. Salah satunya pereda nyeri menstruasi. Beberapa lagi untuk obat penyakit lambung. Itu bukan karena mereka, tetapi aku yang memintanya. Maafkan aku, ya," ucap Noelle.
"Tak masalah. Aku coba obat pereda nyeri yang ini saja."
Setelah meminum obat, rasa sakitnya lumayan berkurang. Dia mengucapkan terima kasih pada Noelle yang sudah menganggapnya seperti keluarga.
__ADS_1
...***...
Waktu yang sudah disepakati, Sharron datang ke apartemen. Dia mengirimkan pesan pada Alan agar Darrell datang ke apartemen. Ada hal penting yang ingin disampaikan pada Darrell. Alan sudah menjawabnya dengan sebuah kata yang menyebalkan. Dia hanya menjawabnya dengan oke saja. Padahal Sharron menginginkan jawaban lengkap.
Melupakan Alan, dia lebih memilih duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Sebentar lagi Darrell pasti datang. Sudah lama dia tidak bertemu dengan pria yang pernah merenggut keperawanannya. Darrell sepertinya datang terlambat ke apartemen sampai Sharron tertidur di sofa.
Darrell sudah datang. Dia membawakan beberapa hadiah untuk wanitanya yang sudah dirindukan. Melihat Sharron tertidur lelap rasanya tidak tega karena wanita itu menunggunya cukup lama.
Darrell mengecup kening wanitanya. Sharron yang merasakan kehadiran Darrell, perlahan dia membuka matanya.
"Dad, kau sudah datang?" tanya Sharron.
"Apa kabar, Baby? Cukup lama kita tidak bertemu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Oh ya, ini ada hadiah untukmu." Darrell menyerahkan beberapa paper bag untuknya.
Sharron mana percaya. Apalagi Darrell pasti bersama istrinya selama tidak bertemu dengannya.
"Bohong! Mana mungkin kau akan merindukanku, Dad? Ada nyonya Callie yang senantiasa mendampingi Anda di kala susah dan bahagia. Aku tidak percaya. Untuk hadiahnya, terima kasih." Jelas saja Sharron sangat kesal.
Darrell menyilang kakinya. Dia duduk di sebelah Sharron yang sudah menyandarkan badannya pada sofa.
Sejak tadi Darrell menanyakan perihal kabar Sharron selama ini. Dia berharap mendapatkan kabar baik dari penanaman bibitnya beberapa minggu yang lalu.
"Sangat baik, Dad."
"Oh ya, apa yang ingin kamu sampaikan? Alan memberitahukan padaku kalau kau sudah berada di apartemen. Rasanya aku senang sekali."
"Aku tidak mau melanjutkan permintaan daddy tempo hari."
Deg!
"Permintaan yang mana?"
"Aku tidak mau mengandung anak Daddy!"
Glek!
__ADS_1
Mungkinkah Sharron sudah menggugurkan kandungannya? Bukankah seharusnya bulan ini Darrell menerima kabar baik?
"Kamu tidak menggugurkan kandungan, kan? Atau, jangan-jangan kamu tahu hamil kemudian meminum obat penggugur kandungan? Terus sekarang kamu pura-pura menolaknya. Benar begitu?"
Sharron jelas langsung kesal. Sudah lama tidak bertemu, tiba-tiba mendapatkan tuduhan seperti itu. Dia memutuskan untuk berdiri hendak pulang.
"Mau ke mana?" tanya Darrell.
"Pulang. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kan? Jadi, untuk apa aku masih bertahan di sini?"
Deg!
Susah payah Darrell menahan rindu pada gadisnya itu, sekarang malah mau ditinggalkan begitu saja.
"Tunggu, Sharron! Apapun yang ingin kamu sampaikan, aku akan mendengarnya. Duduklah di sini!" pinta Darrell.
Sharron ragu. Sejujurnya dia juga merindukan sosok Darrell di dalam kehidupannya. Namun, kalau kenyataannya sudah diberitahukan pada Darrell, tetapi pria itu masih memaksa untuk mengandung anak untuk istrinya, Sharron tidak akan mau lagi. Sisi lain hatinya, Darrell menjadi pria pertama yang memperlakukannya dengan sangat baik.
"Aku tidak hamil. Setelah ini jangan paksa aku untuk hamil lagi. Kau tahu, aku berperang dengan perasaanku sendiri untuk bisa mengandung anakmu, Dad. Jujur, setelah aku melahirkan, kau pasti akan mendepakku dengan caramu, bukan? Kau akan hidup bahagia dengan istrimu dan anakku, tetapi aku akan menderita seorang diri. Aku meratapi kesalahanku dengan melepaskan anakku demi kebahagiaan orang lain. Secara logika, aku jelas menolaknya!" tegas Sharron.
Sharron benar-benar yakin dengan keputusannya. Kalaupun dia mau melanjutkan hubungan dengan Darrell, dia tidak akan mau mengandung.
Darrell mendekatinya. Dia memeluknya seperti biasa dengan kehangatan. Namun, Sharron berusaha menepisnya.
"Dad, lepaskan aku!" Sharron meronta.
"Kamu hari ini sensitif sekali. Apa setelah ini kamu akan meninggalkanku sendirian?" tanya Darrell. Bukannya membahas masalah anak, dia malah mengalihkan pembicaraannya ke hal lain.
"Itu tergantung Daddy. Kalau masih sepakat supaya aku tidak hamil, tidak masalah. Lebih baik Daddy mengadopsi seorang anak saja. Itu solusi yang baik."
Darrell memang sudah memutuskan untuk memikirkan hal lainnya. Untuk saat ini, dia memang belum kepikiran mengenai anak. Fokusnya sekarang untuk menyelidiki perihal istrinya yang sampai saat ini Alan pun belum menemukan jawabannya.
"Ya, aku setuju. Kita hanya akan bersenang-senang tanpa memikirkan perihal anak yang kumaksud. Kita bebas sekarang. Kau tidak akan mengandung anakku."
Keputusan Darrell yang mendadak ini membuat Sharron senang. Dia akan menikmati kehidupannya seperti Noelle. Bebas tanpa terikat sesuatu yang menghantuinya. Dia akan memulai memikirkan usulan Noelle jika sewaktu-waktu Darrell menginginkan dirinya.
__ADS_1