
Darrell memutuskan untuk kembali. Dia mengaktifkan kembali ponselnya. Tak lama, beberapa pesan berjajar masuk. Ya, pesan dari Callie, istrinya. Ajakan makan malam yang tidak bisa ditunda untuk besok malam. Dia tidak akan membalasnya sebelum kembali ke mansionnya.
Fokusnya saat ini hanyalah Alan yang sedang berada di kantornya. Alan sedang sibuk mengurus beberapa meeting dengan klien penting. Kali ini, Darrell mendadak tiba tanpa perencanaan yang matang. Lebih tepatnya dia keluar belum waktunya.
"Tuan, Anda di sini?" tanya Alan yang tahu kalau bosnya itu datang.
"Alan, aku minta tolong padamu untuk mengirimkan orang yang akan selalu mengawasi kemanapun Sharron pergi."
Alan yang tadinya mengumpulkan beberapa berkas mendadak berhenti melanjutkan aktivitasnya.
"Bukankah Nona Sharron sedang bersama Anda dari semalam, Tuan?" tanya Alan.
"Dia sudah kabur pagi ini, Alan. Makanya aku memintamu supaya mengirimkan orang untuk memata-matai. Tujuanku agar dia tidak kabur."
Kali ini Darrell lebih posesif kepada Sharron ketimbang Callie. Terlihat jelas kalau dia mengkhawatirkan gadis yang sudah menemaninya selama beberapa hari ini.
"Tuan jangan khawatir. Aku akan mengirimkan orang seperti yang Tuan mau. Oh ya, hari ini Tuan mau ikut rapat atau hanya mampir sebentar? Sekadar saran, Tuan, lebih baik Anda pulang ke mansion kemudian menyelesaikan urusan dengan nyonya Callie."
Ya, Alan memang benar. Istrinya itu pasti mencarinya terus. Terbukti dari ponselnya terus saja dikirimi pesan dan juga panggilan yang tidak terlalu penting menurutnya.
"Aku akan pulang dengan membawa beberapa hadiah. Semoga dia suka," ucap Darrell.
"Tuan, kapan bisa masuk ke kantor tanpa gangguan seperti ini?" tanya Alan. Walaupun dia bisa mengatasi segalanya, sama saja harus bekerja keras sendirian.
"Besok. Aku minta maaf, Alan. Aku pulang dulu," pamitnya.
Darrell mengemudikan mobilnya dari parkiran kantor menuju ke mansion. Sebelum sampai di sana, dia mampir membeli buket bunga dan beberapa perhiasan.
Hari ini dia pulang untuk menemui istri yang selalu dicintainya. Belum ada yang bisa menggantikan Callie di hatinya. Walaupun Sharron sudah masuk ke dalam kehidupannya, nyatanya wanita itu belum mampu menggeser posisi istrinya.
__ADS_1
Setelah memarkirkan kendaraannya, Darrell turun membawa hadiah yang sudah dibelinya. Suasana mansion sepi. Dia tidak melihat keberadaan istrinya.
"Di mana istriku?" tanya Darrell pada pelayan yang ditemuinya.
"Nyonya tidak berada di mansion, Tuan," jawab pelayan.
"Sejak kapan Callie meninggalkan mansion tanpa seizin dariku?" tanya Darrell. Dia memang membiasakan istrinya untuk meminta izin ke manapun dia pergi. Jangankan untuk Callie, Darrell pun selalu meminta izin dan mengatakan ke manapun dirinya pergi.
"Baru beberapa hari ini, Tuan. Mengingat Anda sedang keluar kota sehingga Nyonya ingin pergi bersama teman-temannya. Hanya itu, Tuan."
Ini pertama kalinya sepasang suami istri ini berbohong. Ya, kenyataannya Darrell tidak pergi keluar kota. Sedangkan Callie sendiri tidak tahu perginya ke mana.
"Baiklah, aku langsung ke kamar saja. Katakan kalau Nyonya datang, suruh langsung ke kamar. Aku menunggunya di sana," ucap Darrell.
"Baik, Tuan."
Lama Darrell berada di dalam kamar. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan dari istrinya. Walaupun ini baru pertama kalinya, namun rasanya sangat aneh seperti dikhianati istri sendiri.
Perhatian Darrell terpusat pada lemari pakaian istrinya. Sudah lama tidak pernah dibukanya kembali. Bukan karena tidak ingin tahu apa isinya, tetapi itu hanya berisi gaun-gaun indah istrinya yang selalu dibelikan setiap Darrell ke manapun pergi. Ya, dia tidak pernah melupakan hadiah untuk istrinya. Hampir sepulang kerja, Darrell memberikan hadiah gaun indah dan perhiasan kala itu.
Pernah suatu hari Callie menolak pemberian hadiah darinya dengan alasan bahwa hadiahnya terlalu memenuhi isi lemarinya. Sejak saat itu, Darrell tidak pernah lagi membelikan hadiah untuk istrinya. Pernikahannya juga baik-baik saja. Tidak ada yang berubah.
Saat membuka sebuah lemari yang berisi pernak-pernik hadiah, Darrell menemukan sebuah sapu tangan yang ada inisial huruf MP.
"Ini milik siapa? Aku baru tahu kalau isinya lemari ini penuh dengan hadiah seperti ini, tetapi ini bukan dariku. Mungkinkah Callie menerima hadiah dari teman-teman wanitanya?" ucap Darrell.
Selama ini Darrell tahu kalau dia dan Callie tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Keduanya saling terbuka. Kalaupun ada beberapa hadiah dari teman perempuannya, mengapa dia tidak jujur pada suaminya?
"Aku akan menunggunya pulang untuk menanyakan semua hadiah-hadiah ini."
__ADS_1
Sampai malam, wanita yang ditunggunya tak kunjung pulang. Darrell tetap menunggunya dengan sabar. Dia sengaja menunggu di dalam kamarnya yang sengaja dimatikan seluruh lampu kamarnya.
Beberapa jam kemudian, tepatnya jam sebelas malam saat suasana mansion sepi, Callie baru datang. Dia tidak bertemu dengan salah satu pelayan karena mereka sudah tidur semua. Inilah yang ditunggunya sejak tadi. Pulang tanpa ketahuan oleh siapapun.
Callie langsung masuk ke kamarnya. Dia sudah kelelahan setelah seharian berkeliling untuk menikmati kehidupannya.
"Tumben sekali kamarku gelap seperti ini? Apa pelayan mansion ini lupa menyalakan lampunya?" Callie meletakkan tas dan beberapa paper bag belanjaannya. Dia kemudian mencari sakelar lampu kamarnya kemudian menyalakan.
Bersamaan dengan menyalanya lampu, sebuah suara mengejutkannya.
"Dari mana saja, Callie?" tanya Darrell.
Deg!
"Sayang, kau sudah pulang? Bukankah besok--"
"Aku mempercepat urusanku di luar kota karena merindukan istriku. Apa kabarmu, Sayang?" Darrell beranjak dari ranjang. Dia mendekati istrinya kemudian memberikan pelukan hangat padanya. "Maaf, aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku, Sayang. Oh ya, apa kau pergi dengan teman-temanmu?"
Callie menghadapi suaminya sangat tenang sehingga Darrell tidak mencium kecurigaan sedikitpun tentang istrinya.
"Iya, kami bersenang-senang, Sayang. Kupikir aku bisa pergi dengan mereka selama kamu berada di luar kota," jawab Callie.
Keduanya masih berpelukan, tetapi Callie merasa risih karena dia memang belum membersihkan diri. Setiap pulang ke mansion, dia selalu menjaga kebersihan badannya supaya selalu segar dan terlihat cantik di hadapan suaminya.
"Aku minta maaf, Sayang. Aku berjanji lain kali tidak akan seperti ini lagi. Bolehkah aku membersihkan diri dulu? Badanku sangat lengket sekali, Sayang." Callie mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Baiklah, bersihkan dirimu. Aku tunggu di ranjang." Darrell melepaskan pelukannya kemudian kembali ke ranjang.
Darrell membiarkan istrinya masuk ke kamar mandi. Sementara dirinya sendiri mengambil ponsel untuk mengirimkan pesan rahasia pada Alan. Darrell mulai curiga pada istrinya karena beberapa hal. Pertama mengenai sapu tangan inisial MP. Kedua, pelukannya baru saja menimbulkan kecurigaan baru padanya. Aroma parfum maskulin yang tidak biasa dihirupnya mendadak tercium olehnya.
__ADS_1
Kalaupun Darrell tahu kalau istrinya selingkuh, tujuannya untuk apa? Selama ini Darrell selalu bersikap baik padanya. Bahkan, Darrell selalu mencintainya sepanjang waktu.