Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 28. Tuduhan


__ADS_3

Malam panjang berganti pagi yang sejuk. Kedua manusia berbeda generasi telah menuntaskan hasrat terpendam selama ini. Sharron masih berselimut bersama dengan Darrell. Keduanya masih sama-sama polos. Semalam Darrell sudah membuktikan bahwa dia tidak akan menghamili Sharron seperti permintaan Callie. Namun, sewaktu-waktu kesepakatan bisa berubah. Jika Callie terbukti tidak ada hubungan dengan Alan, bisa saja pria itu kembali pada rencana semula.


"Baby, bangunlah! Hari ini aku mau ke kantor. Kau mau tetap di sini atau pulang?" tanya Darrell. Dia masih mengalungkan tangannya tepat di perut Sharron yang sangat ramping itu.


"Aku akan pulang naik taksi saja. Kau pulanglah! Jangan khawatirkan aku. Temui istrimu terlebih dahulu," ucap Sharron.


Sarapan pagi untuk mereka akan datang sekitar satu jam lagi. Darrell memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Ada urusan sebentar di mansion kemudian berangkat ke kantor.


"Hemm, baiklah." Tanpa banyak tanya, Darrell memberikan kecupan selamat pagi pada Sharron. Bukan kecupan bibir melainkan kening dengan durasi yang cukup lumayan lama.


"Dad, lekaslah turun lebih dulu! Aku juga antre untuk membersihkan diri. Aku mau pergi bersama Noelle hari ini. Tidak masalah, kan?" tanya Sharron.


"Hemm, pergilah!" Darrell turun dari ranjang masih dalam keadaan polos.


Sharron berteriak risih melihat pria yang semalaman telah membuatnya tak berdaya itu.


"Dad! Pake bajumu!" teriak Sharron. Dia melihat bagaimana Darrell turun dengan nyamannya. Namun, dia buru-buru menutup matanya supaya tidak melihat sesuatu yang telah membuatnya mendesah selama ini.


"Kamu melihat wortel impor, yah? Sabar, yah. Lambat laun biasakan untuk melihatnya. Biar kamu tidak kaku," canda Darrell.


Menurut Sharron, pria itu makin lama membuatnya semakin kesal dan sedikit rindu. Alasannya wajar kalau Sharron sedikit rindu, karena dia harus bersaing dengan Callie untuk mendapatkan Darrell seutuhnya.


"Dad, cukup! Sebaiknya Daddy lekas masuk ke kamar mandi. Sebentar lagi sarapan pagi siap. Tidak mungkin kan kalau aku akan menggunakan selimut ini," ucap Sharron.


Darrell bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kali ini dia memilih shower supaya lebih cepat. Setelah selesai, dia menggunakan bathrobe kemudian kembali ke kamar.


"Sudah selesai?"


"Hemm, sekarang giliranmu! Aku akan mengantarmu ke kamar mandi."


"Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri," tolak Sharron. Dia bisa menggunakan selimut sebagai penutup tubuhnya menuju ke kamar mandi.


"Hemm, terserah kau saja. Aku mau ganti baju dulu."

__ADS_1


Darrell pikir cuma dia saja yang bertindak nekad, namun dia salah. Sharron malah lebih nekad lagi. Dia memilih keluar meninggalkan selimutnya untuk tetap berada di atas ranjang.


Susah payah Darrell menelan salivanya. Jika tidak ingat untuk pulang ke mansion, mungkin dia akan menerkam lawan mainnya selama ini.


"Sharron, kau menggodaku!" seru Darrell.


"Kita impas, Dad! Satu sama." Sharron tersenyum kemudian masuk ke kamar mandi.


Sarapan pagi sudah datang sebelum Darrell sempat mengganti bathrobe-nya dengan baju ganti. Untung saja hanya sebentar untuk menerima sarapan paginya. Setelah itu Darrell mengganti pakaiannya. Dia memutuskan lebih dulu untuk sarapan pagi. Selebihnya, Sharron akan menyusul. Jika tidak, maka Darrell akan pergi terlebih dahulu.


Selesai sarapan rupanya belum membuat Sharron keluar juga. Darrell terpaksa meninggalkan catatan kecil untuk Sharron. Dia juga meninggalkan nomor ponselnya supaya Sharron lekas menghubunginya.


Aku harus berhati-hati dengan Alan. Sepertinya ada hal lain yang tidak kuketahui tentangnya. Mungkinkah Alan tega bermain hati dengan Callie di belakangku?


...***...


Nuansa mansion tak seindah bayangannya dulu. Ketika Darrell tak sengaja mengetahui pertemuan istrinya dengan Alan.


"Sayang, semalaman kau tidak pulang?" tanya Callie.


Callie mengikuti suaminya kemudian duduk di sofa.


"Aku sudah menyiapkan baju kerjamu," ucap Callie.


Ingatannya tentang Alan membuat Darrell muak terhadap Callie. Dia lebih memilih baju kerja yang diambilnya dari lemarinya yang lain.


"Sayang, mengapa kamu tidak menggunakan baju kerja pilihanku? Apa warnanya kurang bagus atau bagaimana?" tanya Callie. Terus terang saja kalau dia juga bingung dengan sikap suaminya kali ini.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mencoba peruntunganku dari pilihanku sendiri."


Callie tidak tahu harus bersikap yang bagaimana untuk menghadapi suaminya kali ini. Dia juga merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Mendadak suaminya seperti menjaga jarak.


"Sayang, apa yang kau katakan? Peruntungan macam apa yang kau maksud? Maaf, jangan berikan aku teka-teki seperti ini. Kalau aku memang salah, tolong katakan kesalahanku! Jangan diam saja kemudian bersikap seperti ini!"

__ADS_1


Darrell mencoba mengabaikan istrinya. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Padahal sebelum pulang dari hotel, dia sudah mandi sehingga terlihat sangat segar.


Baju kantor yang dipilihnya pun langsung digunakan. Dia mencoba membuat istrinya untuk jujur mengenai pertemuannya dengan Alan, tetapi nyatanya wanita itu malah tetap diam saja seolah tidak terjadi sesuatu.


"Aku tidak tahu ada hubungan apa kalian di belakangku? Kalau kenyataannya kalian berselingkuh, maka aku akan meninggalkanmu begitu saja, Callie. Aku tahu bahwa pernikahan kita tidak akan pernah terlintas kata perceraian sedikitpun, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa aku akan mencintai wanita lain kemudian hidup bersamanya walaupun tanpa ikatan pernikahan," ucap Darrell di depan cermin kamar mandi.


Darrell keluar kemudian mengambil beberapa berkas dan ponselnya. Dia melihat ponselnya sejenak. Mungkin saja ada panggilan dari Sharron. Ya, pikiran Darrell malah terpusat pada wanita muda itu yang semalam telah memberikan semangat baru padanya.


"Sayang, jangan diamkan aku seperti ini! Bicaralah!" protes Callie. Dia merasa tidak nyaman dengan perlakuan Darrell padanya. Seolah dia baru saja mencuri sesuatu.


"Bicara apalagi? Apakah aku harus bicara tentang pria-pria simpananmu selama ini?" tanya Darrell dengan suara sedikit lebih tinggi.


Deg!


Mata Callie membulat sempurna. Mungkinkah suaminya itu mengetahui sesuatu yang tidak disadari oleh Callie?


"Simpanan yang bagaimana? Kau menuduhku selingkuh?" tanya Callie. Dia tidak habis pikir kalau suaminya menuduh seperti itu. Selama hidup di mansion, dia bagaikan hidup di dalam sangkar emas.


"Mungkin seperti itu. Kau mau jujur atau aku yang akan mengatakannya," tantang Darrell.


"Jujur yang bagaimana? Aku tidak bertemu dengan siapapun," ucap Callie berusaha mengontrol emosinya setenang mungkin.


Rupanya kau mulai berbohong, Callie. Baiklah, kalau seperti ini aku ingin tahu kebohonganmu sampai di mana.


"Terserah apapun ucapanmu. Sejak aku tahu kamu bertemu dengan seorang pria, kurasa itu cukup bukti bahwa kamu bukan wanita yang setia, Callie!"


Deg!


Callie mencoba menjelaskan apa yang terjadi, tetapi Darrell memilih untuk pergi terlebih dahulu. Keputusan Darrell untuk mempertahankan hubungan dengan Sharron semakin kuat. Walaupun jelas sangat sulit untuk bersatu dengannya, Darrell akan berusaha.


...🌹🌹🌹...


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut ini. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2