Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 86. Rencana Noelle


__ADS_3

Rasa kesepian karena ditinggal suaminya dirasakan sekali oleh Sharron. Walaupun dia sudah tahu ke mana perginya Darrell, tetapi perasaannya tidak mudah dibohongi. Bertemu klien di malam hari. Pantaskah itu dilakukan oleh seorang Darrell?


Mengapa dia tidak mengajakku? Apakah aku tidak pantas dibawanya?


Sharron beranjak dari ranjang menuju ke dapur. Dia mencoba mencari aktivitas untuk melupakan pikiran negatifnya. Sesekali Sharron membayangkan bagaimana kalau Darrell bertemu dengan wanita lain kemudian dia tergoda. Rasanya sesak sekali walaupun bayangan itu hanyalah pikirannya saja.


Malam semakin larut, mata pun tak bisa terpejam dengan cepat. Ada perasaan takut kehilangan yang berlebihan. Setelah membuat secangkir kopi di dapur, Sharron memutuskan untuk pergi ke ruang tamu menunggu suaminya. Siapa tahu sebentar lagi dia datang.


Baru saja meletakkan secangkir kopi kemudian memposisikan duduknya di atas sofa dengan kaki menyilang, pintu seperti dibuka oleh seseorang.


"Yah, akhirnya dia pulang," ucapnya sembari menyunggingkan senyuman di bibir.


Ceklek.


"Sayang, kamu pulang." Sharron menghambur untuk memeluk suaminya. Bau alkohol masih tercium jelas di sana. "Kamu mabuk?"


"Tidak, Sharron. Aku hanya minum sedikit. Kenapa kamu belum tidur?"


"Aku menunggumu."


"Ini sudah larut. Sebaiknya kamu tidur," perintah Darrell.


"Hari ini semua orang menyebalkan sekali. Kamu pergi, Noelle tak bisa dihubungi. Kalian semua kompak sekali," gerutu Sharron sembari melepaskan pelukan suaminya.


Deg!


Sharron menyebut nama Noelle seakan kegelisahan menyelimuti dirinya. Bagaimana kalau gadis itu gagal menggali informasi? Sulit sekali untuk menembus mansion Blair kalau tidak ada acara di sana.


"Sayang, kamu kenapa? Kenapa terlihat cemas saat aku menyebut Noelle? Dia memang biasa seperti itu. Suka pergi di malam hari, dan pulang di pagi hari. Aku sudah tidak terkejut, tetapi tumben sekali dia tidak pamit padaku?" ucap Sharron mengikuti langkah suaminya menuju ke kamar.


"Tidurlah! Jangan cemaskan dia. Mungkin saja dia sedang pergi dengan daddynya, bukan?" Darrell segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sharron kembali ke ruang tamu sebentar untuk mengambil secangkir kopi yang dia tinggalkan di sana.


"Huft, rencananya aku mau minum kopi, ternyata kamu sudah datang." Sharron meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Dia kembali duduk di sofa yang ada di kamar itu.


Darrell baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe-nya. Dia melihat Sharron masih terjaga.


"Kau tidak tidur?"

__ADS_1


Sharron menggeleng.


"Kenapa?"


"Menunggumu," jawab Sharron asal.


"Kamu mau bermanja-manja denganku?" pertanyaan konyol yang dilontarkan Darrell untuk pertama kalinya. Dia masih mencari baju tidurnya.


"Memangnya mau manja dengan siapa lagi? Orang lain?" canda Sharron.


"Hemm, ayo kita tidur! Aku sudah lelah seharian berada di luar. Kemarilah!" Darrell kembali ke kamar mandi sejenak untuk mengganti bajunya setelah itu menyandarkan tubuhnya ke ranjang.


"Ya, baiklah."


Berdua di ranjang yang sama membuat Sharron semakin tenang. Dia meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya. Bermanja dan memeluknya.


"Serindu apa hari ini?" tanya Darrell sembari mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut.


"Sangat rindu. Kau tahu kalau aku sekarang menjadi sangat cemburuan."


"Kenapa?" tanya Darrell sembari memandang lekat ke mata istrinya.


"Aku takut kalau kamu akan tertarik dengan wanita lain di luaran sana. Apalagi malam ini mendadak kamu menemui klien. Tidak bisakah menunggu esok hari? Maksudku disaat siang hari kalian bisa bertemu."


"Kenapa seyakin itu? Kamu tampan, matang, berwibawa, dan kaya. Pasti di luaran sana banyak yang tertarik untuk memilikimu."


"Aku bukan pria yang gampang berganti pasangan, Sharron. Aku juga bukan pria yang mudah tebar pesona seperti pengusaha pada umumnya. Kalau kamu tidak percaya, tanyakan pada Alan, apa saja yang aku kerjakan malam ini. Aku pergi bersama Alan. Pulang pun bersamanya. Lalu, apa yang kamu khawatirkan?"


Tak ada alasan untuk mengkhawatirkannya kalau sudah seperti ini. Alan memang selalu mengatakan yang benar. Dia juga tidak pernah berbohong. Darrell segera mengganti lampu kamarnya dengan lampu tidur yang lebih temaram.


"Tidurlah! Aku bersamamu." Darrell memberikan kecupan selamat tidur untuk istrinya.


...****************...


Keesokan harinya, Noelle masih berada di kamar yang sama. Kamar yang menyebabkan dirinya bersama Blair. Semalam tidak terjadi apapun. Mereka hanya tidur seperti layaknya suami istri. Berada di ranjang yang sama dan berpelukan.


Pagi ini nampaknya Blair masih malas untuk bangun. Jika suara ponselnya tidak mengganggunya, dia masih akan berada di ranjangnya bersama wanita cantik.


"Marylou, kau masih menemaniku?" tanya Blair.

__ADS_1


"Aku tidak tega membiarkan Tuan mabuk sendirian. Aku minta maaf harus membawamu ke sini," ucap Noelle menunduk.


"Justru aku berterima kasih padamu, Nona. Kamu sudah menolongku semalam. Apakah ada yang kamu inginkan untuk membalas kebaikanmu ini? Maksudku, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan sebagai rasa terima kasihku padamu."


Glek!


Ini rayuan atau apa? Tapi, ini sangat penting untukku. Aku harus mendapatkan informasi itu.


"Ehm, tapi aku tidak tahu harus meminta apa kepadamu, Tuan?"


"Ambillah kartu namaku! Kalau kau sudah menginginkan sesuatu, hubungi aku. Aku harus bersiap karena pagi ini ada meeting penting di kantor," ucap Blair.


Blair terlihat sangat bijak. Mana mungkin ada hubungannya dengan pengalihan kekuasaan setelah Samuel Alexander. Kalau sebenarnya dia hanya orang yang menerima tonggak estafet kepemimpinan, itu artinya dia tidak bersalah. Noelle seperti main teka-teki. Demi sahabatnya, Noelle akan masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Blair. Itu jalan satu-satunya.


Setelah melihat Blair sudah rapi, Noelle tidak tahan untuk menundanya.


"Tuan, kau ingin memberikanku hadiah, bukan?" tanya Noelle akhirnya.


"Tentu, kau wanita yang baik. Aku akan memberikan apapun sesuai apa yang kamu inginkan."


"Jadikan aku sugar babymu. Aku akan menemani ke manapun Anda pergi, Tuan. Bagaimana?"


Deg!


Sejenak Blair berpikir, tetapi itu tidak mungkin. Selama ini Bellatrix selalu bersamanya kapanpun dia pergi.


"Itu tidak akan mungkin, Mary! Istriku selalu ada ke manapun kami pergi. Kalaupun ada bisnis trip, dia selalu ikut." Tawaran yang menarik bagi Blair, tetapi istinya akan terus bersama sepanjang waktu.


"Jadikan aku asisten pribadimu. Istrimu tidak akan curiga. Aku butuh pekerjaan, Tuan. Kumohon," pinta Noelle dengan sedikit memelas. Andaikan ini bukan demi Sharron, dia tidak akan mau hidup bersama pria yang baru dikenalnya. Mungkin saat ini dia terlihat baik, tetapi kalau dia sejahat pria yang pernah menjualnya tempo hari, tak akan menjadi masalah. Alan pasti bisa menolongnya.


Uh, kenapa di saat seperti ini aku malah mengingat namanya. Meresahkan sekali!


"Baiklah. Datanglah ke kantorku besok. Aku akan menerimamu bekerja."


Yes! Aku berhasil.


Blair meninggalkan kamarnya tanpa mengatakan apapun. Semalam pasti wanita itu yang memesan kamarnya sehingga Blair tidak lagi melakukan check out. Kalaupun dia yang memesannya, tagihan pasti akan masuk ke kartu kreditnya.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


Sambil menunggu bucinnya Darrell, yuk kepoin karya keren Bestie Emak❤️



__ADS_2